Haji Mabrur

Dari sudut bahasa, kata 'haji' berasal dari bahasa Arab, hajja-yahujju-hajjun, berarti berkunjung. Sedang kata 'hujjaj' bermakna tamu atau para pengunjung. Adapun dari segi istilah, haji adalah rukun Islam yang kelima, berupa perjalanan spritual ke Baitullah di Makkah al-Mukarramah dengan syarat, rukun, dan waktu-waktu tertentu. Menunaikan haji bangi yang mampu adalah fardhu hukumnya.

Di antara dasar hukumnya adalah, firman Allah, Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu mereka yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah, (QS. 3: 97). Dan berserulah kepada manusia agar berhaji, niscaya mereka akan datang memenuhi panggilan dengan berjalan kaki, menaiki unta yang kurus; datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan manfaat, dan agar menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, (QS. 22: 27-28).

Al-Qur'an menerangkan bahwa waktu-waktu pelaksanaan haji telah ditetapkan oleh Allah, (QS. 2: 197). Yaitu, pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijjah. Dimulai sejak tanggal 1 Syawal dan berakhir tepat pada 10 Zulhijjah. Jumlah keseluruhannya adalah 69 hari.

Syarat berhaji adalah muslim yang telah akil balig, sedang rukun haji, berupa ketetapan yang harus dilakukan seluruh jamaah haji, dan jika tertinggal maka hajinya akan batal alias tidak sah. Berikut rukunnya: (1) Ihram, yaitu niat melaksanakan ibadah haji dan umrah; (2) Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, berzikir, dan berdoa di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah; (3) Tawaf Ifadhah, yaitu mengelilingi kakbah tujuh kali, dilakukan sesudah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah pada tanggal 10 Zulhijjah; (4) Tahallul, mencukur atau menggunting rambut sedikitnya tiga helai; dan (6) Tertib, dengan mengerjakan ibadah haji sesuai urutan-urutannya dan tidak ada yang terlewati.

Ada pun 'Wajib Haji' merupakan rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap 'rukun haji' yang jika tidak dikerjakan harus membayar konpensasi (denda). Berikut wajib haji: (1) Ihram, atau niat dari miqat; (2) Mabit, bermalam di Muzdalifah pada tanggal 10 Zulhijjah dalam perjalanan dari Arafah menuju Mina; (3) Melontar Jumrah Aqabah pada 10 Zulhijjah; (4) Mabit di Mina pada hari tasyrik yaitu tanggal, 11,12,13, Zulhijjah; (5) Melontar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah pada hari-hari tasyrik; (6) Tawaf Wada, melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Makkah; dan (7) Meninggalkan perbuatan yang dilarang selama ihram.

Terkait kedudukan ibadah haji sebagai salah satu dari lima rukun Islam. Berdasarkan hadis Nabi, bahwa Islam dibangun di atas lima pondasi yaitu, persaksian bahwa tiada yang berhak diibadahi selain Allah, dan Muhammad SAW adalah utusan Allah; mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji di Makkah jika mampu.


Rasulullah sendiri telah menunaikan ibadah haji bersama para sahabatnya pada tahun ke-10 hijriah, dalam momen tersebut, beliau menjelaskan kepada umatnya tentang tatacara pelaksanaan ibadah haji, sekaligus memberikan dorongan untuk memperhatikan setiap yang diucapkan dan diamalkan oleh beliau dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Rasul berpesan, Ambillah oleh kalian dariku dengan meniru tatacara manasik yang telah aku ajarkan dalam menunaikan manasik, karena barangkali aku tidak bisa lagi bertemu dengan kalian setelah tahun ini.

Selain sebagai sebuah kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, haji juga banyak memberikan pelajaran bagi pelakunya, termasuk mengajar setiap hujjaj alias para haji untuk tidak menyakiti orang lain, berbuat baik, hingga merdeka dan terbebas dari belenggu kekafiran dan kemusyrikan, hingga yang telah bergelar haji mampu menjadi manusia yang merdeka seutuhnya, seluruh hidupnya ia persembahkan untuk ibadah kepada Allah, berbuat baik kapada manusia, dan rela berkorban untuk agama dan negaranya.

Penting untuk mengetahui keutamaan-keutamaan ibadah haji, agar setiap muslim merasa terpanggil untuk menjawab seruan Allah. Sangat rugi, jika seorang muslim mampu menunaikan ibadah haji, namun justru uangnya dipakai mengunjungi Roma, menara Eifel, atau tempat wisata lainnya.

Hadis bersumber dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari-Muslim, Nabi bersabda, Orang yang menunaikan ibadah haji, tidak mengucapkan kata-kata kotor dan tidak berbuat kefasikan, maka semua dosanya telah dihapus seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya. Hadis lain, yang bersumber dari rawi yang sama dengan redaksi berikut, Satu umrah ke umrah berikutnya dapat melebur dosa di antara keduanya; dan haji yang mabrur balasannya adalah surga.

Amru bin Abasah meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah tentang Islam. Ia bersabda, "Hatimu harus selamat, dan semua orang Islam harus selamat dari lidah dan tanganmu," lelaki itu bertanya lagi, "Apa yang paling utama dalam Islam?" Rasul menjawab, "Iman," lelaki itu bertanya lagi, "Apa itu iman?" Rasul bersabda, "Anda percaya kepada Allah, para malaikat, dan para rasulnya, serta percaya adanya hari kebangkitan setelah mati!" Lelaki itu masih bertanya, "Iman seperti apa yang paling utama?" Rasulullah menjawab, "Berhijrah," Lelaki itu terus bertanya, "Apa itu hijrah?" Rasul menjawab, "Meninggalkan segala bentuk yang tidak terpuji," Lelaki itu bertanya kembali,"Hijrah seperti apa yang paling utama? Nabi menjawab, "Berjihad!" Lelaki itu bertanya lagi, "Seperti apa itu jihad?", Nabi menjawab, "Memerangi orang kafir di medan perang!", Lelaki itu bertanya, "jihad seperti apa paling utama?" Rasul menjawab, "Orang kudanya dibantai musuh dan darahnya ditumpahkan." Rasulullah lalu bersabda, Dan ada dua amal yang paling utama yaitu: Haji dan umrah yang mambrur. (HR. Ahmad).

Kewajiban berhaji hanya sekali seumur hidup, bukan berkali-kali sebagaimana dilakukan sebagian orang kaya, akan lebih baik jika, dana tersebut dialihkan kepada mereka yang tidak mampu, di samping pahalanya tetap mengalir pada yang bersedekah, juga membebaskan sesama muslim dari kewajiban berhaji. Pahalanya berlipat ganda. Teori ini, sesuai dengan hadis Nabi, Man dalla 'ala khaerin falau mitslu ajri fa'ilihi, siapa yang menunjukkan satu kebaikan, maka pahalanya akan sama dengan pelaku kabaikan itu. Begitu hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.


Hikmah Haji

Ibadah haji mengandung banyak hikmah terutama pada sisi rohani seorang muslim, selain memberi kemaslahatan bagi seluruh umat Islam pada sisi agama dan dunianya. Antara hikmahnya adalah : pertama, haji merupakan manifestasi ketundukan seorang hamba pada Allah semata. Orang menunaikan haji berarti sanggup meninggalkan segenap kemewahan dan kehormatan hingga kedudukan yang ia miliki di mata manusia. Dengan mengenakan ihram sebagai lambang kefakiran dan kebutuhannya kepada Allah.

Kedua, menunaikan ibadah haji merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat harta dan kesehatan, yang kedua nikmat tersebut, terbesar dalam aspek lahiriah yang diterima manusia. Dengan berhaji, maka harta dan kesehatan akan terkuras, yang semuanya dilaksanakan dengan satu niat dan tujuan, mengabdi dan menghamba pada Allah semata.

Ketiga, haji dapat menempa jiwa agar memiliki spirit perjuangan yang tinggi. Memerlukan kesabaran, daya tahan, dan daya juang begitu tinggi, di samping kedisiplinan. Pada aspek ini, seoang mukmin tidak hanya dituntut dari segi spritual, namun fisik dan psikis sangat dibutuhkan. Maka orang beriman, harus kuat lahir dan batin.

Keempat, haji dapat mengumpulkan kaum muslimin dari segenap penjuru dunia. Satu sama lain saling menyapa, mengenal, dan mengasihi. Perbedaan status telah sirna, kaya dan miskin menyatu dalam balutan busana yang sama, bermunajat dengan doa dan cara yang sama. Inilah konferensi terbesar umat manusia yang diwarnai kebaikan, kebajikan, sikap saling menasihati, hingga tolong-menolong dalam kebenaran dan kesabaran.

Kelima, haji menyimpan kenangan di hati, mampu membangkitkan semangat ibadah yang sempurna dan ketundukan tiada henti kepada Allah. Selain dapat menggairahkan keimanan yang menyentuh jiwa dan mengarahkannya pada Allah dengan sikap taat dan menghindari kesenangan duniawi.

Namun, setiap pelaku ibadah haji, bisa saja merasakan hikmah yang berbeda satu dengan lainnya. Tergantung sedalam mana pengkayatan, dan setinggi mana ketakwaannya pada Allah. Yang jelas, hikmah dalam ibadah adalah bagian yang tak terpisahkan, dan siapa yang telah diberi hikmah, maka sesungguhnya telah dianugrahi kebaikan yang banyak, (QS. 2: 269). Rasulullah pernah menjelaskan lewat hadis diriwayatkan Abu Nu'ain dan Ibnu 'Addi, Hikmah dapat menambah derajat seorang terhormat dan mengangkat derajat seorang hamba sahaya sehingga ia dapat menduduki kedudukan raja.

Jika syarat, rukun, kewajiban, serta hikmah haji telah diraih, maka kesempurnaan ibadah pun tercapai, dan itulah yang dimaksud dengan haji mabrur yang akan mendapat ganjaran surga. Semoga jamaah haji tahun ini dapat menjadi haji mabrur agar bermanfaat bagi umat, bangsa, dan negara. Wallahu A'lam!

Ciawi-Bogor,  25  Sep.  2014.  Ilham  Kadir,  Peneliti  MIUMI  Sulsel dan  Kandidat  Doktor Pascasarjana UIKA Bogor

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an