Pendidikan Berbasis Iman dan Takwa



Dari masa ke masa, pendidikan adalah bidang yang selalu menarik untuk dibahas, dikaji, diteliti, lalu diangkat kepermukaan. Selalu ada temuan-temuan baru yang pada tahap tertentu menjadi penyempurna pada kekurangan dari penemuan sebelumnya, bahkan berbeda dan berlawanan.

Dapat dimengerti, karena pendidikan sangat dinamis sesuai dengan gaya dan rentak masyarakat dan zaman. Dalam metode mendidik misalnya, selalu ada temuan-temuan baru mengiringi perkembangan zaman yang terus melaju tak terbendung. Tapi percayalah, dalam Islam, konsep-konsep dasar tentang pendidikan telah ada sejak zaman Rasulullah, seperti tujuan pendidikan, materi yang fardhu dan yang sunnah diajarkan pada peserta didik, hingga kedudukan guru dan murid dalam pandangan Islam.

Sederhana saja, Rasulullah adalah seorang pendidik yang sempurna dan melahirkan anak didik yang disebut sahabat sebagai manusia-manusia terbaik sepanjang sejarah. Karena itu, berbicara masalah pendidikan dalam Islam, maka merujuk pada sosok Nabi Muhammad sebagai Imam para nabi (imamul anbiya') adalah mutlak. Pendidikan ala Rasulullah adalah berbasis imam dan takwa, sehingga hasil didikannya pun tidak jauh dari itu. Sangat beda dengan zaman sekarang yang nuansa pendidikannya hanya berbasis keduniaan (sekuler) dan pastinya akan melahirkan alumni sekuler, yang selalu memandang persoalan agama adalah masalah private, karena itu harus direduksi dari ruang publik tak terkecuali dalam ranah pendidikan.

Lalu bagaimana mengatasinya? Nah, di sinilah tantangannya, para steak-holder dunia pendidikan harus membangun kultur sekolah yang berlandaskan nilai-nilai agama agar peserta didik, ketika menimba ilmu, keimanan dan ketakwaan mereka kian bertambah. Bukan sebaliknya, kian bertambah ilmunya, kian jauh dari hidayah sehingga yang bertambah hanya kejauhan dari Allah,  'lam yazdad minallahi illa bu'dan.

 
***

Buku karya sahabat karib saya, "Dr. H. Kamaruddin Hasan, M.Pd., 'Membangun Kultur Sekolah: Menuju Pendidikan Berbasis Imam dan Takwa', Cetakan Semarang. Bina Karya, 2014" adalah solusi jitu di tengah carut-marutnya sistem pendidikan di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia ini.

Buku setebal 198 halaman dan diadaptasi dari disertasi yang telah dipertahankan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar terbagi dalam 13 bab, dan setiap bab memiliki sub pembahasan tersendiri.

Bab II misalnya, yang membahas 'Penguatan Iman dan Takwa dalam Kultur Sekolah', mengurai pengertian iman dan takwa secara bahasa dan istilah dari berbagai pakar. Iman, dari segi bahasa, berakar dari, amina-yu'minu-amanan, berarti percaya. Dari segi istilah, Imam Al-Gazali rahimahullah berpendapat, iman itu diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, lalu diwujudkan dengan amal perbuatan. Maka, iman adalah kesatuan, keselarasan antara hati, ucapan, dan laku perbuatan, serta dapat juga dikatakan sebagai pandangan dan sikap hidup (world view) umat Islam (hlm. 33).

Ada pun takwa dari segi bahasa dan ditinjau dari sudut ilmu morfologi berasal dari waqa-yaqi-wiqayah bermakna takut, menjaga, memelihara, dan melindungi. Dari sudut istilah, Imam Al-Ashfahani menyatakan, Takwa adalah menjadikan jiwa berada dalam perlindungan dari sesuatu yang ditakuti, sehingga takwa dimaknai menjaga diri dari perbuatan dosa.

Al-Gazali menilai, Takwa adalah satu ungkapan penghindaran diri dari kemurkaan Allah dan siksa-Nya dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menahan diri dari melakukan segala larangan-Nya. Hakikat takwa adalah, Tuhan melihat kehadiranmu dimana dia telah melarangmu. Tuhan tidak kehilangan kamu dimana Dia telah memerintahkanmu (hlm. 36). Lalu apa hubungannya, antara pendidikan, iman, dan takwa? Ikuti saya!

Pendidikan merupakan wahana bagi pembentukan dan pewarisan serta pengembangan budaya umat manusia yang memiliki tujuan inti bukan hanya sekadar membangun sisi fisik dan materi belaka, akan tetapi menyangkut perpaduan rohani jasmani, fisik dan psikis (hlm. 43). Karena itu pendidikan dalam Islam harus terbangun dari dasar-dasar keimanan dan ketakwaan yang merupakan gizi utama rohani tanpa harus menyepelekan pertumbuhan fisik sebagai bagian dari tarbiyah. Perpaduan gizi fisik, dan rohani akan melahirkan insan kamil yang mampu berprilaku ihsan.

Jika saya membayar dagangan Anda sesuai harganya, maka itu adalah adil, jika saya membayar kurang dari harganya dengan paksaan dan ancaman maka itu adalah zalim, tapi jika saya membayar separuh dari harga asalnya berdasarkan keinginan Anda, maka itu adalah bagian dari perbuatan ihsan.

Negara ini rusak karena dikelolah oleh orang-orang yang belum mampu, jangankan berbuat ihsan, tahap adil saja belum, kita pun mengenal pemimpin zalim. Terlalu banyak mengharap melebihi tugasnya, akhirnya terlahirlah koruptor.

Maka, hanya ada satu jalan untuk mereduksi semua kemungkaran bahkan kemaksiatan yang berlaku dan terus berlalu di sekitar kita, membangun generasai berlandaskan iman dan takwa, dimulai dengan menamkan kultur yang baik di lingkungan keluarga, sekolah, hingga kantor-kantor, baik milik pemerintah maupun swasta.

Demikian pula, pembentukan karakter juga tak bisa disepelekan, gaung pendidikan karakter yang didengungkan pemerintah nampaknya belum begitu terlihat hasilnya secara signifikan. Sejatinya, membangun karakter bangsa adalah sama dengan membangun pandangan hidup, tujuan hidup, falsafah hidup, hingga frame work dan world view.

Idealnya, karakter orang Indonesia tidak bisa lepas dari nilai-nilai Pancasila, berketuhanan yang Maha Esa. Itu artinya bangsa ini anti sekuler selalu menghadirkan muraqabah (pengawasan) Tuhan dalam hidupnya, sehingga setiap amal perbuatannya tak pernah lepas dari nilai-nilai ketuhanan. Sekali lagi, itulah ihsan yang lahir dari pola pendidikan berbasis imtak. Uraian lebih jauh terkait pendidikan karakter bangsa dalam kultur sekolah dapat disimak pada Bab VIII halaman 119-137. Salah satu sub pembahasannya adalah 'Daya Dorong Agama dan Tantangan Pendidikan' yang menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia hanya dapat dilakukan dengan perbaikan pendidikan.

Ada beberapa ciri masyarakat atau manusia yang berkualitas seperti: Beriman dan bertakwa kepada Allah serta berakhlak mulia; Berdisiplin, pekerja keras, tangguh dan bertanggungjawab; Mandiri, cerdas dan terampil; Sehat jasmani dan rohani; dan Cinta tanah air, tebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan.

Disertasi ini, selain menyuguhkan gizi ilmiah dari berbagai macam pendapat pakar pendidikan kontemporer, juga menyuguhkan pandangan ulama salaf yang berbicara tentang dasar-dasar pendidikan menurut pandangan Islam. Demikian pula, beberapa hadis pendidikan yang asing bagi kita juga dapat ditemui, seperti, Dari Abu Dzar, Nabi SAW bersabda, Jadilah kamu para pendidik yang penyantun, fakih dan berilmu. Dikatakan juga, Jadilah predikat 'rabbaniy', apabial seorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan, dari sekecil-kecilnya sampai paling tinggi, (hlm. 149).

Kritik dan Saran

Tentu saja sebagai karya manusia pasti tidak ada yang sempurna. Karena itu pasti memiliki kekurangan. Sedikit yang luput dari sorotan penulis tentang pembahasan pendidikan dalam perspektif Islam. Berupa penggunaan istilah kata kunci, yaitu ta'dib bukan tarbiyah sebagaimana yang dipopulerkan oleh Naquib Al-Attas dalam "Konsep Pendidikan Islam, Cetakan: Bandung Mizan, 1982". Al-Attas memandang bahwa kata kunci dalam Islam memiliki makna filosifis yang dalam. Karena itu, istilah ta'dib lebih cocok diguna-pakai dalam pendidikan, bukan tarbiyah, karena ta'dib sudah mencakup pendidikan jasmani dan rohani, sedang tarbiyah lebih menyasar daya jasmani saja.

Pendidikan berbasis iman dan takwa adalah bagian dari pendidikan rohani. Padahal, buku Al-Attas yang merupakan makalah ilmiyahnya ketika menghadiri konferensi  pendidikan Islam pertama sedunia yang menghadirkan pakar pendidikan di Makkah pada tahun 1977 dengan judul awal "The Concept of Education in Islam".  Walaupun pada dasarnya tidak mengurangi subtansi dan sasaran dalam penulisan karya ilmiah ini. Tetap harus diapresiasi.

Kedua, sangat disayangkan karena buku ini belum dicetak secara luas, sehingga belum bebas dimiliki, padahal sebagai disertasi, hasilnya jelas telah dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan memang sangat layak dijadikan rujukan dan pegangan dalam dunia pendidikan, baik konseptor maupun pengamat dan peraktisi.

Maka saya mendorong kepada penulisnya yang merupakan Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidika Kab. Barru sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Al-Gazali Barru  Sulawesi Selatan untuk melakukan cetak ulang dengan massal lalu dilempar ke publik.

Hanya  dengan membaca kita akan tau, hanya dengan menulis nama kita akan abadi. Nun wal qalami wama yasthurun, Demi pena, dan apa yang ia goreskan. Wallahu a'lam!

Enrekang, 6/6/'14. Ilham Kadir, Alumni Magister Pendidikan Islam, UMI Makassar.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena