20 Bahaya Maksiat



Akhir-akhir ini, saban hari kita disuguhkan dengan maraknya prilaku tak senonoh yang dipertontonkan para abdi negara yang semestinya menjadi contoh bagi masyarakat umum. Di antara para pelaku maksiat— yang kebetulan apes karena ini adalah fenomena gunung es—itu adalah manusia-manusia terpelajar, bahkan ada yang menjabat sebagai Kepala Puskesmas, tidak hanya itu, guru agama, yang notabenenya adalah guru moral untuk para anak didiknya turut menjadi contoh yang buruk dengan melakukan adegan amoral dalam sebuah rekaman video. Peristiwa-pristiwa keji itu terjadi di Kabupaten Bone yang jika bercermin dari sejarahnya, sangan menjungjung tinggi siri’—harga diri—serta sangat mencela perbuatan biadab dan memalukan, seperti selingkuh, zina, dan semisalnya. Orang Bugis Bone—sebagaimana penulis—sangat percaya bahwa jika maksiat telah merajalela, maka bencana (bala’) hanya menunggu waktu. Ini jika ditinjau dari segi adat, bagaimana agama memandang prilaku maksiat yang kian menggila?

Umat Islam memiliki satu konsep yang dipahami secara konsensus  bahwa perintah dan larangan dalam agama dapat dijalankan dengan dasar ta’abbudi—kepatuhan sebagai hamba Allah (abdullah) tanpa banyak cincong—dan ta’aqquli—dapat dinalar oleh akal. Oleh karena itu,bahaya maksiat ditinjau dari dua segi di atas, ta’abbudi maupun ta’aqquli sangat jelas dan terang. 

Sebagai contoh, adanya larangan untuk mengkonsumsi daging babi, bagi segenap umat Muhammad, mematuhi larangan tersebut adalah sebuah keniscayaan tanpa ada protes, mengapa dan bagaimana hal itu terlarang, inilah bentuk ta’abbudi. Belakangan didapati bahwa ternyata memakan daging babi akan mendatangkan penyakit tertentu karena pada daging tersebut mengandung cacing pita. Itu berarti menghindari daging babi akan mendatangkan kemaslahatan, inilah bentuk ta’aqquli. Kecuali itu, ada pula ta’abbudi dan ta’aqquli sekaligus, seperti larangan berzina dengan menghukum pelakunya seberat mungkin, karena memang telah terdapat larangan untuk mendekatinya—apalagi melakukannya—dalam bentuk wahyu Al-Qur’an dan hadis Nabi juga telah dipaparkan cara-cara pelaksanaan hukumannya dengan gamblang, tidak ada ruang untuk mengingkarinya, ini dipandang dari ta’abbudi sedang dari ta’aqquli jelas-jelas bahwa zina adalah perbuatan yang dapat merugikan kedua belah pihak, terutama wanita yang menjadi korban, dan dalam tahap tertentu—jika terlalu bebas—dapat mendatangkan penyakit (kutukan) seperti HIV/AIDS.

Perbuatan maksiat, jika ditinjau dari segi sosial akan merugikan masyarakat karena jika musibah datang tidak hanya menimpa pada pelakunya seorang, akan tetapi pada segenap masyarakat yang ada di sekitar pelaku maksiat, sebagaimana disitir Al-Qur'an, Wattaqu fitnatan la tushibanna al-ladzina dzalamu minkum khassah. Takutlah akan musibah--akibat maksiat--yang jika turun tidak hanya menimpa para pelaku maksiat, (QS. Al-Anfal: 25). Sedang jika ditinjau dari segi personal, pelaku maksiat akan mendatangkan banyak kehinaan. Berikut, beberapa implikasi yang ditimbulkan oleh maksiat. 
 
Pertama. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan: Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam diri kita dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Karena itu, tatkala Imam Syafi’i rahimahullah duduk di hadapan Imam Malik untuk belajar, Imam Malik sangat kagum akan kecerdasan dan daya hafalnya hingga beliau bertutur, “Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. “Imam Syafi’i bertutur, Aku mengadu tentang kelemahan hafalanku yang buruk. Dia memberiku bimbingan untuk meninggalkan kemaksiatan seraya berkata, ‘Ketahuilah, ilmu adalah cahaya. Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada si pelaku dosa dan kemaksiatan’[Syakautu ila waqi’i ‘an su’a hifdzi. Fa’arsyadani ila tarkil-ma’ashi. Fa akhbarani biannal-‘ilma nurun wa nurullah la yuhda lil ‘ashy!].

Kedua. Maksiat Menghalangi Rezeki: Di dalam kitab “Musnad Ahmad” disebutkan, “Seorang hamba dicegah dari rezki akibat dosa yang diperbuatnya”. Jika ketakwaan merupakan penyebab datangnya rezeki, maka meninggalkannya dapat menimbulkan kekafiran. Tidak ada satupun yang dapat memudahkan rezeki Allah kecuali dengan meninggalkan maksiat.
Ketiga. Maksiat Menimbulkan Jarak dengan Allah: Jauh atau sunyinya hati seorang manusia dari cahaya Allah disebabkan oleh perbuatan maksiatnya. Tidak ada perbuatan meninggalkan dosa yang dapat menghilangkan kesunyian tersebut kecuali berwaspada dari perbuatan maksiat. Seseorang yang berakal tentu akan dengan mudah meninggalkan kesunyian itu. Diriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang yang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang Arif  berpesan, Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa , maka tinggalkanlah. Dalam hati, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.

Keempat. Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain:  Kemaksiatan dapat menjauhkan seorang manusia dengan manusia yang lain, lebih-lebih dengan golongan yang baik. Semakin kuat tekanan perasaan tersebut, semakin jauhlah ia dari mereka dan semakin terhalangilah berbagai manfaat dari mereka; akhirnya dia semakin mendekati setan. Kesunyian dan kegersangan itu semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dia dengan istri dan anak-anaknya, juga antara dia dengan nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang dan istriku.

Kelima. Maksiat Menyulitkan Urusan: Pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam mengatasi segala masalahnya sebagaimana ketakwaan dapat memudahkan segala urusan. Karenanya, sungguh mengherankan jika seorang hamba sulit menghampiri pintu-pintu kebenaran sementara penyebabnya tidak ia ketahui.

Keenam. Maksiat Menggelapkan Hati: Pelaku maksiat akan senantiasa mengalami kegelapan hati seperti gelapnya malam. Ketaatan itu adalah cahaya sebagaimana sinar matahari, sedangkan kemaksiatan adalah gelap gulita di malam hari. Ibnu Abbas r.a berkata, Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan pencerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengandung ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rezeki, dan kebencian makhluk.

Ketujuh. Maksiat Melemahkan Hati dan Badan: Jika kemaksiatan dianggap dapat melemahkan hati, itu sudah tidak diragukan lagi, bahkan kelemahan itu tidak akan lenyap sampai mati. Dan jika kemaksiatan dikatakan dapat melemahkan badan, itu karena kekuatan badan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat, kuatlah badannya. Sedangkan, bagi pelaku maksiat, walaupun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah dan rapuh, jika kekuatan itu sedang ia butuhkan, sehingga kekuatan yang ada pada dirinya sering menipu dirinya sendiri (fatamorgana).

Kedelapan. Maksiat Menghalangi Ketaatan: Dosa dan maksiat akan menghalangi si pelaku dari ketaatan sehingga ia akan memutuskan ketaatan yang lain, dan terputuslah jalan ketaatan selanjutnya. Begitulah seterusnya. Akhirnya, putuslah setiap ketaatan yang nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya.

Kesembilan. Maksiat Membuat Umur Terasa Pendek dan Menghapus Keberkahan: Jika kebajikan dikatakan dapat menambah umur, otomatislah, maksiat dapat mengurangi umur. Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu, tak ada yang namanya hidup kecuali jika dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta, dan dzikrullah, serta mementingkan keridhaan-Nya.

Kesepuluh. Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain: Manusia yang sudah terperangkap dalam kemaksiatan akan merasa sulit untuk keluar dan melepaskan diri darinya. Diantara dampak negatif keburukan adalah menimbulkan keburukan yang lain. Sedangkan, pengaruh kebaikan adalah mendatangkan kebaikan berikutnya. Maka jika Anda melakukan suatu kebaikan, kebaikan yang lainnya akan meminta untuk dilakukan, begitu seterusnya hingga Anda memperoleh keuntungan yang berlipat ganda dan kebaikan yang tidak sedikit. Begitu juga halnya dengan keburukan. Dengan demikian ketaatan dan kemaksiatan merupakan sifat yang kokoh dan kuat serta menjadi kebiasaan yang teguh pada diri seseorang.


Kesebelas. Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani: Inilah bahaya maksiat yang paling menakutkan karena kemaksiatan dapat menyebabkan putusnya secara perlahan-lahan keinginan untuk bertobat, hingga habislah sama sekali. Jika meninggal, setengahnya pun tak akan pernah dia bertobat kepada Allah. Justru dia datang dengan istighfar dan tobat gaya para orang munafik yang hanya di bibir sedangkan hatinya masih terus-menerus terjerat kemaksiatan yang masih tetap dijalaninya. Inilah penyakit yang paling berbahaya dan paling dekat dengan kebinasaan.

Keduabelas. Maksiat Menghilangkan Keburukan Maksiat itu Sendiri: Jika kemaksiatan sudah menghilangkan anggapan kemaksiatan itu merupakan suatu keburukan, kemaksiatan akan menjadi adat kebiasaan sehari-hari yang  menyebabkan pelakunya tidak memiliki rasa malu. Orang-orang fasik berpendapat bahwa hal itu merupakan puncak kebahagiaan dan kebanggan sehingga dengan bangganya dia berkata, “Hai Fulan, semalam aku telah berbuat anu….”. Orang seperti itu tidak akan peduli dengan cemoohan orang lain. Dengan begitu, baginya jalan tobat sudah tertutup dan pintu-pintunya telah terkunci. Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw bersabda,  “Setiap umatku dimaafkan kecuali yang beraksiat terang-terangan. Diantara maksiat terang-terangan adalah seorang hamba yang dengan bangganya menceritakan perbuatan maksiatnya, padahal Allah telah menutupinya. Dia berkata, ‘Hai Fulan, kemarin aku berbuat anu … anu …’ Dengan begitu, sebenarnya dia telah mengoyak kehormatan dirinya sendiri, padahal Allah telah menutupinya semalam-malaman. “ (HR. Bukhari-Muslim).

Ketigabelas. Maksiat Warisan Umat yang Pernah Diadzab: Homoseksual adalah warisan kaum Luth a.s. Berbuat curang dengan mengurangi dan melebihkan takaran adalah peninggalan kaum Syuaib a.s. Sombong di muka bumi dengan menciptakan berbagai kerusakan merupakan warisan Fir’aun dan kaumnya. Takabur dan congkak merupakan warisan kaum Hud a.s. Jika begitu dapatlah dikatakan pelaku maksiat pada zaman sekarang adalah kaum yang memakai baju umat-umat terdahulu dari golongan musuh Allah.

Keempatbelas. Maksiat Menimbulkan Kehinaan: Imam Hasan Basri berkata, Mereka hina dan rendah dalam pandangan Allah SWT sehingga mereka pun sangat mudah bermaksiat. Sekiranya dalam pandangan Allah seseorang telah hina, tidak ada seorang pun yang memuliakannya. Kalaupun diantara lingkungannya yang menghormati dia, itu mereka lakukan karena pamrih atau takut.

Kelimabelas. Maksiat Memudahkan Perbuatan Dosa: Kondisi maksiat yang sudah seperi itu merupakan cir-ciri kehancuran karena manakala dosa  dianggap kecil atau ringan oleh hamba, dalam pandangan Allah SWT, dosa itu menjadi besar.

Keenambelas. Maksiat Mewariskan Kehina-dinaan: Kemaksiatan dapat melahirkan kehina-dinaan karena kemuliaan itu hanya akan muncul akibat ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya, “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemuliaan itu” (QS. Faathir: 10). Karena itu, hendaklah kemuliaan itu diraih melalui ketaatan kepada Allah.

Ketujuhbelas. Maksiat Merusak Akal: Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah sehingga akalnya hilang. Karena, sekiranya akalnya masih berjalan tentu akan mencegahnya dari kemaksiatan dan dia berada dalam genggaman dan kekuasaan Allah SWT. Sementara, malaikat-Nya menyaksikan. Nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu juga dengan nasihat keimanan. Orang yang luput dari kemaksiatan adalah orang yang terbaik dan di akhirat kelak dia akan memperoleh kebahagiaan dan kenikmatan yang berlipat ganda. Maka, adakah orang yang memiliki akal sehat itu mau melakukan kemaksiatan yang penuh kehinadinaan?

Kedelapanbelas. Maksiat Menutup Hati: Pada dasarnya kotoran hati timbul akibat kemaksiatan. Bertambahnya kemaksiatan menyebabkan kotoran semakin berkarat sehingga menjadi karakter yang mengalahkan peran jiwa. Hal seperti itu akan berakhir hanya kalau si pelaku mendapatkan hidayah. Kalau tidak, pelaku akan disetir kemaksiatan selamanya.

Kesembilanbelas. Maksiat Dilaknat Rasulullah saw: Nabi telah melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah penunjuk jalan padahal penunjuk jalan itu sangat penting, melakukan homoseksual, menyerupai laki-laki bagi perempuan atau menyerupai perempuan bagi laki-laki, mengadakan praktek suap-menyuap dan sebagainya. Semakin besar maksiat yang dilakukan, semakin besar laknat beliau atas mereka. Seseorang yang melakukan hal-hal seperti di atas, berarti dia telah meridhai dirinya dilaknat Allah SWT, Rasulullah saw, dan malaikat.

Keduapuluh. Maksiat Meremehkan Allah: Jika seseorang berlaku maksiat, disadari atau tidak rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati. Jika perasaan tersebut masih ada dalam hatinya, itu dapat mencegah seseorang dari berlaku maksiat.

Oleh sebab itu, ditinjau dari segi agama, perbuatan maksiat sangat merugikan para pelakunya, baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Di dunia, akan mendapatkan kehinaan di sisi Allah dan manusia, serta di akhirat mendapat siksaan yang sesuai dengan kadar kemaksiatan yang ia lakukan. Maka benarlah sabda Nabi, Al-kaysu man dana nafsahu wa ‘amila lima ba’dal maut. Manusia jenius adalah yang rela merendahkan dirinya—di hadapan Allah dan manusia—demi menyiapkan tabungan setelah ia wafat. Cocok dengan pesan ahli hikmah (hukama’) yang berkata, Rubba syahwatin sa’ah auratsa huznan thawilan. Begitu banyak manusia terperdaya untuk melakukan kemaksiatan karena nafsu sesaat, yang akan mendatangkan kepedihan dan kesedihan tak berujung. Wallahu A’lam!

Mayampa, Gowa, 20/12/2013. Ilham Kadir, MA. Peneliti LPPI Indonesia Timur

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena