Membangun Karakter Tulisan

Perkara penting yang tidak dapat diabaikan oleh seorang penulis profesional adalah membetuk karakter tulisan yang khas. Penulis itu sama seperti penyanyi. Harus punya karakter vocal dan gaya nyanyi tersendiri. Tak masalah berada pada gendre yang sama. Sepuluh penyanyi dangdut tampil di sebuah panggung hiburan, dan masing-masing membawakan lagu yang sama, tetapi vocal, gaya, dan karakter mereka beda. Hasilnya, pertunjukan irama dangdut di atas tetap menarik. 

Tetapi, jika ada tiga penyanyi saja membawakan lagu yang sama dan tanpa ada perbedaan cengkok dan karakter dalam satu panggung hiburan, maka saya pastikan para penonton dan pendengar akan merasa jenuh dan booring. Seorang penyanyi yang tidak kreatif mengembangkan potensi yang dimilikinya bahkan cenderum monoton akan terkubur dengan banyaknya generasi baru yang lebih menarik dalam segala hal, terutama suara dan karakter vocal. Nyatanya, banyak penyanyi yang datang dan pergi seperti embun di pagi hari, menghilang tatkala matahari pagi menyinari bumi. Lihatlah Prof. H. Rhoma Irama, kendati telah eksis sebelum saya lahir, namun hingga datik ini, tetap tak berubah, tetap eksis dan terus menerus dinanti para penggemarnya. Ada pula penyanyi, seperti Bunyamin, lagu-lagu lucu dan konyolnya tak pernah mati, terus menerus mengocok perut, kendati Sang Penyanyi telah terkubur di liang lahad. Demikian pula para penyanyi kawakan lainnya, saya kenal Ebite G AD, Iwan Fals, Doel Sumbang-- daftarnya tertus bertambah--tetap eksis di tengah serangan musik-musik Barat, India, hingga Korea dan Timur Tengah. Mereka adalah penyanyi berkarakter khas .

Penulis juga demikian, harus memiliki ciri khas tersendiri jika ingin mendapat pembaca, atau dalam istilah ekonomi, konsumen dan pangsa pasar yang setia bahkan fanatik--dalam artian positif. Para penulis pemula terus bermunculan bak jamur di musim hujan, tetapi para penulis lama yang telah dulu eksis dan memiliki karakter khas juga tetap kokoh berdiri dan eksis. Mereka bahkan jadi rebutan berbagai media massa untuk menerbitkan karya tulisnya. Saya sebut saja misalnya, Prof. Yusril Ihza Mahendra, yang catatan-catatannya di wall facebook-nya menjadi incaran para pembaca setianya. Analisisnya terkait hukum, politik, dan ragam persoalan bangsa lainnya sangat diminati para generasi sosmed saat ini. Demikian juga Jalaluddin Rakhmat, sang nabi Syiah Indonesia, yang kata-katanya telah menjadi sabda dan jimat golongan sesat lagi menyesatkan, Syiah Rafidhan Indonesia. Kang Jalanl, demikian sapaan akrabnya, adalah sosok penulis yang telah lama membangun fondasi karakter tulisan yang khas. Kamampuannya ditunjang dengan ragam ilmu perangkat, seperti ilmu komunikasi dan bahasa. Penguasaan bahasa riset yang banyak serta kemampuan memahami psikologi pembaca dan, atau psikologi komunikasi membuat Kang Jalal adalah tipe penulis komplit. Hingga saat ini, bendera Kang Jalal masih tetap berkibar, para pembaca dan pengikut setianya, yang jangankan tulisan, ludah busuknya pun jadi rebutan untuk dijadikan tabarruk—ngalap berkah—para laknatullah 'alaihim ajma'in. Tulisan memang dapat menyelamatkan dan menyesatkan, haqqul yaqien, Kang Jalal adalah tipe penulis sekaligus penyesat yang sempurna.

Tahun lalu (2013). Ketika rombongan LPPI bersilaturrahim ke rumah Prof. Azhar Arsyad di Samata Gowa, salah satu diskusi kami saat itu adalah permasalahan Kang Jalal yang pendusta dan pembohong itu, di antara dustanya yang terang benderang, pengakuan dirinya sebagai doktor lulusan Australian National University Australia dan Guru Besar Universitas Padjadjaran Bandung. Konyolnya, dustanya itu tertuang dalam sebuah wawancara yang merupakan bahan dasar penelitian tingkat Magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, judul bukunya adalah "Dakwah Sufistik Kang Jalal" dan penulis tesis itu adalah M. Rosyidi.

Belakangan, ketika kebohongan Kang Jalal dilaporkan ke polisi, Rosyidi membantah kenyataan nara sumber, maka dengan itu Penulis tesisis itu berhak dicabut gelar magisternya karena meneliti dengan serampangan jika memang itu benar, atau Kang Jalal yang dijebloskan ke penjara karena telah melakukan tindak pidana dengan mengaku-ngaku sebagai doktor lulusan Australia dan guru besar.  Ringkasnya, Kang Jalal jadi objek penelitian karena karakter tulisannya yang khas dan ajarannya yang sesat, ada pun Rosyidi adalah tipe penulis dan peneliti yang serampangan dan jelas tak berkarakter, karena itu ia terkubur dalam dunia tulis menulis sebelum jasadnya masuk liang lahad. Ada komentar Prof. Azhar yang, bagi saya menarik dan menantang, terkait Jalaluddin terlaknat non rahmat yang bukan professor itu. "Kalian harus lebih produktif dan lebih baik dalam menulis dari pada Jalaluddin Rakhmat, agar bisa juga mengambil S3 by researh, kalian lebih berhak, jika kalian mampu menulis seperti dia".

Saya juga suka membaca tulisan-tulisan Emha Ainun Najib, beliau adalah penulis kesukaan saya sewaktu baru selesai mondok di Darul Hufadz Tuju-tuju, buku "Markesot Bertutur" dan "Markesot Bertutur Lagi" saya khatamkan beberapa kali, demikian pula "Dalam Pojok Sejarah" ketiga buku itu saya bawa kemana-mana, termasuk ke negeri Jiran Malaysia, waktu saya mengajar dan kuliah di sana. Tulisan-tulisan Emha tersebut adalah sebagian besar berasal dari kumpulan fikiran-fikirannya yang tertuang dalam format opini dalam salah satu koran Nasional. Kemampuan Emha meramu budaya Jawa dalam konteks keindonesiaan adalah perlu diapresiasi. Satu sisi dipandang positif oleh para cendekiawan yang memang mayoritas bersuku Jawa, di sisi lain, adalah bagian dari jawanisasi Indonesia. Karena itulah istilah-istilah Jawa dalam buku Emaha terlalu banyak dan membingunkan oleh orang non Jawa seperti saya. Walau bagaimana pun, Emha adalah penulis yang susah dicari tandingannya di Indonesia, dari beragam sisi, istilah ‘syahwat politik’ dan ‘demokrasi Laa Raiba Fihi’ adalah bagian istilah yang ia populerkan dan diterima luas oleh umat manusia Indonesia.

Kecuali itu, kamampuan Emha dalam menulis adalah berkah tersendiri para penganut dan pegiat paham Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme Agama (Sipilis), sebuah paham yang dinyatakan sesat lagi menyesatkan oleh MUI Pusat. Emha juga kerap melontarkan pernyataan-pernyataan ambigu, misalnya: Ada orang rajin salat tapi doyang ganggu orang lain atau berwatak buruk, ada pula yang malas bahkan tidak salat namun baik pada orang-orang. Manakah yang lebih baik? Bagi Emha, tidak ada pilihan lain, selain kedua bentuk manusia di atas. Padahal, dalam Islam salat adalah kewajiban asasi dan berbuat baik pada setiap manusia adalah bagian dari tujuan bersalat.

Oleh karena itu, "Inna as-salah tanha 'anil fakhsya'i wal mungkar. Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar." (QS. Al-Ankabut [29]:45), mengganggu orang lain adalah bagian dari kemungkaran, dan bertentangan dengan tujuan salat. Karena itu, Emha yang tulisannya berkarakter itu, serta banyak peminat dan pembelanya hanyalah manusia biasa yang juga penuh dengan kekeliruan. Kita ambil yang positif darinya, dan buang yang negatif lagi merusak.

Namun, untuk membangun karakter tulisan, latar belakang pengalaman dan pendidikan menjadi bagian yang tidak bisa diabaikan. Prof. Yusril adalah cendekiawan komplit, memiliki pangalam organisasi kemahasiswaan hingga saat ini menjadi salah seorang pemimpin partai politik Islam, juga beberapa kali menjadi menteri, ia pernah kuliah di bidang hukum tata negara di Universitas Indonesia, hingga doktor dalam Islamic Studies di University Sains Malaysia. Juga Kang Jalal, yang memiliki latar belakang pendidikan baik S1 maupun S2 dalam ilmu komunikasi, serta kegigihannya dalam belajar bahasa, sangat menunjang kemampuan menulisnya. Dengan  disiplin ilmu dan latar belakang pemahaman keagamaannya yang sesat itu, membawa dirinya menjadi penulis yang berciri khas, dan mampu menyihir para pembacanya. Inilah dimaksud dalam sebuah riwayat bahwa "Innal bayan lasikhr. Sungguh kata-kata itu dapat menjadi sihir bagi pembacanya!". Kang Jalal telah mengamalkan hadis itu. Sampai pada suatu saat saya berkomentar kepada salah seorang teman di LPPI, Saya saja yang memiliki resistensi yang lumayan kuat dalam menangkal teori-teori dan materi-materi penyesatan Jalaluddin Rakhmat masih saja kerap terbius oleh susunan dan untaian kata-katanya dalam setiap buku-bukunya, apalagi saudara-saudara kita yang sama sekali tidak memiliki daya tangkal, pastilah mereka lebih mudah tersesat. Para pembacanya yang tak memiliki resisten adalah domba-domba sesat yang dengan mudah digiring oleh srigala bernama Jalaluddin Rakhmat.

Latar belakang Emha juga demikian, pengalamannya di Pondok Modern Gontor Darussalam, walaupun tidak sempai tamat karena diusir, tetapi ilmu-ilmu bahasa, dan dasar-dasar pemahaman dalam agama Islam (mabadi') telah ia pelajari. Plus kegigihannya dalam belajar secara otodidak membuat dirinya menjadi seorang budayawan yang pantas diacungi jempol namun tak pantas ditiru cara beragamanya.

Itulah di antara para penulis yang telah umum diketahui bangsa Indonesia. Nama mereka adalah garansi akan karakter tulisannya, tapi bukan garansi dalam mengukur kebenaran, sebab kebenaran mutlak hanyalah milik Allah. Al-haq mir-rabik. Bahkan dua penulis berkarakter terakhir di atas yang saya jadikan contoh adalah tipe penulis berkarakter yang tidak memiliki adab yang baik kepada Agama Islam sebagai agama yang hak (dienul-haq), dan pemahaman Ahlussunnah sebagai paham satu-satunya yang diridhai oleh Allah. Keduanya masih terus menulis, dan hanya dia dan Tuhan saja yang tau kapan akan berhenti menulis. Jin dan iblis sekalipun tak mampu membendung mereka dalam menyebarkan kesesatan, sebagaimana mereka tak akan mampu menahan saya untuk melawan tulisan para penyesat-penyesat sekaliber Kang Jalal dan Emha. Saya akan terus menyuarakan kebenaran yang saya yakini, Islam sebagai dien yang haq dan paham Ahlusunnah Wal Jamaah yang telah diperaktikkan oleh para sahabat Nabi serta generasi salafussaleh lainnya adalah paham keagamaan yang paling benar. Begitu saya berkeyakinan. Jika mereka menebar racun, maka saya akan memberikan penawarnya.

Hanya tulisan berkualitaslah yang dapat diingat dan diabadikan oleh para pembaca, dan karakter khas yang terbangun adalah bagian dari kualitas tulisan. Anda, dan orang lain alias pembaca dapat dapat  merasakan, apakah tulisan Anda berkarakter atau tidak! Demikian pula, Anda dan orang lain dapat menilai, apakah tulisan yang Anda hasilkan membawa pencerahan atau penyesatan! Amal jariah atau jariatus-su'.  

Andai saja seluruh isi lautan menjadi tinta, dan pohon-pohon yang ada di bumi berjumlah tujuh kali lipat banyaknya menjadi pena untuk menulis firman Allah, maka semua itu tidaklah cukup (QS. Luqman [31]: 27). Wallahu A’lam!

Enrekang, 12 Maret 2014. Ilham Kadir, Peneliti MIUMI Sulawesi Selatan.


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena