Lautan Ilmu Ibnul Qayyim Al-Jauziyah

Salah seorang sahabat Nabi bernama Abdullah bin Abdi Nuhn dengan nama panggilan Dzul Bijadain seorang anak yatim yang diasuh oleh pamannya. Suatu ketika, jiwanya tergerak untuk mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Maka ia pun berusaha bangkit, karena sakitnya, ia hanya bisa duduk mengamati pamannya. Sewaktu kesehatannya sudah benar-benar pulih, kesabarannya benar-benar sudah habis. Ia pun menyampaikan isi hatinya pada pamannya, Wahai pamanku, lama kunanti engkau masuk Islam, namun aku tak melihat engkau memiliki semangat untuk itu". 
  
Pamannya muntab lalu berkata, Demi Allah, jika kamu memeluk Islam, maka akan kuambil lagi semua yang telah kuberikan padamu!". Mendengar ucapan pamannya, kerinduannya pada Rasulullah telah membuncah, "Melihat Muhammad lebih aku cintai dari dunia dan seisinya!". Dalam sebuah syair dikatakan : Seandainya Majnun ditanya, apakah bersatu dengan Laila yang kamu inginkan, ataukan dunia dan seisinya? Tentu ia menjawab, debu sandalnya lebih aku sukai daripada duka karena kehilangannya. Begitulah cinta sejati, tak bisa diukur dengan apa pun, tak terkecuali cinta Dzul Bijadain pada Rasulullah. Maka ia pun bersikukuh untuk berangkat menemui Nabi Muhammad, maka pamannya yang selama ini merawat dan membesarkan dirinya, melucuti semua pakaian yang dimiliknya. 
 
Maka, Ibunya memberinya sehelai kain, yang kemudian dipotong menjadi dua bagian untuk dipakai mengarungi perjalanan jauh demi bertemu sang kekasih, Rasulullah. Sepotong digunakan untuk menutupi bagian bawah tubuhnya, dan lainnya untuk bagian atas. Setelah berjumpa Rasulullah, seruan jihad pun dikumandangkan, Dzul Bijadain ikut berperang, berada pada barisan mujahidin. Dalam jihad, ia pun mati syahid, itu semua diraih setelah melalui perjalanan berat dan jauhnya proses menemukan cinta. Rasulullah yang dicintainya itu mempersiapkan sendiri liang lahad sang syahid, lalu berdoa, Allahumma inni amsaytu 'anhu radhiyan fardha 'anhu. Ya Allah, sesungguhnya aku ridha kepadanya, maka ridhahilah ia. 

Mendengar doa Nabi yang dipersembahkan khusus tuk Dzul Bijadain, Ibnu Ma'ud pun berseru, "Aduhai, seandainya saja aku yang menghuni kubur ini!" Kisah ini menunjukkan bahwa, siapa pun dapat menjadi orang paling mulia di sisi Nabi, tanpa melihat kasta dan status sosial. Pelajaran ini saya petik dari karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Fawaidul Fawaid, Cet. II; Jakarta: Pustaka Imam Syafi'I, 2013. Buku yang ditahqiq Syaikh 'Ali bin Hasan al-Halabi ini, memuat 13 Bab yang terdiri dari 700 halaman. 

Calon Penghuni Surga Terlalu banyak pelajaran dapat diambil dari buku ini, antaranya. Setidaknya ada empat sifat calon penghuni surga:
Pertama. Awwab, yaitu orang --orang yang senantiasa bertaubat kepada Allah dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menjadi ingat kepada Allah. Ubaid bin Umair berkata, Istilah awwab pada dasarnya ditujukan kepada seseorang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristigfar memohon ampun kepada Allah. Ada pun Sa'id bin al-Musayyib menjelaskan, Awwab artinya, orang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, lalu berbuat dosa lagi, dan diakhiri dengan taubat!
Kedua. Hafizh, menurut Ibnu Abbas adalah orang yang pandai menjaga amanat Allah yang dititipkan padanya. Qatadah berpendapat, Pandai menjaga hak dan nikmat Allah yang dititipkan padanya. Pada hakikatnya, dalam jiwa setiap insan terdapat dua kekuatan: kekuatan meminta dan kekutan menahan diri. Orang yang bersifat awwab adalah yang menggunakan kekuatan meminta tatkala kembali pada Allah, mengharap ridha dan mentaati-Nya. Sedang orang yang bersifat hafisz adalah orang yang menggunakan kekuatan menahan diri ketika menghindari maksiat dan larangan-Nya. Jadi, seorang hafizh adalah orang yang pandai menahan diri dari segala yang diharamkan Allah, sementara seorang awwab yang senantiasa kembali pada Allah dengan ketaatan pada-Nya. 

Ketiga. Khaasyi ar-Rahman, adalah orang yang takut dan tunduk kepada Allah yang Maha Pengasih, sebagaimana friman Allah 'man khsyia ar-rahman bil ghaib'. Orang-orang yang takut kepada Allah yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan. Ayat ini mengandung pengakuan seseorang terhadap eksistensi Allah dan rububiyah-Nya, kekuatan, dan ilmu-Nya secara terperinci. Terkandung pula pengakuan akan kitab-kitab Allah, para rasul-Nya, serta perintah dan larangan-Nya, juga terkandung pengakuan terhadap janji Allah serta ancaman dan perjumpaan dengan-Nya. Karena itu, tidak sah pengakuan takut seseorang pada Allah melainkan dengan mengakui semua ini. 

Keempat. Qalbun Munib. Ciri lainnya penguni surga adalah "wa ja'a biqalbin munib". Dia datang dengan hati yang bertaubat. Ibnu Abbas berpendat, Yakni kembali kepada Allah dari perbuatan-perbuatan maksiat, lantas melakukan ketaatan, menunjukkan kecintaan, dan bersimpuh kepada-Nya. Keempat tipe penghuni surga di atas akan mendapat tawaran, Udkhuluha bisalam dzalika yaumul khulud. Lahum ma yasya'una fiha wa ladaina mazid. Masuklah ke dalam surga dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi. Mereka di dalamnnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya. Secara detail, ciri-ciri penghuni surga di atas terdapat dalam Al-Qur'an Surah Qaf, ayat 31-35, (hlm. 193-195). Kafir Penghuni Neraka Ibnul Qayyim memaparkan beberapa sifat orang kafir dengan bersandar pada Al-Qur'an Surah Qaf 25-30. 

Allah menyebutkan beberapa sifat orang-orang yang akan dilempar ke dalam api neraka. Setidaknya ada enam sifat sebagai beriku:
 (1). Kufur terhadap nikmat Allah dan mengingkari hak-hak-Nya, kufur terhadap agama, kufur dalam mengesakan-Nya, kufur terhadap asma dan sifat-sifat-Nya, kufur terhadap para rasul dan Malaikat-Nya, serta kufur terhadap kitab-kitab dan pertemuan dengan-Nya (ayat 24);
(2) Menentang yang haq (kebenaran ilahi) dengan berbagai bentuk pengingkaran dan pembangkangan (ayat 25);
 (3) Menghalangi kebaikan, baik kebaikan untuk diri sendiri berupa ketaatan dan ibadah kepada Allah, maupun kebaikan untuk orang lain. Maka itu, ia tidak mempunyai kebaikan untuk diri sendiri maupun untuk sesamanya, sebagaimana prihal umat manusia pada umumnya (ayat 25);
(4) Di samping menghalangi kebaikan, orang itu pun suka memusuhi orang lain, menzhalimi sesama serta menyakiti mereka dengan perbuatan dan ucapannya (ayat 25);
(5) Bersikap skeptis, yaitu ragu-ragu terhadap kebenaran. Tidak hanya sebatas itu, bahkan ia juga selalu mendatangkan hal-hal yang meragukan. Dalam bahasa Arab diungkapkan, fulan murib, Fulan bersikap ragu-ragun (ayat 25); dan
(6) Selain sifat-sifat di atas, orang musyrik yang menjadikan ilah--sesembahan--selain Allah. Termasuk bersumpah atas namanya, memberi loyalitas untuknya, dst. (Ayat 26). Lalu golongan kafir di atas yang akan menghuni neraka berdebat dengan setan yang selama ini menjadi pendamping dan penuntunnya di dunia dulu. 

Namun, setan menimpakan seluruh tangungjawab kepadanya, walaupun pada dasarnya setanlah yang menjerumuskan. Setan bedoa, Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkan tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh. Dengan kata lain, orang itu sendiri yang memilih kesesatan. Pernyataan ini sesuai dalih yang dikemukakan iblis kepada penghuni Neraka. "Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekadar aku menyeru kamu, lalu kamu mematuhi seruanku, (QS. Ibrahim: 22). 

Sebetulnya, Iblis dilaknat oleh Allah karena dia tidak mau melakukan satu kali sujud kepada Adam sebagai penghormatan dan ketaatan pada Allah. Sementara, Adam alaihissalam dikeluarkan dari surga hanya karena sesuap makanan yang diharamkan baginya. Oleh karena itu, jangan pernah berpikir bahwa Allah tidak akan menghukum Anda atas dosa yang telah Anda lakukan, (hlm. 578).

 Salah satu alasan mengapa meninggalkan perintah Allah lebih berdosa dibandingkan melanggar larangn-Nya adalah, karena Allah masih bersedia menerima taubat Nabi Adam setelah beliau melanggar larangan-Nya. Tetapi, Allah tidak mengampuni iblis karena meninggalkan perintah-Nya untuk bersujud pada Adam.

Buku Fawaidul Fawaid ini, banyak membahas tentang tafsir ayat-ayat tertentu, terutama pada Bab II "Al-Qur'an dan Tafsir", Ibnul Qayyim menyusun untaian kata-kata ketika menggambarkan keagungan Al-Qur'an: Adalah Sumber penerang kehidupan. Ibarat lentera ajaib bagi hati, tanpa perlu disulut api; minyaknya sudah dapat menerangi kekelaman ruang kalbu. Menyelami samudera hikmah di balik ke dalaman makna ayat-ayatnya akan membentuk kemampuan berfikir yang utuh dan kemampuan beramal secara sempurna demi kebahagiaan hamba. 

Semakin dalam ayat-ayat itu diselami, semakin terlihat jelas tapak jalan yang harus dilalui oleh setiap musafir akhirat jika ingin mencapai tujuan dengan selamat. Bentangan kehidupan dari penciptaan dunia hingga hisab di akhirat terlihat nyata. Ada pun manusia, mereka tinggal memilih kemana ia hendak berpulang: ke pangkuan rahmat-Nya, atau ke himpitan murka-Nya, (hlm 144). Tauhid, juga menjadi pembahasan utama dan pertama, banyak pelajaran yang dapat dipetik, nasihat-nasihat yang bermanfaat, seperti: Jika seorang hamba menjadikan dirinya shalih secara lahir dan batin, niscaya ia akan mendapatkan kasih sayang Allah secara lahir dan batin pula. Dengan kasih sayang Allah secara batin, semua ujian dan musibah akan dapat ia lalui dengan penuh ketegaran. Sebab, ia sadar benar bahwa kasih sayang Allah di balik semua musibahnya telah menyibukkan dirinya dari kepedihan deritanya, (hlm. 27). 

Ada pula nasihat ringan namun penuh bobot, ini dia: Sebenarnya, kita bisa memperbaiki waktu yang telah lewat maupun akan datang. Waktu yang telah lewat dapat diperbaiki dengan taubat, sedangkan waktu yang akan datang dapat diperbaiki dengan menjauhi segala kemaksiatan sejak dini. Yang penting, bagimana memanfaatkan usia kita saat ini agar tidak menjadi sesuatu yang harus ditaubati nantinya. Dan menuntut kita untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih memberikan kebahagiaan hakiki pada diri kita, (hlm. 478). 

Atau nasihat ini: Melenyapkan gunung yang menjulang tinggi jauh lebih mudah daripada melenyapkan sifat sombong, dengki, marah, dan syahwat dalam hati. Dari keempat sifat buruk inilah semua bencana dunia dan akhirat bermula. Seandainya hamba mengenal Tuhannya dengan segala sifat kesempurnaan dan keagungannya, dan dia mengenal dirinya sendiri dalam sifat kelemahan dan ketidak berdayaannya, niscaya jiwanya akan terjaga dari keempat sifat tersebut, (hlm. 421). 

Karena itu, Ibnul Qayyim menulis, di antara tanda-tanda kebahagiaan seorang hamba ialah semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah pula ketawadhuannya; semakin bertambah amalnya, makin besar pula rasa takutnya pada Allah; semakin bertambah usianya maka semakin berkurang ambisinya terhadap dunia; semakin bertambah hartanya maka semakin bertambah kedermawanannya; dan semakin tinggi kedudukannya, maka semakin dekat dengan sesama. Suatu ilmu akan menjadi bencana apabila ia tidak sejalan dengan kehendak Allah; entah karena subtansi ilmu itu atau memang tidak dicintai Allah, atau niat orang yang mempelajarinya bukan karena Allah, (hlm. 357). 

Dunia ini--menurut Ibnul Qayyim--laksana seorang wanita penghibur. Ia tidak akan menyerahkan dirinya untuk dimiliki oleh seorang lelaki saja tapi ia akan membujuk setiap lelaki yang lemah imannya agar bersikap baik padanya. Karenanya, jangan biarkan diri Anda larut dalam lemahnya iman sehingga Anda jatuh dalam pelukan nista dunia, (hlm. 559). 

Kesenangan dunia bagaikan permainan sulap. Penglihatan orang awam akan terfokus pada apa yang terlihat saja. Sedangan pandangan orang berilmu akan mampu menembus apa yang ada di balik ilusi sulap tersebut, (hlm. 652).

 Karena ibadah adalah bagian dari ilmu, maka syarat beribadah harus didahului dengan ilmu, minimal syarat dan rukunnya. Bagi yang beribadah tanpa ilmu ia tidak akan mengenal jalan yang ditempuh, rintangan yang ada, serta tidak mengetahui maksud dan tujuannya, hanya melahirkan keletihan dalam perjalanan. Maanfaat yang diperoleh pun sangat minim. 

Itulah orang jahil. Selain itu, ada beberapa ciri khas orang jahil yang patut diketahui: (1). Giat mengerjakan ibadah sunnah (nafilah) namun meninggalkan ibadah fardhu; (2). Giat beribadah dengan anggota tubuh saja, tanpa diiringi dengan amalan hati; (3). Giat ibadah batin, tetapi dalam pelaksanaan ketaatan yang lahir tidak sesuai dengan as-Sunnah; (4). Giat bercita-cita mengerjakan suatu amal tanpa mengetahui tujuan amal tersebut; (5). Giat mengerjakan amal tanpa menghindari dampak-dampak yang bisa merusak amalnya, baik ketika melakukan maupun setelahnya; (6). Giat mengerjakan suatu amal, namun melalaikan adanya manugerah yang terdapat di dalamnya, padahal amal ibadah terlaksana bukan karena faktor perbuatan anggota badan saja; (7). Giat mengerjakan amal tanpa menyadari kekurangan dirinya terkait amal itu, sehingga terluput dari meminta ampun kepda-Nya setelah menyelesaikannya; dan (8) Giat melakukan amal yang belum terpenuhi haknya, berupa nasihat dan berlaku baik, tetapi mengira telah memenuhi kewajiban tersebut, (hlm. 579-580). 

Saya tutup resensi ini dengan mengutip, Hikmah dan nasihat ibarat resep yang diberikan dokter kepada pasiennya. Apabila resep itu ditukar dengan obat lalu dikonsumsi sesuai petunjuk. Niscaya ia akan membantu menyembuhkan penyakit. Namun, apabila resep itu hanya sekadar dibaca dan tidak pernah ditukarkan dengan obat, apalagi dkonsumsi, niscaya ia tidak akan berfungsi apa-apa, (627).

Seperti itulah hikmah dan nasihat yang terangkum dalam buku "Fawadul Fawaid" ini. Renungan-renungannya harus diwujudkan dalam kehidupan nyata, dengan cara demikian, Insya Allah, jarak perjalanan kita menuju Allah akan semakin dekat. Keletihan dan kepayahan di tengah perjalanan akan menyingkir dengan sendirinya. Dan, kita pun akan semakin yakin bahwa hanya Dia satu-satunya tujuan yang harus diraih pada saatnya nanti. Wallahu A'lam! 

Setu-Bekasi, 25/06/2014. Ilham Kadir. Pengurus KPPSI Pusat, Ketua Lembaga Penelitian MIUMI Sulawesi Selatan.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an