Keistemewaan Puasa Syawal

Di antara keistimewaan umat Nabi Muhammad adalah harga ibadah yang begitu mahal di sisi Allah. Setiap satu ibadah berharga sepuluh kali lipat. Istilah sederhananya, ibadah sekali dinilai sepuluh ganjaran. Ini pula yang menjadi pembeda dengan umat-umat terdahulu, yang mana, setiap ibadah hanya dihargai dengan satu pahala.

Kecuali itu, antara rahmat Allah kepada umat akhir zaman ini adalah adanya amalan sunnah yang selalu  mengiringi amalan wajib, sebutlah misalnya, salat fardhu dan salat sunnah, zakat dan sedekah, puasa ramadhan dan puasa sunnah, haji dan umrah, dan sebagainya.

Segenap amalan sunnah dalam ajaran Islam memiliki banyak manfaat. Antara lain: Dapat menyempurnakan kekurangan pada amalan wajib, sebab setiap orang walau telah berusaha menunaikan ibadah sesempurna mungkin tetap saja tidak luput dari kekurangan. Amalan sunnah akan menutup celah tersebut; Menambah pahala disebabkan bertambahnya amal saleh; Dapat menjadi jalan tol untuk menggapai kecintaan Allah (mahabbatullah); Menambah kuat tali hubungan kepada Allah (tautsiq hablun-minnallah); Dapat menjadi medan untuk berlomab-lomba dalam ketaatan dan kebaikan; Mendorong hamba dalam melakukan amalan wajib, sebab sepertinya mustahil pada diri seorang muslin yang rajin beribadah sunnah namun mengabaikan yang wajib; Dapat menjadi pembuka amalan wajib; Menjadi penutup pintu bid'ah dalam agama; dan mencontohi Rasulullah dan segenap salafush-shaleh.

Puasa Syawal  Di antara amalan sunnah yang memiliki banyak keutamaan adalah puasa syawal. Syawal adalah nama bulan dalam hitungan hijriah, tepat setelah bulan Ramadhan, berada pada urutan kesepuluh.

Puasa syawal adalah di antara puasa sunnah yang disyariatkan oleh Allah dengan ragam keutamaan berdasarkan pada dalil-dali dari hadis Rasulullah, misalnya, Dari Tsauban, budak Rasulullah SAW, bahwasanya beliau bersabda, "Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari Raya Idul Fitri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya. (HR. Ibnu Majah). Juga, Dari Ayyub Al-Anshari, bahwasanya Rasulullah Bersabda, Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh, (HR. Muslim).

Dalam mengomentari hadis ini, Imam Nawawi berkata, Dalam hadis ini terdapat dalil jelas bagi mazhab Syafi'I, Ahmad, Dawud, beserta ulama yang sependapat dengannya mengenai sunnah puasa enam hari di bulan Syawal.

Ibnu Hubairah rahimahullah berkata, Mereka sepakat tentang sunnahnya puasa enam hari Syawal kecuali Abu Hanifah dan Malik yang mengatakan bahwa hal itu dibenci dan tidak disunnahkan. Namun pendapat Abu Hanifah dan Imam malik disanggah oleh Al-Allamah al-Mubarakfury, katanya, Pendapat yang menyatakan dibencinya puasa enam hari Syawal merupakan pendapat yang bathil dan bertentangan dengan hadis-hadis shahih. Oleh karena itu, mayoritas ulama Hanafiyah berpendapat tidak mengapa seorang berpuasa enam Hari di bulan Syawal.

Ibnu Humam berkata, Puasa enam hari Syawal menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf makruh, tetapi ulama hanafiah berpendapat bahwa hal itu tidak mengapa.

Setelah melihat dalil dan pendapat ulama tentang kedudukan puasa Syawal, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa berdasarkan dalil dari hadis Rasulullah di atas, puasa Syawal hukumnya sunnah.  Kedudukan puasa Syawal adalah menjadi penyempurna puasa Ramadhan. Karena itu, siapa yang menunaikan puasa Syawal selama enam hari akan mendapat ganjaran pahala sebagaimana setahun penuh. Kalkukalisnya sangat sederhana. Setiap satu amal kebaikan diganjar sepuluh kali lipat, berdasarkan hadis di atas. Maka, satu bulan Ramadhan dinilai sama dengan sepuluh bulan selainnya, sedangkan dua bulan tersisisa sama dengan enam puluh hari. Karena itu, enam hari puasa Syawal dapat menutupi dua bulan tersisa. Itulah dimaksud puasa syawal menambah nilai ramadhan menjadi setahun penuh.

Para ulama berbeda pendapat, apakah puasa Syawal harus dilakukan dengan berturut-turut selama enam hari? Kapankah lebih baik dilaksanakan, awal, pertengahan atau akhir bulan?

Ash-Shan'ani rahimahullah menjawab pertanyaan di atas, katanya, Ketahuilah bahwa pahala puasa ini bisa didapatkan bagi orang yang berpuasa secara berpisah atau berturut-turut, dan bagi yang berpuasa langsung setelah hari raya (Idul Fitri) atau pada pertengahan bulan.

Imam Nawawi berpendapat bahwa Afdhalnya, berpuasa enam hari berturut-turut langsung setelah Idul Fitri. Namun jika seseorang berpuasa Syawal tersebut dengan tidak berurut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, dia masih mendapat keutamaan puasa Syawal, berdasarkan konteks hadis, yakni keumuman sabda Nabi 'enam hari di bulan Syawal'.

Dan tidak ragu lagi, inilah pendapat yang paling tepat bahwa boleh berpuasa Syawal secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, tengah, dan di akhir bulan. Namun, tentu saja, bersegera melakukan ibadah adalah lebih baik daripada diulur-ulur tanpa sebab.

Setidaknya ada beberapa sebab, kenapa puasa Syawal di awal bulan lebih utama, yaitu: Bersegera beramal salih; Agar tidak terhambat oleh halangan dan godaan setan sehingga menunda-nunda sampai tidak jadi-jadi; dan manusia tidak ada yang tahu, kapan malaikat maut datang menjemputnya.  Lalu, apakah boleh melakukan puasa Syawal sebelum membayar hutang puasa Ramadhan?

Terdapat dua aliran. Pertama tidak membolehkan, sebagaimana pernyataan Al-Hafizh Ibnu Rajab, fatwanya adalah, Barangsiapa yang memiliki tanggungan pausa Ramadhan, kemudian dia memulai puasa Syawal, maka dia tidak mendapatkan keutamaan pahala orang yang puasa Ramadhan dan mengiringinya enam Syawal, sebab dia belum menyempurkan puasa Ramadhan.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata, Puasa enam syawal berkaitan dengan Ramadhan dan tidak dilakukan sebelum melunasi tanggungan puasa wajibnya. Seandainya dia berpuasa Syawal sebelum melunasinya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaannya berdasarkan sabda Nabi, 'Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian menyertainya dengan enam hari syawal maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh. Pendapat seruoa juga telah dicetuskan oleh Imam Ahmad lebih dahulu.

Pendapat kedua menyatakan mubah atau sebagian menilai makruh hukumnya puasa Syawal sebelum tuntas qadha Ramadhan adalah pendapat ulama-ulama dari tiga mazhab: Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Pendapat jumhur ulama ditopang dengan sejumlah dalil penting berikut: Pengakuan Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu anha bahwa dia biasa menunda qadha Ramadhan hingga bulan Sya’ban (dalam riwayat Muslim: “hal itu karena kedudukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”). (HR. Bukhari, no. 1950; dan Muslim, no. 1146). Pengakuan ini dalam konteks mustahil Aisyah tidak pernah melakukan satu pun puasa sunnah sepanjang tahun gara-gara belum melaksanakan qadha terhadap puasa Ramadhan (Lihat: Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, IV/191). Dengan kata lain, dia tentu tetap melakukan puasa sunnah kendati qadha Ramadhan dia lakukan di bulan Sya’ban sebelum Ramadhan berikutnya.

Qadha Ramadhan termasuk wajib muwassa’ (longgar waktunya) karena bisa dilakukan sepanjang tahun, artinya tidak harus dilakukan segera (QS. al-Baqarah/2: 184). Sehingga, hari-hari sebelum melakukan qadha bisa diisi dengan puasa Syawal. Apalagi, puasa Syawal terbatas waktunya satu bulan saja yang bagi sebagian orang dengan kondisi tertentu masih sangat sempit.

Adapun ungkapan “yang berpuasa Ramadhan kemudian dia iringkan dengan (puasa) enam hari” dalam hadits riwayat Muslim yang disebutkan di atas, maka termasuk kategori yang, dalam ilmu ushul fiqh, disebut sebagai kharaja makhraj al-ghalib atau ungkapan yang biasa diucapkan namun tidak bermaksud membatasi hanya bagi yang tuntas puasa Ramadhannya. (Bandingkan: al-Lajnah al-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, IX/294, no. 18489; Muhammad ibn Utsaimin, al-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, VI/443-444).

Pendapat ini lebih mudah sehingga sejalan dengan prinsip kemudahan hukum-hukum Islam secara umum dan hukum puasa secara khusus. Dalam ayat tentang puasa Ramadhan: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. al-Baqarah/2: 185). Pendapat ini mudah sebab memberikan waktu yang lebih lowong kepada orang-orang beriman untuk melaksanakan puasa Syawal tanpa harus terdesak oleh waktu qadha Ramadhan yang luput karena uzur.

Intinya, boleh melakukan puasa Syawal sebelum tuntas qadha Ramadhan. Kendati demikian, untuk berhati-hati agar tidak luput qadha Ramadhan dan dalam rangka bersegera menunaikan kewajiban di samping lolos dari kontoversi pendapat di kalangan ulama, maka melakukan qadha sebelum puasa nafilah Syawal tentu lebih baik.

Dengan sisa waktu Syawal tinggal beberapa hari lagi, bagi para pembaca dan handai taulan yang belum menunaikan puasa Syawal agar segera menuntaskan, demi meraih keutamaan dan kemuliaannya, setidaknya menjadi penyempuran ibadah puasa Ramadhan kita.

Ibadah sunnah dalam Islam memiliki keistimewaan tersendiri, dalam dunia bisnis, ia adalah keuntungan, sedangkan amalan wajib dihitung sebagai modal, dan dosa-dosa sebagai kerugian. Maka beruntunglah para saudagar yang memiliki banyak keuntungan, sama bertuahnya seorang muslim yang banyak amal sunnahnya. Wallahu A'alm!

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel, Pengurus KPPSI Pusat

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi