MIUMI Akan Menjadi Jarum Bagi Syiah


Deretan kendaraan berbagai jenis terparkir depan Markas AQL Center Tebet Jakarta. Para peserta Muktamar antre satu persatu mengisi buku tamu yang telah tersedia, sesuai dengan nama dan perwakilan dari masing-masing daerah, sambil dipandu oleh panitia.

Begitu memasuki ruang Muktamar yang mungil dan lumayan luas, nampak meja tersusun melingkar dengan nuansa 'Indonesia banget', merah putih. Di sana telah duduk para intelektual beken Indonesia masa kini. Sebut saja, Adian Husaini, Hamid Fahmi Zarksyi, Bachtiar Nasir, Adnin Armas, Zaitun Rasmin, Anis Malik Toha, Idrus Ramli, daftarnya terus berlanjut. Mereka inilah agent of chenge, inisiator pendiri hingga pengurus teras MIUMI, sebuah lembaga intelektual dan ulama muda di Indonesia yang kian hari kian bersinar diperhitungkan.


Duduk berjejer para peserta Muktamar sesuai nama dan kursi yang telah disediakan oleh panitia, saya sendiri dan Rahmat Abdurrahman mewakili MIUMI Sulsel. Acara Muktamar dimulai pada pukul 09.00 AM. Diawali dengan pembukaan oleh protokol lalu pembacaan ayat suci Alquran Surah Al-Qalam dari ayat 1-15 oleh Fahmi Salim, Ketua DPW MIUMI Jakarta. Di antara makna bacaannya: Al-Quran itu tidak bisa ditandingi, diawali dengan sumpah melalui pena dengan apa yang ia telah goreskan. Qalam adalah satu alat untuk mendokumentasikan seluruh kejadian termasuk mencatat ayat-ayat Allah, wajar kalau melalui qalam Allah menjawab tuduhan kepada Nabi yang dibilangi gila oleh kafir Qurasy saat itu. Kerena itu, sebagai pelanjut dakwah Nabi harus benar-benar memanfaatkan qalam untuk membela Nabi dan ajarannya. Mengikuti jejak ulama yang telah bejuang dalam agama dengan pena. Dengan pena dakwah islamiyah akan terus terajut dari masa ke masa. Selain itu dalam berdakwah harus mengikuti akhlak Nabi sebagai rasul yang memiliki keagungan akhlak yang tiada duanya, wa innaka la 'ala khuluqin 'adzim.

Selanjutnya acara dipandu langsung oleh Bachtiar Nasir. Mengawali bicaranya, ia menekankan bahwa sebuah nikmat yang besar kita dipertemukan pada suatu forum mulia dengan tujuan mulia. Karena ini adalah musyawarah, maka segala keputusan harus dengan musyawarah.

Momentum pilpres ini kita manfaatkan untuk bermusyawarah. Ia menegaskan bahwa pada dasarnya para calon Capres-Cawapres bisa didatangkan, tapi demi menjaga netralitas, maka kita fokus pada kerja kita lebih dulu, baru kemudian fikirkan yang lain.

Acara ini adalah bagian dari gerakan, artinya dana yang digunakan karena adanya gerakan bersama. Kalau hanya sekedar makan dan tiket, maka ulama tidak perlu bikin proposal, sebab ulama yang semestinya meakukan isth'am ath-tha'am.

Agenda hari ini akan membahas tiga persoalan utama 'common threat'. Leberalisme; Aliran sesat; Kristenisasi.

Jika MUI telah melahirkan syariatisasi dalam bidang ekonomi, dan label halal. Maka kita sempurnakan dengan mendirikan pendidikan tinggi sebagai wadah melahirkan kader-kader ulama pewaris para nabi.

Setidaknya ada empat agenda besar yang menunggu untuk direalisasikan: Kepemimpinan ulama; Kaderisasi ulama; Solusi masalah ummat kontemporer; dan Penguatan Ahlussunnah wal-Jamaah.

Proyek utama: Mendirikan Perguruan Tinggi sebagai wadah pengkaderan ulama; Menyelenggarakan pelatihan untuk kepemimpinan ulama sambil mendiriakn pusat penelitian dan kajian strategis; Konsolidasi opini, Publikasi dan penerbitan; Agenda penyatuan ummat; Membangun jaringan internasional.

Disuguhkan pula video ketua MIUMI, Hamid Fahmi Zarkasyi, ia menegaskan, banyaknya problem yang mendera umat Islam Indonesia, bermuara pada satu masalah, yaitu ilmu pengetahuan. Maka tidak ada kata lain, selain membangun ummat dengan ilmu. Karena itu, mereka yang dikaruniai ilmu berpadu dalam satu lembaga yang disebut MIUMI.

Diikuti keterangan langsung oleh Hamid Fahmi, banyaknya firaq-firaq dalam Islam membutuhkan satu otoritas untuk mempersatukan. Dan kita harap MIUMI dapat memersatukan mereka. Kekuatan umat terletak pada individu. Karena itulah sekularisasi yang telah berabad-abad ditanam di Indonesia oleh golongan sekuler tidak ada apa-apanya karena kekuatan iman idividunya.

Kita umat yang besar, dan tantangan juga pasti besar. Maka harus ada kesadaran menghadapi tantangan. Ada liberalisasi, sekularisme, pluralisme, muncul pula kekuatan intelektual dan politik yang menghancurkan akidah, yaitu Syiah.

Kristenisasi juga berjalan masif, pribumi dari suku Padang, Betawi, Bahkan Bugis sudah tidak malu jadi orang Kristen. Ini semua harus memupuk kesadaran agar dapat bersatu dari ancaman bersama. Hilangkan perbedaan, dan bersama hadapi ketiga tantangan di atas.

Solusinya, harus kembali mengkaji dan berpedoman pada karya ulama muktabar melalui kitab-kitab turats sambil meperjuangkan syariat dengan elegan, di dunia ini hanya Indonesia yang menggunakan istilah ekonomi syariah sedang negara lain, seperti Malaysia dan Qatar misalnya, memakai istilah ekonomi Islam.

Selain itu, harus ada teman-teman pada setiap perwakilan MIUMI, Pusat atau Daerah yang pakar dalam bidang syariah, politik, hukum, atau dalam spesifikasi keilmuan tertentu. MIUMI harus menjadi gerakan intelektual dan sosial berupa amar ma'ruf nahi munkar, termasuk menyatukan firaq dari lintas lembaga, baik sosial maupun politik. Melakukan pendekatan pada pemerintah daerah, walikota, bupati, dan gubernur. Sebagai bentuk memperluas wadah dalam berdakwah, ketika ada masalah keumatan, maka kita dapat memberi sumbangsih.

Ada pun hubungan MIUMI dengan lembaga keislaman, seperti MUI, ICMI, Muhammadiyah, NU adalah membangun kebersamaan, apa yang telah mereka kerjakan kita dukung, apa yang belum dikerjakan itulah yang diusahakan untuk diwujudkan MIUMI.

Adian Husaini, menegaskan, sambil mengutif perkataan Imam Al-Gazali, Rakyat rusak karena umara rusak, umara rusak karena ulama rusak, dan ulama rusak karena cinta dunia secara berkebihan. Direktur Program Pascasarjana UIKA ini menceritakan, bahwa seorang pengurus ulama pusat yang memperkenalkan diri sebagai pengurus majelis ulama dalam satu forum ilmiah. Ia malah disoraski oleh hadirin. Saat itu sedang santer dibicarakan seorang ulama yang terdasung video porno, plus berita UGB yang gencar di pelbagai media.

Inilah fakta terkait pandangan sebagian masyarakat tentang ulama. Karena itu penting melakukan kaderisasi ulama dengan serius. Kita harus kembalikan, pemimpin Negara dan umat ini berasal ulama pemimpin ummat dan pengatur penguasa sehingga kebijakan mereka berdasarkan visi ulama yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.

Farid Ahmad Okbah, tampil berbicara tentang bahaya Syiah sebagai spesifikasi kajiannya. Memulai pembicaraan dengan menuturkan beberapa tipologi ulama dan intelektual. Ulama yang penguasa, mereka para khulafa rasyidin yang penguasa sekaligus ulama; setelah itu penguasa yang mengikuti ulama; periode selanjutnya ulama berseberangan dengan umara, namun ulama tetap menjadi pencerah umat; dan paling rusak adalah ketika ulama menghinakan diri pada penguasa.

Syiah memiliki lima kekuatan yang mengalahkan kekuatan apa pun. Pertama, Syiah memiliki negara; Kedua, mereka memiliki marja', ABI ke Iran, IJABI ke Libanon, mereka tunduk patuh pada marja', saat ini sudah banyak anak Indonesia yang berlatih perang dengan Hizbullah di Libanon. Ketiga, Mereka punya khumus, atau dana untuk memperkuat gerakan mereka. Keempat, kaderisasi yang terus terpelihara, saat ini saja, kurang lebih sekitar 12.000 pelajar Indonesia di Iran, sementara di Mesir hanya 5000. Kelima, Syiah memiliki kader ilmiah militan lulusan khauzah ilmiah di Iran seperti Qum.

Semua ini, bukan saja sekadar tantangan, tapi sudah menjadi bara yang menyala dalam rumah kita. Kata penulis buku, Ahlussunah wal Jamaah dan Dilema Syiah di Indonesia.

Menurutnya, Ajaran Syiah tidak usah ditakuti karena sangat rapuh, dia hanya ibarat balon, begitu kena jarum akan langsung meletup. Maka kita, MIUMI harus menjadi jarum bagi Syiah.

Idrus Ramli, ulama muda kesohor NU, yang memang mendapat tugas untuk menghantam Syiah. Beliau juga anti Wahhabi, pengurus MIUMI Jatim ini menceritakan bahwa pendekatan Syiah dalam mengajak Sunni yang terdiri dari orang-orang NU, melalui pendekatan finansial. Kebanyakan mereka berasal dari kantong-kantong habaib. Ternyata habaib itu mendapat dana bantuan langsung dari Iran bahkan asatidz, bantuan mereka bertingkat-tingkat, tergantung tugas dari 5-9jt.

Belakangan, kedutaan Iran minta laporan keberhasilan dakwahnya. Indikasi keberhasilannya adalah, tidak ada salat Jumat dan taraweh. Tapi pihak Iran mau lebih kongkrit, dan para  dai bayaran ini tidak mampu membuat laporan, dana distop, dan kemudian dipecat dari dai lalu, dainya kembali ke Sunni dan membeberkan fakta ini. Senjata makan tuan.


Namun secara jujur Idrus Ramli mengakui bahwa tidak sedikit warga NU yang telah memeluk ajaran Syiah sesungguhnya, walaupun mereka terus-menerus menyembunyikan ajarannya. Fakta ini terkuak ketika salah seorang keluarga nahdiyin  meninggal dunia, lalu dikafani dengan kain warna hitam sambil digenggamkan pada tangan kanangnya cemeti yang, menurut keluarga si mayat yang telah jadi Syiah, akan digunakan untuk menyambuk Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar Al-Khattab ketika dibangkitkan dari kuburan sebelum menuju Padang Makhsyar. 

Begitulah dendam Syiah terhadap kedua sahabat Nabi yang sekaligus sebagai mertuanya, sejujurnya merekalah Ahlul Bait yang harus dimuliakan. Karena itu, Syiah harus disekat untuk menyebarkan ajaran kebenciannya, jika tidak, maka Indonesia akan menjadi kubang penyesatan yang bermuara pada perpecahan dan konflik horizontal. Bukan tidak mungkin, Syiah akan berbuat seperti di Iraq, Iran, Suria, Mesir, hingga Afganistan, memorak-morandakan keutuhan umat dan kesatuan NKRI.

Acara Muktamar MIUMI yang pertama kalinya ini berlangsung sampai menjelang Magrib, melahirkan beberapa rekomendasi yang akan diserahkan pada para cawapres, salah satunya, agar pemimpin mendatang membuat aturan yang sesuai dengan UUD 45 tentang pendidikan, Melahirkan manusia beriman dan bertakwa. Itulah indikasi utama keberhasilan sebuah institusi pendidikan. Wallahu A'lam!

AQL Center-Tebet, Jakarta, 12 Juni 2014. Ilham Kadir, Peserta Muktamar ke-1 MIUMI.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena