Puasa Sebagai Syariat

Setiap nabi yang diutus Allah untuk membimbing umatnya memiliki ciri khas yang membedakan antara satu dengan lainnya. Namun secara umum, ajaran yang dibawah sama, mentauhidkan Allah. Mengajak seluruh umatnya untuk mengucap dan mengamalkan "La Ilaha Illallah" yang bermakna, Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Atau, "La ma'bud illallah". Kecuali itu, setiap rasul dan nabi memiliki syariat masing-masing yang sangat tergantung setting ruang dan waktunya. Sebagai contoh, Nabi Musa 'alaihissalam', salah satu Nabi yang paling banyak disebut namanya dalam Al-Qur'an, ketika kaumnya melakukan dosa besar, maka mereka diwajibkan bertaubat dengan membunuh diri mereka masing-masing, "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu sebagai sesembahan, maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu, dan bunuhlah dirimu," (QS. 2: 54). Bunuh diri bagi umat Nabi Musa adalah jalan terbaik dalam bertaubat. Namun, dalam syariat Nabi Muhammad, bunuh diri adalah dosa yang tak termaafkan, bagaimana tidak, orang yang telah bunuh diri secara otomatis sudah tidak lagi menyisakan waktu pada dirinya untuk bertaubat, karena itu, syariat 'bunuh diri' ala Nabi Musa sudah direduksi oleh syariat Islam ala Nabi Muhammad, berdasarkan firman Allah, "Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyanyang kepadamu, dan barang siapa berbuat demikian--bunuh diri--dengan melanggar hak dan aniaya, maka kelak akan dimasukkan dalam neraka, (QS. 4: 29-30). Terlalu banyak syariat bagi umat-umat terdahulu yang sangat tidak relevan untuk saat ini, termasuk syariat Nabi Isa yang menjadikan tanah bagian dari najis, bukan hanya itu, kain yang terkena najis sudah tidak bisa dibasuh dengan air, melainkan harus digunting. Dan bagi orang yang mencuri, secara otomatis tertulis di pintu rumahnya "Fulan telah mencuri". Tidak hanya itu, dosa-dosa personal maupun kolektif bagi umat nabi-nabi terdahulu kerap mendapat azab secara kontan dari Allah, sebagaimana menimpa kaum Nabi Nuh dengan banjir bandang, hujan batu untuk kaum nabi Luth, dan ditenggelamkannya Fir'aun dan bala tentaranya yang sebenarnya bagian dari kaum Nabi Harun dan Musa 'alahimassalam. Sengaja saya paparkan kisah di atas supaya dapat dipahami bahwa syariat Nabi Muhammaad adalah yang paling ringan dan sesuai setting ruang dan waktu, sejak kedatangan Nabi Muhammad, hingga kiamat datang. Nah, salah satu syariat Islam yang sangat masyhur adalah puasa di bulan Ramadhan. Tak syak lagi, bulan Ramadhan adalah salah satu keistimewaan umat Rasulullah. Di dalamnya beragam keutamaan yang tak terhingga. Puasa misalnya, selain bertujuan menjadikan pelakunya bertakwa, juga bermanfaat melahirkan kepekaan sosial, menyehatkan jiwa dan raga, hingga menekan pengeluaran. Karena itu, bagi orang yang berpuasa dilandasi dengan iman dan ketakwaan akan diampuni dosa-dosanya, baik yang telah lalu, maupun yang akan datang. Man shama ramadhana imanan wahtisaban ghufira lahu ma taqaddama min zambihi wa mata'akhkhara. Demikian sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Wallahu A'lam! Ilham Kadir, Peneliti Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulsel.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi