Diaspora Darul-Huffadh (1)



Entah apa yang menginspirasi Ibnu Taimiyah ketika berkata, pena para penulis lebih tajam dari pedang para syuhada. Atau Syamsuddin Arif yang berkata, menulis dapat mengejawantahkan eksistensi pelakunya. Dengan menulis orang sekaligus berekspresi, berkomunikasi dan yang paling penting, meninggalkan jejak pikiran untuk masa yang tak terhingga.
 
Demikian inskripsi-inkripsi kuno dalam piramid, di dinding-dinding gua, pada batu-batu cadas peninggalan ribuan tahun dahulu kala, naskah-naskah di atas daun lontar, papirus dan sebagainya.

Tulisan tak mengenal seting ruang dan waktu, melintasi batas geografi dan demografi, etnis, generasi, bahkan agama. Saksikanlah, cerita-cerita yang ditulis Aesopos antaras tahun 620 hingga 560 sebelum Masehi, puisi-pusi Imru'ul Qays, pujangga Arabia pra Islam yang masyhur itu.

Berkat tulisan, kita dapat menikmati suguhan petuah Rasulullah, warna-warni kehidupannya, kesalehan para sahabatnya, keilmuan para tabi'in, dan generasi demi generasi sesudahnya. Dengan goresan tinta para ulama, sebagaimana Imam Syafi'i sehingga kita tau bahwa tidak ada golongan yang paling doyan berdusta dan bersaksi palsu melebihi Syiah Rafidhah, atau pesan Imam Bukhari bahwa Syiah tak ada bedanya dengan Yahudi dan Nasrani, karena itu Sang Muhaddits agung
, tidak akan pernah diimami oleh golongan sesat dan menyesatkan itu.

Tulisan, tidak hanya merekam dan menyimpan, mengajak dan mengejek, tapi mampu membujuk, bersuara, berteriak, dan merayu. Pastikan, saat Anda membaca tulisan ini, sejatinya sedang mendengarkan saya berkata-kata, persis!

Tulisan, tergantung gaya, karakter, isi, angle, dan pesannya. Dapat menyesakkan, mencerahkan, membingun
gkan, menyadarkan, bahkan menyesatkan. Tulisan ini, dapat menggugah, mencegah, bahkan menjerat Anda! Benarlah apa yang dikata orang Jerman, Siapa membaca akan tau, siapa menulis tak akan mati. Atau, Tulisan akan kekal selalalu, walau penulisnya telah tertimbun dalam perut bumi, al-khat yabqa ba'da katibihi, wa katibuhu tahtal ardh madfun. Demi huruf nun, dan demi pena serta apa yang mereka goreskan. Nun wal qalami wama yasthurun. (QS. 68: 1).


Tulisan saya "Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju 1996" membuat salah seorang pembacanya tidak sepakat, karena yang dimaksud adalah Dr. H. Muttaqin Said, MA., bukan KH. Lanre Said rahimahullah. Lalu dikoreksi, minta klarifikasi, dan pada akhirnya, meradang dan muntab.

Baginya, itu adalah sangat prinsipil, maha penting, yang bisa merusak citra Pondok Pesantren Darul Huffadh, atau berbalik menguntungkan pihak lain
, Darul Abrar (DA). Kira-kira begitu yang ada dalam benaknya. Berbeda dengan saya, yang sama sekali tidak membawa apa pun, hanya sekadar riwayat hidup. Dengan menulis tujuh kata di atas, langit tak akan runtuh, bumi tidak gempa, air laut tak mengering atau tsunami, dan aktivitas di Darul Huffadh (DH) dan Darul Abrar (DA) terus berjalan normal, mengalir laksana air memberi kehidupan para santri yang datang silih berganti. Bagi saya, salah satu ciri manusia jahil adalah membesarkan yang remeh, dan meremehkan yang prinsipil.

***

Terlanjur basah, ya sudah, mandi di kali. Demikian petikan syair dangdut yang dinyanyikan Magi Z. Syair itu, cocok dengan posisi saya yang memang terlanjur berbicara mengenai pernak-pernik sejarah Darul Hufadh, dalam perpektif saya, yang sama sekali tidak memaksa orang lain ikut percaya atau mengikuti, bahkan memperjuangkan apa yang saya katakan.

Sekadar  pandangan pribadi yang layaknya jadi materi obrolan warung kopi—oleh para pengangguran, santai dan keren, biasa disingkat ‘pesantren’—tidak akan mengubaha peta perjalanan (road map) kedua lembaga pendidikan Darul Huffadh dan Darul Abrar, tidak pula dapat  menggeser konstalasi perpolitikan di negeri ini, atau tak akan memawa racun dalam secangkir kopi koalisi menuju Pilpres 2014.

Hanya serpihan-serpihan sejarah atawa ‘diaspora’ Darul Huffadh yang telah dikubur oleh masa, dan para aktor lugu lagi sok tau. Bermula dari sebuah pertanyaan? Apakah KH. Lanre Said pernah mendirikan Pesantren dengan nama "Darul Huffadh", saya jawab, Tidak, rahimahullah tidak pernah mendirikan pesantren dengan nama itu. Lalu siapakah inspiratornya? Bagaimanakah kisahnya? Kita liat.

Sebelum Lanre Said kembali ke Tuju-tuju, beliau mengumpulkan sanak familinya di Surabaya, mengutarakan maksud dan tujuannya, yaitu ingin mendirikan lembaga pendidikan dengan sistem pondok pesantren. Semua keluarga setuju dan mendukung, masalah kemudian muncul ketika teknis pengelolaan pondok disampaikan oleh Lanre Said, katanya, seluruh santri tidak akan dibebani biaya, semuanya akan digratiskan. Bagi mayoritas keluarga, itu adalah hal mustahil atau angan-angan belaka.
Untuk menjawab keraguan mereka, hanya dengan satu kalimah tayyibah, La haula wala quwwata illa billah. Tidak ada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah.

Segenap sanak famili bungkam, dan menyetujui apa yang dicita-citakan Lanre Said. Karena sawah pusaka, dan hasil kebun dari sanak famili yang ada di Kajuara dan Salomekko cukup banyak, maka beliau hanya minta supaya kelak, santri dapat memanfaatkan itu semua. Mereka pun setuju.

Apa nama pondok pesantren yang akan didirikan Lanre Said? Namanya adalah "Darul Ulum". Berangkatlah sang kiai ke Tuju-tuju. Ternyata, kondisi tidak sesuai harapan, banyak rintangan yang datang dari pihak pemerintah Orde Baru masa itu. Merasa dipersulit, dan terus-menerus di bawah pengawasan aparat. Nama pun dirubah menjadi "Majelisul Qurra' wal-Huffadh".

Terangkai dari tiga kata, Majelis, Al-Qurra’, dan Al-Huffadh. Ditilik dari segi bahasa,  majelis ‘berarti tempat duduk’, namun secara istilah  memiliki arti yang beragam, dari yang politis hingga yang umum. Misalnya kata “Majelis” dapat diartikan sebagai dewan atau rapat yang mengembang tugas-tugas kenegaraan tertentu dan terbatas, sebagaimana fungsi Majelis Permusyawaratan Rakyat Indonesia, MPR. Sedangkan yang umum, adalah suatu golongan atau kelompok terkoordinir, rutin mengadakan pertemuan keagamaan. Tersebutlah  majelis ta’lim, majelis zikir, dan berbagai mejelis  ilmu dan keagamaan lainnya.

Adapun, al-Qurra’  dalam segi bahasa berasal dari bentuk jamak plural dari Qari’, berarti pembaca al-Qur’an, namun sisi istilah memiliki makna, berupa satu golongan ulama yang ahli dalam memehami berbagai bentuk jenis bacaan al-Qur’an yang mereka dapatkan lewat sanad yang bersumber langsung dari Rasulullah (berantai) sebagai pembaca dan penyampai wahyu al-Qur’an yang paling utama dan pertama.

Sedangkan al-Huffadh diartikan sebagai penghafal al-Qur’an maupun hadis. Umumnya di tanah Arab atau Asia Tengah kata hafidh diartikan sebagai penghafal hadis, berupa orang tertentu yang telah menghafal hadis baik matan atau pun sanadnya dengan jumlah tertentu akan mendapatkan gelar “al-Hafidh”. Umumnya seorang hafidh menghafal setidaknya 100.000 hadis lengkap dengan pengetahuan matan rijal dan kedudukan hadis tersebut, kita kenal Al-Hafidz Ibnu Hajar, Al-Baghdadi, dan selevelnya. Ini  karena pada teritorial tersebut keberadaan penghafal al-Qur’an merupakan fenomena biasa saja, lain halnya di kawasan Asia Tenggara,  hafidh justru identik dengan penghafal al-Qur’an. “Majelis al Qurra’ wal Huffadh” dapat diartikan, satu tempat untuk membaca, mempelajari, dan menghafal al-Qur’an, (Palimai, Jejak Dakwah KH. Lanre Said; Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi, 2010).

Dalam penelusuran saya,  lembaga peghafal Al-Qur’an dengan nama Majelisul Qurra’ wal-Huffadh juga pernah didirikan oleh Anregurutta Muhammad As’ad di Sengkang dan merupakan cikal bakal berdirinya Madrasah Arabiah Islamiyah. Kini nama tersebut tak terdengar lagi bahkan mungkin sudah punah, kendati programnnya tetap hidup dan terus berjalan sebagaimana di Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju. Bersambung...

Ilham Kadir, MA., Alumni Terbaik, Arabic and Islamic College of Al-Ihsaniyah Penang Malaysia

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi