Hilangnya Adab di Kampus Peradaban

Hilangnya Adab di Kampus Peradaban  Adab adalah salah satu kata kunci yang banyak dibahas para cendekiawan dan ulama dari dulu hingga sekarang, dari Maroko hingga Merauke, karena itu memahami makna adab sangat penting. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) susunan W.J.S. Poerwadarminta, adab diartikan sebagai, 'kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti, dan akhlak'. Sedangkan beradab dimaknai sama dengan, 'baik budi bahasa, dan telah maju tingkat kehidupan lahir dan batinnya'.

Bagi bangsa Indonesia, istilah adab bukan hal yang asing karena sudah digunakan dalam sila kedua Pancasila yang dihafal lancar oleh anak SD namun tidak dihafal sebagian anggota DPR. "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab". Masuknya istilah adab dalam Pancasila merupakan bagian dari indikasi kuatnya pengaruh Islamic Worldview atau pandangan alam Islam dalam rumusan Pembukaan UUD 45 yang di dalamnya terdapat rumusan Pancasila. Selain itu, akan kita jumpai dalam Pancasila istilah yang hanya dimengerti dengan menggunakan pandangan dan pemikiran Islam, seperti, hikmah, rakyat, daulat, wakil, dan musyawarah.

Karena kata adab berasal dari istilah Islam yang islami, maka memahaminya tidak boleh sembrono dan asal-asalan, apa yang tertulis dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia tantang makna adab jelas sangat kurang dan perlu disempurnakan dengan mengembalikan makna asalnya.

Kita mulai dengan sebuah sabda Nabi, yang dirawikan oleh Ibnu Majah, Akrimu auladakum wa ahsinu adabahum. Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. Diperkuat oleh hadis lain yang juga menggunakan istilah adab, Sabda Nabi yang dirawikan Imam Ahmad, Li'an yu'addiba ar-rajulu waladahu khaerun lahu min an yatashaddaq kulla yaum nihfi sha'. Jika seseorang dapat menjadikan anaknya beradab, maka itu lebih baik baginya daripada setiap hari bersedekah setengah sha'.

Ulama Besar sekaliber Hasan Al-Bashri juga tidak ketinggalan berpetuah tentang adab, katanya, In kaana al-rajulu la-yakhruju fii adabi nafsihi al-sinina tsumma sinina. Hendaknya seseorang senantiasa mendidik dirinya dari tahun ke tahun. Habib bin as-Syahid, ketika menasihati putranya berkata, Ishhabil fuqahaa wa ta'allam minhum adabahum, fainna dzalika ahabbu ilayya min katsirin minal hadits. Bergaullah engkau dengan para fuqaha serta pelajarilah adab mereka, sesungguhnya yang demikian itu akan aku cintai daripada banyak hadis. Ruwaim rahimahullah juga menasihati putranya, Yaa bunayya ij'al 'ilmaka milhan, wa adabaka daqiqan. Wahai putraku! Jadikanlah ilmumu laksana garam dan adabmu sebagai tepung.

Ketika Imam Syafi'i ditanya seseorang, Sejauh mana perhatianmu terkait adab? Sang Imam menjawab, Setiap kali telingaku menyimak suatu pengajaran budi pekerti meski hanya satu huruf, maka seluruh organ tubuhku akan ikut merasakan seolah-olah setiap organ memiliki telinga. Demikianlah perumpamaan hasrat dan kecintaanku terhadap pengajaran adab. Lalu Imam Syafi'I ditanya lagi, Bagaimanakah usaha-usaha dalam mencari adab itu? Beliau menjawab, Aku akan senantiasa mencarinya laksana usaha seorang ibu yang mencari anak satu-satunya yang hilang.

K.H. Hasyim Asy'ari, Pendiri Nahdatul Ulama (NU) organiasi Islam terbesar di dunia, menulis sebuah buku, Adabul 'alim wal-Muta'allim, terjemahan sebetulnya "Adab Guru dan Murid". Dalam edisi Indonesia diterjemahkan secara tidak tepat, "Etika Pendidikan Guru" (Yogyakarta: Titian Wacana, 2007). Ulama Besar itu banyak berbicara tentang pentingnya adab, di antaranya, Kaitannya dengan masalah adab ini, sebagian ulama lain menjelaskan, Konsekuensi dari pernyataan tauhid yang telah diikrarkan seseorang adalah mengharuskan beriman kepada Allah--dengan membenarkan dan meyakini Allah tanpa sedikitpun keraguan. Karena apabila ia tidak memiliki keilmuan itu, tauhidnya dianggap tidak sah. Demikian pula keimanan, jika tidak dibarengi dengan pengamalan syariat (hukum-hukum) Islam dengan baik, maka sesungguhnya ia belum memiliki keimanan dan tauhid yang benar. Begitupun dengan pengamalan syariat, apabila ia mengamalkannya tanpa dilandasi adab, maka pada hakikatnya ia belum mengamalkan syariaat, dan belum dianggap beriman serta bertauhid kepada Allah.  Hsyim Asy'ari melanjutkan, Kiranya tidak perlu diragukan lagi betapa luhurnya kedudukan adab di dalam ajaran agama Islam. Karena, tanpa adab dan prilaku yang terpuji, maka apa pun amal ibadah yang dilakukan seseorang tidak akan diterima di sisi Allah sebagai amal kebaikan, baik menyangkut amal qalbiyah (hati), badaniyah (badan), qauliyah (ucapan), maupun fi'liyah (perbuatan). Dengan demikian, dapat dimaklumi bahwa salah satu indikator amal ibadah seseorang diterima atau tidak di sisi Allah adalah, sejauh mana aspek adab disertakan dalam setiap amal perbuatan yang dilakukannya.

Lost of Adab

Pada tahun 1977, di Makkah, diadakan Konferensi Internasional Pendidikan Islam (World Conference on Islamic Education) Pertama. Para ulama, cendekiawan, dan pakar pendidikan Islam diundang. Saat itu, M. Natsir merupakan salah satu perwakilan dari Indonesia. Salah seorang pakar pendidikan memaparkan makalah "The Concept of Education in Islam", pakar yang dimaksud adalah Prof Muhammad Naquib Al-Attas. Dalam ulasannya menegaskan, konsep pendidikan dalam Islam yang paling tepat adalah ta'dib atau 'pengadaban' sesuai sabda Nabi, Addabani rabbi fa ahsana ta'dibi, Tuhanku telah mendidikku dan menjadikan diriku manusia paling beradab.

Bagi Al-Attas, konsep ta'dib dalam pendidikan berbeda dengan tarbiyah, yang pertama menyasar daya psikis dan fisik sementara yang kedua lebih pada fisik. Maka dikenal dalam istilah tarbiyah alhayawan, memelihara hewan, tarbiyah an-nabatat, memelihara tanaman hingga tarbiyah al-jamad, menjaga benda mati. Sementara ta'dib, hanya dkhususkan untuk mendidik manusia, tidak hanya itu adab sebagai hasil dari ta'dib akan menghasilkan peradaban yang memang bersumber dari kata: adab-peradaban.
Kecuali itu, Al-Attas menekankan bahwa problem utama yang mendera bangsa Melayu-Indonesia adalah lost of adab alias hilangnya adab. Problem yang sama pula yang kini sedang mendera kampus yang mengusung tema peradaban, UIN Alauddin Makassar.

Pembahasan tentang makna adab, telah saya uraikan panjang lebar dalam "Pemikiran Pendidikan Al-Attas" tesis yang saya tulis dan pertahankan (2013) di UMI Makassar, yang menurut Dr. H. Arfah Shiddiq, sebagai pembimbing, lebih layak dijadikan disertasi.

Ciri kampus peradaban adalah, selalu menjadikan adab sebagai tonggak aktivitasnya. Mulai dari mahasiswa, dosen, civitas akademika, menjalankan tugas dan kewajiban sebagai manusia beradab. Kampus tidak hanya butuh pada rektor yang beradab, tapi juga butuh tukang sapu dan Satpam yang beradab.

Mahasiswa yang datang ke kampus untuk menimba ilmu, sesuai espektasi orang tua dan keuarganya, agar kelak dapat menjadi manusia yang beradab. Dosen datang memberi kuliah tepat waktu dan penuh semangat karena itu adalah tanggungjawab. Tukang sapu membersihkan lingkungan, Satpam mengamankan kampus dari beragam gangguan, rektor menata segenap bawahan dengan baik dan benar, bukan menggemukkan kroni dan golongan tertentu. Itulah kampus peradaban.

Zaman Batu  Sekadar mengingatkan, Prof Qasim Mathar pernah mengeluarkan cibiran pada orang-orang yang selalu mempersoalkan perbedaan Ahlussunnah Wal-Jama'ah (Sunni) dan Syiah. Katanya, orang-orang seperti itu adalah sisa-sisa peninggalan Zaman Batu.

Nampaknya, pernyataan di atas perlu dikoreksi, mungkin Prof. Qasim belum pernah membaca Fatwa MUI Pusat dan Edaran Depag yang dikeluarkan Kemenag tahun 1984 dengan tegas menyatakan, Ahlussunnah dan Syiah memiliki perbedaan mendasar, karena itu masyarakat Indonesia yang berpaham Ahlussunnah diminta mewaspadai paham Syiah. Depag lebih keras lagi, Syiah adalah aliran sesat dan menyesatkan.

Bagi saya, Sunni dan Syiah ibarat minyak dan air, sama-sama benda cair namun tak dapat disatukan, sama-sama Islam namun beda kelamin. Kerana itu, Syiah yang selalu berupaya melakukan pendekatan pada Sunni pasti berkelamin ganda. Sederhana saja: rukun Islam dan Imannya beda.

Nah, bagaimana pula dengan para cerdik-pandai di kampus peradaban, tempat Prof Qasim menularkan ilmu dan pahamnya? Kabarnya, pertarungan pada Pilrek kali ini bermuara pada dua kubu, Muhammadiyah dan NU, karena yang berkuasa saat ini adalah Muhammadiyah, makanya beberapa guru besar berlatar NU yang semestinya dapat hak suara dipecat, demi memuluskan kandidat tertentu agar terpilih kali kedua sebagai penguasa. Persis politik praktis dalam tubuh partai politik, saling cakar-cakaran.

Walau pun saya alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) STAIN Watampone, tapi belum pernah menemukan dalam Pedoman Dasar Muhammadiyah perbedaan rukun Islam antara NU dan Muhammadiyah. Karena itu, manusia-manusia yang menyalurkan pilihannya dalam Pilrek UIN Makassar yang sebentar lahi dihelat karena berdasarkan golongan tertentu, bukan pada kapabilitas, kualitas keilmuan, dan adab, adalah merupakan sisa-sisa peninggalan Pra Zaman Batu, yang selalu bergaul dengan Prof Qasim Mathar.

Nampaknya, tugas Prof Qashim bertambah berat saja, selain berupya untuk menyatukan Ahlussunnah dengan aliran sempalan seperti Ahmadiyah, Syiah, hingga LDII, beliau harus membuktikan dengan lebih dulu memulai dengan menyatukan NU dan Muhammadiyah yang serumah dengan mereka dan sama sekali tidak memiliki perbedaan prinsipil.

Wal akhir, nasihat Ibnu Mubarak sangat cocok bagi yang terlibat dalam Pilrek UIN Makassar 2014 ini yang dimotori para Guru Besar sarat ilmu, Nahnu ilaa qaliilin minal adabi ahwaja minna ilaa katsirin minal 'ilmi. Memiliki adab meskipun sedikit lebih kami butuhkan daripada banyak ilmu pengetahuan. Dan tentu saja, UIN akan benar-benar menjadi kampus peradaban jika segenap penghuninya dari rektor sampai mahasiswa berada pada ketinggian adab dan ilmu .

Wallahu A'lam!

Ilham Kadir, Alumni Pascasarnaja UMI Makassar, dan Pengurus KPPSI Pusat.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena