Tafsir Hermeneutika

Ditilik dari sudut etimologi, istilah “hermeneutics” berakar dari bahasa Yunani kuno yang berarti hal-hal yang berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan sesuatu pesan. Secara historis, hermeneutics tidak bisa dipisahkan dengan “Hermes” yang dalam mitologi Yunani dikatakan sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita kepada manusia di bumi (Syamsuddin Arif, 2008: 178). 

Hermeneutics selanjutnya bermetamorfosis menjadi sebuah ilmu, metode, dan teknik dalam memahami suatu pesan atau teks yang sesungguhnya baru terjadi pada sekitar abad ke-18 Masehi, menyusul terjadinya gerakan reformasi yang dicetuskan oleh Martin Luther di Jerman. Para teolog Protestan menolak klaim otoritas gereja Katolik dalam pemaknaan penjabaran kitab Suci. Bagi mazhab Protestan, setiap orang berhak menafsirkan kitab suci Bibel asalkan tahu bahasa dan konteks sejarahnya. Maka, berdasarkan prinsip kegamblangan (perspicuitas) dan sola scriptura lalu dibangunlah metode ilmiah bernama hermeneutika. Dalam pengertian masa kini (kontemporer) istilah hermeneutcs lazimnya dikontraskan dengan exegesis, sebagaimana ilmu tafsir dibedakan dengan tafsir.

Tujuan utama diciptakannya hermeneutika adalah untuk menemukan kebenaran dan nilai-nilai dalam Bible, sebagaimana juga dijelaskan dalam The New Encyclopedia Britannica bahwa hermeneutika merupakan studi prinsip general tentang interpretasi Bible.  Hal ini dapat dibapahami karena pada teks Bible terdapat banyak masalah mendasar seperti otentisitas teks, bahasa teks, dan bahkan kandungan teks itu sendiri, sebagaimana diutarakan oleh Duane A. Priebe dalam “Communicating the Test Today”, bahwa problem yang mereka (penulis Bible) kemukakan kebanyakan bukan problem kita—masa kini—dan cara-cara berfikir mereka tidak dapat kita produksi kembali begitu saja pada hari ini. Karena itu dunia Bible umumnya asing bagi kita, dan bahasanya sulit difahami.

Karena penulis-penulis Bible berfikir tentang diri mereka pada masanya (kuno) dan cara berfikir masyarakat Kristen modern pasti berbeda. Maka dunia teks (Bible) dianggap refresentasi dari dunia kuno dan mitos, di lain pihak masyarakat modern identik dengan ilmiah dan rasional. Maka hermenautika adalah jalan terbaik untuk mejembatangi kesenjangan ini: teks dan mitos.

Sedikitnya ada tiga poin penting yang harus diketahu terkait metodologi penafsiran ala hermeneutika. Pertama, menganggap bahwa semua teks adalah sama, semuanya merupakan karya manusia. Asumsi ini terbangun dari kekecewaan mereka terhadap Bible, teks yang semula dianggap suci belakangan diragukan keasliannya. Campur tangan manusia dalam perjanjian lama (Torah) dan perjanjian baru (Gospel) ternyata didapati jauh lebih banyak ketimbang apa yang sebenarnya diwahyukan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa.

Kedua, hermeneutika menganggap semua teks sebagai produk sejarah. Sebuah asumsi yang sangat tepat dalam kasus Bible, mengingat sejarahnya yang amat problematik. Lalu praktisi hermeneutika dituntut untuk bersikap skeptis, selalu meragukan kebenaran dari mana pun datangnya, dan terus terperangkap dalam apa yang disebut sebagai lingkaran hermeneutika, dimana makna senantiasa berubah. Sikap seperti ini juga sangat pas untuk Bible yang telah mengalami perbuhan bahasa dari Hebrew dan Syriac ke Greek, lalu Latin dan tentu saja memuat banyak perubahan dan kesalahan redaksi (textual corruption and scribal errors).

Ketiga, hermeneutika menghendaki pelakunya untuk menganut relativisme epistemologis. Tidak ada tafsir yang mutlak kebenarannya, semuanya relatif. Kebenaran menurut seseorang, bisa saja salah menurut orang lain, sangat tergantung pada seting ruang dan waktu tertentu.

Tafsir Alquran?

Yosfiandi menulis dengan tema “Memaknai Agama Secara Progresif” dalam Harian FAJAR, Jumat, 14 Februari 2014, sang penulis menghendaki agar penafsiran Alquran dilakukan dengan metode hermeneutika, dengan merujuk pada hermeneutika dalam pandangan Fazlur Rahman yang besar kemungkinan merujuk pada salah satu karyanya, “Islam and Modernity”.

Dalam dua dekade ini, konsep hermeneutika memang sudah masuk dalam kurikulum studi keislaman di Indonesia, menyusul maraknya para sarjana muslim yang telah lulus dan kembali dari Barat. Salah satu metodologi penafsiran yang dianggap pas untuk Alquran masa kini adalah hermenutika. Pandangan ini tidak bisa lepas dari asumsi ilmuan Barat terhadap Bible bahwa, Alquran bagi kaum muslimin tidak ada bedanya dengan Bible, maka jika hermeneutika diguna-pakai dalam memahami Bible, kenapa Alquran tidak? Akhirnya, tafsir hermenutika pun diajarkan di Indonesia, dan dipakai dalam menafsirkan Alquran.

Asumsi di atas jelas keliru, serampangan, dan pasti sesat. Alquran jelas beda dengan Bible, dan metodologi penafsiran Alquran memiliki cara tersendiri yang tidak dimiliki oleh kitab manapun, termasuk Bible. Seorang ahli tafsir harus memiliki ilmu alat yang khusus, mulai dari Bahasa Arab yang meliputi nahwu (gramatika), saraf (morfologi), ilmu balaghah (komunikasi), meliputi bayan, badi’, dan ma’ani, serta harus ditunjang dengan dzauqullughah perasaan khusus dalam berbahasa, termasuk di antaranya memahami perkataan bahasa Arab yang berbentuk prosa dan syair (‘arud wal qafiyah). Ini belum termasuk ilmu-ilmu inti lainnya, seperti fikih, ushul al-fiq, hadis, ilmu hadis, ilmu-ilmu Alquran meliputi nasikh-mansukh, sebab turunnya ayat, lafaz umum dan khusus, dst., bahkan hampir semuan penafsir hafal Alquran. 

Karena itu, jika metode hermenautika diterapkan dalam Alquran akan berimplikasi buruk, karena beberapa hal. Pertama, hermeneutika menghendaki penolakan terhadap status Alquran sebagai kalamullah (firman Allah), bahkan mempertanyakan otentisitasnya, dan pada gilirannya juga menggugat kemutawatiran mushaf utsmani. 

Kedua, Alquran sangat terkait dengan tempat di mana ia diturunkan (Arab) dan kapan ia turun (abad ke-7 Masehi), oleh karena itu kandungan Alquran harus selalu diperbaharui, padahal dalam pandangan Islam, Alquran sangat relevan sepanjang zaman, dan dimana pun ia berada. Kebenaran menurut Alquran, zaman dan tempat diturunkannya, tidak berbeda dengan saat ini, paham semacam ini dapat mengaburkan kebenaran dan akan melahirkan mufasir gadungan, pemikir liar yang menyesatkan. 

Ketiga, hermenautika sama sekali tidak cocok diterapkan kepada Alquran karena memang diperuntukkan untuk Bible, pendapat ini juga didukung oleh Josef Van Ess, guru besar emeritus dan pakar sejarah teologi Islam dari Universitas Yuebingen, Jerman. Katanya, bahwa hermeneutika yang berasal dari Jerman itu sebenarnya memang bukan ditujukan untuk kajian keislaman. Pada asalnya ia merupakan produk teologi Protestan. Dipakai untuk mengkaji Bible oleh Scleiermcher, dan belakangan Heidegger dan Gadamer dalam kajian kesusastraan Jerman maupun klasik. Yang mereka maksud ‘teks’ ialah karya tulis buatan manusia, sesuatu yang indah lagi menarik, biasanya sebuah naskah kuno yang hanya terdapat dalam satu versi, seperti kisah tragedi karangan Sophocles, dialog-dialog karya Plato, atau pun puisi yang ditulis Holderlin. Ini jelas tidak sama dengan konsep teks dalam kajian Islam.

Jika ilmuan Barat saja telah tidak sepaham dengan mengadopsi metode hermeneutika ke dalam kajian Islam (tafsir Alquran), maka kenapa kita justru keranjingan mengimpor barang yang jelas-jelas dapat merusak khazanah keilmuan Islam yang telah mapan dan teruji keunggulannya. Saat ini, belum pernah, dan tidak akan pernah ada hasil tafsir hermeneutika yang lahir melebihi atau minimal sama dengan hasil karya ulama-ulama tafsir yang muktabar. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Sulsel, Sekretaris Organizing Committe Kongres ke-5 KPPSI 2014



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi