Kaderisasi 100 Ulama


Acara orientasi Program Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Badan Amil Zakat Nasional atau Baznas bekerjasama dengan Pimpinan Pusat Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) di Pusdiklat BPKP, Ciawi-Bogor pada 24-26 September 2014 bertepatan dengan 29 Dzulqa'dah-1 Dzulhijjah 1435 H, dengan tema, "Melahirkan ulama yang faqih, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan dakwah kontemporer".

KSU kali ini terdiri dari para mahasiwa magister dan doktoral di 17 kampus yang tersebar baik dalam maupun luar negeri. Setelah dilakukan penyaringan dalam tiga tahap dengan jumlah peserta sebanyak 80, yang terdiri dari 50 untuk jenjang magister dan 30 untuk doktoral. Peserta KSU adalah generasi pilihan, sebab memiliki syarat begitu berat, selain hafal sebagian Al-Quran, juga harus mampu berbahasa Arab dan Inggris, lisan maupun tulisan, dan telah memiliki kontribusi nyata dalam dakwah.

Prof Didin Hafidhuddin membuka acara sekaligus memaparkan materi penting kepada segenap peserta KSU. Direktur Pascasarjana UIKA itu membawa materi "Menggali Potensi Umat". Beberapa poin penting yang disampaikan oleh sang guru besar saya tuangkan dalam bentuk catatan agar dapat bermanfaat untuk kita semua. Beliau mengurai permasalahan umat yang sangat berat dan kompleks, antara lain: Persoalan akhlak. Prof Didin menilai bahwa masalah moral adalah bagian paling rusak dalam internal umat Islam, sehingga mengakibatkan berbagai masalah lain yang susah teratasi. Baginya, moral atau akhlak adalah tonggak utama dalam membangun umat dan bangsa. Maka, tak syak lagi, dekadensi moral adalah penyumbang kehancuran yang tak dapat diabaikan.

Diperparah dengan masalah persatuan dan kesatuan umat, rendahnya kesadaran untuk bersama membangun kekuatan umat, bahkan yang terjadi justru sebaliknya, melakukan perpecahan. Namun, kemiskinan dipastikan menjadi pokok masalah di negeri ini, sebab apa saja susah terwujud kalau kita miskin.

Di negeri ini, ada beberapa peringkat dalam masyarakat, pertama adalah golongan 'the have' yaitu mereka yang memiliki tabungan tidak kurang dari 20 miliar, jumlah manusia Indonesia seperti ini diperkirakan sekitar 20 ribu orang. Ada pula golongan 'the haven't' yaitu mereka yang memiliki penghasilan hanya sekitar tiga ratus ribu rupiah perbulan. Jumlah penduduk Indonesia jenis ini sekitar 28,55 juta jiwa. Demikian pula, indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia, saat ini berada pada peringkat ke-124, dibandingkan dengan negara Islam seperti Pakistan yang ke-114, Boznia ke- 74, dan Malaysia ke-61. Ini semua menjadikan bangsa ini semakin rumit untuk diurai masalahnya. 

Korupsi juga sangat luar biasa, tidak kurang dari 30 persen APBN pertahun dikorupsi oleh para pejabat dan elite-elite bangsa yang mayoritas beragama Islam, maka inilah yang memperhambat investasi dan pertumbuhan pembangunan ekonomi; melemahkan kemampuan pemerintah; menghambat upaya pengentasan kemiskinan; dan tentu saja akan berakibat pada penurunan kualitas akhlak dan moral, sebab para koruptor adalah manusia-manusia biadab.

Itulah antara masalah yang dihadapi umat Islam Indonesia, tentu saja memerlukan pemetaan lalu mengatasi dengan sistematis tertata rapi dan apik, maka salah satu fungsi ulama adalah datang membawa solusi. Ada masalah ada solusi, das sein, das sollen. Umat Islam punya potensi untuk maju dan menguasai peradaban dunia, sebab memiliki potensi ajaran yang tidak pernah dimiliki oleh agama lain yang ada di bumi ini.

Potensi ajaran dimaksud adalah: Potensi Ilahiyyah, atau berketuhanan yang sama. Yaitu Allah subhanu wata'ala. Seluruh umat Islam diikat dengan satu tali "La Ilaha Illallah" yang bermakna, La ma'bud illallah, tak ada sesembahan selain Allah. Inilah perekat utamanya. Kedua, insaniyyah, atau kemanusiaan. Islam adalah agama kemanusiaan, bahkan turunnya syariat, bertujuan menjaga nilai-nilai kemanusiaan, seperti menjaga nyawa, akal, harta dan keturunan. Peradaban saat ini yang dikuasai oleh Barat, hanya melahirkan generasi barbarian, lihatlah perang dimana-mana, kekacauan hampir tejadi setiap saat, itu semua karena Barat mengabaikan sisi insaniyah, yang dianggap manusia mulia hanya dinilai dari sisi materialis, sehingga negara atau bangsa miskin terus dimiskinkan, dijarah, dan dijajah. Ketiga, Komprehensif, agama Islam memiliki ajaran yang syumul atau komprehensif, sehingga tidak ada dikotomi antara satu dengan lainnya. Akidah berkaitan dengan ibadah, dan ibadah berkaitan dengah akhlak, mengabaikan salah satunya berarti telah merontokkan ajaran Islam.

Keempat, Universal. Hanya Islam agama yang tak kenal setting ruang dan waktu, shalihul-likulli zaman wa makaan. Beda dengan agama lain seperti Yahudi misalnya, sangat rasis dan teritorial, Hindu, Buddha juga demikian, apalagi Kristen yang ajarannya tidak orisinil lagi. Kelima, Jumlah umat Islam, secara kuantitas semakin banyak, bahkan diperkiran tahun-tahun mendatang akan menguasai beberapa negara di Eropa, dan tentu saja, kualitas umat Islam juga terus membaik seiring banyaknya intelektual dan ulama yang terus bermunculan. Keenam, Potensi sumber daya alam juga luar biasa, bahkan bahan bakar gas dan minyak dunia saat ini, banyak dipasok dari negara-negara muslim. Lihatlah, harta karun galian pun semuanya seakan mengendap di bumi umat Islam. Ketujuh, Potensi Sejarah, umat Islam adalah satu-satunya umat yang masih eksis saat ini yang pernah membangun peradaban dan bertahan selama 14 abad. Itu artinya, umat ini memiliki potensi dasar untuk kembali memimpin dunia, membangun peradaban unggul, melindungi penduduk dunia agar sejahtera, aman dan sentosa.

Prof. Didin menekankan bahwa, salah satu potensi yang dimiliki umat Islam yang bersumber dari ajaran Islam itu sendiri adalah Zakat, Infak, Shadaqah, Wakaf, dll. Untuk menggali potensi bernilai ekonomi ini, perlu dilakukan beberapa langkah strategis, yaitu: pertama. Sosialisasi dan edukasi tentang urgensi zakat bagi pembangunan kesejahteraan, kemandirian, ukhuwah Islamiyyah, sekilgus ketundukan dan kepatuhan pada ajaran Islam. Berazakat, berinfak, dan bersedekah hakikatnya adalah mengembangkan harta yang dimiliki. Seperti tergambar dalam Surah Ar-Rum [30] ayat 39. 

Kedua, Penguatan institusi amil zakat agar menjadi amil yang profesional, amanah, baik dilihat dari sumberdaya individunya, manajemen, dan sistim IT. Karena zakat, infak, dan shadaqah hanya bisa dihimpun dan disalurkan melalui amil zakat yang amanah berdasarkan firman Allah (QS. At-Taubah: 60&103). Demikian pula Fatwa MUI no. 8 tahun 2011 tentang Amil Zakat, menyatakan, bahwa Amil Zakat adalah, Seseorang atau kelompok orang yang diangkat oleh pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat, atau seorang atau kelompok orang yang dibentuk oleh masyarakat dan disahkan oleh pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat.

Ketiga, Pendistribusian dan pendayagunaan zakat dilakukan secara terstruktur dan termenej dengan rapi, baik penyaluran yang bersiaf konsumtif maupun bersifat produktif, termasuk dana untuk para pelajar/penuntut ilmu. 

Keempat, penguatan regulasi dan aturan yang berkaitan dengan zakat, infak, shadaqah, dan wakaf maupun institusi keuangan syariah lainnya. Kelima, Sinergi dan koordinasi dengan semua lembaga dan komponen yang dimiliki umat, termasuk kampus, pondok prsantren, dan lembaga pendidikan lainnya, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, (QS. At-Taubah [9]: 71). 

Prof Didin Hafidhuddin menutup pemaparannya dengan menekankan, Jika upaya penggalian potensi yang dimiliki umat dilakukan dengan penuh kesungguhan, baik perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi serta dalam organisasi yang rapi dan teratur, umat Islam dapat memecahkan problematikanya sendiri, berdasarkan ajaran Islam.

***

KH Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, mengisi materi dengan membawa tema diskusi "Peran DDII dalam Pembinaan Umat". 

Beliau memulai pembicaraan dengan menceritakan perjalanan dakwahnya, termasuk pengalaman yang paling susah dilupakan oleh KH Syuhada adalah ketika berdakwah di Eropa pada musim dingin, saat itu musim dingin, tapi dia tidak bawa baju persiapan, ia oun ke toko untuk menari baju tapi tak ada yang cocok, ternyata ia mendapatkan pakaian yang pas dengan badannya di bagian baju anak-anak. 

Lalu memaparkan pengalaman M. Natsir ketika mendirikan DDII pada tahun 1967, dimulai dengan mengkader para anak-anak mahasiswa, di antaranya adalah Prof. Imaduddin yang dikenal dengan Bang Imad, yang kelak menjadi pion dalam pembentukan Lembaga Dakwah Kampus. Setelah dakwah kampus sudah dinilai berjalan dengan lancar, M Nasir lalu melihat bahwa justru masyarakat pedalaman yang sangat membutuhkan sentuhan dakwah. Beliau juga memaparkan sejarah NKRI yang digagas oleh M Natsir, saat itu, Sukarno sudah tak mampu lagi mengurus Indonesia Serikat, ia lalu memanggil Pak Nasir, Silahkan Saudara, mau apakan negeri ini! Demikian kata Sukarno pada Pak Nasir. Maka, mantan perdana menteri itu pun memunculkan ide NKRI, atau Negara Kesatuan Repbulik Indonesia. Masalahnya, ketika Taufik Kemas mencetuskan empat pilar pembangunan Indonseia, dan salah satunya terkait keutuhan NKRI, justru tidak pernah dimunculkan bahwa penggagas NKRI itu berasal dari M Natsir. Bahkan ketika perang dingin terjadi, Rusia dan Amerika, maka di saat itu pula beberapa tokoh dunia menggagas sebuah kekuatan bagi negara Islam, di antara tokoh pengegas rabithah alam al-islamiy adalah, Raja Faisal dari Saudi Arabia, Abu A'la Al-Maududi dari Pakistan dan Hasan Nadlawi dari India, dan M. Natsir dari Indonesia. Rabithah adalah sebuah liga persatuan negara muslim sedunia yang tetap eksis hingga kini.

Tantangan dakwah saat ini adalah banyaknya gerakan anti Islam, yang paling utama,mengeluarkan umat dari Islam, hatta tattabi'a millatahum, kalau ini gagal, maka yang kedua yaitu berusaha menjauhkan umat dari agamanya dengan bermacam-macam trik, termasuk kata-kata yang manis dan melenakan, zuhrufal qaul ghururan.

Misalnya saja, ajaran Baha'I, salah satu sekte agama, ia menyatakan zina itu halal. Ketika mendefinisikan tentang wanita, ia berkata, Wanita itu ibarat bunga, boleh dipegang dan di bawa ke mana-mana kalau suka sama suka, bahkan bersenggama dan nikah sendiri juga boleh saja, selama keduanya rela. Upaya-uapaya seperti inilah sebagai usaha untuk menjauhkan orang dari agama dengan cara-cara mengeluarkan kata-kata yang indah, tapi pada dasarnya keji dan busuk. Bahkan menurut Pimpinan DDII ini, Syiah, Ahmadiya, dan sejenisnya, merupakan produk zuhrufal qaul ghururan, kata-kata yang indah namun menyesatkan.

Tantangan lain adalah, orang-orang yang benci Islam senantiasa melakukan penggiringan opini bahwa Islam adalah agama teror, mengerikan, menakutkan, dan sejenisnya. Ini terjadi sejak dahulu, di zaman Orde Baru (Orba) dikenal dengan Komando Jihad, lalu datang Era Reformasi, dengan sengaja Menara Kembar Amerika ditabrak oleh pesawat yang katanya dilakukan umat Islam, maka Islam pun dianggap teroris. Dan pelakunya dikejar, dan negara yang dianggap mendukung tetoris pun dihancur leburkan, sebagaimana yang terjadi di Irak dan Afganistan. Tempat peradaban Islam di Bagdad pun porak-poranda. Serta seluruh umat Islam yang dianggap membela teroris dihabisi satu persatu.

Terakhir adalah isu ISIS yang menjadi stempel untuk menghabisi umat Islam yang dianggap militan, padahal tuduhan-tuduhan tersebut masih perlu dibuktikan, nyatanya, mereka dikejar dan dihabisi sebelum diadili.

Semua itu tantangan bagi ulama di era kontemporer ini. Masa Orde Baru umat Islam dihalangi, kini di era reformasi kita dibebaskan untuk berekspresi, namun para penyesat juga kerja mati-matian menyesatkan umat, tak terkecuali media dengan hiburannya (entertainmen). Bahkan presiden terpilih 2014-2019 Jokowi-JK memiliki sembilang konsep pembangunan, salah satunya 'melakukan revolusi mental' maka kita juga harus melakukan tandingan dengan membangun 'revolusi dakwah'.

Banyaknya masalah, mulai dari akidah, syariah, akhlak, karena dakwah tidak berjalan dengan maksimal bakan gagal. Karena itu, untuk menghidupkan dakwah harus diobati dengan memahami bahwa, dakwah adalah kewajiban; dakwah adalah jalannya para nabi menuju perubahan; dakwah adalah amal yang lahir karena dorongan iman dan cinta kasih; meninggalkan dakwah akan menyebabkan doa tidak diijabah oleh Allah.

Kita saat ini memerlukan tenaga dakwah yang banyak, karena terlalu banyak masalah umat. Itulah inti dari pengkaderan para ulama melalui "Kaderisasi Seribu Ulama" kali ini. Harapan DDII, ketika selesai studi para kader ulama terjun berdakwan dalam segala lini, tidak hanya di kampus, tapi berbaur dengan masyarakat untuk mencerdaskan umat. Dalam waktu yang dekat ini, kita ingin mencetak "kopasus dakwah" bukan "kelas hansip", siap tempur melawan kesesatan yang terus tumbuh dan berkembang pada segala lini.

Pak Kiai lalu berpesan, Kalian adalah manusia-manusia pilihan Indonesia, di pundak kalian terletak beban dakwah yang Allah limpahkan. Kalian akan berdakwah seumur hidup, dan tidak ada kata berhenti, sampai ajal menjemput, dan sampai dunia kiamat!

Beliau menutup pembicaraannya dengan melemparkan guyonan yang pernah diutarakan oleh mantan Ketua NU, KH Hasyim Muzadi, katanya, Dulu para pemuda NU dan Muhammadiyah sering berdebat dan berselisih paham masalah jumlah rakat salat taraweh, apakah delapan rakaat atau duapuluh. Seiring berjalannya waktu, perdebatan itu telah sirna sebab: kini, baik pemuda NU maupun Muhammadiyah sudah tidak ada yang salat taraweh.

***
Abdul Wahid Alwi, MA. Memaparkan materi "Membangun Ruh ad-Dakwah", ia menekankan bahwa tujuan utama dakwah adalah iqamahtuddin, mendirikan dien. Dien adalah manhajul hayah, wamanhajul maut. Tujuan hidup dan mati. Dienul-islam adalah satu-satunya din yang diterima oleh Allah, Innaddina 'indallahi al-islam, Sesungguhnya dien di sisi Allah hanyalah Islam, (QS. Ali Imran : 19).

Beliau juga menceritakan bahwa tahun 1960-an ketika nyantri di sebuah pondok pesantren yang terletak di Jawa Timur, saat itu terlihat jelas gerakan adu domba yang dilakukan PKI, pada saat yang sama umat yang terdiri dari golongan Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama sangat senang saling mencaci, bahkan dalam khutbah Jumat sekalipun mereka saling menjelekkan, sementara PKI menyusun kekuatan untuk melakukan revolusi. Bahkan dalam sebuah dokumen ditemukan kalau revolusi berhasil maka akan ada genosida yang dimulai dengan membantai ulama, kemudian saudagar, lalu santri dan mahasiswa, barulah rakyat umum.

Saat ini pun, umat senang dibenturkan, dari musuh-musuh agama, muncullah istilah Wahhabi yang sengaja dibenturkan dengan kaum nahdiyin, atau ormas NU, padahal secara historis, pendiri NU adalah ulama yang pernah berguru pada ulama wahhabi, demikian pula Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, bahkan Persis yang diasaskan oleh Ahmad Surkati pun pernah belajar dari guru wahhabi. Maka jelaslah, jika istilah wahhabi ini dihembuskan oleh golongan anti Islam atau aliran sesat dan menyesatkan seperti Syiah.

*** 
Faisal Qosim, M.Si. Menjelaskan komitmen kemitraan kaderisasi  ulama. Menurutnya, alah satu standard keberhasilan pengelolaan zakat adalah sejauhmana kesuksesannya dalam menyalurkan zakat secara adil.  Visi KSU adalah  melahirkan kader ulama yang faqih, berwawasan luas, dan mampu menjawab tantangan umat. Berdasarkan visi di atas maka program KSU dapat diurai sebagai berikut: 1. Menanamkan aqidah salimah (aqidah lurus dan selamat); 2. Mewujudkan kader ulama yang memiliki integritas kepribadian yang berakhlak mulia dan dapat menjadi teladan masyatakat; 3. Beribadah yang shahihah; 4. Berilmu berwawasan luas; dan, 5. Memberdayakan kader ulama untuk berperan dalam menjawab persoalan umat dengan ilmu dan kemampuan akademis yang dimiliki.

Program PKU merupakan kerjasama antara Baznas dengan DDI sebagai suatu program yang bertujuan untuk menyiapkan kader ulama yang memiliki potensi, di antaranya menguasai ulumuddin dengan baik dan benar (faqih fid dien), menguasai bahasa Arab dan Inggris, memiliki ruhul dakwah wal jihad yang tinggi serta menjadi teladan bagi masyarakat; mampu menjawab tantangan pemikiran kontemporer dengan tepat; memiliki kemampuan leadership; mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan dengan baik; mampu menghasilkan karya ilmiah; dan memiliki akhlak terpuji.

Sasaran utama dari program ini adalah, generasi yang memiliki potensi keilmuan; memiliki niat lurus dalam mencari ilmu; mereka yang siap mengemban amanah sebagai ulama.

***
Dr. Adian Husaini membawakan materi, Pemikiran Islam Kontemporer. Ketua Program Pascasarjana dan Doktoral UIKA ini mendiagnosa penyakit umat, lalu menawarkan obat yang manjur. 

Problem utama umat saat ini, lanjut doktor alumni ISTAC-UIA Mlayisa ini, masih berkutat pada masalah lost of adab yang pernah dipaparkan oleh Al-Attas pada konferensi Pendidikan Islam pertama di Makkah tahun 1977. Ia menekankan bahwa masalah utamanya adalah tidak ada right action, meletakkan sesuatu pada tempatnya, (adil) sehingga terjadi lost of adab. Misalnya saja, Ada seorang teman yang sangat kagum pada Nurcholis Majid, tetapi ketika ditanya, Apa yang hebat pada Nurcholis? Maka ia pun tidak dapat menjawab. Pak Adian lalu mengatakan bahwa Nurcholis itu tidak pernah menulis satu buku yang menjadi teori lalu dikaji oleh dunia Internasional. Lalu hebatnya dimana? Nampak sekali para pengagum Nurcholis itu sangat berlebihan. Nah, di sinilah letak ketidak-adilan kita, meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, dan merupakan bagian dari lost of adab.

Para ulama masa lalu menjadi contoh bagaimana mereka meletakkan sesuatu pada tempatnya. Mereka menulis ilmu-ilmu dan teori-teori serta metodologi dalam memahami Al-Qur'an dan Sunnah secara matang dan baku. Tidak ada satu pun yang mempertanyakan bahwa bahasa Arab adalah bagian dari metodologi memahami Al-Qur'an dan Sunnah.

Lalu, kemudian datang hermaneutika, sebuah ilmu yang berasal dari Barat dan awalnya dipakai untuk memahami Bible diadopsi untuk menafsirkan Al-Qur'an, jelas ini kesalahan yang terang. Beginilah contoh lain ketidak-adilan manusia saat ini.

Adian Husaini juga menuturkan bahwa, Syair lagu yang dibawakan Ahmad Albar, ciptaan Taufiq Ismail. Dunia ini panggung sandiwara, setiap kita memiliki peranan. Karena itu, ada manusia yang diciptakan Allah untuk menjadi pemimpin, ada pula yang terlahir sebagai rakyat, atau orang cacat, termasuk adanya profesi dai yang akan menyelamatkan umat. Di sinilah keadilan Tuhan.

Pluralisme juga demikian, datang membawa ajaran, katanya, tanpa diskriminasi agama; tanpa diskriminasi gender; tanpa diksriminasi orientasi seksual. Inilah yang merusak bagi negara ini. Jika saja kita menerima tuntunan pluralisme di atas, maka negara ini akan kacau. Sebab lesbian, homoseks, akan semakin merajalela.

Satu-satunya sisi yang masih menyimpan harapan yang besar bagi umat adalah lembaga pendidikan Islam. Dimana, saat ini seluruh kalangan dari umat ini sangat percaya pada lembaga pendidikan Islam, maka pondok-pondok pesantren tumbuh dan berkembang, sekolah Islam integral marak di mana-mana, sekolah tinggi Islam juga terus berbenah.

Tantangan utama lembaga pendidikan saat ini adalah kualitas guru atau dosennya. Sudah banyak contoh nyata, bahwa lembaga pendidikan bisa sukses dan maju jika tenaga pendidiknya berkualitas tinggi dipadu dengan akhlak mulia. Di Findlandia, pendidikan mereka maju karena yang berhak jadi guru diambil dari para siswa yang terbaik dan terpintar. Di samping gaji juga harus sesuai, di Findlandia, gaji seorang kepala sekolah SMA senilai dua ratus juta rupiah.

Begitu pula, kader-kader Barat yang mengambil program magister dan doktoral didanai minimal satu miliar dengan seleksi yang ketat. Dari yang baik terselekasi menjadi yang paling baik, maka hasilnya pun dapat ditebak, berkualitas tinggi. Jika ini dikonversi ke program kaderisasi ulama, maka umat harus punya dana yang cukup untuk melahirkan ulama berkualitas tinggi.

Indonesia pernah dijajah selama 350 tahun namun masyarakatnya tetap memeluk Islam, itu semua karena ulamanya yang berkualitas serta ikhlas berjuang demi umat. Bagitu banyak tantangan di zaman penjajah, mereka dijajah, diintimidasi, disiksa, tapi tetap memiliki akidah yang benar dan solid. Semua itu karena ulama yang mati-matian berjuang demi menjaga harga diri dan kemuliaan umat Islam.

Para kiai berjuang melawan penjajah dengan mengkader santri-santrinya, belajar mengaji, bahasa Arab, kitab kuning, berbagai skil, hingga berlatih untuk berperang melawan penjajah, bahkan para kiai sengaja membangun pesantren yang berdekatan dengan pos-pos Belanda agar dekat unuk menyerang mereka sewaktu-waktu. Maka para santri pun berani berjuang demi menjaga agama dan negara, keberanian inilah yang kini telah hilang dalam ulama dan umat Islam di Indonesia.

Saat ini, untuk menjadi ulama sudah memiliki perbedaan, jika dulu mutu saja sudah cukup, tapi saat ini sudah beda. Para ulama sudah harus memiliki kelulusan perguruan tinggi, sehingga memiliki titel, mulai dari magister, doktor, hingga profesor. Gelar-gelar ini akan menjadi tiket atau semacam SIM untuk masuk mengajar di perguruan tinggi. Dari kampus kita dapat melakukan pembenahan pada generasi pelanjut, para kader intelektual. Karena itu, peserta kaderisasi ulama harus siap menjadi ulama di kampus maupun di luar kampus, baik lisan maupun tulisan. Seorang ulama harus tampil membawa solusi pada umat dalam berbagai level, demikian paparan Dr. Adian Husaini.

***

Setelah menunaikan salat lail pada malam pertama (25/9/2014) yang dipimpin Dr. Akhmad Alim, dilanjutkan dengan salat Subuh secara berjamaah, lalu disambung dengan taushiyah dengan tema "Ilmu yang Bermanfaat" antara pembahasannya adalah, Para ulama dahulu sangat produktif dalam menulis padahal referensi mereka terbatas, bandingkan dengan saat ini, banyaknya kemudahan, seperti buku-buku yang tersedia, baik fisik, maupun nonfisik yang kita kenal dengan, misalnya maktabah syamilah.


Begitu pula, zaman dahulu, begitu susahnya dalam menempuh perjalanan untuk meraih ilmu, mereka setengah mati untuk mendapatkan ilmu, tapi anehnya, ketebatasan seperti itu, atau tidak adanya kemudahan sebagaimana saat ini, justru banyak melahirkan ulama muktabar. Karya-karya mereka begitu banyak, dan tidak bisa ditandingi oleh generasi Islam zaman ini.

Ini pula yang menjadi problematika umat saat ini, terutama para ormas-ormas Islam, baik Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lainnya. Krisis ulama. Yang banyak adalah para khuthaba' alias penceramah yang hanya memeiliki sedikit dalil dan pengetahuan dibarengi dengan retorika, maka mereka pun terkenal, lalu berani mengeluarkan fatwa yang tak jarang mengelirukan.
Karena itu kita harus pahami bahwa ilmu yang utama adalah yang banyak dan bermanfaat. Nabi sendiri tidak pernah meminta tambahan apa pun dalam hidupnya kecuali ilmu, maka kita kenal dengan doa, Rabbi zidni 'ilman, Ya Tuhanku tambahkanlah padaku ilmu.

Selain ilmu yang banyak, yang tak kalah pentingnya adalah manfaat ilmu, sebagaimana sabda Nabi, Allahumma 'allimna bima yanfa'una wa anafa'na bima 'allamtana. Ilmu bermanfaat, adalah apa saja yang dipelajari dan dapat mendekatkan diri pada Allah. Maka, ilmu demokrasi, gender, hermaneutika, tidak akan pernah bermanfaat.

Ilmu nafi adalah, ma qalallahu-llah wa rasuluhu. Apa yang difirmankan Allah dan disabdakan Rasul-Nya, maka, ilmu sains adalah bagian dari ilmu nafi' karena dengan ilmu itu kebesaran Tuhan akan terlihat, dan pengkaji kian bertambah iman dan takwanya.

Demikian pula, ilmu-ilmu terkait kesesatan juga bermanfaat dipelajari, agar kita tau kesesatan. Belajar kesesatan untuk tau kesesatan supaya tidak menyesatkan. Maka, ilmu semacam ini bermanfaat. Mempelajari kesatan Mu'tazilah, Syiah, dan sejenisnya, bagian dari ilmun nafi'. 

Kian banyak magister agama, doktor, bahkan guru besar yang ilmunya tinggi tapi tidak mendekatkan diri pada Allah, malas membaca kitab suci, tidak salat berjamaah di masjid, apalagi tahajjud. Tipe seperti ini adalah orang berilmu tapi tidak bertambah ketakutannya pada Allah.

Bahkan salah satu ciri ilmu nafi' adalah konsisten dalam memasarkan kebenaran, tak mau peduli apa pun rintangannya, bukan pula melihat dari banyaknya jamaah, tapi dilihat dari kualitas jamaahnya, biar pun satu orang kalau itu dapat bermnafaat, maka harus diajar.  Karena itu, dalam menuntut ilmu harus didahului dengan niat yang baik dibarengi dengan ibadah yang istiqamah termasuk dalam mendirikan salat lail. Jangan belajar hanya sekadar formalitas saja, melainkan benar-benar demi meraih ilmu nafi'.

Maka doa dari Nabi berikut ini harus selalu dibaca, Allahumma inni 'audzubika min 'ilmin la yanfa' wamin qalbin la yakhsya' wamin nafsin la tasyba' wamin du'ain la yutajab. Ya Allah kami berlindunh dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak takut, jiwa tak pernah kenyang, dan dari doa yang tak terkabul. 

Doa di atas mengajarkan kita agar terhindar dari golongan yang berilmu tapi ilmunya tak bermanfaat. Bahkan hanya menjerumuskan dirinya pada jurang kehinaan. Berilmu hanya untuk hubbud-dunya, wahn, dan karahiyatul maut. Gila dunia, wahn (jiwa yang lemah), dan takut akan kematian. Inilah penyakit ilmu yang paling akut, maka para kader ulama harus menjauhi sejauh mungkin sifat-sifat tercela tersebut. 

***

Teten Kusniawan. SE, AK, Direktur Pelaksana BAZNAS, membawakan materi "Kelembagaan BAZNAS dan Sistem Pengelolaan Zakat Nasional". Mengawali pembicarannya dengan memaparkan bahwa dalam Islam, semua ibadah telah memiliki standar pelaksanaan yang baku, mulai dari hal-hal kecil hingga besar, dari masuk WC hingga membangun negara.

Beberapa poin penting pengelolaan zakat berdasarkan syariat yaitu: pengelolaan zakat merupakan bagian tak terpisahkan dalam menegakkan rukun Islam; pengelolaan zakat merupakan pelaksanaan ibadah yang harus memenuhi syarat dan rukun; eksistensi peran negara diperlukan untuk pengaturan pengelolaan dan pelaksanaan zakat sampai 'diambil: pengelola zakat adalah. Perantara antara mustahik dan muzakki.

Seorang amil harus memiliki kompetensi, keilmuan, skil, profesional dan attitude. Profesionalitas sangat penting. Contohnya, jika saja ada seorang dosen sudah bertahun-tahun mengajar bahkan sudah menjadi guru besar namun tak sekali pun menulis buku, maka yang bersangkutan sebaiknya berhenti saja jadi dosen dan cari profesi yang sesuai dengan dirinya. Jelas itu bukan dosen profesinal.

Ciawi-Bogor, PUSDIKLAT BPKP, 26 Sep. 2014. Ilham Kadir, Peserta KSU BAZNAS-DDII 2014.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena