Dr. H. Muttaqin Said; dari Pesantren Darul Huffadh hingga Darul Abrar (1)

Teori 'sebab akibat', orang Barat menyebutnya 'hukum kausalitas', dunia Timur, yang didominasi oleh Islam, biasa menyebutnya 'sunnatullah', dengan makna, semua yang terjadi pada diri manusia, golongan, hingga negara memiliki keterkaitan dengan masa sebelumnya (lampau).

Negara ini miskin dan penuh dengan ketidak-beresan sangat erat kaitannya dengan salah kelolah para pemimpin dan aparatur negara priode sebelumnya. Di lain pihak, Negeri Jiran, seperti Brunei, Singapura, dan Malaysia dapat maju, rakyat sejahtera, bangsa mandiri, karena pemimpin sebelumnya menjalankan fungsi dan tugasnya dengan baik dan penuh amanah.
Negara ini, dipimpin dan diatur oleh para penyamun, karena sistem dan kultur yang telah dibangun pendahulu memungkinkan untuk menerima dan memaklumi keberadaan para koruptor. Demikian hukum sebab akibat berlaku.

Secara pribadi, saya yang memiliki sedikit pengetahuan, dan mampu menularkan pada orang lain dengan cara mengajar dan menulis, tidak akan pernah bisa mengabaikan masa lalu saya. Apa yang saya miliki saat ini adalah akibat dari perjuangan sewaktu saya masih sekolah. Dan apa yang tidak saya miliki, juga bagian dari kesalahan masa lalu. Seorang teman telah memiliki segala-galanya, istri, anak, rumah, kendaraan, dan pekerjaan yang layak, berati semua itu cermin dari masa lalunya yang giat bekerja.

Dan ketika orang bertanya, dari mana saya belajar? Bagaimana memulai? Jawaban selalu tertuju pada almamater utama saya, Pondok Pesantren "Darul Huffadh Tuju-tuju". Pondok tersebut didirikan oleh KH. Lanre Said, pada 7 Agustus 1975. Saya masuk beguru tepat pada 7 Agustus 1989. Kala itu belum ada KMI, dan santri full time belajar hanya tiga orang: Saya (Bontocani), Saad Basri (Sumbawa), dan M. Rusydin (Jakarta). Yang lain, tetap mondok, tapi sekolah di luar: SD, SMP, dan SMA.

Hinggalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo berdatangan satu per satu, mereka semua adalah mantan murid Ustad Muttaqin Said, ada yang memang diarahkan, ada secara suka rela, ada pula direkomendasikan untuk datang ke Majelisul Qurra' wal Huffadh Tuju-tuju. Nama itu kemudian berubah pada tahun 1992 menjadi Pondok Pesantren Darul-Huffadh.

Muttaqin Said, saat itu telah berangkat ke Universitas Islam Madinah yang terus-menerus berhubungan dengan para mantan murid-muridnya, yang didukung oleh pimpinan Pondok Modern Gontor untuk mendorong mereka yang telah selesai mengabdi agar ke Tuju-tuju menghafal Al-Qur'an, sambil mengajar.

Maka kian bertambahlah alumni Gontor datang ke Tuju-tuju, lalu dibuka Kulliatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI). Yang berperang penting di sini adalah Ustad Anwar Harum, beliaulah yang mengurus segala bentuk legalitas lembaga pendidikan di Tuju-tuju, termasuk akta notaris dengan menempu segala resiko, dibantu beberapa alumni Gontor. Resiko karena saat itu masih zaman Orde Baru yang selalu menghambat segala macam aktifitas di Pondok, sebagaimana yang saya rasakan dan saksikan sendiri.

Kalau ada yang bertanya, apa peranan Ustad Anwar Harun di Tuju-tuju, maka saya akan jawab, andai tidak ada beliau mengurus legalitas dan segala hal berhubungan dengan pendidikan (KMI) di Pesantren Tuju-tuju pada waktu itu, maka ceritanya akan berbeda. Mungkin saja tidak akan pernah ada KMI, dan bisa pula saya tidak lanjut sekolah setelah khatam hafalan, karena tujuan utama ke Tuju-tuju memang hanya menghafal, sebagaimana sistem yang ada
sebelum itu.

Setau saya, hampir tiap minggu, beliau selalu didatangi oleh para guru KMI untuk konsultasi kelancaran pendidikan di KMI Tuju-tuju, atau beliau sendiri yang datang ke pondok memimpin rapat 'Kamisan' para guru. Ini berlansung lama, hingga Ustad Muttaqin selesai kuliahnya di Madinah (Lc), dan magisternya (MA) di Omdurman University Sudan.

Jika ada yang merasa keberatan akan asal-muasal berdirinya KMI di Tuju-tuju, tentu harus bikin sejarah baru. Apalagi jika hendak mereduksi peran Ustad Anwar dan Ustad Muttaqin Said sebagai pionir.

Ada catatan menarik, saat Ustad Muttaqin mendorong para mantan muridnya agar ke Tuju-tuju, menghafal sambil mengajar (KMI), saat itu, KH. Lanre Said rahimahullah, merasa belum siap dengan fasilitas yang dimiliki pondok, terksean terburu-buru, namun Sang Putra berusaha meyakinkan bahwa kalau bukan sekarang kapan lagi, saatnya KMI harus dibuka, guru dan santri sudah ada, fasilitas tak masalah. Pimpinan pun setuju, dan KMI dibuka.

Anda mau tau, berapa jumlah santri sebelum saya mondok, dari tanggal 7 Agustus 1975 sampai 7 Agustus 1989? Hanya 57 santri, pendataan dilakukan tahun1991, dengan mendata ulang seluruh santri, disesuaikan dengan abjadnya, dan saya mendapat nomor stambuk ke-132. Saya ingin katakan, haqqul yaqien, Pondok Pesantren Darul Huffadh maju dan berkembang berkat adanya program KMI, tanpa itu, ia akan 'hidup segan mati pun tak larat'.

Teori kausalitas mengatakan bahwa kesuksesan program KMI di Darul Huffadh Tuju-tuju mencetak alumni seperti saya tidak terlepas dari peran KH. Lanre Said sebagai pendiri dan pimpinan pondok, Ustad Muttaqin yang mendorong murid-muridnya datang ke Tuju-tuju, serta Ustad Anwar Harun yang berjuang mengurus legalitas lembaga pendidikan sambil membina dan mengarahkan para guru, Petta Cinnong dan Petta Paccing sebagai istri pimpinan, para guru alumni Gontor, dan semua yang terlibat dalam membantu kelancaran proses balajar mengajar di Pondok. Teori kausalitas sinkron dengan pesan Nabi, man lam yasykurin-nas lam yasykuri-llah. Siapa yang tak berterima kasih pada manusia, maka dia tidak bersyukur pada Allah.  (bersambung).

Sumigo, Minggu 4 Mei 2014. Ilham Kadir, Alumni Perdana Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi