Ilmu Para Nabi



Dari sudut bahasa, kata 'ilmu' adalah lawan dari 'jahil'. Dikatakan, ilmu adalah pengetahuan kontras dengan kebodohan. Kata ilmu dalam bahasa Arab terangkai dari tiga huruf, 'ain, lam, mim' yang memiliki makna filosofis sangat dalam. 'Ain adalah salah satu aksara Arab (hija'iyah) dengan bentuk seperti mulut menganga, yang anehnya hanya dapat terucap dengan sempurna melalui rongga mulut yang harus menganga. Ini menandakan bahwa ciri orang yang hendak belajar dan mendapatkan ilmu harus seperti bayi yang menganga agar makanan dapat masuk dengan mudah. Sang penuntut harus selalu merasa lapar dan dahaga bahkan rakus dan tamak dalam mendapatkan ilmu (at-tham'u fi thalabil 'ilmi), karena itu pula pemburu ilmu disebut 'murid' atau yang memiliki keinginan tinggi dalam mendapatkan ilmu, atau 'thalib' alias peminta.

Huruf selanjutnya berupa 'lam' yang berdiri tegak dan kokoh, secara filosofis dapat bermakna tinggi atau memiliki kedudukan di atas lagi mulia. Ilmu adalah jalan kemuliaan, oleh karena itu, Imam Syafi'I berkata, al-'ilmu nurun wa nurullah laa yuhda lil-'ashy. Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tak akan pernah masuk kepada ahli maksiat. Karena itu, para ulama selalu mendapat kemuliaan di tengah masyarakat berkat ketinggian ilmu dan kemuliaan akhlaknya, serta selalu menjadi panutan bagi orang-orang baik dan saleh. Ibnu Abbas, dalam menafsirkan huruf 'lam' dari 'alif-lam-mim' pada awal Surah Albaqarah berpendapat bahwa 'lam' bermakna 'Jibril' alaihissalam yang mengantarkan wahyu ke pada Nabi Muhammad. Maka, tidak bertentangan jika dimaknai, huruf 'lam' dari kata 'ilmu' bermakna para ulama yang tinggi ilmunya menjadi perantara sebagai penyebar wahyu Allah kepada para jamaah kaum muslimin. Ulama adalah pewaris para Nabi. Al-'ulama waratsatul-anbiya'.

Sedangkan, huruf 'mim' dari kata 'ilmu' adalah simbol ketundukan sebagai mana huruf 'mim' yang selalu berada di bawah. Orang berilmu adalah manusia mulia, penuh dengan kehati-hatian, sedikit bicara banyak berbuat, selalu ikhlas karena Allah. Para ulama adalah anti riya' (poji ale), selalu tawadhu atau rendah hati. Makin berilmu makin merendah, ibarat padi, kian berisi kian tunduk, jauh dari sikap congkak, pongah, dan takabbur, namun di lain pihak, selalu berani melawan kemungkaran, siapa pun itu, rasa takutnya hanya pada Allah, bukan manusia, kita saksikan banyak di antara mereka yang rela mendekam dalam penjara seperti Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah hingga Buya Hamka rahimahumullah karena keteguhannya dalam membela kebenaran. Bahkan harus mengorbankan nyawa sekali pun tak masalah, demi sebuah keyakinan, inilah yang terjadi pada Ahmad bin Hambal dan Sayyid Quthub.

Karena banyaknya jenis ilmu, maka tulisan ini akan dibatasi, hanya membahas ilmu yang menjadi modal bagi setiap penuntut agar kelak dapat menjadi ulama mujtahid. Secara garis besar, sebagaimana klasifikasi Imam Al-Gazali, membagi ilmu menjadi dua jenis. Pertama adalah ilmu-ilmu wahyu, atau ilmu para nabi, ilmu inilah menjadi sumber ajaran agama, lazim juga disebut ilmu fardhu fardu 'ain. Sedang jenis kedua adalah ilmu yang menjadi asas bagi kehidupan, seperti ilmu-ilmu pertanian, perdagangan, perindustrian dan semacamnya, kini lazim disebut sains. Karena pengetahuan sains yang melahirkan teknologi yang hampir ada di seluruh bidang.

Adanya teknologi tentu sangat membantu umat manusia dalam berbagai hal, tak terkecuali dalam ibadah mahdah. Jika dulu orang naik haji di Jazirah Arabiah harus naik onta dengan perjalanan berhari-hari, kini hanya hitungan jam, berkat adanya pesawat yang merupakan hasil dari sains terapan. Karena bidang ini sudah cukup banyak yang tau dan ahli, dan saya termasuk bukan ahlinya maka saya merasa tidak perlu membahas lebih jauh.

Menjadi Ulama

Ulama yang dimaksud adalah mujtahid, atau memiliki kemampuan dalam berfatwa dengan keilmuan yang mereka miliki. Berupa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi, menurut Al-Manawi, sebagaimana dikutif oleh Abu Anas Majid Al-Bankani dalam "Rihlatul 'Ulama fi Thalabil 'Ilmi', berkata, yang dimaksud ilmu para rasul dan nabi adalah, mereka tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Para ulama adalah paling dekat dengan Nabi.

Al-Baidhawi berkata, yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah sebuah keharusan seorang hamba untuk mempelajarinya seperti pengetahuan tentang Sang Pencipta, berilmu untuk mengesakan Allah, pengetahuan tentang kenabian rasul-Nya, tata cara salat, mempelajarinya adalah sebuah kewajiban (fardhu 'ain). Al-Bankani lalu menulis bahwa, menuntut ilmu tentang hal-hal yang halal adalah wajib, sebagaimana makan harta halal adalah wajib, demikian pula ilmu tentang itu. Ada pula ilmu tentang rukun Islam dan rukun iman dan dalil-dalil berhubungan dengannya. Tidak diragukan lagi bahwa ilmu-ilmu tersebut masuk dalam kategori ilmu para nabi.

Di Nusantara, pada awal abad ke-19, mulai muncul sekolah-sekolah yang menyusun kurikulum pendidikannya secara sistematis dan terukur. Umumnya, para penuntut dipersiapkan untuk menjadi ulama. Kurikulum calon ulama tersebut dapat dibagi menjadi dua, alat dan materi. Alat adalah sebagai modal utama dalam memahami materi ajar berupa bahasa Arab. Ada beberapa ilmu terkait bahasa, seperti Sharaf (morfologi), Nahwu (gramatika), Balaghoh (ilmu komunikasi) yang terbagi atas tiga bidang, Badi', Ma'ani, dan Bayan. Juga Ilmu Tafsir untuk memahami metode menafsirkan Al-Qur'an, Ilmu Hadis, untuk memahami klasifikasi Hadis, Ilmu Ushul Fiqhi untuk memahami cara-cara pengambilan hukum, serta ilmu kalam untuk memahamu perdebatan seputar akidah. Namun sebelum masuk lebih dalam dalam menggali ilmu-ilmu tersebut, seorang murid terlebih dahulu harus belajar bacaan Al-Quran dengan baik dan betul serta memiliki hafalan yang cukup, minimal sepertiga dari jumlah keseluruhan ayat-ayat suci Al-Qur'an, atau hafal ayat-ayat berhubungan dengan akidah dan hukum. Saat ini, kerap dijumpai hal-hal aneh, lucu, bahkan konyol, sebabnya, seorang pakar tafsir atau berani berbicara terkait Al-Qur'an dan tafsrinya, tetapi tidak hafal ayat yang ia tafsirkan, atau memiliki pengetahuan Bahasa Arab yang belepotan. Selain itu, ada pula ilmu alat yang dipandang perlu untuk dipelajar, seperti mantik (logika), dan filsafat.

Perintah Belajar

Tidak ada ajaran, ideologi, maupun kepercayaan yang sangat menghargai ilmu sebagaimana agama Islam. Dalam tuntunan Rasulullah, terlalu banyak dalil-dalil naqli yang menyeru umatnya untuk belajar, dan menghargainya dengan nilai kemuliaan yang amat tinggi. Seorang murid ketika belajar, disetarakan sedang beribadah sunnah maupun wajib. Salah satu dalinya, Hadis yang diriwayatkan oleh At-Thabrani bersumber dari Abu Umamah, Nabi bersabda, Barangsiapa yang keluar menuju masjid dan tidak ada yang diingininya, kecuali untuk belajar atau mengajarkan ilmu, untuknya pahala sama dengan pahala haji yang sempurna.

Imam Bukhari, meriwayatkan sebuah Hadis, "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan untuknya, Allah jadikan ia faham akan agama. Sesungguhnya ilmu itu hanya dapat diraih dengan belajar." Hadis ini setidaknya mengandung beberapa hukum, di antaranya, keutamaan memahami ilmu agama; yang memberikan ilmu tersebut hanyalah Allah; dan sebagian umat ini akan senantiasa berada dalam kebenaran selama-lamanya.

Ibnu Taimiyah dalam memahami Hadis di atas berpendapat, Barangsiapa yang diinginkan Allah kebaikan untuknya, sudah pasti Allah akan jadikan dia faham akan agama. Orang yang tidak paham agama berarti Allah tidak menginginkan kebaikan untuknya. Namun bukan berarti yang paham agama serta-merta mendapat kebaikan sebelum ilmunya itu ia amalkan. Namun paham seorang akan agama menjadi syarat untuk menggapai kebahagiaan. Karena itu, ia harus mengenal Tuhannya dengan disertai ibadah kepada-Nya.

Al-Manawi berkata, jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah jadikan ia paham agama, memberinya petunjuk berupa kemudahan dalam mendapatkan kebenaran. As-Samhudi berpendapat bahwa orang yang tidak paham agama tidak ditunjuki baginya kebaikan, sedangkan Abu Nu'aim meriwayatkan bahwa orang tidak paham agama berarti Allah tidak peduli padanya. Dengan banyaknya pendapat ulama tentang keutamaan belajar untuk memahami agama, maka sudah pasti ini adalah kewajiban pribadi yang harus ditunaikan.

Para murid adalah rekan malaikat, demikian penegasan dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Tidak seorang pun yang keluar dari rumahnya untuk menuntut ilmu, kecuali para malaikat membentangkan sayap untuknya karena ridha atas apa yang dilakukannya.

Cukuplah dalil-dalil di atas menjadi dasar untuk membakar semangat kita agar lebih rajin belajar, menelaah kitab-kita para ulama Muktabar Ahlussunnah yang dapat menjadi pedoman dalam beragama di tengah kondisi yang serba carut-marut ini.

Demikian pula, sebuah kewajiban untuk mendorong putra-putri, saudara, tetangga, dan segenap umat Islam agar terlebih dahulu menuntaskan pelajaran ilmu fardhu ain yang merupakan ajaran para nabi sebelum masuk pada ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti sains, keterampilan, dan semisalnya. Dengan dasar agama yang kokoh akan menghasilkan generasi yang taat, saleh, beriman, bertakwa, beradab, anti korupsi, dan selalu takut pada Allah. Sungguh naif jika generasi bangsa ini dituntut untuk menguasai ilmu-ilmu sunnah dengan tekanan begitu dahsyat, sampai ada yang stres hingga kesurupan, lalu mengukur kemampuannya hanya sekadar lulus Ujian Akhir Nasional. Sesungguhnya belajar bukanlah untuk ujian, melainkan sebagai ibadah untuk meraih kemuliaan dunia akhirat. Wallah A'lam!

Ilham Kadir, Alumni Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju, Bone, dan Pengurus DPW MIUMI Sulsel.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena