Mencukur Agama

Makna Ramadhan dari segi semantik adalah membakar, ada pun dari sudut istilah, merupakan salah satu dari dua belas nama bulan dalam hitungan tahun hijriyah, dan menduduki urutan ke sembilan. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang tersebut dalam Alquran, (QS. [2]:185) dan inilah salah satu keistimewaannya dari sekian banyak keistimewaan yang yang dimilikinya. Bulan Ramadhan juga mendapat ragam julukan, seperti syahrul mubarak (bulan bertabur keberkahan), syahrul Qur’an (bulan Alquran), syahrur rahmah, maghfirah, wa itqum minan-nar (bulan penuh rahmat, ampunan, dan amnesti dari api neraka), dan julukan yang termasyhur bagi Ramadhan adalah syahrus shiyam (bulan puasa).
Puasa sebagai ibadah utama pada bulan Ramadhan bermaksud untuk melahirkan manusia-manusia yang beriman dan bertakwa sebagai bagian dari tingkatan ihsan dalam hierarki keislaman seseorang. Dalam tingkatan ihsan, terkumpul semua prilaku-prilaku yang terpuji, baik menurut syariat atau pendangan Allah maupun dengan standar penilian manusia secara umum. Apa yang dipandang baik menurut syariat, sudah pasti baik untuk seluruh umat manusia, begitu pula apa yang dipandang buruk oleh agama maka sudah pasti dibenci dan buruk pula dalam pandangan manusia.
Syariat Islam memandang bahwa kejujuran adalah lambang kebenaran dengan ganjaran surga, dan kebohongan adalah lambang keburukan dengan ancaman siksa neraka sebagaimana yang tertuang dalam Hadis riwayat Bukhari-Muslim yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bawah kebenaran akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa ke surga, dan sesungguhnya orang yang membiasakan dirinya benar dalam segala tindakannya akan dicatat oleh Allah sebagai shiddiq (orang yang selalu benar); begitu pula sebaliknya, kedustaan itu membawa kepada penyelewengan dan penyelewengan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan berdusta itu akan dicatat oleh Allah sebagai pendusta.
Ramadhan dengan arti ‘membakar’ dari segi bahasa bemaksud membakar segala macam nafsu jahat (ammarah bissu’i) dan segenap tindakan tercela. Karena itulah hasil akhir dari Ramadhan akan melahirkan insan fitrah (suci sebagaimana ketika manusia baru terlahir) di hari yang fitri (suci) pada hari raya Idul Firi. Ketika mampu menggapai kesucian lahir atau jasadiyah dari ragam noda-noda seperti najis dan hadats, dan kesucian jiwa dan hati dari ragam penyakit hati dan dosa-dosa, maka pada saat itulah puncak kedudukan (maqam) seorang hamba sebagai insan muttaqin (orang-orang bertakwa) ia gapai. Maka, Ramadhan telah sukses mengantarkan seseorang menggapai tujuan yang telah digariskan oleh Allah.
Golongan Bangkrut
Ciri lain dari prilaku orang-orang yang beriman dan bertakwa sebagai produk olahan Ramadhan adalah kemampuan menjaga lisan alias lidah dengan tidak mengumpat (ghibah) dan mengadu domba (namimah) antar sesama manusia.
Ghibah adalah menceritakan aib orang lain yang dapat menodai dirinya sedang mereka tidak ada di depannya dan orang yang diceritakan keburukannya itu  tidak suka bahkan marah jika ia mengetahuinya. Lebih lanjut, terminologi ghibah dapat disimak dari sabda Rasulullah yang bersumber dari hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i bahwa suatu ketika Nabi bertanya kepada para sahabatnya. “Tahukah kalian apakah yang disebut ghibah?” para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. “Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya.”, jawab Nabi. Lalu para sahabat bertanya lagi, “Bagaimana jika pada saudaraku memang terdapat [keburukan] yang saya katakan?” Rasul Menjawab, “Jika padanya memang ada [keburukan] yang kamu ceritakan itu, maka kamu telah ghibah [mengumpat] padanya. Namun jika tidak [terdapat keburukan] padanya, maka itu berarti kamu telah memfitnah dia”.
Alquran memberi perumpamaan para pelaku ghibah laksana memakan bangkai saudara sendiri. “wa la yagtab ba’dukum ba’dan, ayuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhihi mayyetan, fakarihtumuh. [dan janganlah sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain. Sukakah kiranya kalian memakan daging saudaranya yang telah mati? Tentu saja kamu jijik!]” (QS. [49]:12). Ayat tersebut mendapat dukungan dari beberapa hadis, di antaranya, riwayat dari Imam Ahmad yang bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Nabi dimi’rajkan di langit ke tujuh, ia dapat melihat api neraka. Tiba-tiba melihat orang-orang yang sedang makan bangkai, lalu Nabi SAW bertanya kepada Malaikat Jibril, “Siapakah mereka itu wahai Jibril?”, Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang makan daging saudaranya [karena suka mengumpat].” Dalam riwat lain, oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Jabir ra. Bahwa ketika kami bersama Nabi, tiba-tiba tercium bau busuk, maka Nabi pun bertanya. “Tahukah kalian bau apakah ini? Inilah bau busuk mulut orang-orang yang mengumpat orang-orang mukmin semasa hidupnya”.
Tidak hanya itu, dosa bagi para pengumpat tidak kalah dahsyatnya, bahkan mengalahkan para pezina yang diancam oleh Alquran dengan hukuman cambuk hingga rajam. Sebagaimana yang dimaksud dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqie, Rasulullah bersabda. “Jauhilah olehmu ghibah, karena ghibah itu lebih berat daripada berzina. Para sahabat bertanya keheranan. “Bagaimanakah?” Nabi Menjawab. “Sesungguhnya seorang yang berzina jika ia bertaubat, maka Allah memberinya taubat, tetapi orang yang ghibah tidak akan diampuni oleh Allah, sehingga dimaafkan oleh orang yang telah dighibah itu”.
Selain ghibah (mengumpat), bahaya lidah yang tidak terkontorol adalah namimah atau mengadu domba. Pada hakikatnya, namimah adalah bagian dari ghibah yang dibumbuhi kebohongan dan fitnah (gosip). Sebagaimana ghibah, namimah juga langsung mendapat porsi khusus dalam Alquran. Ini menandakan jika kedua prilaku buruk tersebut memiliki implikasi yang merusak tatanan keharmonisan umat manusia plus akan mendapat ganjaran berupa siksa di akhirat kelak.
Namimah adalah sebuah pekerjaan yang memindahkan perkataan seseorang kepada orang yang dibicarakan  dengan satu tujuan untuk menimbulkan permusuhan antar sesama manusia. Allah mencela sifat tersebut berdasarkan firman-Nya. “Janganlah kamu tunduk kepada orang yang suka sumpah yang hina, yang suka mencela orang, yang berjalan ke sana ke mari dengan mengadu domba” (QS. [52]: 10-11).
Maftuh Ahnan, dalam “Bahaya Lidah, t.th” mengutif sebuah kisah: suatu ketika pada zaman dahulu, seorang pergi ke pasar untuk membeli budak, kemudian ditawarkan padanya sorang budak yang tidak ada cacatnya kecuali ia memiliki hobi mengadu-domba (namimah), karena sang pembeli menganggap bahwa itu hanyalah cacat yang ringan maka ia pun membelinya. Beberapa hari setelah budaknya berada di rumah, mulailah ia beraksi dengan hobi lamanya. Sang budak menemui istri majikannya dan mengatakan bahwa suaminya itu ingin poligami dengan istri yang baru, mudah, lagi fresh. Maka budak itu menasihati istri majikannya, dengan memakai guna-guna supaya pernikahan suaminya batal. Caranya, dengan mengambil beberapa helai bulu-bulu yang tumbuh di leher suaminya. Dan untuk mengambil bulu di leher suaminya itu, harus dengan pisau yang super tajam, melebihi silet, dan hendaklah diambil ketika suami sedang dalam keadaan terlelap. Dan istri majikannya pun percaya dan taat pada budaknya itu, sehingga melaksanakan semua arahannya. Ketika istri majikannya sibuk mencari pisau tajam, saat bersamaan sang budak menemui majikan lelakinya dan melaporkan suatu perkara besar. “Tuan harus hati-hati karena ternyata istri tuan berniat buruk pada tuan, ia akan menghabisi nyawa tuan sebentar malam di tempat tidur.” Majikannya tidak percaya begitu saja, apa yang diucapkan oleh sang budak. 

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, “La yadkhulul jannata nammamun. [Tidak dapat masuk surga orang yang hobi mengadu-domba] sangat tepat ditujukan oleh para 'nammam'. Begitu pula dalam sebuah riwayat yang menyatakan bahwa suatu ketika Nabi mengomentari penghuni dari dua kuburan yang berdekatan, seraya bersabda, "Innahu layu'ad dzibani", Sungguh keduanya akan diadzab, "Wama yuadzibani bikabirin", dan tidaklah keduanya diadzab melainkan perkarah ringan saja, yaitu, yang pertama adalah "La yatanazzahu minal baul", tidak sempurna caranya bersuci setelah buang air kecil (kencing), dan yang lain, "Yamsyi bi an-namimah", hobi berjalan ke sana ke mari untuk mengadu-domba. Ada kepuasan ketika saudaranya bertengkar dan berkelahi satu sama lain disebabka olehnya.
Orang yang suka mengadu domba diibaraktkan oleh Nabi sebagai mereka yang mencukur agama. Sedang bagi mereka yang memiliki kebiasaan mulia dengan menyambung silaturrahmi akan dipanjangkan umurnya dan dimurahkan rezekinya. Juga bagi orang-orang yang gemar mendamaikan saudaranya yang bermasalah mendapat pahala yang melebihi puasa, shalat, dan sedekah. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan At-Tirmidzi. Nabi Bersabda, “Sukakah saya beritahukan kepadamu sesuatu yang lebih utama daripada puasa, shalat, dan sedekah?” para sahabat berkata, “Baiklah ya Rasulallah”, maka Nabi pun bersabda, “Mendamaikan orang yang bermusuhan [bertengkar] karena merusak hubungan seseorang itu berarti mencukur. Saya tidak berkata ‘mencukur rambut’ tetapi mencukur agama”.
Mencukur agama adalah memotong sendi-sendi agama, ini dapat dimengerti karena jika perselisihan dan permusuhan merebak di kalangan umat maka kehancuran tinggal menunggu waktu, dan itu semua akibat dari ghibah dan namimah. Inilah yang disetir dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim yang berasal dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda. “Tahukah kalian apakah orang-orang bangkrut itu?” para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya dirham (uang) dan kekayaan sama sekali.” Maka Nabi bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang bangkrut di antara kita adalah sebagian umatku yang datang membawa pahala salat, puasa, dan zakat pada hari kiamat sambil datang membawa dosa karena mencaci si A, memfitnah si B, memakan harta si C, menumpahkan darah si D, dan memukul si E. Lalu ia harus memberikan sebagian pahala kebaikannya kepada si A, B, C, dst., sampai ketika lenyap semua pahalanya belum jua dapat membayar dosa-dosanya. Maka kesalahan orang yang terzsalimi itu dipindahkan kepadanya kemudian dilemparkan ke neraka”.
Semoga Ramdhan yang tinggal menghitung jam ini dapat membakar segenap sifat dan sikap tercela yang ada pada diri kita, dan terhindar dari prilaku ghibah (mengumpat), fitnah (gosip), dan namimah (adu domba), karena selain mencukur dan menghancurkan agama, juga dapat menistakan diri sendiri di dunia dan di akhirat. Namun jika terlanjur pernah melakukan prilaku-prilaku tercela di atas, maka bergegaslah meminta maaf sehingga ketika hari kemenangan tiba kita telah kembali dalam keadaan fitrah.  Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah! (Tulisan ini telah dimuat di Harian Tribun Timur, Makassar, pada 03 Syawal 1434 H-11 Agustus 2013 M).
Ilham Kadir. Anggota MIUMI dan Peneliti LPPI

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi