Fuad Rumi dan Islamisasi Ilmu



Beberapa jam setelah Dr. Ir. Fuad Rumi (1951-2013) dikabarkan telah meninggal dunia, di saat yang sama kami bertemu dan berdikusi dengan dua guru besar dari dua universitas kenamaan yang berbeda. Mereka adalah Prof. Dr. Arfin Hamid, seorang ulama dan cendekiawan muslim yang memiliki kepakaran dalam bidang hukum dan ekonomi syariah dari Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Prof. Dr. Hamdan Juhannis, guru besar ilmu sosiologi Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Diskusi berlangsung di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, sembari menunggu acara bedah buku “Jihad dan Terorisme dalam Perspektif Hukum Islam” yang dibedah oleh Prof. Arfin Hamid, dan penulis buku tersebut, Dr. Kasjim Salenda yang dipandu oleh penulis sendiri.

Dalam diskusi singkat itu, saya mencoba bertanya tentang pemikiran Fuad Rumi yang menyangkut dengan gerakan islamisasi ilmu. Pertanyaan ini saya lontarkan pada Prof. Hamdan Juhannis. Dengan gayanya yang khas, guru besar dengan nama asalnya adalah Hamdan Junaidi itu menjawab bahwa sebenarnya Pak Fuad merupakan seorang cendekiawan yang turut memasarkan ide islamisasi ilmu yang telah digagas oleh Syed Naquib Al-Attas di Malaysia dengan format yang berbeda. Jika Al-Attas melakukan gerakan islamisasi melalui publikasi ilmiyah dan mendirikan lembaga pengkaderan berupa perguruan tinggi. Maka Pak Fuad melakukan islamisasi ilmu dengan lebih sederhana dan meluas, dan tanpa menyebut bahwa yang ia lakukan adalah sebuah gerakan islamisasi secara konsisten dan sistematis.

Sebagaimana diketahui, Al-Attas adalah orang pertama yang melemparkan gagasan islamisasi ilmu secara sistematis pada Konferensi Dunia pertama mengenai Pendidikan Islam (First World Confrence of Islamic Educaion) yang diadakan di Makkah pada tahun 1977. Bagi Al-Attas, islamisasi ilmu yang merupakan bagian dari pendidikan, maka yang pertama dan utama menjadi sasarannya adalah manusia, objek sekaligus subjek. Jika melalui suatu tafsiran alternatif pengetahuan tersebut manusia mengetahui hakikat dirinya serta tujuan sejati hidupnya dan dengan pengetahuan itu ia mencapai kebahagiannya, maka pengetahuan itu walaupun tercelup dengan unsur-unsur tertentu yang menentukan bentuk karakteristik dimana pengetahuan itu dikonsepsikan, dievaluasi dan ditafsirkan sesuai dengan suatu pandangan tertentu, dapat disebut sebagai pengetahuan yang sejati, karena pengetahuan seperti itu telah memenuhi tujuan manusia dalam mengetahui segalanya.

Untuk merealisasikan ide-idenya, Al-Attas lantas menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan ilmiah, di antara karyanya yang spektakuler adalah, Islam: the Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality, Angkatan Belia Malaysia (ABIM), Kuala Lumpur, 1976; The Consept of Education in Islam, ABIM, Kuala Lumpur, 1980; Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1995; Islam and Secularism, ISTAC, 1992; Risalah untuk Kaum Muslimin, ISTAC, Kuala Lumpur, 2001, dan banyak lagi. Buku-buku Al-Attas di atas telah diterjemahkan dalam ragam bahasa asing lainnya, seperti Jerman, Francis, Turki, Bosnia, Rusia, Persia, Jepang, Korea, Arab dan Indonesia. Belum ada pemikir Nusantara yang mendapat pengakuan di mata internasional sebagaimana Al-Attas.

Selain menuangkan ide dalam bentuk publikasi ilmiah, Al-Attas juga langsung terjun melakukan pengkaderan melalui International Institute of Islamic Thaought and Civilization (ISTAC), beliau langsung merancang kampus tersebut dan memimpinnya. ISTAC adalah satu-satunya pergurun tinggi Islam yang memiliki koleksi buku perbandinga agama, dan peradaban terlengkap saat ini.

Jika dicermati secara mendalam, memang Dr. Ir. Fuad Rumi juga telah melakukan proyek islamisasi dengan cara yang tak kalah dari Al-Attas. Salah satu buktinya adalah, materi-materi diskusi dwi-bulanan yang dilakukan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Sulsel. Selaku anggota dewan pakar, Pak Fuad memiliki andil besar dalam memilih tema-tema diskusi yang nuansa islamisasinya sangat kental.

Dalam buku “Al-Qur’an Berbicara, 2013” yang merupakan sebuah kumpulan materi diskusi yang terhimpun selama tahun 2012, karena penulis ditunjuk sebagai ketua tim editor oleh pihak ICMI yang diwakili oleh Dr Ir Fuad Rumi, Drs. Waspada Santing, dan Dr. Andi Tamsil sehingga penulis mengerti secara mendalam isi buku tersebut. Pak Fuad menulis dalam “Kata Pengantarnya” sebagai berikut. “Pada pertemuan pertama, ICMI mengusung tema pembahasan tentang “Apa Kata Al-Qur’an  Tentang Manusia”, dengan narasumber, Prof. Dr. Natsir Mahmud dan Dr. Ir. Fuad Rumi. Pertemuan kedua mengusung tema “Apa Kata Al-Qur’an Tentang Pendidikan” dengan pembicaranya adalah Prof. Dr. H. Azhar Arsyad, M.A. dan Prof. Dr. Jazaruddin, selanjutnya pada sesi ketiga, ICMI mengusung tema “Apa Kata Al-Qur’an Tentang Kehidupan Kebangsaan dan Bela Negara” yang pembicaranya adalah “Prof. Dr. HM. Galib Murtala, dan Prof. Dr. HM. Talib Kasnawi, lalu pertemuan keempat bertema, “Apa Kata Alquran Tentang Kemerdekaan dan Keadilan Sosial” kali ini narasumber adalah, Dr. H. Mustamin Arsyad, dengan Prof. Dr. Arifin Hamid, sedang pertemua kelima, temanya adalah “Apa Kata Al-Qur’an tentang Birokrasi dan Pelayanan Publik”, dengan menghadirkan  pembicara utama, Prof. Dr. Arifuddin Ahmad, dan Prof. Dr. Muin Rahmat. Sedang pertemuan keenam sebagai pertemuan terakhir di tahun 2012, ICMI mengusung tema, “Apa Kata Al-Qur’an tentang Ilmu Pengetahuan” dengan narasumbernya adalah, Prof. Dr. Jimly Assiddiqi,  Prof. Dr. Ahmad M. Sewang, dan Prof. Dr. Arief Tiro. Mulai dari pertemuan kedua hingga terakhir, acara selalu dipandu oleh saya sendiri. Demikian selama satu tahun diskusi dilakukan secara rutin dua bulan sekali, yang menghasilkan proceding yang ada di tangan kita sekarang. Diharapkan, apa yang digali dari Al-Qur’an  tentang beberapa tema tersebut dapat menjadi dasar pemikiran lebih lanjut untuk dikembangkan dalam diskusi yang lebih tajam dan detail melalui serial diskusi berikutnya”.      

Prof. Arfin Hamid yang juga pernah menjadi salah satu narasumber dalam diskusi ICMI juga mengamini bahwa tema-tema ICMI yang bersumber dari “Apa Kata Al-Qur’an” adalah bagian yang tak terpisahkan dari proyek islamisasi yang diusung Pak Fuad. Menurut guru besar yang hafiz Qur’an ini, hal demikian memang sudah sangat wajar karena Al-Qur’an sangat kaya akan kandungan yang sebagai khalifah, kita ditugaskan Allah untuk membaca, mengkaji, dan mengamalkannya.

Kini Pak Fuad telah menghadap keharibaan ilahi untuk selamanya, tugas kita adalah meneruskan proyek islamisasi ilmu yang telah dilakukan oleh ilmuan yang tutup usia pada hari Senin (15/7/2013) bertepatan dengan 6 Ramadhan 1434 H itu. Mati adalah siklus normal  bagi setiap manusia, namun tidak banyak yang namanya tetap harum dan abadi. Melalui ide-ide dan goresan tintanya, Dr. Ir. Fuad Rumi ‘rahimahullah’ adalah salah satu hamba Allah yang keharuman namanya akan melampaui umurnya. Wallahu A’lam!   

Ilham Kadir,  Anggota MIUMI dan Peneliti LPPI

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi