Isra' Mi'raj dan Keagungan Ibadah Subuh



Tidak diragukan lagi, di antara keajaiban paling fenomenal yang terjadi pada diri Nabi Muhammad adalah peristiwa isra' mi'raj. Kerena itu, kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram--Makkah--ke Masjidil Aqsha--Yerussalem, (Al-Isra': 1).

Secara sederhana, isra’ mi'raj adalah gabungan dua kata yang berlainan arti namun terkait satu sama lain karena terjadi dalam sebuah peristiwa yang sama. Isra' adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan mi'raj berarti tangga yang dipakai naik oleh Nabi dari Masjidil Aqsha ke langit pertama hingga ketujuh. 

Tempat tertinggi itu disebut Sidratul-Muntaha', di sanalah Nabi mendapat perintah langsung dari Allah untuk menjalankan ibadah salat fardhu, yang awalnya lima puluh kali dalam sehari semalam, lalu dikurangi hingga hanya lima kali karena mendengar nasihat Nabi Musa, agar Rasulullah meminta keringanan dari Allah untuk umatnya. Musa bertindak demikian bukan tak punya alasan, dengan jumlah yang kurang dari lima kali sehari semalam saja umatnya yang terdiri dari Bani Israil itu enggan beribadah, apalagi dengan jumlah lima puluh kali, tentu kian berat. Dan terbukti, kini umat Islam mengalami hal serupa, kendati salat yang diwajibkan hanya lima kali dalam 24 jam, tetapi mayoritas umat Islam meninggalkannya, walau pun mereka sadar bahwa itu adalah dosa besar.

Masalah kemudian muncul, apakah yang melakukan isra' dan mi'raj itu adalah roh (ale) atau hanya jasad (watakkale), atau dua-duanya, utuh roh dengan jasadnya? Ulama maupun supaha saling mengeluarkan argumen, ada yang sesui dalil yang kuat, ada pula semata bersandar pada akal dan logika.

Agama Islam adalah pertautan antara akal dan nash (dalil) yang bersumber dari wahyu dan tertulis dalam Al-Qur'an dan kitab-kitab hadis. Jika menemukan problem pelik untuk diselesaikan, maka menggabungkan antar akal dan nash paling utama, jika keduanya terbentur barulah merujuk pada nash. Agama memang tidak semua dapat diterima dengan logika, karena itu, beriman pada alam metafisika adalah syarat mutlak menjadi seorang mukmin sejati. Peristiwa isra' mi'raj adalah bagian dari metafisika yang tidak dapat dinalar oleh akal. Hanya orang-orang beriman yang dapat memahami, karena itu pula, ketika peristiwa tersebut dikisahkan Nabi pada kaumnya, banyak yang tidak percaya bahkan berbalik menuding Nabi sebagai pembohong. Abu Bakar adalah manusia pertama yang percaya akan kejadian itu, di sinilah ia diberi titel dari Rasulullah sebagai 'Ash-Shiddiq' yang artinya, pembenar.

Tak disangkal lagi, mazhab yang menyangsikan kehadiran jasad dan roh Nabi dalam peristiwa isra' mi'raj adalah golongan serupa yang menuding nabi sebagai pembohong. Alasannya sederhana saja, kata 'abdihi' dalam firman Allah pada Surah Al-Isra ayat pertama bermakna jasad dan roh sekaligus. Masalah ini sudah tuntas bagi jumhur (mayoritas) ulama muktabar Ahlussunah wal-Jama'ah, yang mempermasalahkan pasti golongan sufaha-- mengingkari kebenaran.

Keagungan Ibadah Subuh

Di antara lima waktu salat, Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya yang diperintahkan dalam pristiwa isra' dan mi'raj, memiliki keistimewaan antar satu dengan lainnya.

Ibadah dalam Islam sangat terkait setting ruang, waktu, dan kondisi. Karena itu, ibadah yang sama dapat nilai berbeda, tergantung kapan, dimana, dan bagaimana ia dilakukan.

Salat di Masjidil Haram berbeda dengan Masjid Nabawi yang berbeda pula dengan Masjidil Aqsha. Ada derajatnya masing-masing. Selain tiga masjid di atas, banyaknya pahala sangat terkait dengan tingginya cobaan dan besarnya keiklasan dalam melaksanakan salat. Pahala yang diraih orang-orang yang salat dalam suasana nyaman dan damai seperti di Indonesia umumnya, pasti beda dengan saudara seiman kita di Rohingya Miyammar, yang selalu diintimidasi, diusir dari kampung halaman, bahkan tak jarang masjid dan orang-orang yang salat di dalamnya dibakar bersamaan, prilaku biadab ini tetap eksis hingga kini. Pahala mereka jelas lebih tinggi.

Begitu pula, dalam suasana damai, ada waktu-waktu tertentu yang menjadikan kita malas, dan enggan beranjak ke masjid karena harus bertempur dengan dinginnya hawa dan air, derasnya hujan, gelapnya cuaca, hingga jauhnya masjid. Suasana ini yang kerap terjadi pada waktu salat Subuh atau Fajar.

Secara bahasa, fajar berarti terpancarnya sumber mata air, terbitnya fajar diiringi sinar matahari diserupakan dengan terpancarnya air dari sumbernya. Dari sudut istilah, fajar adalah waktu Subuh, yaitu terpancarnya subuh yang benar, terbitnya Subuh pertanda waktu malam telah berakhir, berganti dengan cahaya, juga waktu bangunnya manusia, hewan, burung, dan segenap mahluk untuk mencari rezeki.

Dalil tentang keagungan fajar begitu banyak, seperti, Demi fajar dan malam yang sepuluh (Al-Fajr: 1-2); dan Subuh apabila mulai terang (Al-Mudatsir: 34); Demi Subuh apabila fajarnya mulai menyingsing (At-Takwir: 18); Dia menyingsingkan pagi (Al-A'am: 96). Nabi bersabda, Allahumma barik liummati fi bukuriha. Ya Allah, berkatilah umatku di pagi harinya. Ahli Hikmah berpetuah, Naumatus subhi turitsul-faqra. Tidur di waktu pagi mendatangkan kemiskinan.

Tidak sampai di situ, bagi yang melaksanakan salat Subuh berjamaah akan mendapat pahala besar senilai dengan salat semalam suntuk, Barang siapa mengerjakan salat Isya berjamaah seolah-olah ia mengerjakan salat separuh malam, dan barangsiapa salat Subuh berjamaah seakan-akan mengerjakan salat semalam penuh, demikian Hadis yang bersumber dari Utsman bin Affan dan diriwayatkan oleh Imam Muslim. Demikian pula, dalam hitungan hari, menunaikan salat Subuh berjamaah di hari Jumat adalah yang paling utama, begitu Nabi bersabda sebagaimana dirawikan oleh Al-Baihaqi dan tercantum dalam "Silsilah Hadits-Shahih".

Di lain keadaan, bersumber dari Anas bin Malik, diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Nabi berpesan, Barangsiapa yang ikut salat Subuh berjamaah di Masjid, lalu duduk berzikir mengingat Allah sampai matahari terbit, lantas mengerjakan salat dua rakaat, maka baginya pahala seperti orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah, dengan sempurna, sempurna, dan sempurna.

Bahkan dua rakaat salat sunnat menjelang salat fardhu Subuh lebih baik dari dunia dan segala isinya, demikian Sabda Nabi yang bersumber dari Aisyah, diriwayatkan Imam Muslim.

Aisyah, lalu menambahkan, Nabi tidak pernah menjaga sesuatu dari amalan-amalan sunnah seketat beliau menjaga dua rakaat sunnat Subuh. Ibnu Hajar Al-Atsqalani, dalam "Fathul Bari" menulis, Rasulullah tidak pernah mengerjakan salat sunnat rawatib sebelum maupun sesuah salat di saat dalam perjalanan kecuali sunnat Subuh. Al-Atsqalani benar, karena terdapat dalil dari Nabi, katanya, Janganlah kalian tinggalkan dua rakaat salat sunnat Subuh meskipun berada di punggung kuda--kendaraan.

Ciri lain orang munafik, kata Nabi, adalah yang berat menunaikan salat Subuh berjamaah, begitu yang bersumber dari Ubay bin Ka'ab dan diriwayatkan Imam Ahmad, Sesungguhnya kedua salat ini--Subuh dan Isya--adalah salat yang paling berat atas orang-orang munafik, jikalau mereka mengetahui keutamaannya, pasti akan datang walau harus merangkak.

Dalil-dail di atas menjadi penerang akan keagungan ibadah salat jama'ah Subuh, dan sunnah-sunnah yang mengiringinya, baik sebelum maupun sesudah salat. Golongan yang menekankan pentingnya salat malam (tahajjud) diiringi salat Subuh berjamaah adalah yang paling utama, namun jika salah satunya harus korban, maka jamaah salat Subuh harus lebih diutamakan. Inilah pandangan yang sesuai sunnah Rasul. Naif jika menggembar-gemborkan amalan sunnah lalu mengorbankan ibadah wajib. Sebab seberapa pun jumlah ibadah sunnah tak akan menyamai nilai dari ibadah fardhu.

Keagungan salat Subuh dan pahala yang mengiringinya adalah bagian dari hikmah isra' mi'raj yang wajib dipelihara bagi umat Islam. Ibadah yang sederhana namun bersumber dari dalil yang pasti jauh lebih baik dari ibadah yang seabrak tapi hasil inovasi tiada dasar. Demikian pula, ibadah yang sedikit namun konsisten lebih baik dari ibadah yang banyak namun musiman. Khaerul 'amal dawamuha wain qalla, begitu Nabi bersabda. Wallahu A'lam!
(Dimuat oleh Harian Tirbun Timur Makassar, Edisi Jumat 23 Mei 2014).

Ilham Kadir, Sekretaris Pemuda  KPPSI Pusat dan Peneliti MIUMI Sulsel.




Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an