Dakwah Politik Dr. H. Ali Mocthar Ngabalin



Enrakang itu unik, sepertinya inilah satu-satunya ibu kota kabupaten yang tidak punya angkot, atau pete’-pete’ dalam sebutan orang Sulsel. Bahkan ketika saya tinggal di Kabupaten Karimun, Riau Kepulauan, sebuah pulau paling dekat dengan Johor Malaysia, yang ukuran pulaunya hanya 7x22 kilometer persegi, juga terdapat angkot, bahkan cukup ramai.
Kecuali itu adalah hari pasar, di kota ini pula yang mungkin juga satu-satunya kabupaten yang hanya dua kali pasar dalam seminggu. Senin dan Kamis. Untuk itulah saya mengundang Bang Ali untuk memberi tausiyah di Masjid Pasar Enrekang tepat pada hari pasar waktu Zuhur dengan asumsi jamaah pada waktu itu, sebagaimana biasanya memenuhi masjid yang bertingkat itu, lantai pertama untuk jamaah kaum pria dan lantai kedua untuk jamaah kaum Hawa.
Bagitu waktu Zuhur tiba, Bang Ali datang lebih awal dibanding saya, sempat menelpon menanyakan keberadaan saya yang masih di dalam rumah sedang asyik mengedit novel, dan segera keluar bertemu dengannya. Kami segera masuk masjid bersama, imam tetap dan pengurus masjid mempersilahkan beliau maju untuk memimpin jamaah salat zuhur, saya sendiri berada di belakang imam agak ke kanang. Bakda salat, pengurus masjid mempersilahkan Bang Ali untuk naik memberi tausiah usai zikir dan salat sunnah rawatib bakdiah. Bang Ali berdiri, memulai ceramahnya denga salam dan muqaddimatul khitabah.
Ia menekankan pentingnya salat dengan berjamaah. Di samping salat berjamaah membawa banyak keutamaan, termasuk 27 derajat bila dibandingkan dengan salat sendirian, ia juga menekankan bahwa dosa hukumnya menunaikan salat sendirian di rumah tanpa uzur syar'i walau salatnya tetap sah dan tidak usah diulangi. Uzur syar'i adalah sebuah kondisi yang dapat diterima oleh syariat, seperti orang dalam keadaan musafir, sakit, tidak mengetahui bahwa waktu salat telah masuk dan tidak pula mendengar azan karena satu dan lain hal, orang kecelakaan, dan sejenis itu.
Namun--lanjut mantan Ketua Umum BKPRMI terlama ini--bagi orang yang mendengarkan azan tapi masih saja tetap sibuk dengan barang dagangannya di pasar, tetap melayani pembeli, atau malah asyik berbelanja, maka orang-orang seperti ini jelas berdosa. Tidak hanya ini, umat Nabi Muhammad yang mendengarkan azan berkumandang tapi tidak juga tergerak hatinya untuk memenuhi panggilan Allah dan untuk meraih kemenangan—hayya 'alas sholah dan hayya alal falah—maka mereka ini tergolong sebagai muslim tapi belum bisa dikatakan mukmin sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat ke-14 dan 15.

قَالَتِ الأعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الإيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (١٤) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (١٥)

Orang-orang Arab Badui itu berkata, "Kami telah beriman". Katakanlah, "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."  Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka Itulah orang-orang yang benar.

Terkait urgennya salat berjamaah, Bang Ali lalu mengutif sebuah kisah salah seorang sahabat Nabi yang datang mengadu dan berharap akan diberi konvensasi, bebas menunaikan salat fardhu di rumahnya. Sang Sahabat yang buta dan telah berumur 85 tahun itu merasa keberatan untuk menghadiri salat berjamaah lima kali sehari, terutama di waktu-waktu gelap dan tak ada orang yang dapat menuntunnya. Nabi lalu memberi keringanan, dan ketika sahabat buta dan tua renta itu hendak pamit, Nabi lalu bertanya, Apakah Engkau mendengar azan berkumandang? Sahabat menjawab, iya. Nabi bersabda, kalau begitu tidak ada alasan bagimu untuk tidak berjamaah di masjid ini.
Bang Ali lalu memberi pertanyaan pada jamaah, adakah orang di Enrekang ini yang tidak mendengar azan ketika waktu salat tiba? Tentu saja tidak, karena begitu tiba waktu salat masuk, azan besahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lainnya, dari mushalla ke mushalla, toa terdengar membahana, memantul dari satu gunung ke gunung lainnya, menjadikan Kota Enrekang yang berbentuk lembah laksana sebuah masjid besar dijejali pembesar di setiap penjuru mata angin.
Karena itu, menurut Bang Ali, tidak ada alasan untuk tidak mengikuti jamaah pada setiap waktu salat tiba. Selain itu. Lanjut Bang Ali, salat adalah ukuran beriman atau sebaliknya seorang muslim, bahkan, salat dapat menjadi pembeda antara muslim dan kafir, Daud dan David, Musa dan Moses, Ali dan Alex, Yusuf dan Josoef, Sulaiman dan Solomon, begitulah seterusnya. Selain itu, salat juga berfungsi sebagai tolok-ukur akan kebaikan seseorang. Jika salatnya baik, pasti dia tidak akan melakukan perbuatan keji dan mungkar. Jika salatnya sempurna, pasti dia tak akan menggarong harta rakyat, jika salatnya diterima, pasti dia tak akan mencuri, membunuh, menyakiti orang lain, berzina, dan segala bentuk angkara munkar dan ragam maksiat.
Intinya, salat adalah tiang agama dan barometer kehidupan harian umat Nabi Muhammad. Bang Ali menutup tausiyahnya dengan mengatakan, Sayang jika hidup yang singkat ini tidak dipergunakan untuk berbakti pada Allah sepenuh hati, dan berbuat baik kepada orang lain sebanyak mungkin. Tidak ada yang dapat kita banggakan dalam hidup yang begitu singkat ini. Pemimpin datang dan pergi, rakyat lahir dan meninggal, kita semua juga akan mengalami itu, jika kita kebetulan dipilih menjadi pemimpin, maka itu adalah amanah, sebagaimana jika dipilih menjadi wakil untuk rakyat, semua telah diatur dan ditakdirkan oleh Allah.
Selama mendampingi beliau di Enrekang, walaupun kurang dari dua hari, saya sudah dapat mengambil benang merah pada diri Bang Ali, yang bagi saya, layak untuk dijadikan pelajaran bagi orang lain, terutama para politisi, dan karena itu pula saya menulis tentang beliau, tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Di antara hal-hal yang layak dijadikan teladan pada sosok Bang Ali dalam berpolitik adalah.
Pertama. Tidak terlihat mencolok bahwa dirinya adalah seorang caleg, kemana-mana ia hanya memakai baju koko putih berlogo BKPRMI di kantong bajunya, menggunakan kain sarung, songkok dan sorban di kepala. Yang menandakan kalau dia caleg hanyalah mobilnya yang telah dibrending. Atribut-atributnya juga sangat terbatas dan hampir semuanya disponsori oleh rekan-rekannya yang sebenarnya tidak memiliki kepentingan dengannya, untuk se-Kabupaten Enrekang saja, hanya terdapat dua baliho ukuran 2x3.
Kedua. Kesantunan dalam berpolitik. Ketika ada tim sukses dari partai yang sama menurunkan atribut Bang Ali karena takut disaingi, Bang Ali justru cuek dan tak begitu peduli, malah berkata, Muda-mudahan yang bersangkutan bisa lolos sebagai wakil rakyat dan benar-benar memperjuangkan aspirasi masyarakat. Bang Ali menilai bahwa menjadi anggota dewan itu adalah amanah dan pertanggungjawabannya bukan hanya pada manusia, tapi pada Allah, kita bisa saja lari dari manusia, tapi dari Allah, itu tak mungkin.
Ketiga. Minus Politik Uang. Itulah yang saya saksikan, dari ratusan orang yang mendatangi Bang Ali, saya liat sendiri tak ada satu pun yang datang minta uang walau hanya satu sen. Bahkan justru masyarakat yang berlomba-lomba menyapa dan mengajaknya berfoto bareng, beliau mengalahkan para salebritis. Dan setiap orang yang bertemu minta foto, juga minta nomor HP, dan itu dikasi dengan senang hati, bahkan banyak yang langsung SMS-an.
Keempat. Blusukan. Langsung kepada para pemilih, termasuk mengunjungi rumah-rumah Mereka. Bertamu sambil bincang-bincang segala hal, berdiskusi tentang budaya, politik, agama, dst. Dan saya baru melihat ada caleg yang berani pasang nomor Hand Phone, alamat Facebook, Twitter, dan E-Mail, agar memudahkan pada siapa saja berkomunikasi langsung dengannya. Bahkan nomor HP yang ia pasang pun tak pernah berubah sejak dahulu. Itu berarti memang beliau selalu siap dihubungi oleh siapa saja, Bagi Bang Ali, rakyat harus memiliki akses langsung (direct access) kepada para wakilnya supaya dapat mengadu lasung permalasahan mereka. Bang Ali tidak punya tim sukses, hanya berbasis pada pendukung setia dan rekan-rekan sekaligus sebagai simpatisan yang militan, merekalah yang bekerja, yang menurut saya jauh lebih efektif dari tim sukses mana pun.
Kelima. Tausiyah di berbagai tempat, termasuk di masjid dan mushalla-mushalla, atau acara-acara tertentu. Dalam hal ini, Bang Ali pure sebagai seorang muballig, ceramah-ceramahnya sama sekali jauh dari nuansa politis. Tidak ada sama sekali kata-kata, saya adalah caleg, di partai ini dan itu, nomor utut sekian, dan sebagainya sebagaimana ustad dan muballig-muballig lainnya yang ikut maccaleg.
Keenam. Tidak pernah mengumbar janji, atau bilang pilihlah saya, karena saya layak dipilih, saya terkenal, saya dapat berbuat begini dan begitu, tida pula punya jargon khusus seperti “Jujur, Bersih, Amanah”, atau “Religius, Jenius, dan Ramah”. Beliau hanya mengatakan, kalau saya masih terpilih dan lolos ke DPR Pusat maka saya akan berbuat sebagaimana dulu sewaktu saya duduk di Senayan. Terkait apa yang telah saya perbuat untuk dapil saya, maka tanyalah pada kepala daerah yang memimpin saat itu, bila saya yang bercerita akan hilanglah amal saya karena masuk dalam kategori riya' (poji ale).
Sebagai manusia biasa, tentu Bang Ali banyak kekurangan, namun mencari manusia sempurna tentulah hal mustahil, kita hanya dituntut memilih wakil yang paling sedikit kekurangannya. Demikian pula, di tengah banyaknya para politisi busuk yang kerjanya mengumbar janji tanpa bukti, dan minim integritas, nampaknya sosok Bang Ali, bagi saya pribadi yang bisa saja berbeda dengan Anda, menilai bahwa beliau layak mewakili rakyat di DPR RI, dan Ormas Islam seperti Wahdah Islamiyah telah mengarahkan dukungannya kepada Dr. H. Ali Mocthar Nngabalin untuk daerah pemilihan Sulsel III. Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja, Palopo, dan Luwu Raya. Untuk sebuah dukungan dari Ormas Islam sekelas Wahdah haruslah memiliki kriteria yang tidak mudah, mulai dari integritas pribadi, pemahaman agama, sumbangsihnya pada dakwah, hingga latar belakang keluarga dan kualitas individu.  Wallahu A'lam! Enrekang, 18 Maret 2014.
Ilham Kadir MA. Aktivis, Jurnalis, Peneliti, dan Novelis

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi