Hasan Al-Banna dan Ikhwanul Muslimin



Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 di Al-Mahmudiyah, salah satu desa di wilayah Al-Buhairaih, Mesir. Dibesarkan di tengah-tengah keluarga berilmu. Sejak usia dini Hasan Al-Banna dididik dalam lingkungan rumah tangga yang memiliki perpustakaan yang cukup lengkap. Ayahnya bernama Al-Mukhlis Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna adalah seorang ulama dan tukang arloji, beliau adalah penulis dan penyunting kitab, penjual dan tukang service arloji. Salah satu kitab yang ia sunting adalah, Al-Fathur Rabbani fi Tartibi Musnadil Imami Ahmad Asy-Syaibani dengan judul Bulughul Amani.
Hasan Al-Banna memulai pendidikan formalnya di Madrasah Al-Rasyad. Setelah menyelesaikan pendidikan dari madrasah tersebut, ia melanjutkan studi pada sekolah guru pertama di Damanhur dan Universitas Darul Ulum, Kairo, lulus pada tahun 1927 dengan predikat cumlaude, diangkat menjadi guru dan ditempatkan di Kota Ismailiah.
Di samping mengajar, ia juga berdakwah dari masjid ke masjid dari kedai-kedai kopi dengan modal materi dakwah yang interaktif dan menyentuh para audiens, ditambah kekharismatikan yang mumpuni sehingga pengikutnya kian hari kian bertambah. Dengan kecerdasannya, Hasan Al-Banna melihat bahwa beberapa kelompok masyarakat yang dapat diajak kolaborasi untuk mensukseskan dakwah. Masyarakat tersebut dapat diklasiifikasikan dalam empat kelompok, yaitu pemuka agama, tokoh tarekat, tokoh masyarakat, dan para jama’ah. Hasan Al-Banna dalam menjalin hubungan dengan para pemuka agama, bersifat sangat santun dan hormat, hal ini dilakukan untuk menarik simpati, termasuk memberikan hadiah kepada mereka. Nampaknya cukup efektik dalam merealisasikan tujuan dakwah jamaah yang dibentuk olehnya.
Berkat kepiawain dan kesungguhannya, Al-Banna berhasil menarik  hati masyarakat, menyatukan mereka dalam sebuah perkumpulan (jam’iyyah) yang ia namai “Ikhwanul Muslimin”, serta menghidupkan semangat yang ada dalam dada mereka dalam menegakkan Islam. Dalam bidang tasawuf, Hasan Al-Banna adalah pengikut tasawuf Syazaliah. Dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang dimilikinya ditambah kepribadiannya yang kharismatik, tidak mengherankan jika ia tampil gigih sebagai da’i yang berpengaruh dan disukai.
Sejak belajar di sekolah menengah, dia sudah terpilih sebagai ketua kelas, Jami’yatul Adabiah bergerak dibidang karya tulis-menulis dan menjadi pemimpin, Jami’yal al-Mukramat yang merupakan perkumpulan pertaubatan, dan juga terpilih menjadi pemimpin Al-Jami’yah Al-Khairiyah sebuah organisasi pembaruan dalam Islam. Al-Banna adalah seorang ualam yang aktivis, telah menulis banyak  buku, di antaranya, 1. Allah fi al-‘Aqidah al-Islamiyah; 2. Ila al-Thullab; 3. Risalah al-‘Aqaid; 4. Risalah al-Mu’tamar al-Sadis, dan beberapa lainnya. Dia pernah ditanya, mengapa tidak menulis buku yang lebih banyak. Jawabnya, “Ana masyghul bita’lif insan, wa lastu masyghulan bita’lif al-kutub, [Saya sibuk membentuk manusia seutuhnya dan tidak sibuk membuat buku]”. (Musthafa Muhammad Thahah, Al-Fikr Al Islamiy Al Mu’asshir Dirasah fi Fikr Al Ikhwan Al Muslimin, 2007).
Tahun 1948, Inggris menekan Mesir untuk membubarkan perkumupulan “Ikhwanul Muslimin”, ribuan anggotanya ditangkap dan dipenjara tanpa sebab dan alasan. Dua bulan pasca penangkapan besar-besar tersebut, menjelang Magrib, secara tiba-tiba lampu kota dipadamkan, seakan telah diatur, pada saat bersamaan, Hasan Al-Banna ditembak mati di tengah jalan raya Kairo dalam kegelapan. Karena lampu padam, sehingga rumah sakit tak dapat memberikan pertolongan maksimal. Al-Banna wafat dalam keadaan bersimbah darah. Kala itu, umurnya baru menginjak 42 tahun. (Hasan Al-Banna, dalam Imam Munawwir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari Masa ke Masa, 1985).

Pemikiran Pendidikan       
Hasan Al-Banna menamai sistem pendidikan dan pengkaderannya dengan ‘usrah’ yang bertujuan sebagai sarana pendidikan  antara satu dengan lainnya. Al-Banna berpendapat bahwa membentuk generasi Islam yang baru dengan jaran-ajaran yang benar dan berbuat untuk memberikan warna kepada umat Islam yang sempuran dalam setiap fenomena kehidupan dengan merubah adat dan kebiasaan umum yang tidak islami, mendidik para generasi Islam dalam berdakwah  sehingga mereka menjadi teladan bagi selain diri mereka dalam hal komitmen dalam menjalankan hukum-hukum Allah.
Pemikiran pendidikan dan pengkaderan Hasan Al-Banna berorientasi pada pengembangan seluruh potensi yang ada pada diri manusia, sebab Islam sangat menaruh perhatian penciptaan manusia yang utuh (kamil), baik dari segi jasmani maupun rohani (al-insán al-kamíl). Untuk dapat mencapai hal tersebut, Al-Banna menetapkan beberapa aspek dalam sistem pendidikannya yang diaplikasikan pada sekolah-sekolah binaan Ikhwanul Muslimin. 

Pertama, aspek intelegensi (akal), pendidikan intelektual atau pengembangan wawasan. Aspek ini didasari atas keyakinan bahwa Islam tidak membekukan pikiran tetapi justru membebaskan dan mendorong manusia untuk melakukan pengamatan dan observasi alam (kosmos). Tidak dibedakan antara ilmu dunia dan ilmu agama kerena pengetahuan adalah salah satu spesifikasi manusia. 

Kedua, aspek pendidikan moral (tarbiyáh khuluqiyáh). Ini adalah yang terpenting pada madrasah Al-Banna, sebab semua bentuk pendidikan mengandung aktifitas moral, baik secara tersirat maupun tersurat. Al-Banna memberikan pemikiran yang besar terhadap pendidikan akhlak untuk para anggota Ikwanul Muslimin karena Nabi sendiri sangat memerhatikan masalah akhlak (adab). Pendidikan akhlak yang disampaikan di Madrasah Ikhwanul Muslimin dimaksudkan agar para anggotanya memiliki nurani yang terjaga dengan baik, sebab nurani akan dapat menjadi pengontrol bagi segala tingkah laku manusia. 

Ketiga, aspek pendidikan jasmani dan ruhani yang meliputi, (a) kesehatan badan dan terhindar dari penyakit karena kesehatan sangat memiliki pengaruh yang besar terhadap jiwa dan akal, (al-‘aqlu as-salím fi al-jismi al-salím), (b) kekuatan jasmani dan keterampilan, pentingnya pembinaan kekuatan jasmani dimaksudkan agar dapat mewujudkan kekuatan kreatifitas, termasuk ragam keterampilan, ini perlu karena orang mukmin yang kuat lebih memberi kontribusi pada umat dari mukmin yang lemah dan tak berdaya (al-mu’min al-qawi khaerun wa ahabbu ilalláh min almu’min al-dha’if), dan (c) keuletan dan ketahanan tubuh. Untuk itulah anggota Ikhwanul Muslimin selalu melakukan latihan fisik dengan mendirikan klub-klub olah raga, kepramukaan, dan lain-lain, agar setiap anggota sanggup menghadapi setiap situasi sebab sudah terbiasa terlatih. Pendidikan yang sewaktu-waktu keras memiliki pengaruh yang besar terhadap kesiapan fisik –sebagaimana yang terjadi saat ini di Mesir, para Ikhwanul Muslimin ditangkap satu persatu dan dijebloskan ke penjara, tak terkecuali mantan presiden Mohammad Mursi dan para pemimpin Ikhwan lainnya. 

Keempat, aspek pendidikan jihad. Di antara aspek pendidikan para pengikut Hasan Al-Banna adalah pendidikan jihad, tapi bukan pendidikan kemiliteran, sebab makna jihad lebih luas dari kemiliteran. Pendidikan kemiliteran adalah disiplin dan pelatihan fisik. Sementara di lain pihak, jihad sarat dengan muatan iman, akhlak, jiwa, pengorbanan, serta disiplin latihan. Pendidikan jihad ala Al-Banna ditanamkan melalui berbagai macam media, baik pendidikan, dakwah, maupun media cetak yang difokuskan pada penanaman semangat jihad dan rela berkorban untuk menegakkan agama Allah. Untuk mempersiapkan fisik, anggota Ikhwanul Muslimin bergabung dalam batalion jihad yang telah terlatih dan berbekalkan senjata, dengan itu, anggota Ikhwan selalu siap mengangkat senjata jika memang dibutuhkan.  

Kelima, aspek pendidikan politik. Dalam Madrasah Ikwanul Muslimin, pendidikan politik mendapatkan perhatian yang cukup besar. Banyak umat Islam berpandangan bahwa politk itu kotor dan umat Islam tidak boleh ikut berpartisipasi karena pasti turut terkontasminasi dengan ‘kotoran politik’. Hasan Al-Banna, tampil membuktikan bahwa umat Islam juga dapat berpastisipasi dalam panggung politik dengan catatan tetap harus memeperjuangkan agama Islam, dan menjadi contoh dari pribadi-pribadi yang lainnya. Karena itulah Al-Banna mewajibkan anggotanya untuk berakhlak sosial seperti, al-Muakhah, agar seseorang memandang saudarnya yang lain lebih berhak pada dirinya sendiri, serta berusaha untuk mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Ukhuwah merupakan salah satu dari 10 rukun baiat Ikhwanul Muslimin; Al-Tafahum, yaitu saling memahami, dimaksudkan agar hubungan di antara individu dengan kelompok dibangun atas saling percaya dan saling menasihati dalam rangka kasih sayang dan menghormati; dan Al-Takaful, yaitu semua anggota keluarga saling membantu, memenuhi kebutuhan. (Hasan Al-Banna, Risalah Ta’lim, dalam Majmuah al-Rasa’il, (Kairo: Dar al-Shihab, t.th).
Pemikiran Al-Banna tentang pendidikan memiliki ciri khas, yaitu adanya keseimbangan dan keserasian baik di antara akal dan perasaan, antara teori dan praktik, antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan masyarakat umum. Inilah yang tercermin pada diri Ikhwanul Muslimin yang kini sedang menghadapi kemelut yang tak berkesudahan dengan pihak pemerintah transisi Mesir.
Mesir, salah satu negeri yang istimewa, selain tersebut dalam Alquran (QS. [02]:61), ia juga merupakan bumi para nabi (ardhul anbiya’), di sanalah Fir’aun, Qarun, dan konco-konconya pernah berkuasa, menabur, dan menanam bibit-bibit unggul kezaliman. Generasinya selalu tumbuh dan berkembang sepanjang zaman dan sejarah. Namun, Allah juga  mengutus Musa untuk melawan Fir’aun dari masa ke masa. Salah satu penerus ajaran Musa adalah Hasan Al-Banna dan para kadernya, “Ikhwanul Muslimin”. Kini perseteruan Musa dan Fir’aun kembali tersaji, dan akan terus tersaji hingga roda zaman berhenti. Fir'aun dan Musa adalah lambang kebatilan dan kebenaran, iblis dan malaikat, surga dan neraka. Sejarah memang selalu terulang, yang berbeda hanya setting ruang, waktu dan para pelakonnya. Wallahu A’lam!
Ilham Kadir, Anggota MIUMI dan Peneliti LPPI Indonesia Timur.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi