Menulis Agar Dikenang Selamanya

Koran Harian Tribun Timur pada hari Ahad 9 Maret 2014 dalam kolom ‘Life Style’ mangangkat profil saya sebagai pemberi inspirasi, khususnya dalam dunia tulis menulis, karena itu redaktur memberinya tajuk “Menulis Agar Dikenang Selama-lamanya”.
 
Banyak yang mengapresiasi lewat komentar-komentar dari sosial media (sosmed), mulai dari facebook, twitter, wechat, whatsup, hingga SMS. Namun, ada pula yang bertanya, bagaimana saya menulis sehingga dengan muda diterima oleh media cetak yang notabenenya melalui penyaringan dan kompetisi yang ketat?

Tentu jawaban yang dibutuhkan dalam pertanyaan di atas, perlu penjelasan dengan komprehensif bahwa menulis memang ‘gampang-gampang susah’. Gampang karena setiap orang yang pernah belajar terutama di bangku sekolah serta memiliki anggota tubuh yang sempurna (tangan), maka yang bersangkutan pasti pernah menulis. Menulis, dewasa ini adalah bagian dari hidup manusia normal.

Untuk mempersempit pembahasan, tulisan yang dimaksud dalam catatan ini adalah, buah pena alias hasil goresan tinta yang dapat dikonsumsi oleh orang lain dalam beragam bentuk, seperti catatan khusus, laporan kegiatan, pengalaman pribadi, artikel, jurna, buku, hingga cerita-cerita inspiratif dalam bentuk fakta maupun fiktif (novel).

Saya dapat pastikan bahwa setiap manusia memiliki jalan dan perjalanan hidup yang berbeda. Dan setiap kita adalah person yang memiliki pengalaman hidup yang dapat memberi pelajaran bagi orang lain, apakah itu pelajarannya dalam bentuk kebaikan agar ditiru orang lain, atau dalam bentuk dosa agar orang lain tidak ikut terjerumus.

Sangat disayangkan jika pengalaman-pengalaman dan perjalanan hidup Anda yang penuh dengan pelajaran itu hanya diketahui oleh Anda sendiri, akan lebih baik dan bermanfaat jika dituangkan dalam bentuk tulisan walau hanya beberapa paragraf lalu dishare ke berbagai media yang jumlahnya kian banyak, baik cetak maupun elektonik. 

Tulisan hanyalah rangkain huruf menjadi kata, berkembang menjadi kalimat, selanjutnya dirangkai menjadi paragraf. Untuk satu artkel hanya butuh beberapa paragraf, minimal tiga dengan jumlah huruf setiap paragraf berkisar antara seratus kata.

Itulah di antara tips bagaimana menulis, sangat mudah bukan? Anda jangan berpikiran terlalu melangit bahwa ingin menulis artikel yang ilmiah seperti para kolumnis di media-media besar seperti Amin Rais, atau ingin menjadi penulis buku yang tebal dan bermutu seperti Hamka, atau ingin menulis novel yang masyhur sehingga difilemkan seperti Habiburrhamna El-Siraji dan Andrea Hirata.

Cukup memulai dengan menulis hal-hal yang paling mudah, menulis pengalaman pribadi, apa yang dirasakan dan dialami dalam hidup ini adalah bagian dari pengalaman pribadi yang Anda dapat tuangkan dalam untain kata. Kalau itu telah Anda lakukan, maka mulailah bermimpi bahwa suatu saat juga akan dikenal orang karena hasil karya tulis yang pernah saya buat.

Pengalaman Pribadi Saya

Kebiasaan saya sejak mondok—belajar di Pondok Pesantren—Majelisul Qurra’ Wal Huffadh Tuju-tuju, Kajuara Bone adalah menulis rangkaian kegiatan yang ada di pesantren yang sebenarnya bagi para santri adalah hal-hal yang lumrah saja, tidak ada yang istimewa sama sekali. Kehidupan di pondok bagi para santri, tidak lebih dari sebuah rutinitas harian dan perjalanan hidup yang dilalui oleh banyak manusia, khususnya para santri.

Bangun dari tidur, ke sumur, berangkat ke masjid, baca Al-Qur’an, salat berjamaah, dst. Karena merasa biasa-biasa saja, sehingga hanya sedikit yang menuangkan perjalanan  hidupnya dalam catatan ketika ia nyantri. Saya adalah bagian dari sedikit itu. Saya suka menulis segala sesuatu yang terjadi di pondok dari sudut pandang saya secara pribadi. Hampir tiap hari saya menulis kejadian-kejadian yang menurut saya menarik. Setidaknya, saya telah menggunakan tiga diary harian selama saya tinggal di pondok yang durasinya satu windu, dari tahun 1989-1998.

Saya menulis keadaan-keadaan yang sangat sederhana, seperti interaksi saya dengan Pak Kiai yang kami panggil Petta Lanre, dan istrinya, Petta Cinnong. Saban hari, selain bergelut dengan hafalan Al-Qur’an, ragam ilmu-ilmu alat di sekolah seperti Bahasa Arab (Durus Allughah Al-Arabiyah), Nahwu (tata bahasa Arab), Sharaf (morfologi), Tarikh (sejarah Islam), Tajwid, Khat, dst., saya juga harus bergulat dengan sebarak kerjaan di dapur umum santri. Saat itu, santri yang benar-benar full time mondok cuma tiga orang, saya (Ilham Kadir), Saad Basri, dan Rusdin. Kerja-kerja cuci piring, mengambil air di Sumur Atas—sebutan sebuah sumur yang berada di sebelah selatan pondok yang tianggal di atas bukit samping kuburan dengan cara dipikul kami lakukan tiap hari.

Saat itu, keadaan pondok sangat sederhana, masih berbaur dengan masyarakat tanpa aturan-aturan yang sangat ketat sebagaimana yang terjadi beberapa tahun kemudian. Segala bentuk aktifitas di pondok saya tuangkan dalam bentuk catatan yang sekarang telah terangkai dalam sebuah buku “KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari Era DI/TII hingga Era Reformasi, Jogjakarta, 2010” ada pula dalam bentuk novel “Petuah Panrita”, serta dalam bentuk artikel yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Pernah ada pembaca buku di atas yang menangis tersedu-seduh ketika saya ceritakan perjuangan Petta Cinnong dan Petta Lanre dalam merintis Pondok Pesantren Darul Huffadh Tuju-tuju Bone.

Saya tidak pernah berpikir bahwa tulisan saya dalam bentuk catatan harian akan bermetamorfosis dengan bentuk buku yang hingga saat ini, belum ada satupun dari santri alumni Tuju-tuju yang mampu berbuat jangankan melebihi buku yang saya tulis, menyamai pun tak kunjung ada. Padahal, jika ukuran kecerdasan menjadi patokan, tentu jauh lebih banyak yang cerdas dari saya, atau jika pertimbangan waktu, maka dulu, di zaman saya belajar, waktu berleha-leha hampir tidak ada, namun saya mampu menyisakan waktu setiap harinya, hanya beberapa menit untuk menulis pengalaman pribadi saya, yang dulu tak berarti apa-apa, namun saat ini, nilainya tak bisa dibandingkan dengan apa pun.

Sebagai pelecut semangat menulis kepada siapa saja. Mungkin ‘Sekapur Sirih’ atau Muqadimah dalam buku terbaru saya yang merupakan hasil penelitian magister pendidikan saya di Universitas Muslim Indonesia (2013), bisa bermanfaat. Saya menulis:

Menulis adalah warisan para ulama, seseorang hanya layak disebut ulama jika mampu menularkan ilmunya kepada orang lain. Baik melalui qalam maupun melalui kalám. Namun tradisi lisan (bil-kalám) memiliki seting ruang dan waktu untuk mengaksesnya. Sementara dengan qalam, ilmu seorang ulama akan abadi dan dapat menjadi amal jariyah yang lebih panjang durasi waktunya.
Sekadar menarik ke belakang, sewaktu penulis belajar di Pondok Pesantren Majelisul Qurra’ wal Huffadz-Darul Huffadz Tuju-tuju Bone, kami diwajibkan untuk selalu menulis. Salah satu mata pelajaran, al-Insya’ al-Yawmiyah, atau karangan harian berbahasa Arab dengan jumlah karangan yang telah ditentukan. Umumnya untuk pemula, yaitu kelas tiga Kulliatul Muallim Al-Islamiyah (KMI) sederajat dengan kelas tiga Tsanawiyah, minimal setiap santri harus menulis sekitar seratus kata, kelas empat naik menjadi empat ratus kata. Dan ketika menginjak tahun terkahir, seorang santri sudah harus menulis artikel dalam bahasa Arab yang baik.
Selain itu, ada pula pelajaran Muthala’ah, berupa mata pelajaran berbahasa Arab yang diterangkan dengan menggunakan bahasa Arab dalam bentuk lisan dan tulisan. Satu judul Muthala’ah, panjangnya bisa melebihi dua ribu kata. Ada pula Muhadharah, ceramah yang menggunakan bahasa Arab, dan harus dibuat dalam bentuk teks, yang panjangnya bisa mencapai tiga ribu kata. Ini belum termasuk, Mahfizhat, Tafsir, Hadis, dll. Pendek kata para santri ketika di pesantren telah diajarkan untuk membiasakan diri menulis beragam materi pelajaran.
Berangkat dari ataslah penulis belajar menulis, baik dalam bahasa Arab dan Inggris yang menjadi bahasa wajib, juga dalam bentuk bahasa Indonesia. Memang, salah satu masalah yang penulis anggap dalam menulis bagi para santri adalah penguasaan bahasa Indonesia, sebagaimana yang penulis rasakan. Betapa tidak, bertahun-tahun diajar di pondok dengan menggunakan bahasa asing, Arab dan Inggris. Dari sinilah banyak teman-teman yang malas menulis dalam bahasa Indonesia, pada saat yang sama ia juga telah meninggalkan pondok dan tidak lagi terbiasa menulis bahasa Arab karena telah dinyatakan lulus. Jadilah ilmunya membeku.
Penulis merasa bersyukur karena walaupun telah keluar dari pondok, tradisi menulis yang telah kami peroleh tetap penulis kembangkan hingga saat ini. Terutama ketika penulis menjadi wartawan  di Ibu Kota, Jakarta. Kemampuan menulis ‘on the spot’ juga kian berkembang, hingga penulis juga mampu menulis buku, jurnal, novel, hingga artikel yang kini sudah lebih dari seratus yang telah terpublikasi di media.
Namun seluruh karya-karya penulis di atas, memiliki perbedaan dengan karya ilmiah dalam bentuk “Tesis” karena memiliki prosedur dan aturan tersendiri. Untuk itulah, melahirkan karya seperti ini juga merupakan perjuangan yang tak kalah menantangnya bagi penulis.
Untungnya, penulis memiliki pembimbing yang telah banyak memberi arahan dan masukan agar hasil penelitian ini lebih layak untuk disebut hasil penelitian ilmiah. Masukan-masukan dari para pembimbing makin menyadarkan penulis jika aturan-aturan penulisan juga merupakan bagian yang tidak bisa diremehkan.
Untuk itulah, penulis, senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Dan lewat kata pengantar ini penulis ingin mengucapkan ucapan terimah kasih yang sebesar-besarnya, kepada, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mochtar, Rektor UMI Makassar, juga  Dr. M. H. Arfah Shiddiq, MA., dan Dr. Hj. Nurul Fuadi, MA., atas arahan dan bimbingannya hingga karya ilmiah ini selesai. Tanpa mereka berdua, niscaya ceritanya akan berbeda. Hanya Allah-lah yang dapat membalas jasa baik mereka. Selain itu, penulis juga haturkan terima kasih pada tim penilai, yaitu, Dr. H. Arif Halim, MA., Prof. Dr. Mappanganro, MA., dan Dr. Muh. Ishaq Shamad, M.A.
Karena pada dasarnya buku yang ada di tangan pembaca ini adalah ‘tesis’ maka ada beberapa bagian yang telah dibuang dan pada bagian yang lain ditambah. Sejatinya, isi dari buku ini juga tidak seutuhnya penulis pertanggungjawabkan pada sidang penguji karena atas saran pembimbing beberapa bagian tidak begitu relevan dengan pemikiran pendidikan Al-Attas, termasuk pada bagian terakhir yaitu adab dalam pandangan masyarakat Bugis. Namun karena dipandang memiliki manfaat, maka penulis menyertakan dalam buku ini. Apalagi saat ini selalu ditekankan agar mengambil khazanah lokal (local wisdom) sebagai salah satu pilar kebangsaan. Juga karena dipandang terlalu ‘gemuk’ untuk ukuran tesis sehingga ada beberapa judul juga ‘terpaksa’ digunting. Namun tetap tidak mengurangi nilai keilmiahannya.
Secara umum, buku ini berisi empat bagian (bab), bagian pertama mengurai masalah yang telah, sedang, dan akan dihadapi umat Islam, serta bagaimana cara mengatasinya. Di antara masalah tersebut adalah keterbelakangan umat Islam dalam mengejar ketertinggalan pada ranah keilmuan, termasuk pendidikan yang tidak mampu melahirkan manusia yang beradab, padahal, bagi Al-Attas problem utama umat Islam yang sesungguhnya adalah lost of adab alias hilangnya adab. Bagian kedua, memuat tentang riwata hidup Al-Attas, termasuk perjalanannya dalam menuntut ilmu (rihlah fi thalabil ‘ilmi), karya-karya, dan perjalanan intelekteulanya dari masa ke masa. Tidak lupa pula penulis paparkan sejauhmana pengaruh Al-Attas—termasuk di Indonesia—sebagai ulama ilmuan yang kapasitasnya telah diakui oleh dunia. Bagian ketiga, mengurai pemikiran pendidikan Al-Attas yang sangat komprehensif, dimulai dari konsep manusia, islamisasi ilmu, hingga komparasi Adab dalam pandangan Al-Attas dan masyarakat Bugis. Sedang bagian terakhir berisi tentang kesimpulan-kesimpulan dan inti dari pendidikan menurut Al-Attas.

Menulis adalah hembusan nafas, denyut nadi, life style, serta menjadi bagian terpenting dalam hidup saya. Jika Imam Nawawi rahimahullah hanya hidup berkisar tiga puluh enam tahun, tetapi dengan karyanya ia telah hidup hingga ratusan tahun. Mengapa kita tidak bisa berkarya agar juga dapat menelurkan amal-jariah plus dapat bunus berupa nama yang dikenang oleh generasi pelanjut sebagaimana Imam Nawawi? Nuun wal qalami wama yasthurun!

Sumigo, 11 Maret 2014. Ilham Kadir. Kabag Penelitian MIUMI Sulsel


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an