Sekh Yusuf Al-Makassari, Pahlawan Duna Negara (1)



Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari—selanjutnya disebut Al-Makassari—yang dilahirkan pada tahun 1627 memulai pendidikan dasarnyanya dengan belajar Al-Qur’an pada seorang guru lokal bernama Daeng ri Tasammang, lalu belajar Bahasa Arab, fikih, tauhid, dan tasawuf dengan Sayyid Ba ‘Alwi bin Abdullah Al-Allamah Al-Tahir, seorang ulama dari Arab tinggal di Bontoala. Ketika berusia 15 tahun, dia melanjutkan pendidikannya di Cikoang pada Jalaluddin Al-Aydid, seorang guru kelana yang datang dari Aceh ke Kutai sebelum akhirnya menetap di Cikoang.

Pada  tahun 1644 M, Al-Makassari berangkat menuju Arabia dengan menumpang kapal Melayu, menuju Banteng untuk singgah dan menetap sementara. Ketika itu, Banten sedang diperintah oleh Abu Al-Mafakir Abdul Qadir (berkuasa 1626-51) yang diberi gelar Sultan oleh Syarif Mekah pada tahun 1638. Al-Makassari mampu menjalin hubungan pribadi yang erat dengan putra mahkota, Sultan Ageng Tirtayasa.

Al-Makassari melanjutkan pengembaraan ilmiahnya menuju Aceh, sebelumnya Al-Makassari telah mendengar berita tentang seorang ulama besar bernama Nuruddin Ar-Raniri, dan bermaksud hendak berguru padanya. Namun, ketika Al-Makassari tiba di Aceh, Ar-Raniri telah meninggalkan Aceh dan menuju tanah leluhurnya di Ranir (Randir) India. Oleh karena itu, Al-Makassari mengejar Ar-Raniri hingga ke India, lalu berguru padanya.

Dari India, Al-Makassari berlayar menuju Yaman, dan belajar dengan banyak ulama, seperti Muhammad Bin Abdul Baqi Al-Naqsyabandi. Setelah merasa cukup, ia berangkat menuju Haramayn—istilah untuk Mekah dan Madinah—untuk menunaikan ibadah haji sambil memperdalam ilmu-ilmu agama, terutama tasawuf sebagai konsentrasi kajian dan spesifikasi keilmuannya. 

Setelah menuntut ilmu di Haramayn, sebagai sentra pencetak kader-kader ulama seluruh penjuru dunia saat itu, Al-Makassari menuju Damaskus, juga sebuah pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang levelnya di bawah Haramayn. Di sana ia berguru pada Ayyub Al-Dimasyqi (1586-1661) seorang ulama besar (al-Ustad al-kabir) yang memberi gelar pada Al-Makassari dengan Al-Taj Al-Khalwati (Mahkota Khalwati).

Ulama Jawara

Al-Makassari pulang ke Indonesia diperkirakan pada tahun 1664 dan 1672. Jika kedua tahun itu salah satunya ada yang benar, maka Al-Makassari telah menghabiskan waktunya di rantau selama 20 hingga 28 tahun untuk menuntut ilmu, sebuah perjalanan panjang yang spektakuler.

Para sejarawan tidak sepakat, apakah Al-Makassari langsung pulang ke Makassar, tanah kelahirannya, atau hanya sampai di Banten. Pendapat yang mengatakan bahwa Al-Makassari sempat ke Makassar lalu mendapati ajaran-ajaran Islam tidak dipraktikkan penduduk setempat. Sisa-sisa peninggalan pra Islam (jahiliyah) tetap merajalela, meski para penguasa dan rakyatnya menyatakan sebagai muslim namun tetap enggan menegakkan syariat Islam, sehingga perjudian, sabung ayam, minum arak (ballo), mengisap candu dan semacamnya tetap marak. Juga praktik-praktik takhayul seperti memberi sesaji bagi roh nenek moyang dengan harapan akan mendatangkan kemakmuran, tetap tak terbendung.

Ketika Al-Makassari menyaksikan semua itu, ia lalu meminta kepada penguasa untuk menghentikan dan menghapus praktik-praktik yang sangat bertentangan dengan agama Islam itu. Sayang, Al-Makassari tidak mendapat respon dengan berbagai macam alibi yang tidak masuk akal, seperti menyabung ayam dengan mudah mengumpulkan masyarakat, sehingga ketika terjadi peperangan mempermudah perekrutan atau minum arak dapat memperkuat stamina. Kelak, para generasi pelanjut penguasa Gowa-Tallo menyesali tindakannya.

Al-Makassari kembali berlayar menuju Banten, dan bertemu dengan sahabat karibnya, yang kini telah naik tahta dan menjadi penguasa Banten, Sultan Ageng Tirtayasa. Di bawah pemerintahannya, Kesultanan Banten mencapai masa keemasan. Pelabuhannya menjadi pusat perdagangan internasional yang paling penting di kepulauan Nusantara.  Sultan Ageng adalah musuh bebuyutan Belanda. Kenaikannya ke tahta membuka kembali lembaran konfrontasi fisik antara masyarakat Banten dengan Belanda. Di Banten, Al-Makassari manjadi penasihat Sultan, sambil terus mengajar para penuntut ilmu dan menulis banyak buku. Belanda menyebutnya sebagai ‘Opperpriester’ yang berarti ‘Pendeta Tertinggi’. 

Ketika perang kembali berkecamuk, antara Sultan Ageng versus Belanda, Al-Makassari mengambil bagian penting dalam perang tersebut. Ketika pasukannya terdesak oleh  Belanda, ia mundur ke desa Karang dan menjalin hubungan dengan ‘Hadjee Karang’ atau Abd. Muhyi, murid dari teman karib Al-Makassari sewaktu berada di Haramayn, Abd Rauf  Al-Sinkili. Dalam masa perang itu, Al-Makassari sempat mengajar Abd Muhyi terutama dalam bidang tasawuf. 

Banten kian diambang kehancuran, selain serangan dari Belanda yang bertubi-tubi, masalah internal juga muncul. Perebutan kekuasaan antara Sultan Ageng dan putra mahkotanya, Sultan Haji. Jika sultan Ageng sangat anti belanda, maka sang putra justru memilih berkerja sama dengan kompeni, maka perang saudara pun berkecamuk, kini Belanda yang bertepuk tangan. Jelas, Al-Makassari berpihak pada Sultan Ageng. Ketika Sultan Ageng, Al-Makassari dan pasukannya mengepung Sultan Haji, lalu membuatnya terdesak, maka ia pun meminta bantuan pada pihak Belanda dengan perjanjian akan memberikan seluruh keuntungan perdagangan kepada Belanda. Pucuk dinanti ulam pun tiba. Belanda dengan segera mengambil kesempatan emas tersebut. Karena terus menerus dikejar oleh Belanda, akhirnya Sultan Ageng tertangkap pada tahun 1683 dan dibuang ke Batavia, ia meninggal dunia tahun 1692.

Tertangkapnya Sulta Ageng tidak serta merta menghentikan perang. Sebab pasukannya yang berjumlah 4000 personil dan terdiri dari gabungan jawara Banten, Bugis, Makassar, dan Jawa tetap melakukan perang grilya dengan serangan-serangan sporadis terdahap pihak Belanda, mereka adalah pejuang militan yang sulit ditundukkan. Penyebabnya, siapa lagi kalau bukan sang ulama jawara, Al-Makassari. Menundukkan Sultan Ageng, jauh lebih muda daripada mengalahkan Al-Makassari, sebab pasukan ulama besar itu melakukan serangan tak terduga dengan taktik-taktik jitu. 

Karena merasa kalah dalam perlawanan fisik, Belanda kini menempuh metode lain dalam menaklukkan Al-Makassari dan ribuan pasukannya.  Dengan menggunakan tipu muslihat yang sering kali mereka pakai jika kalah dalam peperangan, sambil mengenakan pakaian Arab, dan menyamar sebagai seorang muslim, suruhan Belanda berhasil masuk ke dalam kubu pertahanan Al-Makassari, dan menangkapnya pada tahun 1683. 

Versi lain, Belanda  mendatangi tempat persembunyian Al-Makassari bersama dengan putri ulama jawara itu, sambil menjanjikan pengampunan dari pihak Belanda jika ia menyerah. Al-Makassari menerima tawaran Belanda yang kelak tidak perna ditepati. Beliau akhirnya diumumkan sebagai tawanan resmi oleh Belanda, segenap pasukan setianya yang berasal dari daerah luar seperti Bugis dan Makassar, dikirim kembali ke kampung halaman masing-masing, dan perang Banten pun berakhir. Perang grilya pimpinan Al-Makassari berlangsung lebih dari dua tahun. Selanjutnya, Al-Makassari dan beberapa pengikutnya diasingkan ke Ceylon-Srilangka selama sepuluh tahun, lalu ke Tanjung Harapan Afrika Selatan. Pada tanggal 22 Dzul Qa’dah 1111 H/22 Mei 1699 Al-Makassari meninggal dunia.

Hingga kini, setelah ratusan tahun terkubur dalam pusaranya yang ‘simpangsiur’, pengaruh Al-Makassari di Afrika Selatan sangat besar. Mantan Presiden Afrika Selatan yang juga pejuang anti-apartheid, Nelson Mandela, menyebut Al-Makassari sebagai salah seorang putra Afrika terbaik dan pemberi inspirasi bagi masyarakat setempat. Bahkan pemerintah Afrika Selatan pada tanggal 25 September 2005 telah menganugerahkan gelar pahlawan nasional bagi Al-Makassari. Demikian pula pemerintah Indonesia telah menetapkannya sebagai pahlawan nasional pada tahun 1995. 
  
Karakter, kegigihan, keberanian, dan keperkasaan Al-Makassari harus selalu diceritakan dan ditanamkan dalam benak generasi bangsa, agar dimengerti bahwa ruh perjuangan melawan Belanda adalah Islam, bukan lainnya. Selamat hari pahlawan!

Ilham Kadir, Alumni Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an