Kesesatan Syiah Berdasarkan Fatwa MUI Jatim



Dalam sebuah seminar terbatas di Pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Prof. Rahim Yunus selaku pengampu mata kuliah Sejarah dan Peradaban Islam mengutarakan ketidak-setujuannya atas keluarnya fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang dipimpin oleh KH. Abdusshomat Buchori. Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Makassar yang sekaligus pengurus MUI Sulsel itu tidak menyangka jika Ketua MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, pasalnya mereka berdua pernah sama-sama berkunjung ke Iran melihat langsung dengan mata kepala masing-masing tentang realitas keadaan orang Syiah yang dalam beberapa hal mereka lebih maju dari Indonesia. Bahkan, beber Prof. Rahim Yunus, saat berkunjung ke Iran, KH. Abdussomad sempat memimpin salat berjamaah untuk para rombongan. 

Memang, mata kuliah Sejarah dan Peradaban Islam tidak bisa dielakkan untuk membahas masalah Syiah, karena tidak sedikit dinasti (pemerintahan) yang tercatat dalam sejarah Islam berasal dari sekte Syiah, Dinasti Fathimiyah dan Shafawi hanyalah dua di antaranya.  Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama alumni doktoral UNI Syarif Hidayatullah itu membela Syiah, dalam beberapa diskusi sebelum dan setelah itu, ia kerap mengutarakan bahwa perbedaan Ahlussunnah dan Syiah hanyalah pada tataran furu’ (ranting) bukan ushul. Dan keluarnya fatwa tentang kesesatan Syiah dapat menaikkan tensi perseteruan antara Syiah dan Ahlussunnah.

Tidak sedikit yang berpandangan seperti Prof. Rahim Yunus di atas, oleh karena itu, penting untuk menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya, dengan memaparkan hakikat kesesatan Syiah, yang justru jika berkembang akan memorak-morandakan ukhuwah islamiyah dan keutuhan bangsa Indonesia yang kita jaga bersama. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada dosen saya di atas sambil merujuk pada komentar Aristoteles saat berbeda pendapat dengan gurunya, ia berkata, “Amicus Plato sed magis amica veritas”, cintaku pada kebenaran melebihi cintaku pada guruku, Plato. Namun realitas dan fakta menunjukkan bahwa jika sekte Syiah berada di tengah muslim Ahlussunnah akan terjadi konflik yang tidak berkesudahan. Untuk meredam semua itu, adalah sebuah langkah bijak jika mereduksi penyeberan Syiah sejak dini. Dan MUI Jawa Timur telah menunaikan tugas mulia mereka sebagai penjaga kemurnian Ajaran Islam, dan inilah tipe ulama sebagai pewaris para nabi, al-‘ulama waratsatul anbiya’, dan jika dikemudian hari ada yang mengaku ulama namun membela Syiah, maka harus dipertanyakan ke-ulamaannya, bisa saja yang bersangkutan masuk dalam kategori ulama su’, karena al-haq dan al-bathil tidak akan pernah bersatu, dan orang yang mencampuradukkan yang hak dan batil lalu menyembunyikan kebenaran dalam keadaan sadar (SQ. 2: 42) merupakan perbuatan maksiat dan kemungkaran.

Artikel kali ini, merujuk pada buku “Fata MUI Provinsi Jawa Timur Tentang Kesesatan Ajaran Syiah, Dilengkapi dengan Surat Edaran Kemenag RI, Fatwa MUI Pusat, dan Peraturan Gubernur, Cetakan Jawa Timur, 2012”. Berikut petikan Sambutan Dewan Pimpinan MUI Jawa Timur yang ditulis langsung oleh Ketua Umumnya, KH. Abdusshomad Buchori, Fatwa tentang Kesesatan Ajaran Syiah ini merupakan salah satu produk keputusan fatwa MUI Provinsi Jawa Timur. Kehadiran fatwa ini tidak lain dimaksudkan untuk membentengi umat Islam Indonesia yang menganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah dari rongrongan faham yang menyimpang. Karena itu isi fatwa ini patut diketahui dan dipahami oleh umat Islam Indonesia yang mayoritas menganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang secara doktrin ajarannya mempunyai perbedaan yang sangat mendasar dengan faham Syiah, (hlm. 47).

Ainul Yaqin, salah satu penyunting buku Fatwa MUI Jatim ini menuturkan dengan gamblang bahwa tidak sedikit yang tidak setuju atas keluarnya Fawa Kesesatan Syiah oleh MUI Jatim, ketika ia mendampingi KH. Abdusshomad Buchori dalam sebuah acara dialog, seorang peserta menggebu-gebu mengkritik pedas keluarnya fatwa tentang kesesatan ajaran Syiah. Menurut Si Penanya, keluarnya fatwa tersebut bukan saja tidak memberikan contoh yang baik, tapi sangat mencederai Ukhuwah Islamiyah, untuk membenarkan argumennya, ia menyodorkan buku berjudul “Al-Muraja’at” tulisan Abdul Husein bin Syarafuddin al-Musawi seorang tokoh Syiah yang telah di-Indonesiakan dengan judul “Dialog Sunnah-Syiah”, menurutnya lagi, buku ini menyajikan sebuah dialog yang baik antara Ahlussunnah dan Syiah, sehingga darinya bisa disimpulkan bahwa Syiah adalah Sunni, dan Sunni adalah Syiah. Menyikapi pernyataan tersebut—tulis Ainul Yaqin—KH Abdusshomad Buchori dengan ringan menjawab, “Sayangnya saudara hanya membaca buku itu, kenapa saudara tidak membaca langsung buku-buku yang menjadi sumber rujukan ajaran Syiah, seperti al-Kafi dan sebagainya!” (hlm. 50). 

Kita dapat berprasangka baik pada Si Penanya, sebagaimana juga pada Prof. Rahim Yunus, bahwa yang mengkiritk fatwa MUI Jatim ini termasuk mereka yang memiliki harapan bersar terjalinnya ukhuwah islamiyah yang memang menjadi dambaan banyak orang. Tapi sayangnya, mereka (mungkin?) belum tau yang sebenarnya tentang ajaran Syiah. Sehingga salah faham dengan fatwa MUI Jatim tersebut. Begitu pula, orang-orang yang tidak memahami hakikat faham Syiah pun bisa mempunyai kesimpulan yang sama kelirunya dengan Si Penanya di atas, termasuk sebagian kelompok sufaha’ yang akhir-akhir ini meminta agar Fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah dicabut.

Kita semua tentu mendambakan terjalinnya ukhuwah islamiyah antara Ahlussunnah dan Syiah, tapi sejarah telah membuktikan jika kedua aliran tersebut sangat tidak mungkin disatukan, keduanya memang memiliki persamaan, setidaknya memiliki Tuhan dan Nabi yang sama, tetapi terlalu banyak perbedaan pokok yang menganga tak terkecuali rukun iman dan Islam. Ahlussunah dan Syiah laksana minyak dan air, kendati keduanya benda cair tapi ia tak mungkin dapat bersatu. Andai saja keduanya bisa bersatu, sudah barang tentu sejak dahulu kala, di zaman para imam mukabar, seperti para imam mazhab, Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hambal serta para imam hadis seperti Bukhari dan Muslim, telah lebih dulu menyatukan keduanya, nyatanya, Ahlussunnah dan Syiah tetaplah bermusuhan, pastinya usaha-usaha untuk mempersatukan keduanya hanyalah sia-sia, dan buang-buang waktu belaka. Siapalah mereka dibandingkan dengan para imam mazhab dan hadis di atas.

Problem pokoknya terletak pada doktrin dan ajaran Syiah itu sendiri yang bersumber dari buku-buku rujukan dasar faham mereka. Dalam buku pegangan sekte Syiah disebutkan bahwa darah penganut Ahlussunnah halal (Bihar al-Anwar, Juz 27/hlm. 231) dan orang selain Syiah adalah syirik dan kafir (Bihar al-Anwar, Juz 23/hlm. 390), bahkan melecehkan Nabi dengan menyatakan, Sesungguhnya Nabi SAW mesti memasukkan farjinya ke dalam api neraka karena telah menyetubuhi wanita musyrik [Aisyah dan Hafshah, hal ini sebagaimana diketahui merupakan yang menyakitkan bagi Nabi SAW dan keluarganya, karena jika farji Rasulullah dan keluarganya masuk neraka, maka tidak akan ada yang masuk surga seorang pun selamanya]. (Kasyf al-Asrar wa Tabriat al-Aimmat al-Athhar, hlm. 24-25), begitu pula, para sahabat Nabi yang mulia—radhiallahu ‘anhum ajma’in—dicaci maki dan disebut murtad oleh mereka, kecuali hanya segelintir (Raudhal al-Kafi, hlm. 198, dan Bihar Anwar, Juz 22/ hlm. 351), begitu pula Abu Bakar dan Umar—radhiallahu ‘anhuma—terlaknat oleh Allah (Raudhatul al-Kafi, hlm. 199 riwayat no. 343), daftarnya akan terus berlanjut. Maka patutlah kita bertanya, persatuan persaudaraan jenis apa yang mereka inginkan? 

Konyolnya, kalau bertemu dengan Ahlussunnah, lalu disodorkan kitab-kitab sebagai rujukan untuk menistakan Islam, maka dengan enteng menyangkal adanya doktrin-doktrin tersebut, dan menyebutnya sebagai aliran Syiah yang sudah punah, dan seabrak retorika dibarengi taqiyah lalu dipancarkannya cahaya cinta, kelemah-lembutan di hadapan para pengikut Ahlussunnah, dan akhirnya tidak sedikit dari Ahlussunnah terjebak dengan tipu daya, serta makar mereka. And the other side doktrin-doktrin caci dan makian mereka tetap apik tertulis dan tersimpang dalam kitab-kitab mereka untuk dijadikan rujukan utama. Bahkan, Syiah yang selama ini dikonotasikan dengan Syiah moderat sekali pun seperti Abdul Husain bin Syarafuddin Al-Musawi masih tetap menjadikan kitab al-Kafi sebagai rujukan utamanya, al-Kafi sendiri memuat tiga bagian  yaitu, Ushul al-Kafi, Furu’ al-Kafi, dan Raudhat al-Kafi. Kitab rujukan Syiah ini terlalu banyak memuat riwayat-riwayat janggal dan aneh, bahkan musy ma’ul—meminjam istilah bahasa ‘ammiyah Mesir yang berarti tidak masuk akal—salah satunya adalah riwayat yang dinisbahkan pada Imam Muhammad al-Baqir yang menyatakan bahwa sahabat Nabi, Abu Bakar as-Shiddiq terlaknat oleh Allah (Raudhah al-Kafi, hlm. 133) padahal kita tahu bahwa Muhammad al-Baqir telah menikahi cicit Abu Bakar as-Shiddiq, yakni Farwah binti Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Shiddiq. Namun tetap saja pemuka dan ulama Syiah seperti Abdul Husain bin Syarafuddin al-Musawi memuji-muji al-Kafi sebagai kitab paling shahih di dunia. Dalam bukunya (Al-Muraja’at hlm. 419) menyatakan, Wahiya mutawatirah wa madhaminuha maqthu’un bishihhatia, wa al-Kafi aqdamuha wa a’dhamuha wa ahsanuha wa atqanuha. Kitab-kitab tersebut [yaitu al-Kafi, al-Istibshar, dan Man La Yahdhuruhu al-Faqih] adalah mutawatir dan isinya dipastikan shahih, sedangkan al-Kafi yang paling dahulu, paling agung, paling baik, dan paling teliti. 

Wal hasil, wacana Ahlussunnah dan Syiah bergandengan tangan dalam bingkai ukhuwah islamiyah yang dikemukakan para tokoh-tokoh Syiah maupun sebagian sufaha Ahlussunnah hanyalah isapan jempol belaka. Inilah semua yang harus disadari oleh para pengikut Ahlussunnah yang selama ini banyak kesengseng dengan Syiah, bahkan sampai menyalahkan saudaranya dari Ahlussunnah yang konsisten menyuarakan permusuhan terhadap ajaran Syiah. Untuk mengakhiri perdebatan, sesat tidaknya ajaran Syiah, dengan brilian, Majelis Ulama Jawa Timur telah mengeluarkan fatwa atas kesesatan ajaran Syiah. Dengan ini, selesai sudah perdebatan tentang Syiah, kesesatannya telah final dan tidak boleh ada yang sangkal, kecuali orang-orang tolol, jahil murakkab, dan golongan sufaha, serta ulama su’.

Mungkin ada yang bertanya, atau menyangkal dengan menyatakan, Itu kan bersifat lokal dan hanya layak untuk Jawa Timur saja!  Pernyataan tersebut juga pernah terlintas dalam benak saya, namun setelah saya teliti dengan seksama dan sedalam-dalamnya, ternyata prosedur penetapan kesesatan sebuah aliran baik pusat maupun daerah tidak berbeda, artinya metodologi kajiannya tetap sama dan hasilnya pun juga demikian, memiliki posisi yang sama, baik pusat maupun daerah tidak bertentangan, dan tidak pula saling membatalkan bahkan saling menguatkan.

Ambil contoh misalnya, dalam dasar-dasar dan sifat penetapan fatwa, baik pusat maupun daerah tetap mengacu pada (1) Penetapan suatu aliran atau kelompok berdasarkan pada Al-Qur’an, al-Hadis, Ijam’ dan ijtihad serta pendapat ulama muktabar; (2) Penetapan kesesatan suatu aliran atau kelompok bersifat responsive, proaktif, dan antisipatif; (3) Penetapan kesesatan suatu aliran atau kelompok dilakukan secara kolektif oleh suatu rapat gabungan MUI yang terdiri atas Dewan Pimpinan, Komisi Pengkajian dan Komisi Fatwa; (4) Harus dibedakan antara kesalahan dan kesesatan. Kesalahan adalah kekeliruan pemahaman dan praktik yang terkait dengan perkara syariah dan konsekwensinya hanya maksiat. Sedang kesesatan adalah kekeliruan pemahaman yang terkait dengan perkara akidah atau syariah tapi diyakini kebenarannya yang konsekwensianya adalah kekufuran; dan (5) Penetapan kesesatan berkaitan dengan perkara akidah dan atau syariah yang meski salah tapi diyakini kebenarannya oleh kelompok itu, (hlm. 75). 

Ada pun keputusan penetapan aliran sesat yang dibuat oleh Komisi Fatwa MUI Pusat maupun MUI Daerah yang dibuat berdasarkan pada pedoman di atas mempunyai kedudukan yang sederajat dan tidak saling membatalkan. Bila ada perbedaan dalam penetapan aliran sesat antara MUI Pusat dan MUI Daerah harus segera diadakan pertemuan antara keduanya untuk mencari penyelesaian yang terbaik lalu menetapkan keputusan yang sama, (hlm. 81).
Oleh karena itu, suara-suara sumbang yang mengkitik penetapan kesesatan Syiah oleh MUI Jatim dengan sendirinya terjawab, termasuk pada Guru Besar dan Si Penanya di atas. Mudah-mudahan keduanya tidak ‘ignorant’ atau kurang paham tentang perbedaan pokok antara Ahlussunnah dan Syiah, atau malah mengidap penyakit ‘inferiority conplex’ alias minder karena terkesima atas kemajuan bangsa Iran. Saya sangat salut pada KH Abdusshomad Buchori yang walaupun telah mengunjungi Iran dengan biaya dan fasilitas dari sekte Syiah namun tetap tidak kompromi dalam perkara akidah. Sangat dianjurkan untuk memiliki buku Kesesatan Ajaran Syiah berdasarkan Fatwa MUI Jatim ini, agar menjadi pedoman dalam menyikapi perbedaan mendasar antara Ahlussunnah dan Syiah. Bahkan KH. Dr. Ma’ruf Amin selaku Ketua MUI Pusat mendukung daerah lain untuk menjadikan Fatwa MUI Jatim ini sebagai acuan dalam menetapkan ajaran sesat seperti Syiah. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, M.A.,  Anggota MIUMI dan Peneliti LPPI

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an