Geng Motor Menurut Maqashid Asy-Syariah

Ditilik dari sudut bahasa, maqashid asy-syariah terangkai dari dua suku kata, maqashid dan asy-syariah. Maqashid adalah bentuk jamak dari 'maqshud' yang telah diindonesiakan dengan arti 'maksud dan tujuan' yang berasal dari akar kata qashada-yaqshudu. Adapun syariah, secara bahasa berarti jalan menuju sumber air, atau jalan menuju sumber kehidupan.

Dari sudut istilah, maqashid asy-syariah adalah tujuan-tujuan syariat Islam yang terkandung dalam setiap aturannya. Imam Asy-Syathibi mendefinisikan bahwa sesungguhnya syariat itu ditetapkan bertujuan untuk tegaknya kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Secara sederhana, ia juga menyebut, al-ahkamu masyru'ah limashalihil 'ibad. Hukum-hukum diundangkan demi kemaslahatan hamba.

Selanjutnya, Asy-Syatibi merumuskan lima maqashid asy-syariah, yaitu: (1) Hifdz ad-din, menjaga agama; (2) Hifdz an-nafs, memelihara jiwa; (3) Hifdz al-'aql, memelihara akal; (4) Hifdz an-nasab, memelihara keturunan; dan (5) Hifdz al-maal, memelihara harta.

Tujuan tegaknya syariat Islam dalam perspektif maqashid asy-syariah, dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, bahwa segi pembuat hukum (musyarri') yaitu Allah SWT dan Rasul-Nya; Kedua, segi manusia yang menjadi pelaku dan pelaksana syariat Islam.

Jika ditinjau dari sisi musyarri', maka syariat bertujuan untuk memelihara keperluan hidup manusia yang bersifat primer, sekunder, dan tersier, yang dalam keputusan syariat dikenal, dharuriyyat, hajjiyat, dan tahsniyyat.

Dharuriyyat adalah kebutuhan primer yang harus dilindungi dan dipelihara sebaik-baiknya oleh syariat agar kemaslahatan hidup manusia benar terwujud.Sedangkat hajjiyat, adalah kebutuhan sekunder yang diperlukan untuk mencapai kehidupan primer, seperti kemerdekaan, persamaan, dan sebagainya yang bersifat menunjang eksistensi kebutuhan primer. Tahshiyyat, adalah kebutuhan hidup manusia selain yang bersifat menunjang eksistensi yang pertama dan kedua, berupa sandang, pangan, perumahan, dll.

Geng Motor  Jika ditinjau dari perspektif maqashid asy-syariah, maka keberadaan geng motor yang kini sedang meresahkan kota Makassar akibat prilakunya yang cenderum barbarian. Geng yang menggunakan motor sebagai ciri khas komunitas mereka telah melakukan tindakan yang hanya dikenal pada zaman, dalam istilah I Lagaligo, sianre bale. Betapa tidak, mereka merusak harta benda orang lain, seperti mobil, motor, rumah, atau merampok dan menjarah toko dan minimarket, bahkan rumah ibadah seperti masjid pun tak luput untuk dirusak oleh mereka. Dan, tak segan-segan melukai orang lain, hingga membunuh dengan cara yang biadab.

Dalam bulan Agustus-September 2014 saja, sedikitnya 7 kasus korban geng motor, ditambah 4 nyawa melayang paksa setelah dianiaya sedemikian biadab. Teranyar, Rio Rivaldi (14) tewas mengenaskan setelah ditikam punggungnya oleh geng motor depan kampus Univ Bosowa '45' Makassar pada Senin malam (15/9/2014) sebagaimana diberitakan Tribun Timur 17/9/2014.

Dari lima maqashid asy-stariah di atas, setidaknya ada tiga yang telah direduksi oleh geng motor, yaitu, Menjaga Jiwa, Harta, dan Akal. Padahal Allah sangat memuliakan manusia dengan mendudukkannya sebagai mahluk paling mulia di muka bumi ini. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, (QS. Attin: 4). Kemuliaan manusia tidak terbatas pada mahluk yang tampak oleh mata, tetapi juga ditujukan pada mahluk-mahluk lainnya, seperti golongan malaikat dan jin.

Salah satu buktinya, ketika Allah memerintahkan malaikat dan jin untuk bersujud kepada Nabi Adam sebagai bentuk penghormatan atas kemuliaan manusia. Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada malaikat, Sujudlah kalian pada Adam! Maka sujudlah mereka kecuali iblis, (QS. Al-Baqarah : 34).

Manusia, siapan pun dia, tanpa mengenal warna kulit, bangsa, agama, kelamin, dan kedudukan, tetaplah mahluk Allah yang paling mulia, bahkah turunnya air dari langit, keluarnya tanaman dari bumi, tersedianya ragam sumber mineral dan bahan galian lainnya di dalam tanah, semua diperuntukkan untuk kelangsungan hidup, dan keistimewaan manusia, ( QS. Ibrahim : 32). Dan ditundukkannya apa yang ada di langit dan di bumi sebagai rahmat Allah kepada manusia, (QS. Al-Jatsiah: 13).

Puncaknya, ketika Allah menegaskan, Sesungguhnya telah kami muliakan anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah Kami ciptakan, (QS. Al-Isra: 70).

Kerena itu wajarlah jika Allah menurunkan perangkat hukum untuk mengatur manusia supaya hidup penuh dengan ketenangan, salah satunya, menjaga jiwa-jiwa setiap insan agar tidak saling menyakiti satu sama lainnya, dan tentu saja menghindari tindakan kriminal yang dapat mengancam bahkan menlenyapkan nyawa seseorang.

Allah mengancam bagi pelaku pembunuhan tanpa alasan syar'i dengan balasan neraka jahannam, (QS. An-Nisa': 93) bahkan membunuh satu orang saja sama nilainya dengan membunuh segenap umat manusia, jika yang terbunuh itu tidak membunuh dan tidak pula melakukan tindakan anarkis, (QS. Al-Mai'dah : 32).

Geng motor yang telah melakukan pembunuhan kepada orang yang tidak bersalah, benar-benar telah melawan Tuhan yang telah menciptakan manusia sebagai 'ahsanu yaqwim'. Karena itu, mereka harus mendapatkan hukuman yang setimpal. Jika mengacu pada aturan Al-Qur'an, maka si pembunuh idealnya harus dibunuh juga, berdasarkan pada ayat, Kami tetapkan atas mereka di dalam (Taurat) bahwa jiwa dibalas dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka pun ada qishasnya, (QS. Al-Maidah: 45).

Geng Motor yang melakukan pembunuhan dengan terencana, terkoordinir dengan rapi dan berjamaah, jika mengacu pada hukum qishas, maka para pembunuhnya pun harus dilumpuhkan. Kasus ini pernah ditanyakan khalifah Umar bin Khattab kepada penasihatnya, yang tak lain adalah Ali r.a., Umar mempertanyakan hukum apa yang diberikan kepada orang banyak yang hanya membunuh satu orang. Apakah para pembunuh itu harus dibunuh semuanya? Dan Ali menjawab, Iya.

Karena itu, wacana melumpuhkan komplotan geng motor dengan bedil pada hakikatnya tidak bertentangan dengan hukum qishas dalam perspektif syariat, jika memang mereka melakukan perlawanan dan ditakutkan korbannya terus bertambah. Walaupun ini adalah jalan terakhir, sebab idealnya, hukuman diberikan pada si pelaku jika telah melalui proses pengadilan. Semua itu bertujuan agar melahirkan rasa aman terhadap umat manusia sebagai bagian dari maqashid asy-syariah.

Geng Motor juga telah melakukan tindakan konyol dengan merusak akalnya, itu dilihat ketika mereka mengonsumsi Pil PSK atau biasa disebut Pil Anjing, yang dapat merusak akal sehat. Jika akal telah hilang, maka manusia tidak dapat dikatakan sebagai manusia seutuhnya, sebab salah satu unsur pokok pembeda antara manusia dengan binatang terletak pada akalnya. Karena itu, syariat diturunkan agar akal manusia tetap terjaga dan digunakan untuk kemaslahatan diri, agama, dan negaranya. Diharamkannya seluruh makanan dan minuman yang merusak akal karena tanpa akal manusia laksana binatang. Lawlal 'aql lakana annas kal-baha'im'. Maka tak salah jika menjaga akal adalah bagian dari maqashid asy-syariah.

Menjarah harta benda milik orang lain, atau mencuri, dan merampok, adalah bagian dari tindakan yang melanggar syariat, pelakunya, bisa saja mendapatkan hukuman hudud berupa potong tangan, atau ta'zir berupa kurungan yang tidak hanya tangannya yang terpotong tetapi seluruh hidup dan umurnya terpangkas di penjara.

Syariat sangat menjaga harta benda orang lain, dan mengambilnya tanpa hak adalah dosa besar yang selain dihukum di dunia juga akan mendapat siksa neraka, yang satu hari saja di akhirat sana, sama dengan seribu tahun di dunia ini. Hukuman teringan bagi para perampok dan penjembret seperti geng motor ini, cukup diberikan sandal dari neraka yang bila dipakai karena panasnya, otak akan mendidih. Balasan yang sesuai bagi geng motor yang tidak sudi bertaubat.

Terciptanya rasa aman pada harta dari gangguan manusia-manusia jahat seperti geng motor adalah bagian dari maqashid asy-syariah yang harus diwujudkan oleh para pengelola negara tak terkecuali aparat kepolisian yang memang digaji untuk itu.

Dalam menjatuhkan hukuman pada geng motor jika merujuk pada syariat Islam cukup sederhana, sebab tidak ada istilah 'kenakalan remaja'. Siapa pun melakukan pelanggaran syariat, selama dia dalam keadaan waras dan sudah akil balig, maka hukumannya mengikuti ketentuan umum tanpa pandang bulu. Islam hanya mengenal mumayyiz (balig), dan ghairu mumayyiz (belum balig) atau waras dan gila. Semoga para geng motor yang sudah balig dan waras itu, insyaf setelah membaca tulisan ini dan, kembali ke jalan yang benar. Wallahu A'lam!

Dimuat Harian Tribun Timur, edisi Jumat 19/9/2014. Setu-Bekasi, 17/9/2014. Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel; Pengurus KPPSI Pusat

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi