Jenggot Tetap Sunnah Rasul

Suatu ketika, seorang teman datang kepada saya menceritakan masalahnya. Katanya, dia baru saja melamar seorang gadis, pihak keluarga sang gadis sudah menerima lamarannya. Hanya saja, si gadis sebagai calon istri memiliki satu permintaan sebagai syarat jika ingin menikah dengannya. Yaitu, meminta calon suaminya agar mencukur habis jenggotnya, wanita itu alergi jenggot. Sang teman menolak, dan pernikahan pun batal terlaksana.

Usai menuturkan kisahnya, saya langsung menyalahkan sang teman, dan inilah di antara contoh golongan yang memaknai jenggot sebagai sunnah secara berlebihan.

Berdasarkan teori Ilmu Ushulul-Fiqh, apabila dua kebaikan yang dalam hal ini sunnah, bertabrakan, maka sunnah yang paling besar pahalanya didahulukann, idza ta'aradhal maslahatani, ruwiya a'zhamuhuma maslahatan. Sebaliknya, jika dua mudharat yang harus dilewati maka diambil yang paling ringan, idza ta'aradhal mafsadatani ruwiya akhaffuhuma dhararan. Sunnah menikah jelas lebih utama dibandingkan dengan sunnah berjenggot.

Tetap relevan

Masih terkait jenggot. Kali ini, Tulisan Mahmud Suyuti dalam Harian Tribun Timur, edisi Jumat 29 Agustus dengan judul "Jenggot Bukan Sunnah Rasul". Tulisan tersebut berupa tanggapan dari artikel saya pada edisi Jumat 22 Agustus, "Membela 'Jenggot' Sunnah Rasul".

Terus terang saya mengapresiasi tulisan tersebut, walaupun dengan beberapa catatan yang penting untuk saya luruskan agar pembaca tidak salah paham. Banyak pembaca yang menanyakan pada saya terkait tanggapan tersebut, dan meminta untuk melakukan klarifikasi.

Berikut tanggapan saya, pertama. Tulisannya yang menyatakan bahwa saya 'Guru SMPN 2 Enrekang'. Padahal dalam artikel tertulis, 'Ilham Kadir, Menikah dengan Guru SMPN 2 Enrekang'. Jelas bukan saya yang menjadi guru SMPN 2 Enrekang, tetapi istri saya. Sulit dimengerti jika pakar hadis seperti Mahmud Suyuti tidak mengerti kalimat di atas, dan sebuah kecorobohan jika luput dari perhatian identitas penulis yang sangat terang benderang dan ditanggapi tulisannya.

Kedua, ia menulis, "bukan pakar hadis. Latar belakang keilmuannya tentang hadis masih tergolong miskin." Jika dipahami menurut kaidah Ushul Fiqhi, 'mafhumul-mukhalafah', memahami teks secara terbalik, maka Mahmud Suyuti adalah pakar hadis, dan latar belakang keilmuan hadisnya tergolong kaya.

Karena saya bukan pakar hadis, maka tidak berhak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan matan hadis yang mengatakan bahwa memelihara jenggot adalah sunnah rasul.

Walaupun saya bukan pakar hadis, tetapi pernah juga belajar hadis. Bahkan sewaktu mondok di Darul Huffafd Tuju-tuju, selain menghafal Al-Qur'an 30 juz, saya juga diwajibkan menghafal kitab "Bulughul Maram", kitab hadis karangan Ibnu Hajar al-Asqalani, belajar pula kitab-kitab 'ilmu musthalahul hadist, bahkan ketika kuliah di Markaz al-Dirasah al-Arabiyah wal-Islamiyah di Johor Malaysia, saya dibimbing langsung ulama hadis dari Hijaz, Dr. Umar, MA., yang kini jadi mufti Somalia.

Bahkan ketika kuliah di Pascasarjana UMI Makassar, juga diajarkan mata kuliah hadis, dibimbing langsung dua pakar hadis, Dr. H. Tahir Bandu, MA., dan Dr. H. Arif Halim, MA., karena itu, sekadar memaparkan hadis tentang jenggot bukanlah perkara sulit, walaupun memang saya bukan pakar dan masih sangat miskin tentang hadis dan ilmu-ilmu lainnya, karena itu saya terus belajar.

Dalam memahami sebuah nash, baik Al-Qur'an maupun hadis, jika perpedoman pada kaidah, al-'ibrah biumumil-lafdz wala bikhushuus as-sabab. Kesimpulan diambil dari keumuman lafaz, bukan dari latar belakang keluarnya lafaz. Atau sebaliknya, al-'ibrah bikhushuus as-sabab wala biumum al-lafadz. Mengambil kesimpulan dari latar belakang keluarnya pernyataan, bukan dari pernyataan yang keluar.

Yang pertama biasa disebut tekstual dengan merujuk pada teks dan interpretasinya, yang kedua kontekstual, sangat terkait setting ruang dan waktu. Masing-masing keduanya memiliki keunggulan, tidak boleh mengabaikan salah satunya. Terkait hadis jenggot, saya memilih tekstual dipadu dengan kontekstual.

Karena saya bukan pakar hadis, maka untuk mengetahui relevansi hadis-hadis jenggot, apakah masih berlaku saat ini ataukah sudah usang, karena sudah banyak orang-orang kafir baik dari Yahudi, Majusi, maupun penganut agama lainnya yang jenggotnya jauh lebih panjang dan tebal. Saya pun bertanya pada ahlinya atau pakarnya, dalam hal ini para pakar dan ahli hadis yang muktabar di Makassar. Berdasarkan firman Allah, fas'alu ahlaz dzikri in kuntum laa ta'lamun, tanyalah pada ahlinya jika kalian tidak mengetahuinya, (QS. 21: 7).

Saya lalu bertanya pada KH. Muhammad Yusran Anshar, Lc., MA., Dewan Fatwa Majelis Intelektual dan Ulama Muda Sulsel, yang juga alumni Fak. Hadis Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia dan Magister bidang hadis di Omdurman University, Sudan, latar belakang keilmuannya tentang hadis tak kalah kaya dibanding Mahmud Suyuti. Jawabannya, hadis-hadis tentang jenggot tetap shohih dan berlaku dari dulu sampai sekarang.

Belum puas, saya lalu bertanya pada guru hadis saya di UMI, Dr. H. Tahir Bandu, beliau alumni sarjana dan magister di Universitas Ummul Qurra' Makkah Saudi Arabia, dan satu di antara sedikit manusia Indonesia yang mendapat sanad hadis langsung dari para muhaddits di Makkah. Karena itu, kepakarannya dalam bidang hadis mungkin melebihi Mahmud Suyuti yang saya tidak ketahui, apakah juga punya sanad hadis atau tidak. Ketika saya tanyakan keshohihan dan relevansi hadis keutamaan memelihara jenggot, Dr. Tahir Bandu menjawab, memelihara jenggot tetap sunnah, dari dulu, sekarang, hingga hari kiamat.

Belum puas, saya layangkan SMS kepada pakar hadis UIN Alauddin Makassar, yang juga merupakan calon Rektor priode mendatang, Prof. Dr. Arifuddin Ahmad. Pertanyaan saya, Apakah hadis-hadis yang mengatakan bahwa memanjangkan jenggot masih relevan saat ini? Dan apakah memelihara jenggot tetap sebagai sunnah Rasul?  Beliau jawab, Semua subtansi sunnah Nabi SAW relevan secara subtansial namun aplikasinya yang terkadang mengalami perkembangan.

Tiga pakar hadis yang semuanya berdomisili di Makassar, bekerja di lembaga yang berbeda, tak satupun berani mengeluarkan pernyataan seperti Mahmud Suyuti, 'Jenggot Bukan Sunnah Rasul'.

Ketiga, penanggap menulis, "Sangat naif bila jenggot dijadikan sebagai ukuran sunnah, karena akan terlihat bahwa yang menjalankan Islam dengan kaffah hanyalah mereka yang berjenggot sementara yang lain pengingkar sunnah." Saya berlindung kepada Allah dari pernyataan yang mengatakan bahwa ukuran seseorang dalam menjalankan sunnah dan berislam secara kaffah dilihat dari jenggot. Belum pernah, dan tidak akan pernah saya menulis demikian, bagaimana tidak, saya sendiri sampai saat ini belum memelihara jenggot.

Pernyataan Mahmud Sayuti di atas konyol dan serampangan, sebab konteks pembahasan pada artikel saya terkait penyataan Kakandepag Enrekang, Suyahdi Sallu, yang mengatakan bahwa ciri-ciri pendukung ISIS adalah rombongan celana tinggi dan berjenggot. Karena itu, saya bermaksud meluruskan, bahwa yang berjenggot itu belum tentu pendukung ISIS tapi menjalankan sunnah Rasul berdasarkan hadis yang pernah saya kemukakan. Terlalu jauh dari konteks pembahasan jika sampai menyebut para ulama yang tidak berjenggot.

Kecuali itu, sebenarnya, tema artikel yang saya kirim ke redaksi Tribun Timur adalah, "Membela Sunnah Rasul", namun redaktur menambah kata 'jenggot' agar terlihat lebih seksi. Insting redaktur benar, buktinya, mendapat tanggapan dari Mahmud Suyuti.

Keempat. Saya juga pernah belajar "adabul ikhtilaf" atau tatacara menyikapi perbedaan pendapat suatu perkara. Lazimnya, menyampaikan dalil yang dipermasalahkan, setelah itu, meneliti pendapat para ahli di bidangnya, jika berhubungan dengan hadis, maka para ulama hadis yang menjadi rujukan, setelah itu, baru mengambil salah satu pendapat dari ulama ahli tersebut, atau mengeluarkan pernyataan sendiri.

Karena itu, sebelum mengeluarkan pendapat, 'Jenggot Bukan Sunnah Rasul' harus didahului dengan mengutif pendapat ulama di bidangnya. Teori inilah yang dilakukan oleh Imam Al-Qurthubi dalam karya monumentalnya, Jami'ul Ahkam lil-Qurthubi. Kecuali kalau keilmuan Mahmud Sayuti melebihi Al-Qurthubi, maka itu dapat dimengerti.

Kelima. Penting dipahami bahwa janggot hanyalah sunnah, dalam istilah epistemolog fikih, Ma yutsaabu 'ala fi'lihi wa laa yu'aqabu 'ala tarkihi. Amal ibadah yang diganjar pahala bagi pelakunya, namun tidak mendapat dosa bagi yang meninggalkannya. Karena itu, ini bukanlah perkara asas dalam Islam, tapi pilihan, dan bukan pula sunnah mu'akkadah (sangat ditekankan) seperti menikah, salat sunnah rawatib, terutama dua rakaat sebelum salat Subuh, atau puasa Syawal. Jenggot adalah sunnah ghairu mu'akkadah, tidak terlalu ditekankan. Karena itu, sunnah jenggot saya pahami tidak secara fanatik sebagaimana pada cerita pembuka di atas.

Sebagai penutup, saya tegaskan, jenggot tetap sunnah Rasul. Namun, dalam hidup dan agama ini penuh dengan pilihan, maka saya tidak akan memaksa orang lain mengikuti pendapat saya, seraya berlepas diri dari Mahmud Suyuti dan ijtihadnya  bahwa jenggot bukan sunnah Rasul. Wallahu a'lam!

Ilham Kadir, Ketua Lembaga Penelitian MIUMI Sulsel / Kandidat  Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena