Bersuci dalam Pandangan Islam

Alkisah, dari negara Barat yang dihuni oleh mayortas non muslim, dan dianggap beradab. Bahwa seorang ibu bekerja sebagai tukang cuci pakaian dalam di sebuah laundry dalam satu asrama yang dihuni oleh para wanita muda. Selama berbulan-bulan ia mengumpul lalu mencuci celana dalam wanita penghuni asrama tanpa rasa jenuh dan jijik. Hingga pada suatu saat, dia heran, karena selama ini, celana dalam yang dicucinya, semuanya berbau busuk dan menjijikkan, tapi anehnya, salah satu celana dalam yang ia cuci sama sekali tidak berbau, tidak pula menjijikkan, itulah yang membedakan dengan celana dalam lainnya. Sang pencuci berusaha mencari, siapa gerangan pemilik celana dalam yang tak berbau busuk itu.

Didapatinya, lalu dimintai keterangan. Sang pencuci mengutarakan testimoni. Selama saya kerja di sini sebagai pencuci celana dalam, saya dapati bahwa semuanya berbau busuk bahkan menjijikkan, tapi berbeda dengan milik Nona, ia tak berbau dan tak menjijikkan. Apa sebenarnya rahasianya? Nona itu menjawab, Saya adalah wanita muslimah, saya diwajibkan beristinja setiap selesai buang hajat, agama saya mengajarkan demikian, dan cuma itu rahasianya.

Sang pencuci celana dalam itu pun tertarik dengan jawaban nona muslimah itu, yang membawa dirinya jatuh hati pada ajaran Islam. Puncaknya, ia mengikrarkan dua kalmiat syahadat.

Subhanallah! Islam dan kebersihan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bahkan, keimanan seoang muslim tidak bisa lepas dari kebersihan, Annadzafatu minal iman, kebersihan adalah bagian dari iman, demikian Nabi bersabda.

Banyak lagi dalil-dali yang serupa, menekankan agar selalu hidup bersih dan bersahaja. Al-Qur'an juga mengabarkan, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan suci. Innallaha yuhibbut-tawwabin wayubbul-muthathahhirin, (QS. 2: 222).

Para ulama, sepakat bahwa kata 'tawwabibin' adalah bermaknya taubat dengan artian suci dari kelakuan dosa baik kecil apalagi besar. Itu berarti tawwabin adalah suci secara batin, dan ada pun 'muthathahhirin' dimaknai sebagai suci dari segenap hadast kecil apalagi besar, yang mengarah kepada kesucian jasadiah, atau lahiriah. Jika, batin dan lahir telah suci, maka cinta Allah pun akan teraih dengan muda berdasarkan dalil di atas.

Perlu dicatat bahwa semua buku-buku ibadah dalam syariat Islam dimulai dengan membahas masalah bersuci, yang disebut "Bab Thaharah". Hal ini terjadi, karena sebaik apa pun ibadah seseorang tanpa dilandasi dengan kesucian lahir dan batin, tidak akan diterima. Kesucian batin yang paling utama adalah bertauhid kepada Allah dengan menghambakan diri pada-Nya, meyakini bahwa La ma'bud illallah, tiada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, lalu menghindari kesyirikan.

Demikian pula, suci lahir adalah terbebas dari hadats besar seperti junub, najis dari air liur anjing, yang harus dilenyapkan dengan mandi, atau hadats kecil seperti buang air besar, air kecil, hingga melepaskan gas.

Adab Istinja

Istinja dari segi bahasa adalah bersuci, dalam Istilah, bersuci dari hadats kecil dan besar. Istinja adalah hal yang mutlak kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari baik itu buang air kecil (BAK) ataupun buang air besar (BAB). Akan tetapi umat Islam sendiri telah banyak meninggalkan adab-adab yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW. Padahal Islam telah mengatur semua hal termasuk perkara istinja.

Pernah kaum musyrikin berkata kepada Salman Al Farisi, Nabi kalian telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai pun perkara adab buang hajat. Salman menjawab, “Ya, beliau mengajarkan kami adab buang hajat”, (HR. Muslim no. 262). Istinja dalam Islam dipandang sangat penting karena menyangkut semua amal ibadah yang di lakukan setelahnya, sebagai gambaran, salat sebagai tiang agama ('imaduddin) tak akan diterima jika tidak beristinja dengan baik dan benar.

Wudhu sebagai syarat untuk menunaikan salat harus didahului dengan instinja yang benar. Islam adalah agama yang penuh dengan aturan, dan aturan yang teringan berhubungan dengan bersuci, yaitu masuk WC dengan mendahulukan kaki kiri ketika melangkah, dan masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanang, sebaliknya, keluar masjid dengan kaki kiri dan keluar WC dengan mendahulukan kaki kanang, bahkan masuk WC saja ada doanya, yaitu: Bismillah, Allahumma inni a’udzu bika minal khubutsi wal khobait. Dengan nama Allah, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan lelaki dan setan wanita. Dari Ali r.a., secara marfu’, “Penghalang antara jin dengan aurat anak Adam -ketika dia masuk ke dalam wc- adalah dengan membaca ‘bismillah’.”

Apabila BAB/BAK dilakukan di padang pasir atau tempat yang terbuka, maka doa ini dibaca tatkala hendak ditunaikannya hajat seperti ketika seseorang menyingkap pakaiannya. Hal ini merupakan pendapat jumhur ulama dan mereka mengatakan kalau seseorang lupa membaca doa ini maka ia cukup membacanya dalam hati, (Fathul Bari, 1/307).

Urgensi istinja diperkuat oleh hadis Rasulullah SAW bahwa beliau pernah melewati dua kuburan, maka ia mengabarkan, Dua penghuni kuburan ini sedang diadzab. Tidaklah mereka diadzab karena perkara yang besar. Kemudian Rasulullah mengatakan, Adapun salah satunya, ia diadzab karena tidak berhati-hati/tidak menjaga dirinya dari kencing. (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 216 dan Muslim no. 292, dengan lafadz Al-Bukhari).

Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullah mengatakan hal yang bersangkutan dengan hadist ini, Kedua penghuni kuburan itu tidaklah diadzab karena perkara yang sulit untuk menghilangkannya atau untuk mencegahnya serta berhati-hati darinya. Yakni perkara itu sebenarnya mudah, gampang bagi orang yang menjaga diri darinya. Beliau juga berkata, Dua perkara ini termasuk dosa besar, (Syarah ‘Umdatil Ahkam, 1/62).

Demikian dimungkinkan karena kurang berhati-hati dalam beristinja sehingga kita membawa najis hingga ke dalam ibadah. Sebagai contoh jika kita tengah menunaikan hajat kecil tanpa di sadari air seni kita menciprat sampai ke kaki dan pakaian. Untuk menghindari itu para ulama berpendapat bahwa BAK dilakukan dengan cara berjongkok. RasulullahSAW mencontohkan dengan merenggangkan/menjauhkan kedua kaki ketika duduk untuk buang hajat guna menghindari percikan air kencing.

Al-Hasan berkata, Telah menceritakan kepadaku orang yang melihat Nabi SAW beliau kencing dalam keadaan jongkok dengan merenggangkan kedua kakinya selebar-lebarnya sehingga kami menduga pangkal paha beliau akan terlepas, (HR. Ibnu Abi Syaibah, 1/121 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami`ush Shahih, 1/500).

Dari Aisyah r.a. berkata, Siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW kencing berdiri, maka jangan dibenarkan. Beliau tidak pernah kencing sambil berdiri, (HR Khamsah, kecuali Abu Daud dengan sanad yang shahih).

Pun contoh lain dari Rasulullah, tidak berbicara sambil BAB/BAK, sabdanya, Tidaklah pantas seseorang ketika membuang hajatnya berbicara kecuali dalam keadaan terpaksa. Termasuk pembicaraan yang dilarang di sini adalah menjawab salam dan ucapan dzikir lainnya.

Berkata Al-Baghawi rahimahullah dalam Syarhus Sunnah, “Bila seseorang bersin dalam keadaan ia sedang buang hajat maka ia mengucapkan tahmid (Alhamdulillah) di dalam hati”. Demikian pula yang dikatakan oleh Al-Hasan, Asy-Sya`bi, An-Nakha`i dan Ibnul Mubarak.

Larangan berdzikir di sini merupakan larangan makruh dengan kesepakatan yang ada. Ibnul Mundzir menghikayatkan makruhnya hal ini dari Ibnu Abbas, ‘Atha, Ikrimah, An-Nakha`i dan Ibnu Sirin. Ibnul Mundzir juga mengatakan, Meninggalkan dzikir ketika buang hajat lebih aku sukai namun aku tidak menganggap berdosa orang yang melakukannya, (Al-Majmu’, 2/108, Al-Furu’, 1/84).

Kecuali itu, terdapat pula larangan Istinja’ dengan tangan kanan, Rasulullah SAW melarang kita untuk menyentuh kemaluan dengan tangan kanan ketika kencing dan ketika cebok, sebagaimana sabdanya, Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok dengannya setelah buang hajat, (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 154 dan Muslim no. 267). Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, Larangan istinja’ dengan tangan kanan termasuk salah satu adab dalam istinja. Dan ulama sepakat dilarangnya perkara ini. Jumhur ulama berpendapat larangan di sini menunjukkan makruhnya bukan haram. Kemudian beliau berkata, Memegang kemaluan dengan tangan kanan hukumnya makruh, (Syarah Shahih Muslim, 3/156, 159).

Ada pun larangan bersuci dengan tulang dan kotoran hewan yang telah mengering/Membatu (Rautsah). Rasulullah meminta kepada Abu Hurairah r.a., untuk mencari batu guna keperluan bersuci beliau dan beliau bersabda, Jangan engkau datangkan untukku tulang dan jangan pula rautsah, (Shahih, HR. Al- Bukhari no. 155). Di waktu lain Abdullah bin Mas‘ud r.a., pernah diminta Rasulullah SAW agar mencari tiga batu untuk bersuci namun ia hanya mendapatkan dua batu hingga ia mengambil rautsah lalu diserahkannya kepada Nabi. Maka beliau mengambil dua batu tersebut dan membuang rautsah, seraya berkata, Ini adalah kotoran, (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 156).

Berkata Ibnu Qudamah rahimahullah, Tidak boleh bersuci dengan menggunakan rauts ataupun tulang. Dan bersuci dengan keduanya tidaklah mencukupi, demikian pendapat mayoritas ahli ilmu dan hal ini merupakan pendapatnya Ats-Tsauri, Asy- Syafi’i dan Ishaq, (Al-Mughni, 1/104).

Selain masuk WC, keluar darinya juga memiliki adab dengan berdoa, Ghufaranaka. Aku memohon pengampunan-Mu! (HR. At-Tirmidzi no. 8, Abu Dawud no. 28, Ibnu Majah no. 296 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil no. 52). Doa ini diucapkan ketika seseorang keluar dari tempat buang hajat. Kecocokan doa ini dengan keadaan tersebut adalah setelah seseorang diringankan dan dilindungi dari gangguan fisik, dia akan teringat gangguan berupa dosa maka dia meminta kepada Allah agar meringankan dosanya dan mengampuninya sebagaimana Allah telah menganugerahkan perlindungan kepadanya dari gangguan fisik, (Asy-Syarhul Mumti’, 1/84).

Kecuali itu, kekuatan manusia itu amatlah terbatas untuk mensyukuri nikmat yang dicurahkan oleh Allah SWT berupa makanan, minuman dan pengaturan zat makanan di dalam tubuh sesuai dengan kepentingannya sampai akhirnya dikeluarkan sisanya dari tubuh. Oleh karena itu, sepantasnya seorang hamba memohon ampun kepada Allah sebagai pengakuan akan kekurangan tersebut dari apa yang sepatutnya, (Tuhfatul Ahwadzi, 1/42).

Ada pula beberapa tempat terlarang untuk BAT/BAB seperti air yang tidak mengalir, “Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di air yang diam dan tidak mengalir”, (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 239 dan Muslim no. 282). Yang rajih dari larangan di sini adalah menunjukkan keharamannya. Sama saja air yang tidak mengalir itu banyak ataupun sedikit, kencing ataupun buang air besar karena buang air besar ini lebih jelek daripada kencing. Dan juga perkara yang terlarang dalam permasalahan ini apabila seseorang kencing di dalam bejana kemudian dia buang air kencing tersebut ke air yang tidak mengalir.

Sementara itu, tidaklah terlarang membuang hajat pada air yang mengalir, namun lebih baik dijauhi, terlebih lagi bila air yang mengalir itu sedikit, (Syarah Shahih Muslim, 3/187-188, Subulus Salam, 1/34-35). Adab lainnya, Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian kencing di lubang yang biasa digali oleh binatang sebagai tempat persembunyiannya, (HR. Ahmad no. 19847 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami’ush Shahih, 1/499).

Qatadah rahimahullah, salah seorang rawi hadits ini, ditanya oleh murid-muridnya tentang alasan pelarangan di atas. Qatadah pun menjawab, Lubang-lubang itu adalah tempat tinggalnya jin, (Al Jami`ush Shahih, 1/499) Dilarang pula buang hajat pada jalan yang dilewati manusia dan tempat mereka berteduh, Berhati-hatilah kalian dari dua hal yang dilaknat oleh manusia. Para shahabat bertanya, Apa yang dimaksud dengan dua orang yang dilaknat? Beliau menjawab, Orang yang buang hajat di jalan yang biasa dilalui manusia-manusia atau di tempat yang biasa mereka bernaung, (Shahih, HR. Muslim no. 269). Al-Khaththabi rahimahullah dan selainnya dari kalangan ulama berkata, Yang dimaksud dengan tempat naungan adalah tempat yang dijadikan oleh manusia untuk bernaung, mereka singgah dan duduk di situ, (Syarah Shahih Muslim, 3/163).

Buang hajat di tempat demikian dilarang karena hal itu mengganggu kaum muslimin dengan menajisi dan mengotori tempat lalu lalang mereka, (Syarah Shahih Muslim, 3/163). Sementara memberikan gangguan kepada kaum muslimin itu diharamkan, (Ad-Darari, 24, Asy-Syarhul Mumti‘, 1/102).

Ada lagi tempat-tempat terlarang yang lainnya untuk buang hajat seperti di mata air atau sungai yang digunakan oleh manusia untuk air minum dan wudhu, di bawah pohon yang sedang berbuah walaupun tidak digunakan untuk bernaung, dan di sisi sungai yang mengalir, serta di pintu-pintu masjid. Namun hadits yang menyebutkan tempat-tempat tersebut semuanya lemah, hanya saja yang menjadi patokan kita adalah tidak boleh memberikan gangguan kepada manusia sehingga kita harus menghindar dari buang hajat di tempat-tempat mana saja yang biasa dimanfaatkan oleh mereka. (Bulughul Maram, 41, Subulus Salam, 1/117, Al-Furu’, 1/86).

Begitulah Islam memuliakan penganutnya dengan bersuci, dan itu dimulai dari diri sendiri. Slogan Walikota Makassar agar kota tidak rantasa serta kumuh harus dimulai dari setiap diri pribadi penghuni kotanya, jika sudah mampu beristinja dengan baik dan benar, sesuai dengan adab dan tuntunan Rasulullah, maka tidak hanya kotanya yang terhindar dari rantasa, tetapi manusianya dapat predikat manusia mulia lagi beriman.

Wallahu a‘lam!

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel dan Pengurus KPPSI Pusat

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an