Pengukuhan Dewan Pengurus MIUMI Sulawesi Selatan (1)



Seremoni pengukuhan Dewan Pengurus Wilayah Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonnesia (MIUMI) untuk Sulawesi Selatan berlangsung di Auditorium Gedung Manara Phinisi Universitas Negeri Makassar (UNM), yang terletak di Jalan A.P. Pettarani, Makassar Sulawesi Selatan. Acara berlangsung dari jam 07.30-12.00 wita, hari Sabtu 27 Jumadil Ula 1435 H, bertepatan dengan 29 Maret 2014 M.
Rangkaian acara dimulai dengan orasi yang diisi oleh para orator ulung dari pengurus MIUMI Sulsel, Dr. Yusri Arsyad, ulama muda yang menyelesaikan pendidikannya di Tunisia selama 12 tahun, dari peringkat sarjana hingga doktoral ini, menyoal masalah kepemimpinan atau bagi mereka yang terpilih untuk tampil memimpin dan mengurus orang banyak, terutama umat Islam yang menjadi penduduk maoritas di negeri ini. Masalah utamanya adalah sering kali kita bertengkar antarsesama terkait masalah kepemimpinan. Saat ini, banyak orang  bicara tentang yang pemimpin ideal, padahal seharusnya jadi rujukan berbicara mengenai pemimpin adalah yang punya kapasitas. Orang yang dipilih dan menjadi pemimpin, lanjut dosen UMI Makassar ini, kebanyakan diukur dengan fulus. Maka, lahirlah pemimpin yang hanya menumpuk harta dan fulus. Man yu'min biannal mal ghayah. Siapa yang percaya bahwa harta dan uang adalah seghalanya. Maka, ia akan berbuat segala-galanya demi uang dan harta.
Kepemimpinan ideal adalah merujuk pada tipe Rasulullah yang berdasarkan wahyu, namun karena wahyu telah terputus, dan dibukukan dalam kitab Alquran dan Hadis, jadi seorang pemimpin itu harus paham agama yang bersumber dari kedua kitab wahyu tersebut. Selain itu, seorang pemimpin harus memimpin dengan cinta, dengan mengorbankan diri sekali pun demi kemaslahatan orang banyak. Sang Pencinta, akan selalu berkorban tanpa pamrih. Contoh sederhana adalah, seorang ayah yang rela berkorban segalanya demi kemaslahatan anak dan keluarganya. Jadi bukan lagi maasalah 'mencari pemimpin yang pintar' tetapi begaimana mencari pemimpin yang memiliki cinta dan kasih sayang pada rakyatnya.
Kecuali itu, menurut Pengurus Nahdatul Ulama Sulsel ini, seorang pemimin harus banyak-banyak bertaubat. Suatu ketika, Ali radhiallahu ‘anhu pernah ditanya, Wahai Ali, saya ini sudah lama menikah tapi belum jua punya anak, apa solusinya?  Taubatlah! Jawab menantu Rasulullah ini. Di lain waktu, adalagi yang datang megadu, Wahai Ali, saya adalah petani yang bercocok tanam tapi tak pernah berhasil, apa solusinya? Ali menjawab, Taubatlah! Di lain kesempatan, orang lain datang bertanya, Wahai Ali, kenapa hujan tidak turun-turun di tempat saya? Taubatlah! Jawab Ali dengan singkat. Mereka yang pernah bertanya pun protes, kenapa kok jawabannya Cuma taubat? Istri Fathimah Azzahra ini, menjawab dengan ringkas. Apakah kalian tidak tau bahwa segenap permintaan kalian itu terkabul hanya dengan taubat, perhatikan firman Allah berikut.
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (١٠)يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (١١)وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (١٢)

Maka aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat  dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula sungai-sungai, (QS. Nuh[71]: 10-12)
Taubat adalah kunci keberhasilan rakyat dan pemimpim. Jangan jadi pemimpin buaya darat, air matanya bercucuran tapi menghisap darah rakyatnya. Taubat dalam arti sesungguhnya adalah al-raj'ah, atau kembali ke fitrah. Fitrah adalah sebuah keaslian yang bersumber pada keadilan, dan keseimbangan. Itulah yang dimaksud Lantajida lisunnatillahi tabdila, walantajida lisunnatillahi tahwila. Sunnatullah adalah sebuah ketetapan dari Allah, sapi makan rumput, manusia makan daging sapi, dst. Di Eropa, kini sapi telah makan jeroang semacam ‘jeruk makan jeruk’, atau daging makan daging sehinggal muncullah sapi gila, itu semua karena melawan sunnatullah yang bersumber pada keseimbangan dan keadilan.
Lihatlah karakter Zainal Abidin bin Hesein bin Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin yang kerap memanggul gandung ke rumah orang-orang miskin. Ketika wafat, terlihat bengkak di punggungnya sebagai bekas memanggul gandum. Dan setelah itu, tak ada lagi gandung di depan pintu orang-orang fakir miskin, sehingga rakyat tau bahwa selama ini beliaulah yang sering memanggul gandung kerumah-rumah orang fakir tanpa ada seorang pun yang tau, tau-tau sekarung gandum telah berada di depan pintu.
Demikian pula Umar bin Abdul Aziz, lanjut Pengurus MIUMI Sulsel ini, suatu ketika ia mengumpulkan buah apel untuk rakyatnya, namun saat itu pula anak kecilnya datang memakan apel itu, lalu Umar buru-buru mencegah anaknya sambil mengorek tenggerokannya agar buah apel itu dimuntahkan. Sang istri bertanya, Kamu apain anakmu, kenapa ia menangis? Saya tidak mau gara-gara buah apel ini putriku masuk neraka, karena memakan hak orang lain! Jawab Umar.
Tipe pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan negeri ini agar dapat keluar dari segala bentuk krisis yang tak berkesudahan. Namun semua itu harus dimulai dari diri sendiri, rumah tangga, rukun tetangga, kampung, kota, dan selanjutnya negara. Jika masyarakat Indonesia berkualitas, maka secara otomatis pemimpinnya juga akan berkualitas. Sudah dipastikan bahwa pemimpin berkualitas lahir dari rahim rakyat yang berkualitas, karena itu, MIUMI sebagai wadah para intelektual dan ulama muda harus tampil ke depan dalam menyadarkan masyarakat luas, khususnya mereka yang memiliki kemampuan dalam memengaruhi orang banyak untuk turut peduli dalam mewujudkan pemimpin berkualitas, agar rakyat bisa selamat dunia akhirat. bersambung).
Makassar, 29 Maret 2014. Ilham Kadir, Pengurus MIUMI Sulsel.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi