BKPRMI Membentuk Generasi Qur’ani

Dari Bandung Jawa Barat BKPMI berdiri, di Masjid Istiqamah, Jalan Martadinata pada  Bulan Suci  Ramadhan 1397 H/ 03 September 1977 M. Tokoh-tokoh Pemuda Masjid pada saat itu yang dimotori oleh Toto Tasmara, dkk , lahirlah sebuah organisasi Remaja Masjid yang diberi nama Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia disingkat  BKPMI. Ketua Umum terpilih pada saat itu adalah Toto Tasmara yang didampingi Sekjend Bambang Pranggono.
 
Dalam perjalanan selanjutnya, pada MUNAS  BKPMI yang ke-VI di Jakarta tahun 1993, BKPMI berubah nama menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia di singkat BKPRMI. Ketua Umum terpilih pada saat itu adalah Yamin Amna putra kelahiran Makassar Sulawesi Selatan.  Kini, pada MUNAS KE XII di Makassar Sulawesi Selatan BKPRMI tepat berusia 37 tahun. 

Setelah melintasi ruang dan waktu di usia sudah matang, BKPRMI kemudian berkembang menjadi organisasi yang solid  bersama derap perjuangan dakwah Islam . Karna itu, ia bergerak  bersama dinamika kehidupan bangsa. Salah satu karya terbesar yang nyata bagi BKPRMI  untuk umat Islam di tanah air, adalah  Taman Kanak-Kanak Al-Quran (TKA), lahir pertama kalinya  pada MUNAS KE V BKPMI  di masjid Al -Falah Surabaya tahun 1989 dibawah kepemimpinan Abdurrahman Tarjo.

Dari Aceh Serambi Mekkah Ali Mukhtar Ngabalin terpilih menjadi Ketua Umum BKPRMI, kini dan disini di Kota Makassar Serambi Madinah Bang Ali, mengakhiri jabatannya. Hingga ke hari ini, BKPRMI telah dinakhodai sepuluh pemimpin yaitu. Toto Tasmara, Anwar Ratna Prawira Negara, Jimly Ashidiqi, Rahman Tarjo,Yamin Amna, Idrus Marham, Tasrifin Karim, Hery Bahrizal Tanjung, Ali Mukhtar Ngabalin, dan yang terpilih dini hari tadi, adalah Said Aldi Al-Idrus yang akan memimpin organisasi satu priode kedepan (2014-2018). Al-Idrus adalah mantan Komandan Nasional Brigade BKPRMI 2009-2013 mendapat suara 185, mengalahkan Prof. Arifuddin Ahmad, Ketua DPW Susel yang memperoleh 82 suara dari keseluruhan  pemilih yang diperbutkan berjumlah 266.

Organisasi sehat

Sepanjang keikut-sertaan saya dalam kepengurusan BKPRMI wilayah Sulawesi Selatan, saya menyaksikan betul bagaimana roda organisasi berjalan, mulai dari pertemuan rutin antara pengurus DPW maupun pertemuan gabungan DPW dan DPD untuk membahasa masalah-masalah yang dihadapi setiap pengurus baik wilayah maupun daerah. Ini menandakan bahwa organisasi kepemudaan ini adalah sehat dan memiliki program kerja yang jelas. Keikhlasan pengurus juga perlu diapresisasi, yang selalu hadir rapat rutin bulanan tanpa ada honor apa pun, serta bekerja benar-benar demi umat.

Ada dua program dan prioritas utama organisasi, yang pertama adalah optimalisasi peran masjid dalam membangun generasi muda, dan yang kedua menjadikan Al-Qur’an dan Assunnah sebagai kajian dan pedoman utama dalam membentuk generasi pelanjut, mulai dari TK hingga perguruan tinggi.

Dalam sambutan pembukaan Munas BKPRMI ke-12 di Asrama Haji Sudiang, tanggal 21 lalu, Menko Kesra, Dr. H. Agung Laksono menegaskan bahwa masjid sebagai tempat untuk membentuk generasi muda harus dioptimalkan karena tempat ibadah umat Islam ini telah terbukti hasilnya sebagai wadah pembentukan generasi muda yang tangguh dan berbakti pada agama dan bangsa, di sinilah letak peran sentral BKPRMI.

Agung Laksono benar, optimalisasi peran masjid sebagai tempat pengkaderan generasi muda sepertinya belum tergali secara maksimal. Masjid hanya dipakai untuk salat lima waktu, tempat belajar bagi Taman Pendidikan Al-Qur’an, dan sesekali dipakai kajian. Padahal sejatinya, masjid memiliki nilai filosofis yang sangat dalam dan luas untuk diselami, bukan hanya yang berhubungan dengan keakhiratan.

Filosofi demokrasi misalnya, dapat dipetik dalam masjid. Contoh nyatanya, tidak semua jamaah bisa bertindak sebagai imam, karena harus memiliki perbedaan kualitas dengan para jamaah. Syarat menjadi imam harus memiliki bacaan dan hafalan yang lebih baik dengan lainnya, jika masih ada yang sama, maka harus lebih tinggi ilmunya, jika masih ada yang sederajat, maka sang imam harus lebih senior dari segi umur, atau bahkan dilihat dari jumlah istrinya.

Itu artinya, ada proses musyawarah sekaligus pembelajaran demokrasi dapat diambil dari sistem pemilihan imam. Anggaplah imam itu sebagai kepala negara, dan makmun adalah rakyat. Seorang imam tidak boleh dipilih hanya berdasarkan dengan popularitas semata, melainkan dinilai dari berbagai dimensi, popularitas dan elektabilitas hanya sebagian dari sekian persyaratan. BKPRMI juga harus menjadi contoh dalam memipih nakhoda, jangan hanya berdasarkan dari lobi dan kepentingan sesaat, seorang pemimpin harus teruji secara kualitas, organisasi (Islam) yang tidak merujuk pada pola dan hierarki di atas sudah jelas tidak sehat dan telah mengalami pembusukan. Karena itu, penting untuk mencerna filosofi imam dalam berjamaah, dan tidak hanya menjadi ritual rutinitas lima waktu sehari semalam.

Mungkin tidak banyak yang tau, mengapa selalu terdapat kamar atau pintu pada bagian tempat salat sang imam? Ini juga memiliki filosofi yang tidak semua jamaah tau bahwa pintu dan kamar sebelah imam berfungsi sebagai tempat keluar jika dalam keadaan salat sang imam terpaksa berhenti karena wudhunya batal (darurat), lalu digantikan dari jamaah yang berdiri persis di belakang imam. Ini menandakan bahwa dalam Islam pemimpin tidaklah makshum, bisa saja melakukan kesalahan yang tak terduga, dan itu manusiawi. Termasuk pula pembelajaran bagi para jamaah bahwa yang berdiri di belakang imam itu adalah mereka yang telah siap sewaktu-waktu maju kedepan sebagai pemimpin. Inilah di antara pelajaran yang harus diambil dari masjid, yang merupakan tempat menempa para remaja sebagai generasi pelanjut bangsa ini, dan BKPRMI harus menjadi pelopornya.

Ada pun Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagai materi ajar bagi para binaan BKPRMI harus dimaknai sebagai materi dan ilmu fardhu ain atau yang wajib dipelajari bagi setiap umat Nabi Muhammad SAW. Di sinilah awal pembentukannya, mulai dari pelajaran yang paling mendasar, baca tulis Al-Qur’an, syarat-syarat salat, bersuci, tutup aurat, dan sejenisnya, hingga bacaa-bacaan dalam salat harus diajarkan dengan sempurna sejak dini. Karena ibadah dalam Islam erat kaitannya dengan pembiasaan, istilah ala bisa karena biasa, dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya adalah tepat dan terbukti. Anak yang sejak kecilnya tidak tau syarat dan rukun-rukun salat akan susah baginya untuk tekun beribadah dimasa remajanya.

Karena itulah, hingga kini BKPRMI terus beradaptasi dan berevolusi dari masa ke masa demi membangun generasi muda yang tumbuh dan berkembang di masjid sekaligus memiliki karakter qur’ani. Dari tangan merekalah Islam sebagai agama rahmat seluruh alam akan terbukti. Inilah yang dimaksud sebagai organisasi pemuda gerakan dakwah, wahana  komunikasi pemuda remaja masjid yang bercirikan keislaman, kemasjidan, keumatan dan ke indonesiaan berjalan   pada citra dan identitasnya yaitu: sebagai muwahid (pemersatu), sebagai mujahid (pejuang), sebagai musyaddid (pelurus), sebagai muaddib (pendidik) dan sebagai mujaddid (pembaharu). Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, MA. Pengurus Majelis Intelektual-Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Panitia Munas BKPRMI ke-12 Makassar 2014
  




Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an