Maulid di Tahun Politik



Ditinjau dari sisi etimologi, kata ‘maulid’ yang berasal dari bahasa Arab dengan akar kata, ‘walada-yalidu’ lalu berubah menjadi ‘maulud-maulid’ merupakan bentuk kata kerja dari ‘lahir-melahirkan’, dalam  ilmu gramatika (nawhu) disebut fi’il mâdi dan mudhari’, masa lampau dan masa sekarang. Ada pun arti maulud dan maulid, berasal dari satu kata yang sama namun memiliki perbedaan makna. Maulud menurut ilmu morfologi (sharf) disebut sebagai ismul-maf’ul, atau yang dilahirkan, sedangkan  maulid masuk dalam kategori ismul makân wa zamân atau nama waktu dan tempat yang ‘berarti tempat dan waktu kelahiran seseorang’.

Dengan demikian, arti dan maksud  peringatan maulid dari segi bahasa (lughatan) adalah peringatan waktu dan tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan peringatan maulud berarti memperingati yang dilahirkan yaitu Nabi Muhammad SAW. Karena itu, istilah peringatan maulid atau maulud Nabi dua-duanya benar, dan maksudnya sama-sama untuk memperingati kelahiran Rasulullah.

Maulid Nabi ditinjau dari segi waktu (isim zaman) berlaku pada tanggal 12 Rabiul-Awal Tahun Gajah. Ada pun nama tempat (isim makan), peristiwa itu berlaku di Mekah Saudi Arabia. Dari segi istilah (istilahan) peringatan maulid Nabi Muhammad diadakan di bulan Rabiul Awal, dengan menceritakan proses, waktu, tempat, kelahirannya, dan yang terpenting adalah mengenang perjuangan beliau dalam menegakkan ajaran Islam agar menjadi contoh bagi segenap penghuni bumi. Kedatangan Nabi, walaupun seting waktu dan tempatnya di negara Arab, tetapi ajarannya melintasi batas ruang dan waktu, yaitu untuk manjadi rahmat segenap penjuru dan penduduk bumi, wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Tidaklah Aku mengutusmu Muhammad melainkan agar menjadi rahmat bagi seluruh alam. Demikian Allah berfirman dalam Surah Al-Anbiya ayat ke-107.

Terlalu banyak rahmat yang diajar dan dicontohkan oleh Nabi pada segenap penduduk Bumi, salah satunya adalah pengajaran akhlak yang mulia. Khusus dalam kategori ini, ia sendiri menyebut dirinya, bahwa salah satu  maksud dan tujuannya diutus untuk menyempurnakan Akhlak mulia. Innama buitstu liyutammima makarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, demikian Nabi menegaskan dalam sabdanya yang dirawikan oleh Ahmad lalu dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah nomor 45. As-Shobuni, dalam memahami hadis Nabi di atas, bahwa pada masa Rasulullah diutus, saat itu, masyarakat Arab tidak memiliki akhlak yang terpuji dan mulia, tapi mereka berperangai buruk dan tercela. Prof. Naquib Al-Attas mengartikan makna akhlak sebagai adab, dan problem utama yang mendera umat Islam saat ini adalah lost of adab atau hilangnya adab, alias runtuhnya akhlak yang sering disebut para dai sebagai degradasi moral.

Degradasi moral, akan melahirkan kekacauan (chaos), apalagi jika terjadi secara struktural lalu disempurnakan dengan kultural. Maka sebuah bangsa tinggal menunggu ajal. Struktural dimaksud adalah para pemegang amanah untuk mengelolah bangsa ini, mulai dari yang teratas hingga yang terendah, mulai dari presiden hingga pegawai honorer tingkat RT. Sedang kultural adalah segenap masyarakat Indonesia. Jika semuanya telah kehilangan adab dan mengabaikan akhlak mulia sebagaimana yang tertuang dalam ajaran Islam yang menjadi anutan mayoritas pendudukn negari ini, maka kehinaan yang akan menimpa bangsa ini, namun jika tetap menjaga dan memasarkan ajaran dan tuntunan yang telah dijabar dan dicontohkan oleh Nabi beserta para sahabnya sebagai generasi terbaik umat ini, maka harga diri bangsa akan tinggi lagi mulia.

Salah satu ranah yang paling rusak moral para oknumnya adalah politik yang pada dasarnya menjadi asas mulia dan hinanya satu bangsa. Negara yang politikusnya jujur (shidq), amanah, cerdas (fathanan), dan selalu menyampaikan kebenaran (tablig) akan membawa bangsanya pada kesejahteraan, kemuliaan, dan kemakmuran yang akan mendatangkan rahmat, keberkatan, dan ampunan dari Tuhan. Baldatun thayyebatun warabbun ghafur. Negara yang baik dan Rabb Maha Pengampun, (QS; As- Saba’[34]:15-17).

Tahun Politik

Tahun ini, bangsa Indonesia akan menghadapi dua perkara penting, yaitu pemilihan legislatif yang akan menjadi wakil-wakil rakyat untuk membela, memebela (memelihara), dan memperjuangkan kepentingan rakyat, selain akan memilih pimpinan tertinggi negara, presiden untuk priode lima tahun mendatang. Presiden saat ini, sudah pasti akan turun karena telah selesai masa jabatan sebanyak dua priode berturut-turut, dan akan digantikan dengan pemimpin baru yang diharapakan dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Karena maulid kali ini bertepatan dengan tahun politik, maka akan elok jika mencari pemimpin yang memiliki kriteria sebagaimana yang melekat pada diri para nabi dan rasul, tak terkecuali Nabi Muhammad yang sedang kita peringati hari kelahirannya. Kendati pada awalnya sifat-sifat tersebut ditujukan kepada Nabi, tetapi sangat terbuka bahkan lazim pula untuk dimiliki oleh siapa pun yang menjadi pemimpin, sifat-sifat itu bersifat universal, tentu dengan konteks yang berbeda. Ajaran Islam yang berhubungan dengan muamalah, non akidah dan syariah, selalu dinamis mengikut keadaan dan keberadaan umat.

Saya memulai pembahasan ini, dengan mengutip  wahyu ilahi yang kebenarannya tidak boleh disangkal, sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah, (QS. Al Ahzab [33]: 21).

Nabi Muhammad selaku pemimpin agama dan negara, memiliki integritas berupa akhlak dan sifat-sifat yang sangat mulia. Oleh karena itu, para pemimpin yang notabenenya umat Nabi Muhammad, hendaklah  mempelajari lalu mencontohi sifat-sifatnya, seperti Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh.  Berikut jabaran keempat sifat mulia terebut.

Pertama. Shiddiq yang artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatan yang sejalan dengan ucapannya, alias seia sekata. Nabi sangat terkenal dengan kejujurannya, sifat mulianya ini dipertegas dalam Al-Qur’an, Dan tiadalah yang diucapkannya itu [Al -Qur’an As-Sunnah] menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. (An-Najm[53]: 4-5). Ini juga yang harus menjadi prinsip dasar seorang politikus dan pemimpin, mengedepankan konsep kejujuran daripada pencitraan yang lebih banyak bohongnya, atau lebih tepatnya, lain yang kelihatan lain pula kenyataannya, penuh dengan kepura-puraan. Kala depan khlayak sangat santun dan berwibawah, namun ketika memutuskan keputusan yang berhubungan dengan rakyat banyak lebih pro kepada kepentingan pribadi dan orang-orang sekitarnya, bahkan kerap keputusan yang diambilnya hanya mengikuti kehendak sang istri.

Kedua. Amanah, artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al-Amin”, yang terpercaya, jauh sebelum beliau diangkat jadi rasul. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukan tipe pembohong. Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu. Demikian Firman Allah (QS. Al A'raaf [7]: 68). Mustahil Nabi itu khianat terhadap amanah yang ia emban, bahkan beliau ditawari kerajaan, harta, wanita oleh kaum Quraisy Mekkah sebagai konvensasi untuk meninggalkan tugasnya sebagai penyiar agama Islam, beliau menjawab dengan tegas, “Seandainya mereka dapat meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan tugas suciku, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan [Islam] atau aku hancur karena-Nya.” Puncaknya, ketika kaum kafir Quraisy mengancam membunuhnya supaya meninggalkan amanah, Nabi tidak gentar sedikit pun dan, tetap menjalankan amanah yang ia terima dari Allah. Seorang pemimpin yang telah diberi amanah oleh agama, rakyat, dan bangsa, idealnya bersikap amanah seperti Nabi, maju tak gentar membela kepentingan agama, negara, dan rakyatnya.

Ketiga. Tablig, artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung dirinya sendiri. “Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” [Al Jin [72]: 28]. Jika profesi ini dikonversi kepada pemimpin, maka seorang pemimpin tidak boleh segan dan takut menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai, tanpa peduli apakah orang-orang suka atau tidak, populer atau tidak populer, selama yang disampaiakan adalah kebenaran dan kemaslahatan orang banyak, maka itu wajib dilakukan. Perlu diingat, sebuah kebijakan apa pun itu, pasti ada yang pro dan kontra, namun kebenaran tetaplah kebenaran. Dulu pada jaman Orde Baru, Presiden Suharto membangun ribuan Masjid Pancasila, di bawah Yayasan Amal Bhakti Pancasila, saat itu banyak yang menentang karena terkesan berbau politis. Namun waktu juga akan berbicara, kini kebijakan itu sangat bermanfaat bagi umat Islam, bahkan tidak meunutupi kemungkinan, Masjid Pancasila ala Suharto itu dapat menjadi amal jariah sepeninggalnya, bahkan syafaat di hari kemudian. Tablig, walau terkesan lebih retorikal, namun pada hakikatnya, ia membutuhkan tindakan nyata, karena retorika tanpa tindakan hanyalah wacana tanpa realisasi.

Keempat. Fathonah, artinya cerdas dan cakap. Mustahil Nabi itu bodoh atau jahil. Dalam menyampaikan firman Allah dalam Al-Qur’an sebanyak 6.236 ayat, disusul kemudian dengan menjelaskan puluhan ribu hadis, pasti membutuhkan kecerdasan yang luar biasa. Nabi harus mampu menjelaskan firman-firman Allah kepada kaumnya sehingga mereka tertarik  memeluk Islam. Nabi juga harus mampu berdebat dengan orang-orang non-Islam dengan cara yang baik dan elegan. Selain mampu mengatur umatnya yang beraneka ragam latar belakang, dari bangsa Arab yang bodoh dan terpecah-belah serta saling perang antarsuku, menjadi satu bangsa yang berbudaya dan berpengetahuan dalam satu negara besar yang hanya dalam durasi seratus tahun, luasnya melebihi seluruh daratan Eropa.

Seorang pemimpin haruslah cerdas dan cakap, memutuskan perkara dengan tepat dan cepat, bukan lamban dan keliru. Di Indonesia kita mengenal sosok JusufKalla yang kerap mengambil tindakan tepat dalam jangka masa yang singkat. Bahkan perdamaian Aceh pun diawali hanya dengan SMS. Ceritanya bermula ketika JK meminta Ahtisari menjadi mediator dalam perundingan antara GAM dan Pemerintah RI. Ahtisari meminta pada JK untuk mengajukan surat resmi tertulis, hitam di atas putih. Oke, habis ini saya akan kirimkan sebentar lagi yang tertulisnya, kata JK sebagaimana tertulis dalam “Jusuf Kalla Ther ‘real’ President”. Yang dilakukan JK adalah menulis surat hitam di atas putih via SMS, dan dari situlah perdamaian bermula. 


Menjadi pemimpin memang harus caerdas dan cakap, bukan lamban dan penuh dengan pencitraan. Semoga maulid di tahun politik ini, bangsa Indonesia dapat memahami arti kepemimpanan berdasarkan empat kriteria di atas. Selamat hari maulid!



Ilham Kadir, Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MUIMI) Sulawesi Selatan.















Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi