Isra' Mi'raj di Tahun Politik



Ditinjau dari segi bahasa, lafaz isra' berakar dari kata, asra'-yusri'-isra', bararti perjalanan di malam hari. Dari sudut morfologi, isra' berakar dari kata 'sara', atau berjalan. Misalnya, Man sara 'ala al-darbi washala. Siapa yang berjalan pada jalannya, akan sampai tujuan. Namun, penggunaan diksi dalam bahasa Arab tidak bisa sembarangan, kata 'berjalan' memiliki banyak makna, tergantung setting waktunya. Kata, ghadara, untuk berangkat di pagi hari, raha, untuk sore hari, dan sara di malam hari. Dalam segala suasana, dapat dipakai kata, masya, zahaba, dan inthalaqa. Dalam bahasa Indonesia, semua bermakna sama, bepergian atau perjalan. Perbedaan-perbedaan itu hanya dapat diketahui bagi mereka yang memiliki 'dzauq' bahasa Arab yang dalam. Karena itu, siapa pun yang hendak memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah secara sempurna harus memiliki dzauq. Itu semua dapat dimiliki dengan telaten mendalami ilmu-ilmu bahasa Arab yang meliputi, Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi', Ma'ani (Balaghah), hingga 'Arudh, wal-Qafiyah.

Dari segi istilah, isra' adalah perjalanan spritual Nabi Muhammad dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsha Yerussalam dilakukan pada malam hari yang diperkirakan jatuh pada tanggal 27 Rajab.

Mi'raj, dari segi bahasa, adalah tangga naik. Asal katanya, 'araja-ya'ruju-mi'raj, disebut juga sebagai ismul-alah, atau nama alat yang dipakai untuk naik. Secara istilah bermakna, naiknya Rasulullah bersama Malaikat Jibril dari Baitul Maqdis Yerussalem ke langit teratas, Sidratul-Muntaha, menerima langsung perintah salat dari Allah.

Dalam perjalanan spritual tersebut, baik isra', maupun mi'raj terdapat banyak kejadian-kejadian yang disampaikan oleh Nabi sendiri, layak menjadi pelajaran bagi umat Islam. Apa saja itu? Kita liat.

Ibnu Hisyam, sebagaimana dikutif oleh Haekal dalam "Hayatu Muhammad, 1972" menceritakan riwayat perjalanan Nabi dalam peristiwa mi'raj, di langit pertama, setelah berjumpa dengan Nabi Adam, Rasul berkisah, Kemudian kulihat orang-orang bermoncong seperti moncong onta, tangan mereka memegang segumpal api seperti batu-batu, lalu dilemparkan ke dalam mulut mereka hingga keluar melalui dubur. Aku bertanya, Siapa mereka itu, Jibril? Mereka yang memakan harta anak yatim secara tidak sah, jawab Jibril.

Kemudian, lanjut Nabi, kulihat orang-orang dengan perut yang belum pernah kulihat, dengan cara keluarga Fir'aun menyeberangi mereka seperti onta terkena penyakit di kepalanya, tatkala dibawa ke dalam api. Mereka diinjak-injak dan tak dapat beranjak dari tempat. Aku bertanya, siapa mereka itu, Jibril? Mereka itu tukang-tukang riba, jawabnya.

Kemudian kulihat orang-orang di hadapan mereka ada daging yang empuk dan baik, di sampingnya ada pula daging yang buruk dan busuk. Mereka makan yang buruk dan busuk dan meninggalkan yang empuk dan baik. Siapakah mereka itu, Jibril? Tanya Nabi. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan wanita yang dihalalkan Tuhan--istri--dan mencari wanita-wanita yang diharamkan, jawabnya. Kemudian aku melihat wanita-wanita yang digantungkan pada buah dadanya. Lalu aku bertanya, siapakah mereka itu Jibril? Mereka itu wanita yang memasukkan bukan dari keluarga mereka (selingkuh). Lalu aku--lanjut Nabi--dibawa ke surga. Di sana kulihat seorang budak perempuan, bibirnya merah. Kutanya dia, kepunyaan siapakah Engkau? Nabi sangat tertarik melihanya, Aku kepunyaan Zaid bin Haritsa, jawabnya. Nabi pun memberi selamat pada Zaid.

Setelah menerima perintah salat sambil menyaksikan pristiwa-pristiwa menakjubkan di atas, Nabi pun turun ke bumi, menyampaikan apa yang dialami, diperintahkan, dan disaksikan oleh dirininya sendiri, dalam durasi satu malam.

Ketika peristiwa besar itu disampakian pada kaumnya di Masjidil Haram, ia pun dikerumuni segenap penduduk Makkah. Semua yang hadir menyangsikan. Sederhana saja alasannya, perjalan pulang-pergi Makkah Baitul Maqdis dengan normal adalah 2 bulan. Bagaimana mungkin Muhammad menempuh dalam durasi satu malam?

Tidak sedikit yang sudah memeluk Islam, lalu kembali murtad, dan mendatangi Abu Bakar, memberi keterangan tentang berita heboh yang dibawa Muhammad. Kalian berdusta, kata Abu Bakar.

Sungguh, dia sekarang di masjid sedang berbicara dengan orang banyak, jawab si pembawa berita. Kalau pun itu yang dikatakan, pasti dia bicara yang benar, dia mengatakan padaku, ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, di waktu siang atau malam. Aku percaya, ini lebih dari yang kamu herankan, kata Abu bakar.

Ia lalu mendatangi Nabi, mendengarkan mendeskripsikan suasana Baitul Maqdis. Abu Bakar, sudah perna berkunjung ke kota itu dan tau persis gambaran masjid tersebut. Selesai Nabi berbicara, Abu Bakar berkata, Rasulullah, saya percaya! Sejak saat itu Nabi memanggil Abu Bakar dengan gelar 'Ash-Shiddiq'.

Tahun Politik

Paparan di atas mengantarkan kita pada beberapa kesimpulan: bahaya riba, awas korupsi harta anak yatim, penyakit sosial meliputi selingkuh dan perzinahan, ketaatan pada Rasulullah dengan cara mencintai pada diri pribadi dan selalu terdepan dalam membenarkan sabda dan ajarannya. Lalu apa relasinya dengan tahun politik?


Melakukan kezaliman dengan menjarah hak anak yatim, piatu, fakir, miskin, dan anak-anak terlantar adalah fenomena umum di negeri ini. Hak-hak mereka terabaikan, keberpihakan pemerintah pada golongan mustad'afin belum terlihat serius. Sesekali dijambangi jika ada udang di balik batu, terutama pada saat-saat pilkada atau pemilu. Peristiwa isra' mi'raj mengajarkan agar tidak mengabaikan hak anak yatim piatu, mendidik mereka sampai mampu berdikari. Ini adalah bagian dari tugas pemerintah dan orang-orang yang dikaruniai kelebihan rezeki dan ilmu.

Dari sudut ekonomi, ribawi adalah sistem yang sedang dipraktikkan bangsa Ini. Keuangan syariah hanya mendapat sekitar 5% pangsa pasar dari total nasabah yang ada di negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia, selebihnya masih konvensional dan penuh unsur riba. Itu artinya, riba telah menjadi denyut nadi perekonomian di Indonesia. Kurangnya perhatian pemerintah pada keuangan syariah menjadi salah satu penyebabnya, di samping rendahnya pemahaman masyarakat terkait bahaya riba.

Kendati riba bertingkat-tingkat, namun setidaknya ada dua jenis riba yang harus dihindari, yaitu adanya unsur zhulm, atau kazaliman, dan adh'afan mudha'afan, bunga yang berlipat ganda. Konsep zhulm dalam masalah hutang-piutang kerap mendera nasabah Bank pada umumnya, betapa tidak, orang yang mengagunkan rumahnya, jika telah jatuh tempo, tanpa tenggan rasa mengusir si pemilik rumah tanpa mau tau alasannya, setali tiga uang dengan konsep 'berlipat ganda'. Liatlah mereka yang kredit rumah di Bank, jika berjalan tahunan, maka nominal uang dikembalikan akan berlipat ganda. Tidak jauh beda dengan rentenir.

Di lain pihak, untuk bail out Bank Century saja menghabiskan dana trilyunan rupiah, andai itu dimanfaatkan membantu lembaga keungan syariah pasti akan terlihat hasilnya, atau dikucurkan untuk membangun perumahan bagi rakyat jelata, tentu akan banyak orang--termasuk penulis--mendapat hunian yang manusiawi, plus beban KPK dan negara akan berkurang. Pesan isra' mi'raj kali ini, untuk mencari pemimpin yang pro ekonomi mikro syariah layak menjadi pertimbangan.

Sedang, problem lain, yang cukup rumit ialah mewabahnya penyakit selingkuh. Bahkan konon, di Makassar, tidak sedikit pegawai pemerintah atau PNS yang cerai dari pasangan halalnya, atau diberhentikan secara paksa dari kerjaan akibat prilaku selingkuh.

Fenomena selingkuh telah menjadi kebiasaan umum. Bahkan seorang artis tenar, dengan bangganya menyatakan kehamilannya di depan umum akibat perbuatan zinanya dari lelaki yang bukan suaminya. Demikian pula, seorang pengacara sekaligus salebritis dengan bangganya menggandeng istri orang lain di depan umum, tanpa merasa berdosa. Pesan isra' mi'raj, bahwa perbuatan selingkuh akan mendatangkan siksa di hari kemudian dapat menjadi renungan untuk segenap penghuni bumi, lebih khusus bangsa Indonesia, tak ada ajaran dan peraturan mana pun yang melegalkan perselingkuhan, hewan sejenis tarsius saja sangat setia pada pasangannya. Salah satu fitnah bagi pasangan suami istri adalah bunga-bunga selingkuh yang penuh dengan nikmat sesaat, inilah yang dimaksud, Rubba syahwah sa'ah auratsa huznan thawilan, Nafsu sesaat kerap mendatangkan penyesalan tak berujung. Kalau ada yang halal, kenapa mesti memilih dan memperjuangkan yang haram.

Problem kepemimpinan juga menjadi masalah besar umat Islam dan lebih khusus bangsa Indonesia. Tidak adanya hubungan harmonis antara pemimpin dan rakyat. Pemimpin seakan dilepas bebas untuk melakukan kebijakan tanpa bijaksana, lalu bertentangan dengan keinginan dan kebutuhan rakyat. Lima tahun lalu, tatkala Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin mencalonkan diri untuk kedua kalinya, disambut antusias oleh rakyat Indonesia, akhirnya terpilih kembali dengan kemenangan besar.

Kini, diakhir pemerintahannya, rakyat merasa telah rugi, karena memilih pemimpin yang semazhab dengan para koruptor, di samping tidak adanya kemajuan berarti, ekonomi berjalan lamban, yang merasakan golongan tertentu saja. Karena itu, mayoritas masyarakat tidak percaya akan ucapan-ucapan, dan segala kebijakan yang ditelorkan oleh pemerintah. Salah satu pristiwa penting setelah isra' mi'raj adalah meneladani kejujuran Rasulullah atas apa yang telah ia alami, lalu disampaikan pada khalayak ramai, banyak yang menolak, namun banyak pula yang percaya. Kejujuran adalah kata kuncinya, jika saja pemerintah selalu jujur akan prestasi yang ia capai, dan mengakui kesalahannya, maka rakyat pasti akan terima selama terus berusaha untuk berbuat yang terbaik. Namun sayang karena yang dikedepankan hanya pencitraan tanpa prestasi.

Isra' mi'raj yang bertepatan dengan tahun politik kali ini, sebagai momentum memilih pemimpin yang dapat mewujudkan cita-cita bangsa yang mandiri, bebas riba, jujur dalam perbuatan dan perkataan, mereduksi maksiat, dan memuliakan para anak yatim, fakir miskin, dan rakyat jelata dengan menyediakan penghidupan lebih layak. Itulah pemimpin Indonesia hebat dambaan umat harapan bangsa. Wallahu A'lam!

Ilham Kadir, Pengurus KPPSI Pusat, Ketua Lembaga Penelitian MIUMI Sulsel


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena