Piala Dunia dan Pilpres

Sesungguhnya tidak ada hubungan antara pilpres di Indonesia dan Piala Dunia di Brasil, jika ditinjau dari segi politik maupun letak geografis yang nun jauh di sana. Namun, kedua ajang tersebut, masing-masing mengandung unsur pertarungan di dalamnya. Menjelang pemilihan umum presiden saat ini, masyarakat dihadapkan pada realita yang diwarnai unsur persaingan dan pertarungan kedua belah pihak.

 Jika di Brasil, pertarungannya untuk menciptakan kemenangan demi kemenangan dengan mencetak gol sambil menahan gempuran lawan agar lolos dari lubang jarum dan sampai ke final untuk mengangkat trofi, di Indonesia, para pendukung kedua pasangan capres-cawapres bertarung mati-matian demi meloloskan jagoannya untuk meraih kursi presiden.

Hiruk-pikuk persaingan dan pertarungan politik kian hari tambah memanas. Para capres-cawapres juga tak henti-hentinya menampilkan sikap terbaik dan terkesan merakyat di hadapan masyarakat luas demi meyakinkan para calon pemilih, bahwa dialah yang paling layak memimpin negeri ini.

Diikuti para elite politik pendukung masing-masing pasangan sangat sibuk melebihi pengidap autis membangun dan menggalang kekuatan untuk memenangkan jagoannya. Tak terkecuali tim sukses, sebagai ujung tombak penggalangan dukungan.

Karena itulah negative campaign dan black campaign terus mewarnai dua kubu yang sedang bertarung. Mereka pun terkotak-kotak berdasarkan kepentingan, golongan, ras, dan aliran. Kekacauan ini dipertegas dengan lambang kotak-kotak salah satu kandidat. Idealisme dan nilai-nilai luhur agama dan budaya telah tercampakkan entah kemana.

Yang lebih memprihatinkan, para elite pendukung dari kedua kandidat pemimpin bangsa yang diplopori oleh cerdik pandai bahkan intelektual dan ulama berlomba-lomba mengeluarkan pernyataan saling menyerang dengan diksi multitafsir lalu menggelinding bak bola salju.

Di belahan dunia lainnya, panasnya persaingan 32 timnas yang sedang berlaga dalam ajang Piala Dunia di Brasil. Pesta akbar empat tahunan sarat gengsi, rivalitas dengan tensi yang tinggi akan menjadi ajang pembuktian bagi setiap timnas untuk menunjukkan yang terbaik bagi warga dunia.

Di lapangan hijau tak berlaku lagi pidato-pidato bersajak konotasi, debat kusir, dan ceramah politik. Para pemain hanya dituntut menjalankan taktik manager mereka dibarengi inovasi, seperti tim sukses yang manjadi pion dalam memenangkan pertarungan sang raja, dibantu dengan perwira tingkat tinggi dan kokohnya benteng pertahanan. Hanya yang mampu menampilkan permainan yang atraktif melalui gocekan dan tembakan kakinya akan menjadi pemenang yang dikenang.

Kehebatan tiki-taka ala Spanyol dinilai tak akan bersinar seterang Piala Dunia 2010 di Afsel lalu, sebabnya, skuad La Furia Roja telah tenggelam dibantai habis-habisan oleh Belanda dengan skor mencolok 5-1 pada laga yang dihelat Sabtu 14 Juni kemarin. Peristiwa yang sama dialami Spanyol pada tahun 1963 ketika harus takluk oleh Skotlandia dengan skor 6-2. Sepertinya total football diperagakan Belanda diprediksi akan kembali bersinar, setidaknya sama dengan empat tahun silang.

Dalam tiki-taka, memang menjanjikan keindahan namun bisa juga melahirkan kejenuhan. Seperti halnya dalam politik pemilihan presidem yang sedang berlangsung skarang. Penuh dengan berbagai retorika dan pencitraan.

Bahkan dalam acara debat capres-cawapres, materi debatnya hanya berkutat pada eksistensi para capres dan cawapres. Perdebatan belum menyentuh esensi maupun subtansi visi misi capres-cawapres bersangkutan. Bahkan pertanyaan yang merujuk pada personifikasi masa lalu para kandidat tertentu, padahal sejatinya ini hanya simulasi belaka. Bangsa ini, tidak ingin sedang bernostalgia dengan masa lalu calon pemimpinnya, melainkan ingin memiliki masa depan pemimpin yang tagas nihil melankolis.

Tidak hanya itu, poitik pencitraan juga tak kalah hebatnya, mulai dari cara berbahasa, tubuh, gaya, busana, selera, hingga keluarga dieksploitasi sedemikian rupa agar tercipta sebuah realitas yang sesungguhnya penuh dengan kepalsuan. Seakan para kandidat sedang merasakan penderitaan rakyat, padahal sejatinya hanya mempermainkan rakyat. Setidaknya ada beberapa model pencitraan: pencitraan mencerminkan realitas, pencitraan menyembunyikan realitas, pencitraan menghapus realitas, dan pencitraan berdiri menjadi realitas itu sendiri. Inilah akumulasi dari sebuah realitas palsu yang bisa saja mengantar pemiliknya menjadi pemimpin yang semu.

Dalam sudut pnadang teologis, pencitraan adalah bagian dari kemunafikan,
karena berkata tidak sesuai dengan realita, idza hadatsa kadzaba, dan mengumbar janji tanpa ditunaikan, idza wa'ada akhkafa, puncaknya, ia akan selalu berkhianat bila diserahi amanah, idza u'tumina khona. Dalam Hadis lain yang diriwayatkan Imam Ahmad, Tidak beriman orang yang tidak tidak menjaga amanah yang dibebankan padanya, sebagaimana tidak berimannya orang yang tidak bisa menepati janji. Bahkan Al-Quran telah menekankan untuk menghindari perkataan yang tidak mampu dilaksanakan. Lima taquluna mala taf'alun, Kenapa kamu mengatakn sesuatu yang tidak kamu lakukan? (QS. 61:2). Jelas sudah, pemimpin yang bersumpah untuk mengemban amanah berupa jabatan satu priode tertentu namun mendapat tawaran jabatan yang lebih tinggi dan prestisius, lalu ditanggalkan amanah itu adalah bagian dari kemunafikan. Kita semua berharap agar dikarunia pemimpin yang terhindar dari sifat dan perbuatan munafik.

Persamaan pilpres dan piala dunia juga dapat diliat dari segi suppoter, bahkan seorang tuan rumah kerap dijagokan sebagai kampiun. Memang dalam dunia sepak bola suppoter adalah pemain ke-12, walaupun dalam konteks piala dunia, hal itu sangat sulit terealisasi. Dalam pilpres, siapa yang banyak pendukungnya dipasikan dialah yang jadi pemenang.

Indonesia hingga saat ini masih menjadi juara bertahan sebagai komentator dan penonton sejati. Piala dunia akan banyak memberi efek baik positif maupun negatif. Positifnya, akan meredam panasnya persaingan kedua kandidat, selain menjadi ajang kampanye yang dikemas menarik dengan embel-embel piala dunia, hingga acara nonton bareng yang disponsori oleh timses pasangan tertentu.

Namun pilpres yang dihelat tanggal 9 Juli, pada hari yang sama akan berlangsung laga semifinal di Estadio Belo Horizonte dini hari. Jika demikian, hampir pasti bahwa semua penggemar sepak bola termasuk Indonesia tak terkecuai pendukung kedua pasang capres-cawapres ikut begadang. Maka, dikhawatirkan efek piala dunia meningkatkan jumlah Golput, padahal turut berpartisipasi memilih pemimpin tak kalah pentingnya dari Piala Dunia.  Wallahu A'lam!

Rafles Hils-Cibubur, 14/06/2014. Ilham Kadir, Penikmat Bola dan Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Sulawesi Selatan

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi