Dr. Muttaqin Said; Ulama Muda Mujtahid dari Tanah Bone



Kini, istilah ulama sudah menjadi pasaran dalam kalangan umat Islam. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi mereka-mereka yang dianggap telah menjadi ulama. Di Indonesia, hampir sudah tidak ada lagi standar baku untuk menunjuk dan mendaulat seseorang menjadi ulama. Padahal sesungguhnya tidak semuda itu untuk menjadi ulama, terutama yang bergerak di bidang fatwa, yang lazim dikenal 'ulama mujtahid', karena bagaimana pun, mereka yang memiliki pengetahuan dasar Islam yang memadai (ilmu fardhu ain), lalu tekun dan istiqamah dalam berakidah, dan taat beribadah, menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar, memiliki kemampun tabligh, menguasai salah satu cabang dari ilmu fardhu kifayah, seperti fisika, biologi, matematika, salah satu bidang sains, sudah dapat dikategorikan sebagai ulama.
Karena itu, lembaga peneliatian obat dan makanan di bawah pengawasan MUI adalah bagian dari para ulama jenis ini, dan mereka tidak dibutuhkan untuk menguasai kitab-kitab Arab gundul nan klasik, hanya ditekankan untuk meneliti kandungan makanan dan obat-obatan, lalu memaparkan pada khalayak, apakah makanan dan obat yang telah diteliti itu terkontaminasi oleh zat haram atau tidak, sehingga dapat dikonsumsi umat Islam atau sebaliknya. Tak diragukan lagi, mereka berada dalam barisan ulama. Tipe ulama seperti ini pun di Indonesia kian hari kian bertambah, sebuah anugerah buat negeri berpenduduk mayoritas umat Islam ini, dan harapan umat, ke depan yang maju sebagai pemimpin harus berasal dari kalangan ulama-politisi, agar kebijakan-kebijakannya harus berlandaskan syariat, bukan menantang 
Allah dan rasul-Nya.
Ulama Mujtahid
Ulama jenis inilah yang kian hari kian tersusut, mereka satu-persatu pulang ke rahmatullah dan terkubur bersama ilmunya. Untuk menggapai derajat mujtahid pun tidak semudah menjadi saintis, karena melalui seleksi yang sangat ketat, beberapa di antara syaratnya adalah, hafal Al-Qur'an 30 juz dengan mutqin, hafal hadis, terutama yang barkaitan dengan akidah dan hukum-hukum minimal 500, menguasai ilmu 12, yang meliputi Nahwu, Sharaf, Ma'ani, Badi', Bayan (Balaghoh), Fiqih, Tafsir, Tauhid, Haids, Musthalah Hadis, Ushulul-Fiqh, dan Manthiq.
Dan kriteria lainnya yang tidak bisa diabaikan adalah, muru'ah atau penilian masyarakat akan ketinggian ilmunya, dan kemuliaan akhkaknya, madeceng ampe-ampena, kata orang Bugis. Lazimnya, ulama seperti ini tidak pernah mau dibilang atau diangkat-angkat, karena apa yang ia lakukan hanya sebagai tanggungjawab agama dan tuntutan masyarakat pada zamannya. Kezuhudan dan ilmunyalah yang membawa dirinya memiliki muru'ah yang tinggi. Dalam terminologi masyarakat Bugis, ulama tipe ini disebut To Panrita.
Tidak berlebihan jika saya mengangkat seorang ulama di Tanah Bone yang layak disebut mujtahid atawa panrita. Beliau telah memenuhi kriteria mujtahid yang disyaratkan baginya. Yang saya maksud adalah KH. Dr. Muttaqin Said, Pendiri dan Pimpinan Pesantren Pendidikan Islam Darul Abrar Palattae dan Ketua Bidang Fatwa MIUMI Sulsel. Sebagai ulama generasi baru, Dr. Muttaqin telah melanglang buana menimbah ilmu, dari Tanah Bugis, Pulau Jawa, Jazirah Arabia, hingga Gurun Sahara Afrika. Selain ‘gila ilmu’, dia juga seorang pendidik dan penulis buku, sebagaimana profesi seorang ulama pada umumnya. Ia telah mengajar pada almamaternya, Pondok Modern Gontor sejak lulus Kuliatul Muallimin Al-Islamiyah (KMI) tahun 1983. Begitu pula setelah selesai di Madinah dan Sudan, ia kembali ke kampung halamannya Tuju-tuju Bone untuk mengabdi dengan memimpin Pondok Pesantran Darul Huffadh bersama sang ayah KH. Lanre Said. Padahal saat itu ia tetap melanjutkan program doktoralnya di Universitas Malaya Kuala Lumpur. Sebelum akhirnya mendirikan lembaga pendidikan sendiri di Palattae Bone dengan nama Pesantren Pendidikan Islam Darul Abrar.
Pesantren ini berdiri sejak tahun 1997 dan telah melahirkan banyak alumni. Di antara unggulan dari Darul Abrar adalah di samping tenaga pendidik yang mumpuni, juga mencetak santri-santri yang hafal Al-Quran 30 juz, penguasaan bahasa asing (Arab-Inggris) serta belajar ilmu-ilmu agama disertai pelajaran umum lainnya. 
Selain itu, Dr. Muttaqin Said juga pernah menjadi dosen tetap pascasarjana UMI Makassar saat Prof. Abdurrahman Basalamah masih hidup. Cukup lama beliau mengabdi di UMI pada jurusan Magister Pengkajian Islam, namun karena tenaganya lebih dibutuhkan di Pesantren yang ia dirikan, maka kiai yang bergelar doktor ini lebih fokus mencetak generasi pelanjut melalui pesantren pendidikan Islam. Kecuali itu, ia meninggalkan sebagai dosen Pasca UMI karena merasa bertentangan dengan hati nurani terutama ikhtilath antar perempuan dan laki-laki. Baginya, mengajar di Pascasarajana tidak sesuai dengan keilmuan para mahasiswa, karena mereka yang mengambil konsentrasi agama saja masih menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya, di lain pihak para santri di pondok yang baru masuk SMP saja sudah menggunakan bahasa Arab. Karena itu, itulah harus diplot dari sekarang untuk mencetak generasi Al-Qur'an, dapat berbahasa Arab, bisa menelaah kitab-kitab kuning sebagai sumber utama agama! Tegasnya.
Sebagai ulama, beliau tidak hanya melulu mengajar di pesantren, tapi ia juga aktif membina pengajian di beberapa titik yang berdekatan dengan Pesantren di daerah Palattae Kecamatan Kahu. Ia telah menjadi mata air bagi umat yang datang menimba beningnya cahaya ilmu dari seorang Muttaqin. Ulama mujtahid ini memiliki prinsip hidup: Membawa masyarakat menuju generasi Al-Qur'an, sebagaimana para generasi Sahabat Nabi; Hidup harus diwarnai dengan Al-Qur'an, dan hanya dengan Al-Qur'an umat akan dimuliakan, dan tanpa itu akan dihinakan. Sebagaimana sabda Nabi, sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu bangsa karena Al-Qur'an dan merendahkan umat yang mengabaikan Al-Qur'an; Pribadi, maupun institusi yang mengabaikan Al-Qur'an akan hanya menunggu kehancuran; Kebahagiaan hakiki hanya dapat diraih dengan Al-Qur'an, dengan selogan "Kaifa nata'amal ma'al Qur'an", bagaimana beradaptasi dengan Al-Qur'an.
Keluarga Qur'ani

Nampaknya tabiat pribadinya yang menghafal Al-Qur'an utuh 30 juz sebelum tamat Sekolah Dasar berusaha ia tularkan pada putra-putrinya, yang juga telah ada yang hafal 30 juz secara mutqin dan sempurna. Beliau memiliki keluarga yang layak digelar "Keluarga Qur'ani". Di antara sembilan anaknya, sudah ada yang hafal 30 juz, yaitu Azimah yang masih duduk di kelas 1 SMP Al-Muqaddasah Ponorogo Jatim, sedang Izzah sang kakak baru hafal 20 juz, dan yang tertua Gozi sudah masuk 10 juz.
Ulama yang merupakan manusia pertama Indonesia yang mengambil Fakultas Al-Qur'an di Universitas Islam Madinah ini merawat keluarga dengan cara qur'ani. Ia selalu menekankan pada anak-anaknya "Kamu kemana saja boleh, yang penting harus hafal Al-Qur'an dulu", dan terbukti satu persatu anaknya yang masih belia telah mulai hafal Al-Qur'an. Jika putra-putrinya berlibur, maka selalu diadakan halaqah Al-Qur'an, sambil memberikan wejangan berupa nasihat-nasihat dan motivasi agar terus giat belajar dan menghafal Al-Qur'an. Bagi lelaki yang sudah dua kali diberi kehormatan masuk dalam kakbah ini berpendapat bahwa seorang pendidik itu harus mampu mempersiapkan generasi puluhan tahun ke depan. Harus  disiapkan dari sekarang agar mampu hadapi tantangan yang lebih berat, pungkasnya. Kalau sekarang saja bagitu besar tantangannya, maka ke depan akan lebih dahsyat lagi.

Seorang pendidik di Pondok, tidak bisa mengeluh jika menghadapi santri yang bebal dan bandel karena belum berbuat apa-apa pada santri tersebut, tugas para pendidik adalah mengubah santri yang bebal menjadi baik, salah menjadi saleh. Di lain pihak, jika ada santri yang baik dan berprestasi tidak dapat dibanggakan, jika belum berbuat apa-apa pada santri itu, karena memang dari sananya sudah baik dan berperestasi.Maka dikatakan berhasil jika menjadikan anak tersebut lebih maju lagi. Tegasnya, sebagaimana ia ucapakan di Masjid Sultan Alauddin 19 April 2014 kemarin. Karena itu di Pesantran Darul Abrar anak-anak dipersiapkan untuk hafal Alquran, dan Hadis minimal seribu lebih.

Ketika saya tanya, kenapa rela mengajar di kampung padahal dari segi kualitas, ia berkualitas Internasional, maka ia pun menuturkan, Ketika dikirim ke Madinah oleh Pondok Modern Gontor sebagai kader dan atas nama daerah asal, maka itu saya harus kembali ke daerah. Berbeda dengan sebagian teman-teman lain yang kemnbali ke Indonesia justru mampir dan tinggal di Ibu Kota bekerja menjadi dosen, dai, berbisnis, kerja di Kedubes, dan tidak kembali ke daerah. Nah, kalau begini siapa yang mau memajukan daerah.

Data Diri

Nama : Dr. Muttaqin Said. Lc. MA; Tempat Tanggal Lahir : Bone, 13 Januari 1965; SD Tuju-tuju, Bone, 1978; SMP-SMA (Pondok Modern Darussalam Gontor) 1979-1983; Institut Pendidikan Darussalam (IPD) 1983-1988; Universitas Islam Madinah, Fakultas Al-Qur'an dan Studi Islam 1989-1983; Islamic University Omdurman Sudan, 1994-1996, (Tesis: Tahqiq At-Taysir Kitab Fiqawaid Ilmit-Tafsir Lil Imam Al-Qafiji); Malayan University, Academi Islamic Study, Judul Disertasi "Kontribusi Hasbi Ash-Shiddiqi dalam Tafsir Al-Qur'an; Telaah Tafsir An-Nur". Nama Istri : Mar'atun Shalehah, M.H.I, anak: Gozi, Izzah, Azimah, Azmah, Faizah, Zubaer, Ja'far, Hind, Nuha.

Organisasi: Bendahara Pusat Organisasi Pelajar Pondok Modern Gontor, 1981-82; Ketua Ikatan Keluarga Pondok Modern Gontor (IKPM) Cabang Madinah Saudi Arabiah 1990-91; Pimpinan Pondok Pesantren Darul Huffadz Tuju-tuju Bone 1996; Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Darul Abrar Palattae 1997-Sekarang; Ketua Bidang Fatwa Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulsel 2014-Sekarang.

Hobi: Olah raga: Main Takrow; Buku Favorit : Tafsr Ibnu Katsir; Idola : Ahmad Deedat; Mobil : Nissan Terrano 2001; Celluler : Telkomsel dan XL; Tempat Favorit : Masjid Nabawi; Jenis HP : IPON 5 (Aple); Maskapai : Garuda; Minuman Favorit : Kopi Radix/Teh Tarik; Merek Baju : Itang Yunaz; Sepatu : Bata

Karya Tulis : Buku Fikih Ibadah, 2008; Menuju Generasi Al-Qur'an, 1996; Fikih Muamalah (dalam Proses).

(Dapat dibaca dalam Tribun Life Koran Harian Tribun Timur edisi 20 April 2014)

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena