Memburu Lailatul Qadar

Secara etimologis, Lailatul Qadar adalah gabungan dua suku kata berlainan makna, 'laila' dan 'al-qadar', pertama bermakna 'malam' dan kedua 'ketetapan'. Jadi arti sebenar Lailatul Qadar adalah Malam Ketetapan. Karena itu, istilah "Malam Lailatul Qadar" dari segi bahasa berarti "[Malam] Malam Ketetapan", jelas salah dari sudut bahasa, namun karena ketidaktahuan mayoritas masyarakat kita sehingga istilah tersebut sudah umum dipakai dan diterima oleh seluruh kalangan, termasuk yang paham bahasa Arab.

Makna 'laila' yang berarti malam telah disepakati oleh seluruh pakar bahasa Arab, namun kata 'al-qadar' setelah menempel pada kata 'laila' ditafsirkan beragam oleh para ahli tafsir, termasuk Qurash Shihab, ulama tafsir kontemporer Indonesia. Ia memaknai 'al-qadar' sebagai: pertama, al-hukm, atau penetapan, sebab pada malam tersebut merupakan penetapan Allah atas perjalanan makhluk-Nya selama setahun, menyangkut rezeki, umur, jodoh, dan sebagainya. Kedua, bermakna 'kemuliaan'. Bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur'an pada malam yang mulia tersebut. Ketiga, 'pengaturan' karena pada malam turunnya Al-Qur'an Allah mengatur khittah dan strategi Nabi-Nya, Muhammad SAW guna mengajak manusia kepada agama yang hanif (lurus), dengan maksud dan tujuan demi menyelamatkan mereka dari azab Allah baik di dunia maupun di akhirat, dan keempat, bermakna 'sempit'. Dapat dipahami karena turunnya 'Lailatul Qadar' bumi menjadi sempit dan sesak karena dipenuhi para malaikat Allah yang turun dari langit.

Secara istilah, Lailatul Qadar adalah suatu malam yang penuh berkah, lebih baik dari seribu bulan (83 tahun) disebabkan turunnya para malaikat ke bumi untuk memberi salam kesejahteraan-kebahagiaan-keselamatan kepada umat Nabi Muhammad hingga terbit fajar.  Pada malam senilai seribu bulan itu, Allah mengevaluasi dan mengoreksi ketetapan-Nya terhadap segenap umat manusia, setidaknya untuk satu tahun kedepan apakah lebih baik atau lebih buruk, bergantung bagaimana manusia memanfaatkan malam itu secara optimal dan bermakna.  Lailatul Qadar adalah kado istimewa dari Allah untuk umat Nabi Muhammad berdasarkan sabdanya yang diriwayatkan Addailamy, Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umatku lailatul qadar dan itu tidak diberikan kepada umat sebelumnya.  Kapan Turunnya?

Beberapa waktu lalu, saya ditanya oleh seseorang, kapan turunnya Lailatul Qadar, apakah ia turun berdasarkan perhitungan puasa Muhammadiyah atau Pemerintah?

Setelah berdiam sejenak sambil tafakur, saya pun menjawab. Lailatul Qadar besar kemungkinan turun berdasarkan jumlah puasa menurut bulan. Muhammadiyah dan Pemerintah bisa saja bohong, tapi bulan tidak akan pernah berbohong, ia akan menyebut dirinya bahwa seharusnya jumlah puasa sudah sekian. Karena itu, Doel Sumbang pernah menyindir lewat syair lagunya, "Kalau bulan bisa ngomong, pasti ia tak akan bohong!". Sejujurnya, permulaan puasa telah diketahui sejak pertengahan bulan Sya'ban, umumnya, jika purnama jatuh pada malam ke-14 maka jumlah hari dalam satu bulan hanya 29, namun jika jatuh pada malam ke-15, maka jumlah hari mencapai 30 dalam sebulan. Dan, tidak ada satu dalil pun baik ayat Al-Qur'an maupun Hadis yang menyatakan bahwa, Ramadhan bermula atau berakhir jika bulan sudah sekian derajat walau memang disunnahkan lewat rukyat.

Di zaman ini, kita selayaknya tidak butuh lagi menunggu dan meneropong bulan baru lalu memulai atau mengakhiri puasa, sebagaimana kita tak butuh mendongak ke langit ketika menentukan waktu imsak dan berbuka. Perbedaan permulaan puasa tidak bisa dianggap remeh karena berimbas pada pergeseran waktu turunnya Lailatul Qadar yang jatuh pada malam ganjil. Ini adalah masalah serius yang mengalami pembiaran. Jelasnya, Lailatul Qadar turun hanya sekali dalam bulan puasa, di malam ganjil, karena itu, baik pemerintah maupun Muhammadiyah salah satunya pasti ada yang salah, agar tau mana yang benar, tanyakanlah pada bulan!

Selain itu, setelah melalui penelitian dan pengkajian dalil-dalil terkait datangnya Lailatul Qadar, umumnya ditekankan bahwa ia turun pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan karena itu Nabi mendorong umatnya agar mengejar Lailatul Qadar pada sepuluh hari terkahir bulan puasa khususnya malam nganjil, Sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Bukhari, Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Namun Hadis lain yang lebih umum jauh lebih banyak, Barang siapa yang bangun untuk salat pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Man qaama lailatal-qadr imanan wahtisaban gufira lahu ma taqaddama min zanbih, (H.R. Muttafaq 'alaihi). Dalil lainnya, dari Ibnu Umara r.a. Ia bertutur, Rasulullah beriktikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, (H.R. Bukahri-Muslim). Juga hadis yang bersumber dari Aisyah bahwa Nabi sangat bersungguh-sungguh beribadah pada sepuluh terakhir bulan puasa melebihi pada waktu-waktu lainnya. Yajtahidu fil asyril awakhir ma la yajtahid ghairihi. Atau, hadis lain dari Aisyah, Apabila Nabi memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya--menjauhi istri agar tidak bersetubuh--menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.

Jika dalil dan pendapat ulama yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam ganjil sepuluh terakhir (21,23,25,27, atau 29) disingkronkan dengan dalil-dalil keutamaan sepertiga terakhir bulan Ramadhan akan menghasilkan kesimpulan: Turunnya Lailatul Qadar pada malam ganjil bukan berarti hanya pada malam itu saja kita ditekankan untuk menggenjot ibadah, akan tetapi seluruh malam, baik ganjil maupun genap harus mendapat perlakuan yang sama sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.   Maka, perbedaan waktu puasa, Muhammadiyah dan Pemerintah, dalam mengejar Lailatul Qadar harus dijadikan patokan untuk menghidupkan seluruh malam Ramadhan dan lebih khusus sepuluh terakhir.  Bagaimana menggapainya?  Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa pada mulanya Rasulullah SAW ingat persis tanggal dan waktu turunnya Lailatul Qadar, dan bermaksud menginformasikan kepada para murid-muridnya sekaligus sahabatnya, namun secara tiba-tiba dilupakan oleh Allah. Pada riwayat lain, Rasulullah bermaksud menemui para sahabatnya untuk memberitahu waktu datangnya Lailatul Qadar, namun karena saat itu hal konyol terjadi, dua orang umatnya sedang bertikai maka ia pun mengurungkan niatnya, dan akhirnya hanya memerintahkan supaya mengintip dan memburu malam kemuliaan itu.

Hikmah dari riwayat di atas agar kita selaku umat Rasulullah terus mengintip, mencari, dan memburu tanpa henti dengan menghidupkan seluruh malam bulan Ramadhan terutama pada sepuluh malam terakhir melalui amalan sunnah yang disyariatkan.

Beberapa amal sunnah yang menjadi kendaraan pemburu Lailatul Qadar. Pertama, Iktikaf, berdiam di masjid dengan niat khusus dan disertai ibadah. Imam Nawawi mengartikan Iktikaf adalah menetapi sesuatu dan menempatinya, maka orang yang menetap di masjid dengan melaksanakan ibadah sudah masuk kategori Iktikaf.

Kedua, memperbanyak membaca Al-Qur'an karena pahala membacanya akan dilipatgandakan melebihi pahala pada selain Ramadhan, selain itu secara historis bulan ini adalah Al-Qur'an pertama kali diturunkan, baik dari Lauhil Mahfudz ke Langit dunia mapun dari langit dunia ke bumi. Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan Bukhari-Muslim berkata, Jibril menemui Rasulullah pada setiap malam di bulan Ramadhan kemudian ia membacakan Qur'an kepadanya.

Para ulama terdahulu, gila-gilaan membaca Al-Qur'an di bulan puasa, Imam Syafi'I bahkan khatam hingga 60 kali dalam satu bulan puasa mengalahkan Imam Abu Hanifah yang hanya 30 kali.

Ketiga, memperbanyak baca doa, sebagaimana hadis ini: Aisyah berkata, Ya  Rasululallah, bagaimana jika suatu malam aku mengetahui bahwa malam itu Lailatul Qadar? Apa yang harus aku baca? Ia pun bersabda, bacalah, "Allahumma Innaka 'afuwun tahibbul-afwa fa'fu anny. Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pemaaf, engkau menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku!" (H.R. Tirmidzi).

Terakhir adalah memperbanyak salat sunnah (nawafil), seperti salat taraweh, tahajjud, witir, hingga taubat, dan sebaiknya meninggalkan salat Sunnah Tasbih karena ia diperdebatkan kabsahan dalilnya.

Keutamaan salat sunnah sebagi media mendekatkan diri sekaligus sebagai kendaraan terbaik dalam menggapai Lailatul Qadar, dapat disimak dari sebuah hadis qudsi, Bersumber dari Abu Hurairah, diriwayatkan Imam Bukhari, Nabi bersabda, Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku adalah pendengarannya yang mendengar dengannya, dan penglihatannya yang melihat dengannya, dan tangannya yang memegang dengannya, dan kakinya yang melangkah dengannya. Jika meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan memberinya perlindungan.

Wal akhir, Sungguh jelas jika Lailatul Qadar adalah kemuliaan yang harus dikejar dengan kesungguhan, sedikit tidur dan banyak beribadah, Man thalabal 'ula sahiral layal, siapa menginginkan kemuliaan maka hendaknya sedikit tidur dan banyak bermunajat di waktu malam. Jika sekadar menonton sepak bola saja kita rela begadang, bagaimana dengan malam kemulian yang setara dengan seribu bulan? Yakinlah bahwa ia tak akan pernah menghamipiri mereka yang sedang lalai, ngorok, nonton sinetron, meng-up date status galau di Sosmed, mendengarkan nyanyian, berkonvoi di jalan raya, atau kepada para geng motor yang kerjanya bikin onar. Wallahu A'lam!

Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulsel dan Pengurus KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an