Kurikulum Pendidikan


Secara etimologi (lughawi), kurikulum berasal dari bahasa Yunani, curir berarti pelari atau curer  dan tempat berpacu. Jadi, istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno, mengandung pengertian jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis pertama sampai garis terakhir. Dalam bahasa Arab, kata kurikulum bisa diungkapkan dengan manhaj berupa jalan terang yang dilalui oleh manusia dalam berbagai asfek kehidupan. Sedangkan arti manhaj kurikulum dalam pendidikan Islam adalah seperangkat perencanaan dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.

Sedangkan definisi tentang kurikulum secara istilah (isthilahan) telah banyak ditulis oleh para pemikir pendidikan, di antaranya adalah Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany,  bahwa konsep kurikulum meliputi semua pengalaman, aktivitas-aktivitas suasana dan peengaruh-pengaruh yang diberikan kepada murid-murid atau apa yang mereka kerjakan dan jumpai dalam dan di bawah program sekolah. Sebab semuanya itu memberi pengaruh pada tingakah laku murid dan memberi sumbangan dalam perkembangan yang menyeluruh. Kurikulum bukan hanya meliputi mata palajaran dan pengalaman-pengalaman yang tersusun dan berlaku dalam kelas, tetapi meliputi semua kegiatan kebudayaan, kesenian, olah raga dan sosial yang dikerjakan oleh murid-murid di luar jadwal waktu sekolah (Al-Syaibani, Falsafah at-Tarbiyah Al-Islamiyah, 1979).

Abdurrahman Al-Nahlawi, sebagaimana dikutif oleh Kurniawan dan Mahrus berpendapat, kurikulum adalah seluruh program pendidikan yang di dalamnya mencakup metode, tujuan, tingkat pengajaran, materi pelajaran setiap ajaran, topik-topik pelajaran, serta aktivitas yang dilakukan setiap siswa pada setiap materi palajaran (Kurniawan dan Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam, 2011).

Abuddin Nata mengutif Crow & Crow yang berpendapat bahwa kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis, diperlukan sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu sekaligus berfungsi sebagai alat mempertemukan kedua pihak sehingga anak didik dapat mewujudkan bakatnya secara optimal dan belajar menyumbangkan jasanya untuk meningkatkan mutu kehidupan dalam masyarakat (Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta, 1997).

Salah Persepsi

Suatu ketika, seorang tamu berkunjung ke Pondok Pesantren Modern ‘Darussalam’ Gontor, bertemu dengan KH. Imam Zarkasyi sebagai pimpinan pondok. Sang Tamu bertanya pada kiai, kurikulum apa yang digunakan di Pondok Modern Gontor sehingga dapat melahirkan lulusan yang sesuai kebutuhan masyarakat dan negara? Sang Kiai menjawab bahwa seluruh kehidupan yang ada di Pondok Pesantren adalah bagian dari kurikulum, dari bagun tidur, bergegas ke masjid, masuk kelas, hingga makan, dan kembali tidur semuanya adalah kurikulum.    

Kesalahan persepsi seperti penanya di atas hampir dialami sebahagian besar—kalau bukan semau—pendidik saat ini, karena itu peserta didik hanya dianggap belajar jika sedang menjajal materi pelajaran dalam kelas, setelah keluar kelas, apalagi keluar sekolah, ikatan dinas, bahkan emosi antara guru dan pelajar terputus. Maka jangan heran jika tidak sedikit pelajar yang berkubang dalam dekadensi moral, termasuk free sex dan geng motor. 

Ada beberapa perkara yang sangat berbahaya bagi para pendidik dalam memahami pengertian kurikulum. Pertama, sempitnya pengertian tentang kurikulum dan tidak memasukkan segala pengalaman yang diperoleh para pelajar dan jenis-jenis aktivias yang dikerjakannya di bawah kelolaan sekolah, baik dalam atau di luar, untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai serta  melaksanakan perkembangan yang menyeluruh dan lengkap-melengkapi bagi pribadinya.

Kedua, pusat perhatian padanya hanyalah terfokus pada mata pelajaran, pengetahuan teori, dan hafalan. Ada pun segi amali (practical) dilupakan sama sekali, padahal mengandung kepentingan yang ‘maha besar’ retorika dan teori lebih menonjol pada kurikulum yang pada dasarnya memberatkan pengisian kepala murid-murid dengan pengetahuan dan maklumat teoritis, tanpa memberi perhatian pada pengembangan keterampilan dalam menggunakan pengetahuan dan maklumat yang telah mereka peroleh sesuai dengan realitas hidup, dan tanpa menaruh perhatian pada pembinaan kecakapan pelajaran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam hidupnya.

Ketiga, memusatkan perhatian pada kajian masa lampau dan berusaha menyiapkan murid-murid bagi masa depan. Hanya berdasarkan pada suasana masa lampau yang diharapkan oleh generasi sekarang, tanpa memberi sedikitpun perhatian pada ‘masa sekarang dan akan datang’ dari pelajar yang bahkan mungkin bertentangan dengan masa kini.

Keempat, tidak adanya kesesuaian dalam kandungan-kandungannya dalam banyak hal, dengan kesediaan para pelajar, kecakapan khusus dan minat, keinginan, dan kebutuhan-kebutuhannya sehari-hari. Juga tidak sanggup menggerakkan tenaga kreatif pada murid-murid, untuk bersaing dengan realitas, alam sekitar, dan problematika hidup mereka. Hanya diasaskan pada satu fikiran yang salah dengan mengatakan bahwa pelajarlah yang harus menyesuaikan diri dengaan kurikulum. Posisi murid sangat pasif, terbatas hanya menerima maklumat-maklumat dari guru, dan dia tidak diberi peluang cukup untuk memainkan peranan positif dalam proses pendidikan, berdikari, dan membina pribadinya yang bebas dan kreatif.

Kelima, tidak membedakan antara satu pelajar dengan lainnya—pilih kasih—tidak mengakui perbedaan orang-orang pada kemampuan, suasana alam sekitar, dan lain-lain. Sudah tentu mengabaikan perbedaan-perbedaan ini pada kurikulum pendidikan akan menghambat perkembangan pendidikan yang sesuai bagi setiap individu

Keenam, dapat memcah-mecahkan pengetahuan dan fakta-fakta yang dikandungnya ke dalam berbagai ilmu atau mata pelajaran yang berbeda, tidak berkait satu sama lain, dan pengetahuan-pengetahuan dan fakta-fakta di situ tidak sesuai dengan logika.

Ketujuh, teralu sempit dalam memandang satu perkara. Ketika menerangkan sebuah ilmu-ilmu syar’i seperti syarat, dan rukun salat, sama sekali tidak disinggung dengan pengetahuan sains kontemporer yang berkaitan dengan ibadah mahdah. Katakanlah, syarat salat harus menutup aurat yang terbuat dari kain, kain terbuat dari benang yang berasal dari kapas. Ilmu menanam kapas (pertanian), membuat benang dan pakaian (perindustrian), hingga transportasi dan perniagaan adalah bagian dari disiplin ilmu yang erat dengan salat.

Karena itu, kurikulum yang diperlukan adalah yang mampu menjawab kesalahan-kesalahan persepsi di atas, dapat menjadi solusi atas segala bentuk degradasi moral, melahirkan out put sesuai kebutuhan zaman, dan pastinya, tidak lari dari tujuan utama pendidikan: melahirkan insan kamil (manusia paripurna) dan menjadi khalifah di muka bumi. Sebuah tindakan serampangan jika kurikulum terus menerus diotak-atik, setiap ganti menteri, setiap itu kurikulum baru kembali disusun, sesuai permintaan sang menteri, sebagaimana yang terus menerus terjadi di negeri ini.

Namun secanggih apa pun kurikulum tanpa dibarengi dengan kapasitas guru yang memadai maka kurikulum tidak akan maksimal. Karena itu, hanya guru yang berkualitas dapat melahirkan anak didik yang berkualitas pula. Di pondok pesantren, kita kenal, Ath-Thariqah ahammu minal maadah, metode lebih penting daripada mata pelajaran, wal mudarris ahammu min ath-thariqah, namun guru lebih penting dari metode, wa ruhul mudarris ahammu minal-mudarris nafsuhu, dan jiwa seorang pendidik lebih penting dari gurunya itu sendiri.

Saya yakin bahwa kasus ‘sodomi’ di Jakarta Internasional School (JIS) yang akhir-akhir ini marak diberitakan oleh media—porsinya menyamai koalisi partai menuju Pilpres—dianalisa, dan diulas luas para pakar pendidikan adalah bagian dari kebobrokan sistem pendidikan kita yang bersumber dari kesalahan persepsi terhadap makna sesungguhnya sebuah kurikulum dan ketiadaan jiwa mengajar para gurunya. Dapat dipastikan kalau segenap pengajar JIS adalah manusia-manusia berkualitas dengan kualifikasi internasional sesuai nama sekolahnya. 

Di sinilah jiwa seorang guru dipertaruhkan dan dituntut agar dapat mendidik sepenuh hati, bukan saja dalam kelas, tapi seluruh gerak-gerik anak didiknya, terutama dalam kawasan sekolah, lebih-lebih pada jam mengajar. Sangat tidak logis, sementara jam pelajaran berlangsung lalu anak minta izin ke toilet, kembali dalam keadaan menangis karna selesai ‘dihajar’ oleh Kaum Nabi Luth, namun tanpa dimengerti oleh Guru. Inilah di antara ciri guru yang tak memiliki jiwa sebagai pendidik, tidak memiliki ikatan emosi dan spritual pada murid-murid. Guru semacam ini terus bertambah di era serba materialis dan pragmatis ini. Mengajar hanya karena uang, hadiah terburuk di Hari Pendidikan Nasional. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, MA. Alumni Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju dan Peneliti MIUMI Sulsel

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi