Menggugat Nuzulul Qur'an

Al-Qur'an ditilik dari sudut bahasa berakar dari kata "qara'a" berarti "bacaan". Selain itu, dapat juga bermakna "mengumpulkan dan menghimpun" dan "qira'ah" dengan makna menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ucapan yang tersusun rapi.

Makna Al-Qur'an secara etimologis-historis dapat dihubungkan dengan "qeryana" berupa bacaan kitab suci yang dilantunkan pada upacara keagamaan dalam bahasa Suriah, atau "miqra'" dalam istilah Ibrani, serupa pembacaan kisah dalam Kitab Suci.

Kata "Qur'an" dalam ilmu morfologi (sharf) sejajar dengan timbangan "fu'lan" berarti bacaan abadi yang selalu didengar berulang-ulang. Al-Qur'an sendiri menceritakan makna dirinya, misalnya, Inna 'alaena jam'ahu wa qur'anah. Sesungguhnya Kami mengumpulkan dan membacakannya (QS. 75:17). Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengar dan perhatikanlah, (QS. 7: 204). Sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, dan Al-Qur'an yang agung, (QS. 15: 87). Sesungguhnya Al-Qur'an ini bacaan yang sangat mulia, (QS. 56: 77). Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur'an yang mulia, (QS. 85: 21).

Al-Qur'an dengan makna bacaan juga didukung oleh banyak hadis, di antaranya, hadis riwayat Baihaqi yang bersumber dari An-Nu'aim bin Basyir, Nabi bersabda, Yang paling utama dari ibadah umatku adalah membaca Al-Qur'an. Hadis ini memang lemah (dha'if), namun dikuatkan dengan hadis shahih yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Umamah Al-Bahili, ia berkata, saya mendengar Rasulullah bersabda, Bacalah Al-Qur'an, karena pada hari kiamat nanti akan datang untuk menjadi pemberi syafaat kepada para pembacanya. Iqra'ul-Qur'an, fainnahu ya'ti yaumul qiyamah syafi'an li ashabihi.

Karena itu, menggabungkan makna Al-Qur'an sebagai "bacaan" dan "himpunan" mendapat titik temu, bahwa ketika seseorang membaca Al-Qur'an maka ia telah mengumpulkan huruf-huruf dalam kata dan kalimat dalam satu rangkaian yang utuh, lalu melafalkan dengan lisannya, sehingga enak didengar, laksana sebuah bangunan yang terangkai rapi, kuat dan sempurna, saling menopang, dan tak tergoyahkan.

Dari segi istilah, Al-Qur'an bermakna, Firman Allah yang menjadi mukjizat abadi, diturunkan kepada Nabi Muhammad penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan Jibril, ditulis pada mushaf-mushaf, kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, membaca dan mempelajarinya dinilai ibadah, dimulai dari surah Al-Fatihah dan ditutup dengan An-Nas.

Nuzulul-Qur'an Secara gambalang, Al-Qur'an menyebut bahwa dirinya diturunkan pada bulan Ramadhan, Syahru Ramadhan alladzi unzila fihi al-Qur'an, Bulan Ramadhan, adalah bulan di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, (QS. 2: 185). Sesungghuhnya Al-Qur'an yang turun pada bulan Ramadhan terjadi dua kali. Yang pertama adalah, turunnya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, dan setelah itu, barulang diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi selama 23 tahun di zaman kenabian Muhammad saw. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Abbas, katanya, "Allah menurunkan Al-Qur'an sekaligus dari Lauh Mahfudz ke Baitul Izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah, (Tafsir Ibnu Katsir 8/441).

Beberapa ayat berbicara terkait turunnya Al-Qur'an secara utuh dari Lauh Mahfudz ke langit dunia, misalnya, Inna anzalnahu fi lailatin mubarakah, Sesunguhnya kami menurunkannya pada malam yang diberkahi, (QS. 44: 3), pada ayat lain, Inna anzalnahu fi lailatil qadr, Sesungguhnya kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan--Lailatul-Qadr, (QS. 97: 1).

Jika patokan turunnya Al-Qur'an ke langit dunia pada malam Lailatul Qadr, maka jelas ia turun pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, bersandar pada dalil, "Carilah malam Lailatul Qadr di malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhari-Muslim).

Juga dalil lain, Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang sehat, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir, (HR. Bukhari-Muslim). Karena itu, Lailatul Qadr dipastikan turun pada 21, 23, 25, 27, atau 29 Ramadhan. Maka secara mutlak, turunnya Al-Qur'an dari Lauhul Mahfudz ke Langit Dunia bukan pada tanggal 17 Ramadhan. Namun jika yang dimaksud awal turunnya Al-Qur'an dari langit dunia kepada Rasulullah jatuh pada malam ke-17 Ramadhan, sebagaimana yang diperingati oleh Bangsa Indonesia, maka itu pun juga keliru.

Awal turunnya Al-Qur'an kepada Nabi adalah simbol awal pengangkatan beliau sebagai rasul, diawali dengan ayat pertama sampai kelima surah al-Alaq. Al-Mubarakfury, pakar sejarah Rasulullah, penulis "Sirah Nabawiyah" menulis, Kami menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa awal turunnya wahyu jatuh pada tanggal 21 Ramadhan. Sebab semua pakar biografi atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi rasul pada hari Senin.

Bersumber dari Abu Qatadah, Nabi pernah ditanya tentang puasa sunnah di hari Senin, ia menjawab, Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu pertama kepadaku. Hari Senin bulan Ramadhan tahun itu jatuh pada 7, 14, 21, dan 28. Nah, jika dalil-dalil yang mengatakan bahwa Al-Qur'an turun dari Lauhil Mahfudz ke Langit Dunia, yang jatuh pada malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan dipadukan dengan turunnya wahyu untuk pertama kalinya pada Nabi, maka tidak salah lagi jika itu terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Inilah pendapat yang paling muktabar menurut Al-Mubarakfury.

Jadi peringatan "Nuzulul-Qur'an" oleh pemerintah pada tanggal 17 Ramadhan tiap tahunnya adalah simbolik belaka, bahwa Al-Qur'an turun pada bulan Ramadhan, dan itu hukumnya mubah alias sah-sah saja, bahkan merupakan sebuah kemuliaan untuk umat Islam Indonesia.

Fungsi Al-Qur'an Al-Qur'an sebagai kitab samawi pamungkas memiliki banyak fungsi, baik primer maupun sekunder. Di antara yang primer itu, sebagai hudan linnas, petunjuk bagi seluruh umat manusia, wabayyenatin minal huda, penjelasan-penjelasan terkait petunjuk tersebut, serta al-furqan, pembeda antara yang hak dan bathil (QS. 2: 185).

Hampir semua aspek kehidupan terdapat dalam Al-Qur'an walaupun tidak secara eksplisit satu persatu, melainkan berupa konsep awal. Contoh nyata, terkait politik, tidak ada konsep baku terkait konstitusi politik yang harus ditegakkan, tetap subtansi dasarnya telah ada yaitu keadilan. Allah maha tau bahwa keadilan adalah dasar dalam kepemimpinan bagi umat manusia lintas negara, agama, dan golongan. Sebagaimana firman-Nya, Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan, (QS. 16: 90), begitulah konsep awal Al-Qur'an tentang politik.

Adil dalam Islam beda dengan Komunis dan Sosialisme yang menekankan 'sama rasa sama rata'. Gurutta Sanusi Baco menggambarkan makna adil dengan sangat indah dan mudah diserap. Adil menurut Gurutta adalah, Engkau menjalankan kewajibanmu lalu menuntut hakmu. Kewajiban seorang pembeli adalah membayar, lalu menuntut haknya berupa barang yang telah dibayar. Harga ikan adalah Rp. 10.000/ekor, jika pembeli ingin seekor ikan maka harus membayar dengan nominal tersebut, itulah adil. Namun kalau ia memberi pada penjual uang sejumlah Rp. 15.000, dan hanya menuntut seekor ikan, maka ia telah berbuat ihsan, begitu pula jika hanya membayar Rp 5.000 dan memaksa untuk mengambil seekor ikan maka ia pun sudah berbuat zalim.

Negara ini dipenuhi banyak koruptor karena banyaknya aparat yang tidak berlaku adil dalam menjalankan tugasnya, bekerja sedikit dan menuntut banyak hak, karena itulah harta negara pun diambil secara zalim. Berlaku adil saja tidak mampu, apalagi berbuat ihsan. Imbuh Gurutta.

Sedang makna al-furqan secara umum adalah membedakan hak dan batil. Hak adalah kebenaran yang diridhai oleh Allah dan bathil adalah segala yang dimurkai. Konsep hak menurut Allah boleh saja beda dengan manusia, agama menjelaskan bahwa pembagian harta pusaka untuk anak lelaki berbeda dengan perempuan, bagi perempuan hanya mendapatkan setengah dari laki-laki, (QS. 4:11). Namun secara umum, Al-Qur'an sangat sesuai dijadikan kosep dasar dalam membangun bangsa dan negara, sebagaimana pesan Nabi, sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat satu bangsa dengan Kitab ini, dan menghinakan yang lainnya.

Jika ingin benar-benar berqur'an, maka negara ini seharusnya tidak hanya sekadar melakukan acara simbolik Nuzulul-Qur'an, tetapi sudah harus menjakankan kosep dan hukum Al-Qur'an. Wallahu A'lam.

Ilham Kadir, Pembina IKDH Makassar, Pengurus KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an