Kurban Sebagai Qurbah


Qurban—selanjutnya disebut ‘kurban’ mengikut Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai standar bahasa baku—dari segi bahasa adalah berasal dari kata ‘qaraba-yaqrubu’ yang berarti mendekat, namun arti mendekat di sini adalah melakukan pengorbanan dengan segenap upaya yang dimiliki, dalam istilah bahasa Arab disebut 'shighah muntahal-jumu'', jika dikonversi ke dalam Ilmu Sharaf--bagian dari ilmu tata bahasa Arab--maka ia disejajarkan dengan wazn 'fu'lan'. Dari segi istilah syariat, kurban berarti menyembelih hewan tertentu pada waktu-waktu tertentu yaitu pada tanggal 10 (yaum an-nahr),  11, 12, dan 13 (ayyam at-tasyri’) bulan Zul Hijjah—bulan ke-12 dalam hitungan tahun Hijriah—dengan niat sebagai bentuk persembahan (ibadah) kepada Allah SWT semata. Ibadah kurban juga disebut ‘udhiyah’, hari raya kurban disebut sebagai “Idul Adha” dan menjadi salah satu sarana (washilah) untuk melakukan pendekatan (qurbah) kepada Allah.

Kurban adalah ibadah klasik, yang telah turun temurun sejak generasi awal umat manusia, hal ini direkam dalam Alquran. Ketika itu, kedua putera Nabi Adam alaihissalam berselisih tentang jenis kurban sebagai qurbah yang diterima. “Ceritkanlah kepada mereka kisah kedua putera  Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Qabil berkata, ‘Aku pasti membunuhmu’, Habil menjawab, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa”, (QS. 5: 27). 

Faktor utama diterimanya kurban Habil karena ketakwaan dan jenis kurban yang ia persembahkan, berupa hewan ternak miliknya yang terbaik, seekor kambing gemuk. Sedang Qabil, bertolak belakang, selain antagonis (jahat) dia juga seorang yang pelit, hanya mempersembahkan kurban sebagai qurbah kepada Allah berupa jenis hasil panen yang buruk dan tidak berkualitas. 

Berkaca dari kisah di atas, maka seorang muslim jika hendak mempersembahkan sesuatu kepada Allah sebagai qurbah hendaklah yang terbaik, sesuai dengan kemampuannya. Sebab itulah, kebaikan (surga) hanya dapat diraih dengan mempersembahkan kepada Allah yang terbaik dari barang yang dimiliki. “Lan tanalul birra hatta tunfiqu mimma tuhibbun. Kamu sekali-kali tidak akan pernah sampai pada kebaikan—yang sempurna—sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai”, (QS. 3: 92).
Ibadah kurban juga selalu dikaitkan kepada Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail ‘alaihimassalm. Dikisahkann dalam Alquran bahwa Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersembahkan Ismail sebagai kurban. Ayah dan anak itu mematuhi perintah Allah dan, tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya dengan seekor domba. (QS. 37: 102-107).

Dari segi hukum, kurban adalah sunnah muakkadah (yang diprioritaskan) dan pada tahap tertentu diwajibkan kepada seorang muslim yang telah mampu melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah, “Fasholli lirabbika wanhar. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!” (QS. 108: 2). Ayat ini memiliki dukungan dari banyak hadis, di antaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah, Nabi bersabda, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat Ied kami.” Terdapat juga dalam Hadis Nabi tentang keutamaan berkurban. “Tidaklah seorang manusia berbuat sesuatu amal pada hari nahar  yang lebih dicintai Allah daripada menumpahkan darah hewan kurban. Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban itu pasti menempati suatu tempat di sisi Allah sebelum jatuh menempati suatu tempat di bumi, maka relakanlah itu, (Ibnu Majah 3126; Tirmidzi 1493). Pernah pula ditanyakan oleh para sahabat kepada Nabi. “Apakah hewan kurban itu? Beliau menjawab, ‘Itu adalah sunnah Bapak kalian, Ibrahim.’ Mereka bertanya lagi, ‘Apa yang kita peroleh darinya?’, Rasul menjawab, ‘Kebaikan pada setiap helai bulunya’, para sahabat bertanya lagi, ‘Bagaimana dengan bulunya?’, beliau menjawab, ‘Kebaikan pada setiap helai bulunya yang lebat.’ (Ibnu Majah: 3127).

Hukum-hukum kurban

Karena ibadah kurban adalah tauqifiah atau jenis ibadah yang langsung diajarkan oleh Rasulullah, maka tentu saja ia memiliki hukum-hukum yang terkait dengannya. Menambah atau mengurangi hukum-hukumnya akan mengurangi bahkan menghilangkan keutamaan dan pahala kurban itu sendiri, pada tahap tertentu dapat berupa wujud menjadi dosa.

 Perlu dicatat, dalam Islam, setiap ibadah tidak akan diterima kecuali dilandasi dengan ilmu dan niat yang benar. Berikut ini hukum-hukum seputar kurban yang harus diketahui. (1) Usia hewan kurban berupa domba berusia satu tahun atau hampir setahun, sedangkan yang lainnya berupa biri-biri, unta, dan sapi tidak kurang dari dua tahun. Ada pun unta telah berusia empat tahun dan memasuki tahun kelima, dan sapi telah berusia dua tahun dan memasuki tahun ketiga, (Muslim: 1963); (2) Bebas dari cacat: Tidak boleh dikurbankan kecuali hewan kurban yang terbebas dari kurangnya pada fisiknya seperti hewan yang buta sebelah matanya, pincang kakinya, patah tanduknya, atau terpotong hidung dan telinganya. Juga hewan yang sakit dan sangat kurus, (Abu Daud: 280); (3) Hewan kurban yang paling utama dari domba adalah, yang bertanduk, jantan, dengan warna mata dan kakinya putih bercampur hitam (belang). Domba jenis inilah yang disukai Rasulullah dan dia sendiri pernah berkurban dengan hewan seperti itu. Aisyah menuturkan, “Sesungguhnya Rasulullah berkurban dengan domba yang bertanduk, bulu kakinya hitam, sementara warna putih disekitar kedua matanya.” (Abu Daud: 2792); (4) Waktu penyembelihan hewan kurban bermula di pagi hari setelah menunaikan salat Idul Adha dan tiga hari berikutnya (tasyri’), tidak boleh sebelum salat dan tidak boleh pula melwati hari tasyri’; (5) Ketika menyembelih, disyariatkan agar menghadapkan hewan kurban kearah kiblat sambil berzikir, “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathara as-samawati wal ardhi hanifan wa ma ana minal musyrikin. Inna shalati wa nusuki, wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin. La syarika lahu wabidzalika umirtu wa ana awwalul muslimin”, (Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dalam keadaan pasrah dan aku tidaklah termasuk orang-orang musyrik. Sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang yang pertama-tama berserah diri). Dan ketika hendak menyembelih, bacalah, “Bismillahi wallahu akbar. Allahumma hadza minka wa laka. Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah ini dari-Mu dan untuk-Mu.” (Riwayat Ahmad: 16309); (6) Bagi yang berkurban, dianjurkan untuk menyembelih kurbannya sendiri, namun boleh punya mewakilkan pada orang lain; (7) Pembagian daging kurban hendaklah dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga untuk yang kurban, sepertiga untuk disedekahkan, dan sepertiga lainnya dihadiankan pada rekan-rekan. Namun boleh pula disedekahkan semuanya; (8) Seekor domba cukup untuk satu keluarga, walaupun dalam keluarga itu terdiri dari banyak orang. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat bahwa seorang laki-laki di masa Rasulullah yang berkurban dengan seekor domba atas nama dirinya dan keluarganya, (Tirmidzi: 1505). Diperkuat dengan dalil lain dari Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwatha', Ahmad, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah ia berkata,“Naharna ma’a rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, ‘amal hudaibiyah albadanah ‘an sab’ah wal baqarah ‘an sab’ah. Kami menyembelih kurban di Hudaibiyah bersama Rasulullah SAW seekor unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang.” Lajnah Daimah berfatwa dalam menjawab persoalan seputar ini, “Yang diajarkan, unta dan sapi dibolehkan untuk tujuh orang. Setiap tujuh orang itu boleh meniatkan untuk dirinya sendiri dan anggota keluarganya.” (Fatwa Al Lajnah Ad Da-imah lil Buhuts ’Ilmiyah wal Ifta’ no. 8790);  (9) Sangat dimakruhkan bagi yang telah berniat berkurban untuk memotong kuku dan rambutnya sebelum menyembelih hewan kurbannya. Sabda Nabi, “Jika kalian telah melihat hilal Dzul Hijjah dan seorang di antara kalian ingin berkurban, maka hendaklah ia menahan rambut dan kukunya hingga ia berkurban.” (Muslim: 1977); dan (10) Kurban Rasulullah atas nama umatnya. Orang yang tidak mampu berkurban di antara kaum muslimin akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang berkurban. Bahkan Nabi pernah menyembelih seekor dombanya yang ia niatkan sebagai kurban untuk seluruh umatnya. “Allahumma hadza ‘anni wa ‘amman lam yudhahhy min ummati. Ya Allah, ini atas namaku, dan atas nama umatku yang tidak mampu berkurban.” (Ahmad: 10667; Abu Daud: 2810). 

Dalil ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin dapat berkurban untuk dirinya dan bawahannya. Presiden untuk diri dan rakyatnya, Gubernur untuk pribadi dan masyarakatnya, Rektor untuk diri, dosen, dan mahasiswanya, Ketua RW dan RT untuk diri dan lingkungannya, hingga Kepala Rumah tangga untuk diri dan keluarganya. Artinya, yang berkurban haruslah atas nama kepala, seperti suami untuk istri dan anak-anaknya, bukan sebaliknya, istri untuk suami, mahasiswa untuk rektor, atau rakyat untuk presiden. Selamat Hari Raya Kurban 1435 H.

Ilham Kadir, Alumni Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an