Wanita dalam Kubang Politik



Babak baru sejarah Aceh dimulai sejak Islam singgah di Bumi Indonesia ujung Barat. Saat itu dikenal adanya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kerajaan Islam Peureulak (840 M), Kerajaan Islam Samudera Pasai (1666 M), Kerajaan Tamiang, Pedir dan Meureuhon Daya. Kemudian zaman Sultan Alauddin Johansyah Berdaulat (1205) Aceh disatukan menjadi Kerajaan Aceh Darussalam dengan Ibukota Bandar Aceh Darussalam yang bergelar Kutaraja.

Kerajaan Aceh Dasrussalam inilah yang terus-menerus memperluas terirorial kekuasaannya ke negeri-negeri Melayu lainnya termasuk semenangjung malaya yang pada Abad Kelima, Aceh menjadi kerajaan Islam terbesar di di Nusantara dan terbesar kelima di dunia.

Sang Penakluk bernama Sultan Alauddin al-Kahhar lalu dilanjutkan oleh Sultan Iskandar Muda Meukuta Alam. Penaklukan yang dilakukan Aceh bukan untuk menjajah suku Bangsa lain, tetapi untuk melindungi mereka dari penjajahan Portugis (A Hasjmy, Hikayat Perang Sabil Menjiwai Perang Aceh Melawan Belanda, 1997).

Pada masa jayanya, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dan diplomatik dengan negara-negara tetangga, Timur Tengah dan Eropa. Antara lain dengan Kerajaan Demak, Kerajaan Pattani, Kerajaan Brunei, Turki Utsmani, Inggris, Belanda, dan Amerika. Dari sisi hukum, kerajaan Islam Aceh memiliki hukum sendiri yakni, "Kaneun Meukuta Alam" yang berdasarkan syariat Islam. Karena itu, banyak wilayah penaklukan yang merasa lebih senang berada di bawah kerajaan Islam Aceh. Andai tidak ada hasutan dari pihak kolonial pastilah daerah taklukan tidak akan melepaskan diri dari kerajaan Aceh.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara sudah ditaklukkan kolonial Barat, Aceh masih berdaulat sampai akhir abad ke-18. Bangsa Kolonial, baik Portugis, Inggris, maupun Belanda bukannya tidak berambisi menaklukkan Aceh, tetapi mereka gentar kepada keunggulan Angkatan Laut Aceh yang menguasai Perairan Selat Melaka dan Samudera Hindia. Saat itu angkatan laut Aceh memiliki armada yang tangguh berkat bantuan senjata dan kapal perang dari Turki Utsmani salah satu yang terkenal adalah wanita jawara bernama Laksamana Malahayati.

Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Meutia, dan Pocut Meurah Intan merupakan deretan kecil nama-nama yang menjadi simbol perjuangan kaum perempuan (inong) Aceh. Mereka teridiri dari berbagai kalangan, muda, tua, maupun janda yang terlibat dalam peperangan.

Namun di sisi lain, mereka berusaha agar tidak menghilangkan kodrat mereka sebagai seorang wanita. Para pejuang ini tetap mengandung, melahirkan, merawat dan mendidik anaknya, bahkan kerap dilaluinya sambil berperang, mereka rela terjun berjuang mengangkat senjata bersama suami dan bayinya.

Dengan tangan kecil mungil lincah memainkan kelewang dan rencong menjadi senjata mematikan bagi musuh, di samping terus menimang bayinya seraya bersenandung semangat perjuangan. Memompakan semangat jihad dengan syair indah: Allah hai do kudaidang, Seulayang blangg kuputoh taloe, Beu rayek sinyak rijang-rijang, Jak meuprang bela nanggroe. Timang anakku timang, layang-layang sawah putus benang, cepat besar anakku sayang, pergi berperang bela negara.

Tidak berlebihan apabila H.C. Zentgraaff, penulis dan wartawan Belanda terkenal dan banyak menulis tentang sejarah perang melawan Belanda di Aceh mengatakan bahwa wanitalah yang merupakan "de laidster van het verzet" alias "pemimpin perlawanan terhadap Belanda".

Bahkan sejarah Aceh mengenal "Grandes Dames" yaitu wanita-wanita agung yang memegang peranan penting dalam peran melawan penjajah, atau pun sebagai pemimpin politik, atau sebagai istri raja, maupun orang berpengaruh.

Sengaja saya paparkan sejarah perjuangan para wanita inspirator sepanjang zaman. Umur mereka melampaui batas-batas waktu, dan ketenarannya dalam membela kebenaran melintasi batas demografi. Tipe wanita demikianlah yang layak menjadi panutan bagi generasi zaman sekarang, di tengah merebaknya budaya hedonisme dan pramatisme. Negara ini butuh pejuang, lelaki dan wanita. Pemimpin hebat adalah mereka yang selalu diback up dengan keluarga yang hebat. Suami sehebat apa pun tanpa dukungan istri akan rontok seketika, dan istri sehebat mana pun tanpa dorongan suami akan hanya mendatangkan mala petaka.

Wanita-wanita Aceh yang telah berjuang menegakkan agama Allah dan membela tanah air, mengusir penjajah, menerapkan hukum Islam adalah contoh kongkrit jika Islam sangat memberi kebebasa bagi wanita untuk berkiprah tanpa sekat selagi mereka mampu dan tidak melanggar norma-norma agama.
Kini, peran wanita semakin bebas, ada yang masih dalam koridor, namun lebih banyak yang terlampau jauh sehingga menyelisihi kuadratnya. Dari ranah hiburan, wanita adalah komuditas utama, lihatlah iklan-iklan di media massa, hampir semuanya didominsi dengan wanita, hingga hal-hal yang susah dikaitkan dengan wanita pun tetap menjual wanita sebagai bintang iklan. Iklan pelumas mesin jenis oli misalnya, tak terlepas dari wanita. Medan politik juga tak bisa dihindari oleh wanita, bahkan telah diwajibkan oleh negara bahwa partisipasi wanita dalam politk minimal 30 %, dan jika tidak mencukupi maka partai politik yang bersangkutan didiskualifikasi, tak terkecuali jumlah calegnya, maka banyaklah wanita yang maccaleg, sebagian lolos, dan lainnya berguguran.

Terkait sebagai Anggota DPR RI, nampaknya wanita-wanita utusan rakkyat dan wakil Tuhan itu banyak yang menyisakan berita miris, tanpa prestasi yang berarti. Satu-persatu rumah tangga mereka kandas karena kesibukannya jadi anggota dewan terhormat, sekadar menyebut beberapa di antaranya, Wanda Hamidah cerai dengan Cyril Raoul Hakim,Vanna Melinda dengan Ivan Fadilla Soedjoko, Theresia Ebenna Ezeria (Tere) cerai dengan Eka Nugraha, Rachel Maryam dengan Muhammad Akbar Perdana, dan entah siapa lagi. Karena itulah banyak tudingan miring bagi para anggota dewan terhormat itu. Sejatinya, sebagai wakil rakyat, mereka adalah contoh ideal bagi keluarga-keluarga para pemilihnya.
Selain kawin-cerai, fenomena korupsi juga akrab dengan perempuan di era pragmatis ini, Ratu Atut yang menjabat sebagai Gubernur Banten, dan Anggelina Sondakh sebagai Anggota Dewan terhormat, terpaksa berhenti tanpa hormat lalu didakwa dan dikerangkeng karena bukti-bukti kuat dugaan korupsi tak terbantahkan. Sungguh ironi, jika wanita zaman ini justru melemparkan dirinya masuk dalam lubang kehinaan, neraka dunia, dan kesengsaraan di akhirat.

Dalam suasana Hari Kartini ini, secercah harapan justru muncul di ufuk timur Indonesia, tepatnya di Makassar. Jika dulu perempuan banyak berkiprah di Aceh Serambi Makkah, maka kini beberapa perempuan manjadi insporator justru wujud di Makassar serambi Madinah, setidaknya ada enam wanita inpirator yang layak diapresiasi, mereka adalah Rektor Unhas terpilih Prof Dr Hj Dwia Aries Tina, Rektor UVRI Dr Hj Niniek F. Lantara, Rektor UIM Dr Ir Hj A Majdah, Rektor Universitas Sawerigading, Siti Rompegading, Rektor Pepabri, Dr Ir Hj Apiaty, dan yang teranyar Prof Dr Hj Masrurah Mochtar yang baru saja kembali terpilih sebagai rektor priode kedua di Universitas Muislim Indonesia Makassar. Jauh sbelum itu, kita juga telah mengenal Prof Dr Rasdiana, mantan Rektor IAIN Makassar.

Kiprah mereka pada dunia pendidikan patut menjadi teladan bagi Kartini-Kartini muda, semoga mereka tetap dalam kuadradnya sebagai wanita, mendidik dan mengasuh, tentu saja ini jauh lebih mulia dibanding masuk dalam kubang politik yang penuh dengan intrik, syubhat bahkan haram. Wallahu A'lam!
 (Dimuat oleh Harian Tirbun Timur Makassar, 24 April 2014)
Ilham Kadir, Pemertahati Politik-Keagamaan,
 Pengurus DPW MIUMI Sulsel

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi