Tadabbur di Bulan Al-Qur'an

Ramadhan, selain dikenal sebagai bulan puasa (syahrus-shiyam), juga dikenal dengan bulan Al-Qur'an (syahrul-qur'an). Selain itu, nama-nama julukan seperti bulan penuh ampunan (syahrul maghfirah), penuh hikmah, penuh rahmat, hingga bulan seribu bulan kerap disematkan pada bulan ke-9 dalam hitungan kalender Hijriah itu. Tentang penamaannya sebagai bulan Al-Qur'an, dapat dilihat sandarannya dari ayat, Syahru ramadhana alladzi unzzila fihil qur'an hudan linnas wa bayyinatin minal huda wal-furqan. Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan batil, (QS. 2: 185). Demikian pula firman Allah, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam--di bulan Ramadhan--yang diberkahi, (QS. 44:3), dan ayat yang masyhur, Inna anzalnahu fi lailatil qadr. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam kemuliaan--satu malam di bulan Ramadhan. (QS. 97: 1). Karena itu, sebuah keniscayaan untuk terus menerus membaca, mempelajari, mentadabburi, hingga mengamal dan memperjuangkan Al-Qur'an di bulan Ramadhan, bulan yang kita sedang berada di dalamnya. Ramadhan dan Al-Qur'an adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Namun, pembahasan kali ini, lebih fakus pada sisi tadabbur Al-Qur'an yang sesungguhnya satu paket dengan pemahaman dan pengamalan Al-Qur'an namun belum banyak dimengerti apalagi di amalkan oleh umat Islam. Secara bahasa, tadabbur artinya memandang kepada akibat sesuatu dan memikirkannya. Mentadabburi perkataan berarti, memperhatikannya dari permulaan hingga akhir, kemudian mengulangi perhatian itu berkali-kali. Secara istilah, tadabbur, sebagaimana definisi Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, menajamkan mata hati terhadap makna-makna Al-Qur'an dan memusatkan pikiran untuk merenungi dan mempelajarinya. Sedang Bachtiar Nasir, sebagai ulama muda Indonesia yang concern dalam gerakan tadabbur berpendapat, Berfikir mendalam dan menyeluruh sampai kepada kandungan makna yang paling dalam dan tujuan-tujuannya yang terjauh. Dasar hukum tadabbur bersumber dari firman Allah sendiri, misalnya, Afala yatadabbarunal-Qur'an, am 'ala qulubin aqfaluha. Maka, tidaklah mereka menghayati Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci? (QS. 47: 24) senada dengan ayat ini, Maka tidakkah mereka menghayati--afala yatadabbarun--Al-Qur'an? Sekiranya itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya, (QS. 4:82), juga berikut, Kitabun anzalnahu ilaika mubarak liyaddabaru ayatihi. Kitab Al-Qur'an yang kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya, (QS. 38: 29). Tadabbur merupakan sunnah Nabi yang marak dipraktikkan para sahabat dan generasi terdahulu umat Islam, dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah, Nabi bersabda, setiap kali satu kaum berkumpul di sebuah rumah Allah--masjid--untuk membaca Kitab Allah dan saling ajar-mengajari di antara mereka, maka turun ketenangan pada mereka, juga diliputi rahmat, dan para malaikat mengerumuni, dan Allah menyebut-nyebut mereka sebagai makhluk yang di sisi-Nya. Ketenangan, rahmat, dan penyebutan adalah balasan bagi tilawah yang dibarengi kajian tadabbur. Dalam beberapa hadis, terlihat benar cara Nabi bertadabbur, misalnya, yang diriwayatkan Hudzaifah, Pada suatu malam ia salat bersama Nabi SAW, beliau membaca surah yang panjang. Bila melewati satu ayat yang memuat kata 'tasbih', maka ia pun bertasbih, bila melewati ayat tentang ta'awwudz, maka ia pun membaca ta'awwudz. Abu Dzar berkata, Pada suatu malam Rasulullah salat dan beliau hanya membaca satu ayat sampai pagi, bahkan ketika ruku' dan sujud pun hanya membaca ayat tersebut, yaitu "In tu'adzdzibhum fainnahum 'ibaduk wa'in taghfirlahum fainnaka antal-'azizul hakim. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-MU, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa, lagi Bijaksana, (QA. 5:118). Ibnu Mas'ud bahkan mengakui bagaimana dia dan sahabat lainnya bertadabbur, katanya, Ada di antara kita yang apabila mempelajari sepuluh ayat, maka ia tidak memasuki ayat berikutnya sampai ia mengetahui makna-maknanya dan mengamalkannya. Ada pula riwayat dari Malik yang bersumber dari Ibnu Umar, bahwa Umar al-Khattab belajar surah Al-Baqarah selama setahun. Ketika beliau mengkhatamkannya, maka beliau menyembelih beberapa hewan ternak. Hasan Al-Bashri, mengajarkan tata cara tadabbur dan mencela mereka yang hanya sekadar baca Al-Qur'an tanpa ingin tau maknanya, katanya, Tadabbur ayat-ayatnya yang benar adalah dengan mengikuti petunjuk-petunjuknya, bukan dengan menghafal huruf-hurufnya namun mengabaikan batasan-batasannya. Bahkan di antara mereka ada yang mengaku, 'Aku membaca Al-Qur'an dan tidak ada satu huruf pun yang terlewatkan'. Demi Allah, sesungguhnya dia telah menghilangkan seluruh Al-Qur'an karena Al-Qur'an tak terlihat pada akhlak dan amalnya. Ada pula yang berkata, 'Aku bisa membaca Al-Qur'an dalam satu nafas!' Demi Allah, mereka bukan ahli qira'ah, bukan ulama, bukan ahli hikmah, dan bukan orang-orang wara'. Semoga Allah tidak memperbanyak manusia seperti mereka! Bahkan, Hasan Al-Bashri menegaskan, Al-Qur'an diturunkan untuk ditadabburi dan diamalkan, lalu menjadikan bacaannya sebagai amalan." Dari beragam riwayat tentang tadabbur, maka secara sederhana, tadabbur bertujuan untuk mengubah sikap mental kita yang sekaligus dapat mengubah pola prilaku (behavior) agar selaras dengan apa yang diinginkan oleh operating system Al-Qur'an. Sehingga akan tercapai segala kabaikan, keselamatan, dan keberkahan hidup baik dunia maupun akhirat. Dan yang utama dari tadabbur adalah, untuk membuka hati (qalb) yang terkunci sehingga dapat merasakan kebesaran Allah dalam ayat-ayat-Nya, pada akhirnya meyakini bahwa Al-Qur'an sungguh berasal dan dijaga oleh Allah, sebagaimana firman-Nya, Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur'an (adz-Dzikr) dan Kami pula yang akan menjaganya,(QS. 15: 9). Bachtiar Nasir, penyusun tafsir dengan judul "Tadabbur Al-Qur'an", memetakan beberapa langka tadabbur Al-Qur'an, antaranya: Bacalah ayat dengan bacaan tadabbur, sucikan diri, hadirkan qalb, perhatikan adab tilawah, dan bacalah dengan tartil; Hafalkan dengan hafalan yang benar, untuk pemula, jangan melebihi 10 ayat; Tuliskan ayat dengan kaedah penulisan sebagaimana dalam Al-Qur'an; Terjemahkan semua kosa kata dengan benar berpandukan pada kitab terjemahan resmi Departemen Agama; Tangkap pesan-pesan utama setiap ayat setelah berfikir secara cermat lalu, ambil hikmah dan pencerahan. Pada dasarnya, manusia memiliki kemampuan berbeda-beda dalam menangkap pesan dan isi Al-Qur'an, tergantung kadar keilmuan, keinginan dan kepeduliannya. Namun secara sederhana makna-makna yang terkandung di dalamnya dapat diketahui dengan membuka lembaran-lembaran terjemahan yang telah disusun para ulama muktabar Indonesia. Namun jika merasa ingin mengembankan dalam pendalaman maknanya, maka tafsir-tafsir Al-Qur'an adalah jawabannya, yang kian hari kian bertambah, bahkan karya anak negeri pun sudah banyak, sebut saja, Tafsir Annur, oleh TM.Hasbi Ash-Shiddiqy, Al-Azhar, oleh HAMKA, Al-Furqan oleh A.Hassan, hingga Tadabbur Al-Qur'an oleh Bachtiar Nasir. Untuk terjemahan, Tafsir Ibnu Katsir adalah masih dipandang terbaik. Memang, sekadar membaca ayat-ayat Al-Qur'an saja sudah mendapatkan pahala, minimal sepuluh kebaikan dalam satu huruf, tetapi jangan lupa, bahwa kita juga dituntut untuk mengamalkan isi Al-Qur'an, karena fungsi utamanya adalah hudan linnas, petunjuk bagi manusia. Cara mengetahui bahwa isinya adalah petunjuk harus didahului dengan memahami dan merenungkan maknanya. Jika bacaannya telah sempurna, diiringi pemahaman yang dalam, lalu dihafal dan diamalkan, maka tak syak lagi, inilah yang disebut manusia Al-Qur'an, derajatnya disamakan dengan para nabi (an-nabiyin), orang-orang benar (shiddiqin), dan para syuhada di medan perang dalam mempertahankan kebenaran. Bulan Al-Qur'an telah tiba, mengisinya dengan mentadabburi ayat-ayat Allah adalah sebuah kemuliaan. Allahummarham Indonesia bil-Qur'an. Ya Allah rahmatillah Indonesia dengan Al-Qur'an. Wallahu A'lam! Ilham Kadir. Alumni terbaik Jurusan Tafsir Kolej Al-Ihsaniyah Penang Malaysia, Pengurus MIUMI Sulsel.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi