Toleran Tanpa Ucapan Selamat Natal



Beberapa waktu lalu, ketika saya menghadiri rapat persiapan Kongres ke-5 Umat Islam yang diselenggarakan oleh Kominte Perjuangan Penegakan Syariat Islam Sulawesi Selatan (KPPSI)—kebetulan saya ditunjuk sebagai sekertaris panitia pelaksana—salah seorang peserta berkelakar tentang rekannya yang beragama Kristen, Si Rekan, berkata, kenapa umat Islam dilarang mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada kami yang beragama Kristen, padahal itu kan cuma ucapan! Sang teman yang sekaligus Guru Besar di Fak. Kedokteran Unhas itu balik bertanya, kenapa orang Kristen tidak mau mengucapkan dua kalimat syahadat, padahal itu kan cuma ucapan!

Dialog kelakar dan singkat di atas menandakan bahwa masih banyak dari penganut Nasrani yang tidak memahami konsekwensi dari ucapan ‘Selamat Natal’ dari kaum muslimin, dan di sisi lain, tidak banyak umat Islam yang bijak dan secerdas sang Guru Besar di atas. Tulisan berikut ini, akan kembali mengurai perbedaan pendapat di antara para ulama baik klasik maupun kontemporer, tiada lain, kecuali untuk menambah khazanah pengetahuan dan informasi kita terkait ucapan ‘Selamat Natal’.

Begitu datang Hari Natal, setiap itu pula muncul perdebatan tentang boleh tidaknya seorang muslim untuk turut ikut bersama-sama umat Kirstiani menghadiri uparacara Natal bersama, atau ikut serta dalam rangkaian acara-acara Natal lainnya, atau bahkan hanya sekadar mengucapkan ‘Selamat Natal’, sebagaimana yang terjadi saat-saat ini, terutama di sosial media (sosmed). Ada yang bernada keras menentang, ada pula yang dianggap moderat dengan argumennya masing-masing. 

Rasanya tidak afdal jika hanya memaparkan salah satu dari kedua kubu di atas, baik yang membolehkan maupun yang menentang. Penting untuk mengetahui alasan mereka masing-maing agar referensi pengetahuan kita kian bertambah, hingga menjadikan kita lebih arif lagi bijaksana dalam memutuskan sebuah perkara. Kadang, satu masalah dalam satu tempat sangat terpuji, tapi pada tempat yang lain sangat tercela, dan untuk menyikapi hal sedemikian, pastinya membutuhkan referensi pengetahun dan kearifan yang tinggi. 

Seoang muslim, jika berada pada negara yang berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, akan berbeda keadaan dan kondisinya jika mereka berada pada golongan minoritas, seperti di negara-negara Barat yang mayoritas berama Kristen. Untuk tetap rukun dengan mereka jelas harus memiliki sikap yang bijaksana tanpa harus mengorbankan akidah. Begitulah Islam mengajari penganutnya. Kita dibiarkan mengakui eksistensi agama lain, tanpa harus mengakui kebenaran ajaran mereka. Sungguh sebuah kearfian yang sangat agung.

Selamat Natal?

Meskipun pengucapan ‘Selamat Natal’ sebagiannya masuk dalam wilayah akidah, namun ia memiliki hukum fikih yang bersandar kepada pemahaman yang mendalam, telaah yang rinci terhadap berbagai nash-nash syar’i. Ada dua pendapat di dalam permasalahan ini, pertama. Ibnu Taimiyah beserta murdinya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, serta  para pengikutnya seperti Syeikh Ibn Baaz, Syeikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah, serta yang lainnya seperti Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Huqoil, berpendapat, mengucapkan Selamat Natal hukumnya  haram karena perayaan ini adalah bagian dari syiar-syiar agama mereka. Allah tidak meridhai adanya kekufuran terhadap hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya di dalam pengucapan selamat kepada mereka adalah tasyabbuh—menyerupai dengan mereka—ini diharamkan. Di antara bentuk-bentuk tasyabbuh: Ikut serta didalam hari raya tersebut, dan mentransfer perayaan-perayaan mereka ke negeri-negeri Islam. Golongan ini juga berpendapat bahwa  wajib menjauhi berbagai perayaan orang-orang kafir, menjauhi dari sikap menyerupai perbuatan-perbuatan mereka, menjauhi berbagai sarana yang digunakan untuk menghadiri perayaan tersebut, tidak menolong seorang muslim di dalam menyerupai perayaan hari raya mereka, tidak mengucapkan selamat atas hari raya mereka serta menjauhi penggunaan berbagai nama dan istilah khusus didalam ibadah mereka. Pendapat ini mewakili ulama klasik atau as-salafish-sholeh hadzihil ummah.

Ada pun pendapt kedua yang terdiri dari mazhab jumhur (mayoritas) ulama kontemporer membolehkan mengucapkan selamat Hari Natal. Disertai argumen, antaranya Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi yang berpendapat bahwa perubahan kondisi global lah yang menjadikanku berbeda dengan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam mengharamkan pengucapan selamat hari-hari Agama orang-orang Nasrani atau yang lainnya. Aku—lanjut  Al-Qaradhawi—membolehkan pengucapan itu apabila mereka, orang-orang Nasrani atau non muslim lainnya, adalah orang-orang yang cinta damai terhadap kaum muslimin, terlebih lagi apabila ada hubungan khsusus antara dirinya non muslim dengan seorang muslim, seperti, kerabat, tetangga rumah, teman kuliah, teman kerja dan lainnya. Hal ini termasuk di dalam berbuat kebajikan yang tidak dilarang Allah swt namun dicintai-Nya sebagaimana Allah mencintai berbuat adil. Innallah yuhibbul-muqshithin. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil,  (QS. Al-Mumtahanah: 8). Pendapat al-Qadhawi diamini oleh Lembaga Riset dan Fatwa Eropa yang juga membolehkan pengucapan Selamat Natal jika mereka bukan termasuk orang-orang yang memerangi kaum muslimin khususnya dalam keadaan di mana kaum muslimin minoritas seperti di Barat. Setelah memaparkan berbagai dalil, Lembaga ini memberikan kesimpulan sebagai berikut,  Tidak dilarang bagi seorang muslim atau Markaz Islam memberikan selamat atas perayaan ini, baik dengan lisan maupun pengiriman kartu ucapan yang tidak menampilkan simbol mereka atau berbagai ungkapan keagamaan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam seperti salib. Sambil merujuk pada Al-Qur’an, Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka, (QS. An Nisaa : 157). Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pemberian selamat ini pun harus yang tidak mengandung pengukuhan atas agama mereka atau rela dengannya. Adapun kalimat yang digunakan adalah kalimat pertemanan yang sudah dikenal dimasyarakat. Tidak dilarang untuk menerima berbagai hadiah dari mereka karena sesungguhnya Nabi saw telah menerima berbagai hadiah dari non muslim seperti Al-Muqouqis Pemimpin Al-Qibthi di Mesir dan juga yang lainnya dengan persyaratan bahwa hadiah itu bukanlah yang diharamkan oleh kaum muslimin seperti arak, daging babi, dan lainnya. Diantara para ulama yang senada dan membolehkan adalah DR. Abdus Sattar Fathullah Sa’id, ustadz bidang tafsir dan ilmu-ilmu Al-Qur’an di Universitas Al-Azhar, DR. Muhammad Sayyid Dasuki Guru Besar Syari’ah di Univrsitas Qatar, Ustadz Musthafa az Zarqo serta Syeikh Muhammad Rasyd Ridho, (Harian Republika, 4 Januari 2013).

Majelis Ulama Indonesia (MUI), tahun 1981 sebelum mengeluarkan fatwanya, terlebih dahulu mengemukakan dasar-dasar ajaran Islam dengan disertai berbagai dalil baik dari Al-Qur’an maupun hadits Nabi, sebagai berikut:  Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan umat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan; Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan agamanya dengan akidah dan peribadatan agama lain; Bahwa ummat Islam harus mengakui ke-Nabian dan ke-Rasulan Isa Almasih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi dan Rasul yang lain; Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Almasih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik; Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya agar mereka mengakui Isa dan Ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa menjawab: Tidak; Islam mengajarkan bahwa Allah swt itu hanya satu; Islam mengajarkan ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik kemaslahatan. Dan berdasarkan Kaidah Ushul Fikih, Menolak kerusakan-kerusakan itu didahulukan daripada menarik kemaslahatan-kemaslahan. Dar’ul mafasid muqaddam ‘ala jalbil mashalih

MUI pun mengeluarkan fatwanya: Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas; Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram; Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah swt dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal; dan Mengucapkan Selamat Hari Natal Haram kecuali Darurat. 

Selaku bangsa Indonesia, maka patutlah kita taat dan patuh terhadap fatwa Majelisul Ulama seabagai satu-satunya lembaga fatwa resmi dan kredibel yang diakui oleh pemerintah dan segenap masyarakat muslim Indonesia. Wallah A’lam!

Ilham Kadir. Anggota Majelis Intelektual-Ulama Mudan Indonesia (MIUMI) dan Peneliti LPPI Indonesia Timur.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena