Raih Surga dengan Ilmu

Ilmu dan surga, dua kata yang kini tidak mudah lagi disatukan, dan hanya ada dalam kitab-kitab klasik para ulama muktabar, khususnya pada priode tujuh abad pertama kedatangan Islam. Kini, ilmu dan surga seakan dua istilah yang tidak behubungan dan saling kontradiksi antar satu dengan lainnya. 
Masalah ini muncul, saat umat Islam dalam kejumudan plus dilanda prahara perang saudara, di lain pihak, Barat dengan revolusi Industrinya di Prancis pada ke-16. Saat itu, sekularisme melanda dunia sebagai motor penggerak revolusi industri. Agama, bagi Barat adalah urusan dunia, sedang industri yang berasal dari sains dan ilmu terapan adalah perkara dunia. Maka, jadilah ilmu dengan akhirat dibenturkan secara vis a vis.

Celakanya, penyakit ini justru kian merebak di negara-negara Islam yang berada di Asia, baik Near East (Timur Tengan) maupun Far Easten, atau Asia Jauh (Nusantara). Bermula ketika negara-negara Islam dicaplok satu persatu oleh para kolonialisme Barat yang notabenenya adalah hasil dari ravolusi industri di Prancis itu.

Nampaknya teori Ibnu Khaldum benar, setiap kaum (negara) yang lemah selalu menjadi pengikut bagi kaum besar dan berkuasa. Bagi mereka yang inferior pasti tunduk dan menjadi kacong si superior. Begitu kira-kira teori Bapak Siosiologi sepanjang zaman itu.

Salah satu kekacauan paling besar bagi umat Islam dalam pandangan Naquib Al-Attas adalah kesalahan dalam memandang ilmu. Konsep ilmu yang dibawa oleh Barat ditelan bulat-bulat, padahal ilmu bagi Barat adalah nihil agama, alias tidak berkaitan dengan agama. Sains yang menjadi mata pelajaran 'buatan' Barat dan dijadikan materi wajib bagi generasi muslim, seluruhnya telah terbaratkan. Dan konyolnya, tidak ada yang mengoreksi kesalahan fatal itu.

Di sinilah pentinganya islamisasi ilmu, dengan cara kembali memadukan ilmu dan agama. Bahwa produk Barat tetap dipelihara selama tidak bertentangan dengan akidah umat Islam. Teori Darwin bahwa manusia berasal dari spesies kera nampaknya diterima luas oleh kalangan umat Islam, yang sejatinya menegasi bahwa umat manusia adalah anak cucu Adam yang diciptakan oleh Allas SWT, demikian halnya dengan teori penciptaan langit, bumi, dan isinya, semuanya telah mencampakkan Tuhan.

Kini, perlahan namun pasti, setelah Al-Attas melemparkan gagasan islamisasi ilmu pada tahun 70-an plus tumbuhnya kesadaran umat Islam untuk kembali pada kebenaran, khususnya dalam memahami konsep-konsep ilmu yang benar. Kesadaran bahwa ilmu memiliki relasi paten dengan agama yang berakibat pada kesenangan dunia dan akhirat. Artinya ilmu dapat membawa pemiliknya masuk surga.

Persoalannya, ilmu yang bagaimana dapat menyorgakan orang? Jawabannya dapat dilihat dari pendapat Imam Al-Gazali bahwa ilmu itu terbagi dua, ada ilmu 'ainy, ada kifa'i. Yang pertama adalah sebuah kewajiban mempelajarinya bagi setiap kaum muslimin, seperti ilmu tentang salat, zakat, puasa, manasik, tauhid, dan sejenisnya, yang kedua ilmu fardhu kifayah, yang mempelajarinya tidak diwajibkan oleh setiap orang, jika ada di antara golongan masyarakat yang belajar ilmu itu maka lainnya telah gugur kewajibannya, seperti sains, atau ilmu tentang pertanian, kedokteran, kehewanan, dan semisalnya. Bagi para penuntut ilmu dengan tujuan untuk mencapai ridha Allah, terbebas dari kebodohan, dan pastinya untuk meraih surga, maka tak syak lagi, inilah dimaksud dengan ilmu menuju surga.

***

Rangkaian peringatan Ulang Tahun ke-30 Sekolah Islam Athirah, mengadakan bedah buku "Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga" karya Yazid bin Abdul Qadir Jawwas. Acara ini berlangsung Minggu 27 April 2014 M/27 Jumadist Tsaniyah 1435 H, di Sekolah Islam Athirah Jalan Kajiolaliddo, Makassar. Mengundang pembedah, Ustad Amiruddin Djalil, Lc., yang dipandu oleh Ustad Kamaluddin S.Pd.I.

Para hadirin terdiri dari segenap wali murid Athirah, guru-guru, mahasiswa, dan para praktisi dan pengamat pendidikan. Buku setebal 350 halaman dan ditebitkan oleh Pustaka At-Taqwa, Jakarta, 2013 ini, sangat layak dijadikan referensi dalam menuntut ilmu, atau menjadi dasar dalam memahami keutamaan dan kemuliaan ilmu; kiat dan adab dalam menuntut ilmu; kitab yang harus dimiliki penuntut ilmu; tahapan dalam menuntut ilmu; perjalanan para ulama dalam menuntut ilmu; nasehat dan wasiat para penuntut ilmu; dan fatwa-fatwa ulama yang berkaitan dengan ilmu.

Dalam Bab, Pengertian Ilmu Syar'i, diuraikan dengan sempurna tingkatan pengetahuan bagi manusia, yang meliputi: Pertama, Al-Ilmu, mengetahui sesuatu sesuai dengan semestinya dengan pengetahuan yang pasti. Kedua, Al-Jahlul-Basith, yakni tidak mengetahui sesuatu sama sekali. Ketiga, Al-Jahlul-Murakkab, atau bodoh kuadrat--istilah ini kerap saya tujukan pada aliran Syiah Rafidhah--tidak mengetahui suatu perkara dengan semestinya, atau memiliki dua kebodohan sekaligus, pertama karena salah memahami sebuah perkara, kedua kesalahannya itu dianggap sebuah kebenaran yang harus diperjuangkan, persis, la yadri annahu la yadri, tidak sadar jika dirinya itu bodoh. Keempat, Al-Wahn, atau sebuah informasi awal yang kadar kebenarannya lebih sedikit berbanding kekeliruannya, 30:70. Kelima, Asy-Syak, kadar pengetahuan terhadap sesuatu sama dengan kekeliruannya, rasionya, 50:50. Keenam, Azh-Zhan, mengetahui suatu perkara yang kebenarannya lebih dominan dari kesalahannya, 70:30 (hlm. 16-17).

Dipaparkan pula jenis ilmu yang terbagi menjadi dharury dan nazhary, yang pertama adalah pengetahuan yang datang secara naluriah, seperti batu itu keras, api itu panas, es itu dingin, nasi berbeda dengan tanah, akar tidak sama dengan ular atau kayu tak serupa dengan besi. Sedangkan nazhary adalah tipe ilmu yang harus dituntut, mendapatkannya butuh pengorbanan, waktu, tenaga, harta, hingga kesungguhan, kecerdasan, dan pendekatan pada guru, ilmu jenis ini meliputi fardu 'ain dan kifayah. Mendapatkannya tidak bisa hanya berpangku tangan, iktikaf di masjid, berzikir di mihrab, atau berleha-leha.

Pendeknya umur dan banyaknya ilmu yang tersedia menuntut kita supaya harus selektif dalam memilah dan memilih, mana yang wajib, sunnah, mubah, dan haram untuk dipelajari. Juga harus membuat klasifikasi, ilmu yang penting, sangat penting, kurang penting, bahkan tidak penting.

Penulis buku ini, memaparkan kategori ilmu yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, seraya menganjurkan pada setiap umat Rasulullah supaya selalu berdoa kiranya dikaruniai ilmu yang bermanfaat dan agar terhindar dari ilmu yang sia-sia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, Ilmu adalah apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah. Terkadang ada ilmu yang tidak berasal dari Nabi, namun dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, dan ilmu dagang sangat bermanfaat.

Ibnu Rajab menegaskan, Ilmu yang bermanfaat akan menuntun kepada dua perkara, (1) mengenal Allah ta'ala dan segala apa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang tinggi, dan perbuatan-perbuatan yang agung; (2) mengetahui segala apa yang diridhai dan dicintai Allah, begitu pula harus tau apa yang dibenci dan dimurkai, mulai dari keyakinan, perbuatan, dan perkataan, lahir dan batin. Karena adanya pengetahuan akan hal itu lebih mendekatkan seorang hamba untuk melakukan perbuatan diridhai oleh Allah dan menjauhi hal-hal yang dimurkai. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati, maka sungguh, hati akan merasa khsyuk, takut, tunduk, lalu mencintai dan mengagungkan Allah. Jiwa pun merasa cukup dan puas dengan harta halal walau sedikit, dan hati pun merasa qana'ah dan zuhud", (hlm. 21).

Poin tambahan pada buku ini ada pada penjabaran makna dan urgensi adab bagi para penuntut. Ibarat penawar bagi racun yang selama ini diteguk para murid, yang mengakibatkan terjadinya dekadensi moral. Fenomena geng motor, seks bebas, budaya hedonisme, dan sejenisnya.

Karena itu, jabaran tentang adab mendapat porsi cukup besar, sekitar 33 halaman, dari 131-164, yang meliputi hierarki adab, dimulai dengan adab-adab seorang muslim yang harus diketahui dan diamalkan kepada Allah, seperti : Menghambakan diri hanya beribadah kepada Allah secara mutlak; Menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya; Ridha terhadap takdir disertai kesabaran dan tawakkal; Menyukuri dan mengakui bahwa segala nikmat dan karunia bersumber dari Allah; dan bertakwa pada Allah dalam kondisi apa pun, sembunyi maupun terang-terangan.

Pada pembahasan ini, diuraikan juga adab-adab terhadap Rasulullah, orang tua, diri sendiri, kerabat, tetangga, masyarakat, para guru, hingga adab-adab di rumah dan di masjid, disertai dengan dalil-dalil naqli.

Saran dan Kritik

Sebagai karya manusia biasa, tentu saja buku ini memiliki kekurangan, kesempurnaan hanya milik Allah semata. Karena itu, dengan niat yang ikhlas, dan penuh kerendahan, saya turunkan beberapa poin yang menjadi penyeimbang bagi pembaca buku ini.

Di antaranya adalah, pembagian jenis ilmu fardhu kifayah dan 'ain. Tidak menyinggung sedikit pun akan kedudukan sains sebagai bagian dari fardhu kifayah, padahal sains adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup kita saat ini, sains melahirkan ragam teknologi di pelbagai bidang. Semestinya, dipaparkan juga bahwa seorang penuntut ilmu, harus memiliki tahapan, dimulai dari fadhu 'ain lalu melangkah ke ragam jenis ilmu fardhu kifayah, agar jika kelak berhasil menjadi ilmuan, maka pengetahuan agama serta pengamalannya tetap terjaga (hlm. 17).  Selain itu, kutipan perkataan Abdullah bin Mubarak (w.181H), yang berkata, "Aku mempelajari adab 30 tahun dan menuntut ilmu syar'I selama 20 tahun", tanpa diikuti penjelasan yang rasional untuk saat ini. Bahwa pada zaman dahulu, belajar adab sampai 30 tahun, diiringi ilmu syar'i 20 tahun adalah lumrah, yang saat ini sudah tidak kodisioner, dan nihil untuk diterapkan, bukan berarti tidak bisa.

Dapat dibayangkan, belajar saja memerlukan waktu 50 tahun, padahal saat ini sudah banyak yang menyelesaikan doktoralnya dalam ilmu syar'i sebelum berumur 30 tahun. Akan lebih bijak jika disinkronkan dengan gagasan Al-Attas terkait pendidikan dengan menggunakan metode ta'dib, yang meliputi pendidikan adab dan ilmu syar'i, dan kifayah sekagligus, yang berbeda dengan terminologi tarbiyah dan ta'lim, dengan itu seorang pelajar dapat mendapatkan dua ilmu sekaligus, adab dan ilmu-ilmu fadhu 'ain maupun kifayah.

Hanya dengan adab manusia akan dihargai, kulla sya'in idza katsura rokhusa illal adab, dan dengan ilmu manusia dibedakan dengan hewan, lawlal imu lakana an-ansu kal-bahaim. Wallahu A'lam!

Sumigo, 27 April 2014.

Ilham Kadir, Pencinta Ilmu.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi