Diaspora Darul Huffadh (2)



Orang inilah yang lebih tau sejarah perkembangan Pondok Darul Huffadh Tuju-tuju, terutama KMI, kata Dr. Muttaqin Said, sambil menunjuk pada saya, alasannya, karena saya merasakan betul pendidikan di Darul Huffadh semenjak awal berdirinya KMI tahun1989, hingga tujuh tahun kemudian. Begitu katanya ketika kami bertamu di rumahnya beberapa tahun silang. Tidak hanya itu, inisiator KMI dan nama Darul Huffadh ini menambah alasannya, Kami semua, putra dan putri pimpinan tidak seorang pun yang pernah belajar dari awal hingga selesai di Pondok Pesantren Darul Huffadh.

Pernyataan lelaki yang pernah diberi kehormatan masuk di Kakbah Baitullah sebanyak dua kali itu bisa benar bisa pula sebaliknya. Benar karena pelaku sejarah itu berbeda dengan penulis bahkan pengamat sejarah, akan lebih sempurna jika pelaku sekaligus penulis. Benar karena saat ini yang mengaku-ngaku tau sejarah pondok dan berusaha membuat sejarah baru tidak seorang pun yang pernah merasakan bagaimana suasana pondok ketika program KMI dibuka, kapan dimulai, apa pelajarannya, bagaimana susana, dan siapa guru-guru murid-muridnya. Paling banter sang pengamat dan pembikin sejarah baru akan membongkar dokumen-dokumen, bertanya pada pelaku atau sesama pengamat dan penulis buta lainnya, hanya meraba-raba lalu membuat kesimpulan yang mereka anggap jitu. Ini jelas beda rasanya dengan saya yang merasakan benar atmosfir pondok saat itu.

Sebaliknya, karena tulisan-tulisan saya lebih pada kesukaan dan hobi menulis catan-catatan harian semenjak di pondok hingga saat ini, yang semuanya hanya bermaksud untuk konsumsi pribadi, tak sudi memaksa siapa pun untuk percaya dan ikut mazhab saya. Namun juga tak kuasa melarang siapa pun untuk percaya. Kalau ternyata serpihan-serpihan sejarah Darul Huffadh sesuai dengan fatsun Anda, bisa jadi itu hanya kebetulan, atau sebaliknya memang demikian adanya.

Fatal bila ada yang mempermasalahkan tulisan saya tentang pondok, di samping tidak akan pernah membawa efek apa pun terhadap para santri, guru, warga pondok, hingga alumni dan orang lain, juga tidak akan mendatangkan mudharat pada pribadi saya. Sekali lagi, perspektif pribadi yang bisa benar dan salah. Subjektif.

Anda akan merana seumur hidup jika tidak suka tulisan saya lalu memendam dendam membara, dan berusaha melakukan 'pembuhunah karakter'--meminjam istilah Akbar Tanjung, pada diri pribadi saya. Tidak hanya itu, golongan ini masuk dalam kubang 'al-hasuud la yashuud, pendengki tak akan berhasil, bahkan akan jadi mayat sebelum roh dan jasadnya dicabut paksa oleh Malakul-Maut, maka tidak ada gunanya sakit hati, dengki, dan jengkel karena Diaspora Darul Huffadh.

***

Sekali lagi, mengais serpihan-serpihan sejarah Darul Huffadh Tuju-tuju memang unik lagi menantang. Sebagaimana etape awal dari Diapora Darul Huffadh yang menelusuri secara tuntas terminologi Majelisul Qurra wal Huffadh dan Darul Huffadh, maka etape ini akan menelusuri inisiator nama Darul Huffadh. Bagaimana ceritanya? Ikuti saya!

Ketika H. Andi Muh. Amir menjabat sebagai Kepala Daerah Tingkat II Bone, maka fase baru MQWH bermula. Komunikasi dengan pondok mulai terbangun lewat ayah dari Bapak Bupati, yang akrab dipanggil Petta Muharram dan merupakan kerabat terdekat Jenderal M Yusuf, yang ternyata masih ada hubungan keluarga dengan KH. Lanre Said.

Jika sebelumnya, pondok selalau menjadi musuh bebuyutan pemerintah, maka saat ini, tidak lagi, bahkan komunikasi terus menerus terjalin. Hingga pada akhirnya, Bapak Bupati, berkunjung ke Pondok dan menyatakan secara terbuka dukungannya, Saya sebagai Kepala Daerah menyatakan dukungan kepada Pondok ini, di samping turut berjasa membangun daerah dam memperkenalkan hingga ke luar negeri, juga turut andil dalam meningkatkan sumber daya manusia, selain karena pendirinya adalah keluarga saya sendiri, dan keluarga yang berprestasi harus didukung, katanya ketika memberi sambutan pada acara kesyukuran pondok tahun 1993.

Ada pula cerita, suatu ketika Lanre Said ke Bone untuk menghadap Bupati meminta legalitas agar pondok diizinkan menambah lahan berupa kampus baru yang kini dipakai santri putra, Bapak Bupati menyodorkan bantuan berupa uang, namun ditolak oleh Gurutta, katanya, Saya kesini untuk minta surat legalitas bukan uang. Bapak Bupati dengan sigap mengeluarkan surat izin itu yang sebelumnya dipersulit bahkan cenderung dihalangi oleh pihak Kandepag Bone. 

Karena dukungan pemerintah telah mengalir sejak tahun 1992, yang saat itu Muttaqin Said juga telah menyeleisaikan pendidikannya di Universitas Islam Madinah, beliau berinisiatif untuk merubah nama Majelisul Qurra wal Huffadh menjadi Darul Qurra wal Huffadh, nama itu hanya bertahan beberapa bulan saja, sebelum akhirnya disederhanakan menjadi "Darul Huffadh", alasannya juga sangat sederhana, untuk menjadi seorang qurra' sangat ketat syaratnya, sedang 'huffadh' yang dimaksud di sini bukan penghafal hadis tapi hanya Al-Qur'an, disertai pelajaran yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur'an, atau ilmu alat dalam memahami Al-Qur'an.

Maka nama Darul Huffadh resmi secara de jure digunakan pada tahun 1993, kendati secara de facto telah berlaku akhir tahun 1992. Perubahan nama tidak semudah yang dibayangkan, karena segala perangkap pendidikan, terutama dokumen-dokumen sekolah dan pondok secara otomatis harus diubah. Tak terkecuali lambang pondok, semua logo dan falsafahnya diciptakan oleh Dr. Muttaqin Said, KH. Anwar Harun, Lc., dibantu guru-guru KMI, di antaranya Ustad Muh. Abduh Yazid.

Bagaimana dengan KH. Lanre Said, terkait nama pondok, logo dan falsafahnya, tidak ikut campur dalam merumus, cuma sekadar memberikan garis dasar bahwa Pondok Darul Huffadh seumpama perahu yang sedang berlayar menuju pulau Al-Qur'an dan As-Sunnah, karena itulah lambang pondok memiliki dua menara sisi kiri dan kanang, Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan selama subtansi pondok tetap seperti itu, maka nama dan lambang tidak dipermasalahkan oleh rahimahullah.

Penting dicatat, salah satu kehebatan Lanre Said adalah kemampuan manajemennya yang handal, ia bahkan menegaskan, Segala yang ada di Gontor bisa dibawah ke Tuju-tuju, kecuali masalah ibadah, harus ikut manhaj MQWH. Selama di Tuju-tuju, beliau tidak pernah masuk kelas mengajar mata kuliah Bahasa Arab atau ilmu-ilmu agama lainnya, melainkan diserahkan sepenuhnya pada guru-guru KMI, kecuali hafalan Al-Qur'an, sesekali saya mengngolo sama Gurutta. Karena itu, inovasi pendidikan di DH terus berkembang tiada henti tak terkecuali nama dan lambangnya. Para guru merasa bebas berkarya dan berekspresi di bawah naungan dan bimbingan Sang Ulama.

Bahkan di zaman saya, santri-santri yang melanggar sudah terbiasa mendapat hukuman persis dengan Gontor, seperti ditempeleng hingga hidungnya mengeluarkan darah, atau memukul hingga meninggalkan bekas berhari-hari, hingga suatu saat, Salman rahimahullah, salah seorang putra Andi Abdul Malik alias Petta Simpuang, ditempelang, lalu kabur. Terdengar berita jika alasan kaburnya karena tempelengan guru KMI, Pimpinan pondok lalu mengumpulkan para guru dan meminta supaya kebiasaan itu dihentikan, tidak sesuai dengan Sunnah dan sangat memalukan bagi orang Bugis. Dalam Islam, kalau terpaksa memukul tidak boleh melewati lutut, atau sekitar kaki dan tangan, "kalau mau tempeleng, silahkan tempeleng pantatnya," demikian penegasan pimpinan saat itu. Beliau juga menambahkan, bahwa bahwa orang Bugis itu tidak segan-segan melakukan pertumpahan darah bila ditempeleng di muka umum, karena itu merupakan bagian dari siri' alias harga diri.

Selama saya mondok di Darul Huffadh Tuju-tuju, tidak pernah sekali pun melihat rahimahullah menempeleng santrinya, biasanya cukup memukul bagian kaki dengan tongkatnya, sebagaimana sering terjadi pada diri saya jika usil, nakal, dan melanggar ketentuannya. Pernah pula ada santri disuruh duduk lalu diselonjorkan kakinya, kemudian disebat telapak kakinya, begitulah KH. Lanre Said dan Petta Cinnong ketika terpaksa menghukum santrinya yang membandel.

Demikianlah gerangan apa yang tercatut dan tergores dalam catatan perjalanan saya ketika mondok di MQW-DH Tuju-tuju dalam kurun 1989-1997, saya yakin ini cerita baru buat generasi baru, dan mungkin dapat menjadi nostalgia bagi generasi  yang sezaman dan pernah mondok bersama saya. Diaspora Darul Huffadh versi penulisnya dapat ditemukan dalam "Jejak Dakwah KH. Lanre Said; Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi; Aynat Publishing, Jogjakarta, 2010".

Saya suka jika Anda membaca lalu percaya dengan apa yang saya tulis, tapi saya akan lebih suka jika Anda bukan sekadar membaca dan menerima bulat-bulat, tapi diiringi koreksi dan catatan-catatan tambahan lainnya yang tidak saya ketahui. Namun yang lebih menantang bagi saya, jika Anda membaca lalu berusaha merevisi tulisan saya, yang sama sekali berbeda, kerena dengan itu, saya akan lebih tertantang untuk mengexplore lebih dalam sejarah Pondok yang saya ketahui dan alami. Tulisan ini adalah bagian dari jenis pembaca yang terakhir. Semoga bersambung!

Enrekang, 15 Mei 2014. Ilham Kadir, Alumni MQWH 1992, Sekretaris KPPSI Pusat Sulawesi Selatan

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an