Abdul Qahhar Mudzakkar; Ketegaran Seorang Pejuang Bangsa


Ideologi sama dengan ide atau gagasan. Kata 'ideologi' pertama kali diperkenalkan oleh Destutt de Tracy seorang filsuf Francis pada tahun 1796. Asal katanya juga dari bahasa Fancis 'ideologie' yang berakar dari dua suku kata, ideo berarti gagasan dan logie atau logos yang mengacu pada logika dan rasio. Definisi memang penting, sebab menurut Ibnu sina, tanpa definisi kita tidak akan pernah sampai pada konsep.

Artikel ini tidak akan membahas masalah konsep lebih jauh, tetapi mengangkat tokoh yang telah menanamkan ideologi perjuangan membela tanah air, memperjuangkan agama, dan membumikan syariat Islam. Ideologinya tak pernah padam walau jasadnya telah terkubur dalam tanah. Dialah Abdul Qahhar Mudzakkar.

Ideologi perjuangannya untuk menjadikan Islam sebagai the only one way of life hingga kini tetap dan terus hidup, kendati dengan metode yang berbeda. Pada zamannya 1950-1965 berjuang secara frontal melawan pemerintah Indonesia yang sah, maka generasi pelanjutnya berjuang pada jalur dan jalan yang berbeda, justru masuk dalam pemerintahan atau menjadi dewan perwakilan rakyat untuk memperjuangkan syariat. Ini dinilai lebih elegan dan sesuai dengan perkembangan zaman.

Nama Abdul Qahhar Mudzakkar (Qahhar) adalah legenda bagi orang Sulawesi, dan pada tahap tertentu telah bermetamorfosis menjadi mitos dan terkultuskan. Beragam cerita yang pernah penulis dengar di pedalaman Bone terus berkembang dan terjaga dari masa ke masa. Bahkan, telah menjadi 'credo' bagi sebagian masyarakat, khususnya yang hidup, tumbuh, lalu mati di pedalaman tanpa pernah bersentuhan dengan masyarakat luar, atau membaca referensi ilmiah terkait Qahhar Sang Legenda itu.

Bahkan ketika saya mondok di Pesantren Majelisul Qurra' wal-Huffadz Tuju-tuju Bone, kerap pula terdengar cerita tentang Qahhar, tapi dengan penuturan yang lebih rasional. Kiai kami, H. Lanre Said adalah veteran perang grilya DI/TII-NII di bawah pimpinan Qahhar, bahkan berkali-kali beliau menuturkan kedudukannya sewaktu di hutan bergrilya, termasuk menjabat sebagai kepala kepolisian, panglima tentara, hingga jaksa agung.

Ketika kami tanya, apakah Qahhar masih hidup? Beliau menjawab sambil tersenyum, tidak usah dibahas itu, seandainya Qahhar masih hidup pun, ia sudah tua dan tak dapat berbuat apa-apa! Pertanyaan itu selalu tersimpan dalam benak, mengingat banyaknya masyarakat percaya jika Qahhar kebal dan tak mampu ditembus peluru. Konon, ia pernah bilang, Peluru tidak bisa membunuh saya! Sebetulnya pernyataan Qahhar itu tidaklah menahbis bahwa dirinya kebal peluru, karena memang yang berhak menghidup dan mematikan manusia hanya Allah semata.

Pada dasarnya, suguhan informasi yang dapat dikonsumsi oleh publik secara rasional dan ilmiah mengenai sosok Qahhar dari berbagai sisi saat ini sudah banyak. Setidaknya ada tiga karya besar: Barbara Sillars Harvey (1974), Tradition, Islam, and Rebillion: South Sulawesi 1950-1965, karya ini adalah adaptasi dari disertasi doktoral dalam bidang politik di Universitas Cornel, Amerika Serikat. Ada pula karya Cornelis van Dijk (1983), Rebillion under Bannner of Islam (the Darul Islam in Indonesia), Belanda, KITLV, juga adaptasi dari disertasi pada Universitas Leiden Belanda. Juga karya Anhar Gonggong (1990), Abdul Qahhar Mudzakkar dan Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan, 1950-1965. Berupa disertasi doktoral dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta. Selain itu, sudah banyak tulisan-tulisan lainnya yang mengangkat sosok Qahhar.

Teranyar, kumpulan tulisan dari ragam pakar keilmuan yang berbeda menulis karya monumental dengan tema "Abdul Qahhar Mudzakkar; Keterangan seorang Pejuang Bangsa". Inisiasi penulisan buku ini langsung dari Centre for Cross-Cultural Communication and Human Relation in Action (C3-Huria) Press-Qamus Institute yang berdomisili di Jakarta.

Dalam kata pengantar tertulis, Ide penerbitan buku ini cukup mendasar, Qamus ingin mengetengahkan sebuah proses perjuangan yang telah dilewati oleh tokoh sentral Abdul Qahhar Mudzakkar (1921-1965). Penting untuk dinyatakan terlebih dahulu, buku ini tidak ada sangkut-pautnya, tidak berhubungan dengan, apalagi ingin kembali mendirikan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/TII). Ini murni, hanya ingin mendedahkan sisi patriotisme Abdul Qahhar Mudzakkar sebagai salah satu founding fathers Republik Indonesia (hlm. xi).

Telaah saya, ketika membaca buku ini memang bermaksud meluruskan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang pernah ditulis oleh banyak pakar. Misalnya, anggapan bahwa ide dan idiologi keislaman Qahhar hanya diperoleh setelah mendapat pengaruh dari SM Kartosoewirjo tahun 1953. Tentu saja ini wajib diluruskan, sebab Qahhar telah belajar agama dengan baik melalui didikan orang tuanya yang sekaligus sebagai pengurus Muhammadiyah di Luwu, setamat Sekolah Dasar, ia lalu melanjutkan ke Sekolah Muhammadiyah Palopo yang telah bersentuhan dengan ide-ide dan gagasana kemordenan termasuk dari aspek pengelolaan pendidikan. Setelah selesai, beliau lalu melanjutkan pendidikan di pulau Jawa, tepatnya di Muallimin Muhammadiyah Solo. Dari segi keilmuan, Qahhar telah matang, apalagi ditunjang dengan pergaulan yang luas, baik internal Muhammadiyah, maupun dari ekternal yang merupakan tokoh-tokoh pergerakan anti kolonial Belanda.

Tidak hanya itu, tuduhan tak jelas yang menganggap Qahhar berpaham komunis hanya karena pernah bertemu Amir Syarifuddin yang berhaluan komunis juga harus diluruskan. Karena banyak bukti menunjukkan, surat-surat Qahhar yang dikirim ke Sukarno banyak yang anti komunis, yang saat itu justru dipelihara oleh Sukarno dengan sebutan NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunis). Qahhar berpendapat bahwa ide sontoloyo Sukarno itu sama dengan 'menyatukankandangkan beberapa makhluk yang saling bermusuhan... Mana mungkin tercipta kedamaian!' (hlm. xv).

Karena buku ini memuat tulisan para pakar, maka saya akan kutif beberapa penyataan dia antara mereka yang menarik: Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, Guru Besar Ilmu Hadis di UIN Alauddin menulis makalah "Pemikiran Keislaman Abdul Qahhar Mudzakkar; Persfektif Hadis", ia menulis, Qahhar hanya berhujah pada hadis sahih saja, baik dalam masalah akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak. Di dalam memahami hadis, terutama berkaitan dengan masalah kenegaraan, Qahhar menggunakan metode 'syarah ijmali' dengan pendekatan sosiologis serta teknik interpretasi tekstual dan intertekstual. Kecenderungan pemikiran Qahhar tentang hadis dapat dikategorikan sebagai "Revivalis" atau "Modernis-Tradisionalis" yakni pembaharuannya masih terkait kuat dengan pensyarahan lama dan berusaha menghidupkan kembali pensyarahan-pensyarahan tersebut. Namun, ia tetap memberi ruang pensyarahan kekinian (hlm. xvii).

Abd. Rahman Hamid, Mahasiswa Doktoral UI dan Dosen UIN Alauddin Makassar menulis makalah "Pilar Kebangsaan Menurut Abdul Qahhar Mudzakkar; Perspektif Ideologis", ia menulis, Qahhar sangat yakin bahwa demokrasi sejati yang bersendikan Islam dapat menciptakan kehidupan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Hal itu disadarkan pada pesan Tuhan dalam Al-Qur'an, bahwa Islam diturunkan ke muka bumi sebagai rahmat bagi alam, termasuk segenap umat manusia tanpa kecuali (hlm.xvi).

Dr. Muhammad Sadik Sabri, Dosen Tafsir UIN Alauddin menulis makalah "Pemikiran Keagamaan Abdul Qahhar Mudzakkar; Perspektif Tafsir", ia menulis, Apa yang terlihat dalam uraian-uraian Qahhar mengenai ayat-ayat Al-Quran dominan, sangat terlihat tegas mampu memberi pamahaman yang mendalam. Hal ini didorong oleh kuatnya keinginan beliau untuk 'membongkar' wacana dan paham yang berkembang ketika itu, terutama dalam hal ideologi, negara, demokrasi, dan ketatanegaraan (hlm.xvii).

Muhammad Ashar Sabri menulis, Secara konseptual, Qahhar menghendaki adanya penyatuan antara agama dan negara. Dalam hal tersebut, beliau mengendaki agar Islam dijadikan dasar dan ideologi bagi penyelenggaraan negara. Pendapat ini didasarkan pada keyakinan beliau bahwa Islam adalah agama yang sempurna, baik pada aspek doktrin maupun kerisalahan dan juga menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk Indonesia. Di samping itu--lanjut Ketua BKPRMI Luwu ini--beliau menghendaki agar bentuk Negara Republik Indonesia adalah negara federal (persatuan) dengan pertimbangan bahwa secara sosio-antropologis, Indonesia adalah negara yang mejemuk dengan latar tradisi dan sejarah yang heterogen. Sistem negara bagian akan dapat mengakomodasi sekaligus menjadi prasyarat utama mempertahankan persatuan Negara Republik Indonesia serta pencapaian cita-cita nasionalnya (hlm.xviii).

Ada pun Andi Faisal Baksti menilai bahwa para pengikut Qahhar terus mencari kemungkinan pencapaian tujuan mereka melalui negosiasi, sebuah cara yang lebih demokratis, dan bahkan kalau mungkin mempersiapkan sebuah referendum berdasarkan demokrasi. Mereka pun mendekati pemerintah lokal begitu pula para hartawan dan orang-orang berpengaruh (hlm.xvii).

Salehuddin Yasin, membedah Qahhar dari sudut pandang pendidikan, ia menyimpulkan, Nilai-nilai ajaran dan pendidikan Islam yang hendak ditanamkan Qahhar dalam masyarakat Islam Sulawesi Selatan-Tenggara ternyata belum terwujud dengan sempurna pada masanya. Saat ini, dapat dilanjutkan dengan mengarahkan anak dan generasi kita untuk memasuki lembaga pendidikan Islam mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi (hlm.xix).

Ada pun dari sisi politik ditinjau dari Perspektif Demokratis, Syahabuddin menulis, Dalam hubungan agama dan negara, gagasan Qahhar dipengaruhi oleh situasi sosial dan politik, terutama pada saat terjadinya polemik pada tahun 1945, yaitu berkaitan dengan pertarungan ideologis antara kubu nasionalis Islam dan nasionalis sekuler. Gagasan Qahhar pada waktu itu muncul untuk memperkuat ikatan ideologis kubu nasionalis Islam yang memiliki agenda untuk menciptakan demokrasi yang memiliki ikatan kuat dalam keyakinan dan pikiran (hlm.xx).

Ada pun Hj. Rahmi Damis, Wakil Pimpinan Aisyiah Sulsel, meneropong Qahhar dari perspektif Puritanis. Tulisnya, Penulis melihat Qahhar sebagai seorang 'fundamentalis' pembaharu, dalam artian ia mencoba menerapkan prinsip dasar Islam dalam kehidupan keseharian. Bagi Doktor dari UIN Alauddin Makassar ini, menilai gerakan Qahhar yang mengajak segenap umat Islam termasuk presiden Sukarno untuk kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, yaitu Al-Quran dan hadis. Ia menjadikan kedua sumber ajaran Islam tersebut sebagai landasan dalam menata hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara, melawan pemerintahan yang resmi, dalam usahanya mengembalikan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara secara revolusioner, bukan evolusi. Karena itu Qahhar bukan pemberontak! (hlm.xxi).

Akan banyak informasi yang barguna dari buku yang diedit oleh A. Faisal Bakti dan Salehuddin Yasin ini. Dari buku ini pula saya baru ketahui, kalau ternyata Qahhar, selain pejuang gagah berani, ia juga seorang penulis produktif dan konseptor ulung. Terbukti, di tengah-tengah kesibukannya sebagai kepala negara yang memimpin perjuangan DI/TII, masih sempat meluangkan waktu menulis banyak buku. Di antaranya, Revolusi Dunia Islam; Konsepsi Negara Demokrasi Indonesia; Tjatatan Bathin Djilid I, II, dan III; Perang Ideologi di Indonesia; Revolusi Ketatanegaraan Indonesia Menudju Persaudaraan Manusia; Tjatatan Bathin Pedjuang Islam Revolusioner; dan Bentuk Negara Chalifah dalam Islam.

Membaca judul buku di atas, terlihat teranglah bawah negera DI/TII yang telah diproklamerkan Qahhar memang telah matang dari segi konsep dan ideologi, dan hingga kini tak pernah punah untuk terus diperjuangkan oleh umat Islam, dengan jalan dan metode yang berbeda.

Ditinjau dari sisi mana pun, Abdul Qahhar Mudzakkar adalah seorang pejuang bangsa, pahlawan, dan konseptor ulung. Tugas kita, memaparkan ideologi dan perjuangan Qahhar secara rasional pada generasi pelanjut agar semangat perjuangan syariat tetap berkobar di bumi pertiwi. Allahu Akbar!

Enrekang, 8/6/2014. Ilham Kadir, Pencinta Sejarah dan Penulis buku, “Jejak Dakwah KH. Lanre Said; Ulama Pejuang dari Era DI/TII hingga Era Reformasi”.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an