Anregurutta H. Lanre Said; Teladan Pendidikan Karakter

Anregurutta H. Lanre Said, salah seorang ulama lokal yang bisa menjadi teladan dalam pendidikan karakter yang berbasis agama. Lanre Said dilahirkan pada 1923 M. Tidak diketahui pasti hari, tanggal, dan bulannya, di sebuah kampung bernama Ulunipa atau Manera, Salomekko, Kabupaten Bone. Dia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara, dari pasangan Andi Passennuni Petta Ngatta dengan Andi Marhana Petta Uga. Nama kecilnya adalah Andi Muhammad Said, namun setelah masuk di Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Sengkang, namanya dirubah oleh KH Muhammad As’ad menjadi Lanre Said. [1]
 
Lanre Said tumbuh dan berkembang di bawah asuhan dan didikan ayahnya. Setelah berumur sepuluh tahun, ia dikirim belajar ke MAI Sengkang pada tingkat Ibtidaiyah untuk manyusul kakaknya Petta Haji Lesang yang telah belajar disana di bawah asuhan langsung oleh KH  Muhammad As’ad, berasal dari keluarga yang taat dalam agama dan peduli terhadap pendidikan terutama ilmu-ilmu agama. Ini terbukti dari tujuh bersaudara, mereka semuanya pernah belajar dan mondok di MAI Sengkang. Adik-adiknya yang turut serta mondok dan belajar di bawah asuhan KH Muhammad As’ad adalah Petta Haji Sikki, Petta Haji Dollah, Petta Hj Sokku, Petta Lebbi, dan Andi Abdul Malik Petta Simpuang. Adapun yang paling bungsu di sebut di atas hanya mondok di MAI saja namun melanjutkan sekolah formal di luar pondok tepatnya di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sengkang.[2]

Dikisahkan, sebagaimana ditulis oleh Ilham Kadir bahwa ibunya pernah mendapatkan Lailatul Qadar dan berdoa agar dikaruniai keturunan ulama semuanya hafal Al-Qur’an dan penghuni sorga. Lanre Said menghabiskan waktunya selama 16 tahun untuk menimba ilmu di madrasah pencetak kader ulama nomor wahid di Indonesia bagian timur ini. Ia menempuh seluruh jenjang pendidikan yang ada di As’adiyah, mulai dari Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Aliyah dan kelas atau halaqah khusus, kelas ini setingkat dengan perguruan tinggi.  Pelajaran yang diterima dari seorang guru lebih spesifik (khusus). Syekh yang pernah mengajar di sana kesemuanya berasal dari Timur Tengah. Dari penelusuran penulis, mereka adalah Syekh Ahmad al Hafifi, merupakan ulama jebolan al Azhar Cairo yang langsung didatangkan dari negara asalanya, Mesir dan Syekh Sulaiman as Su’ud, merupakan ulama yang dikirim langsung dari Mekah, Saudi Arabia. Membutuhkan pembahasan khusus siapa sebenarnya yang berperan penting mendatangkan para ulama berkaliber internasional dan memiliki keikhlasan yang tak ada duanya ini ke tanah Bugis.[3]

Mereka ini mengajar mata pelajaran tertentu kemudian para muridnya diberikan ijazah khusus jika telah selesai dan menguasai satu bentuk disiplin ilmu. Cara belajar seperti ini merupakan cara konvensional yang telah terjadi pada ulama-ulama terdahulu. Jadi seorang murid tidak dapat mengajar jika belum memiliki ijazah yang merupakan sebuah pengakuan dari seorang guru kepada para muridnya. Seorang pelajar bisa saja memiliki ijazah dari lembaga pendidikan tapi di lain pihak juga mendapatkan pengakuan khusus dari guru tertentu. Para tilmiz atau murid dalam setiap khalaqah bukan mempelajari ilmu-ilmu agama saja, tapi juga mereka diajarkan berbagai macam ilmu yang dibutuhkan di tengah masyarakat, di antara ilmu yang sering dikupas oleh Lanre Said adalah yang berhubungan dengan ilmu psikologi dan sosiologi. Bahkan, menurut pengakuan beliau, gurunya yang mengajarkan khusus ilmu ini mencapai dua puluh lima orang. Padahal untuk satu mata pelajaran saja membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Untuk tafsir tahlily misalnya, sebagaimana penuturan beliau, bahwa untuk membahas basmalah saja dalam surah al Fatihah membutuhkan waktu selama dua minggu.[4]

Dalam umurnya yang menginjak 22 tahun, Lanre Said telah menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan yang ada di Madrasah Arabiyah Islamiyah Sengkang. Tahun selesainya jatuh pada tahun 1945. Setelah itu, ia mengajar pada almamaternya selama empat tahun, hingga 1949. Sepulang dari pesantren tempatnya belajar dan mengabdi, ia kembali ke kampung halamannya di Tuju-Tuju untuk mengabdikan diri dengan mengajar dan berdakwah.[5]

Pada tanggal 7 Agustus 1953, Komandan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di daerah Sulawesi Selatan Abdul Qahhar Muzakkar  memproklamasikan penggabungan pasukan dan daerah yang dikuasainya ke dalam Negara Islam Indonesia (NII) di bawah pimpinan Kartosuwirjo yang berpusat di Jawa Barat. Dengan bergabungnya Qahhar Muzakkar ke dalam NII, secara otomatis jaringan NII ini yang telah diproklamirkan Kartoswirjo pada 7 Agustus tahun 1949 bertambah luas. Untuk menopang perjuangan NII, Kartoswirjo membentuk angkatan bersenjata yang diberi nama Gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang digunakan untuk mempertahankan eksistensinya, termasuk menentang pasukan dan pemerintahan Republik Indonesia yang tidak setuju tentang perjuangan, visi, dan misi NII. [6]
 
Pada tahun 1953, setelah dua tahun merintis sekolah  dan mengajar di Pulau Jampea, Selayar (1952-1953), dan bertepatan pada tahun diproklamasikannya penggabungan pasukan Qahhar Muzakkar dan pasukannya yang dikuasainya ke dalam NII, Lanre Said bergabung bersama DI/TII dengan Qahhar Muzakkar. Pada awalnya, menurut Ilham Kadir Lanre Said enggan bergabung dengan DI/TII karena lebih tertarik pada dunia pendidikan atau lebih suka mengajar. Sejak awal, setelah menyelesaikan pendidikannya di MAI Sengkang, dia memang langsung terjun mengajar. Karena itulah ia tidak tertarik dengan pola perjuangan DI/TII.  Namun, menurut lanjut Ilham Lanre Said ikut bergabung dengan DI/TII di bawah komandan Qahhar Muzakkar karena terpaksa dan tidak ada pilihan lain. Saat itu, sejumlah teman-temannya sudah lebih dulu bergabung dan memberikan informasi kalau Lanre Said merupakan salah satu alumni terbaik MAI Sengkang dan penguasaan hukum Syariah serta berbagai macam disiplin ilmu lainnya sangat tinggi. Untuk itulah, walaupun berada nun jauh di pulau yang sangat terpencil itu, tetap saja berkali-kali anggota Qahhar Muzakkar datang untuk mangajaknya ikut bergabung. Padahal, saat itu alat transportasi dan komunikasi masih sangat langka. Sekadar untuk diketahui juga, bahwa jaringan alumni MAI Sengkang pada saat itu tidak pernah putus sehingga satu sama lain dapat memberikan informasi tentang kegiatan dan keberadaan mereka. Lanre Said pada akhirnya turut bergabung dengan pasukan Qahhar Muzakkar dengan memberikan sayarat tertentu. Di antaranya, agar seluruh sanak keluarganya tidak diganggu atau diajak bergabung dengan DI/TII. Sebagaimana kita ketahui bahwa beliau bersaudara semuanya lulusan MAI Sengkang. Namun, Lanre Said tidak ingin agar para saudaranya juga ikut masuk ke hutan. Dan rupanya syarat ini dipatuhi oleh pasukan DI/TII di bawah komando Qahhar Muzakkar.[7]
 
Menurut Kadir, semasa  bergabung dengan DI/TII, karirnya sangat cemerlang, bermula dengan menjadi Kepala Kepolisian DI/TII, kemudian dipindahkan menjadi Imam Tentara (Panglima Tertinggi). Jabatan terakhirnya adalah Ketua Mahkamah Agung. Aaat inilah beliau tidak setuju karena merasa tanggung jawabnya sangat besar baik terhadap manusia ataupun di hadapan Allah kelak.  Di samping itu, beliau merasa belum pantas karena umurnya saat itu masih terlalu mudah untuk menyandang Ketua MA. Memang, jika dibandingkan dengan para rekannya, Lanre Said termasuk yang termuda di antara mereka. Namun, karena keputusan pengangkatannya merupakan keputusan musyawarah dewan tertinggi DI/TII dan penunjukannya langsung di bawah Qahhar Muzakkar, Lanre Said tidak bisa berkutik. Akhirnya, beliau pun menerima tanggung jawab tersebut.[8]
 
Dalam menjalankan tugasnya, ia berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Hal ini dapat dipahami karena selama bergabung dengan pasukan Qahhar Muzakkar ke dalam DI/TII, terus mendapat hambatan dari pihak pemerintah Republik Indonesia di bawah pasukan TNI. Cara DI/TII menjalankan pemerintahannya juga tergolong sederhana yaitu dibagi menjadi pusat sebagai pemegang kendali utama dan distrik sebagai perpanjangan tangan dari pusat atau disebut juga daerah kekuasaan. Pusat pemerintahan bertempat di daerah asal Qahhar Muzakkar yaitu di Luwu. Daerah lain, seperti Sengkang, Bone, Sinjai, Soppeng, dan lainnya merupakan distrik. Untuk daerah Bone bagian selatan misalnya, pemerintahan dikendalikan oleh distrik yang meletakkan pusat pemerintahannya di daerah Patimpeng (kini telah menjadi Kecamatan Patimpeng) tepatnya di Bulu’ Bilalang (Gunung Bilalang). Sebagai Ketua Mahkamah Agung Pusat, Lanre Said harus terjung ke daerah-daerah termasuk ke Bulu’ Bilalang. Yang tidak kala pentingnya, saat bertugas di Bulu’ Bilalang ini, terjadilah sebuah peristiwa besar pada diri Lanre Said. Disana dia bermimpi menyalakan lampu untuk menerangi kegelepan. Lampu itu dinyalakan di puncak gunung Bilalang dengan menggunakan lampu petromaks.  Dalam mimpinya, ia melihat cahaya di sekitar lampu tersebut sangatlah terang benderang. Namun, di bawahnya kelihatan remang-remang bahkan nyaris gelap. Mulai dari saat itulah, beliau berusaha untuk mencari takwil mimpi tersebut. Dengan metode tersendiri yang beliau dapatkan dari guru-gurunya serta pengalaman pribadinya dalam cara mentakwilkan mimpi, beliua berkesimpulan kalau arti dari mimpinya itu adalah perintah untuk mendirikan lembaga pendidikan yang dapat memancarkan cahaya iman dan ilmu sebagai sumber penerangan bagi umat ini. Tanpanya manusia akan menjadi gelap dan sesat tanpa arah tujuan sehingga sangat mudah disambar oleh syetan dari spesies manusia dan jin. Setelah itu, Lanre Said berusaha mencari tempat yang sesuai untuk mendirikan lembaga pendidikan yang berlandaskan dengan Al-Qur’an dan Hadis yang shahih.[9]
 
Walaupun Lanre Said masih tetap menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung NII-DI/TII, namun pada dasarnya setelah mendapatkan perintah dari Allah untuk mendirikan lembaga pedidikan lewat mimpi tersebut, beliau mulai berfikir untuk keluar dari pasukan Qahhar Muzakkar. Ditambah lagi, saat itu sebagian anggota DI/TII sudah banyak yang menyalahi aturan syariat Islam seperti merusak fasilitas umum, membakar pemukiman penduduk, membuat onar, dan berbagai pelanggaran lainnya. Hal ini dapat dimaklumi, menurut Lanre Said, karena banyaknya anggota baru yang direkrut masuk dalam pasukan DI/TII tanpa melewati mekanisme pembinaan. 

Di samping itu, pasukan TNI makin gencar melakukan serangan secara maraton di bawah pasukan Jenderal M Jusuf, yang akhirnya memaksa pasukan DI/TII bertekuk lutut. Terlebih lagi, Abdul Qahhar Muzakkar syahid di ujung moncong senapan pasukan Siliwangi pada bulan Februari 1965. Dengan begitu, sejarah NII-DI/TII berakhir sampai di sini. Persoalan yang muncul belakangan adalah manhaj perjuangannya. Ada yang berpendapat bahwa Qahhar Muzakkar bergabung dengan NII  dilatarbelakangi kekecewaan karena ditolak bergabung dengan APRI(S), di samping itu Kartoswirjo telah memproklamirkan NII pada tahun 1949 sedangkan Qahhar Muzakkar bergabung empat tahun kemudian yaitu pada tahun 1953. Banyak yang berpandangan bahwa kalau memang ikhlas bergabung dengan NII kenapa bukan sedari awal.[10]
 
Setelah Qahhar Muzakkar dinyatakan terbunuh oleh pasukan siliwangi pada tahun 1965, secara total pasukan dan anggota DI/TII di bawah kekuasaannya menyerah dan ikut kembali bergabung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka, pada saat itu, Lanre Said merasa mendapatkan angin segar dan leluasa mencari tempat untuk mendirikan lembaga pendidikan. Pada tahun ini juga, Lanre Said melakukan ekspedisi pertama. Beliau berangkat dari Pulau Sembilan yang bernama Kanalo (Sinjai) dengan menumpang kapal barang disertai oleh 20 orang yang barasal dari veteran pasukan DI/TII, serta beberapa kerabatnya. Mereka menuju Pulau Kalimantan bagian selatan, tepatnya di Kabupaten Kota Baru Kecamatan Pamukan Selatan, di sebuah kampung bernama Tanjung Salamantakan. Disini beliau bermukim mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan sosial termasuk di antaranya belajar mengajar bagi penduduk setempat. Disini beliau sempat mendirikan lembaga pendidikan. Namun, masyarakat setempat kurang peduli dengan pendidikan atau tidak begitu respons tentang kehadiran Lanre Said.[11]
 
Selama bermukim disinilah tidak sedikit meninggalkan cerita-cerita yang sangat menarik untuk dijadikan pelajaran. Sebagaimana ditulis oleh Ilham Kadir,  bahwa kedatangan Lanre Said di daerah ini menjadikan masyarakat terbagi dua. Ada yang merespons kehadirannya dengan positif  namun tidak sedikit pula yang menantang. Kubu yang tidak suka pada Lanre Said didukung pemerintah setempat yang disebut pembakal atau jabatan pemerintah setingkat Kepala Desa. Pembakal inilah yang menghasut para masyarakat untuk memusihinya. Praktis Lanre Said tidak boleh tampil di mimbar mesjid untuk mengisi ceramah atau pengajian. Alasan utama pembakal bahwa Lanre Said membawa ajaran atau agama baru. Bahkan, pada puncaknya, beliau dilaporkan pembakal ke pemerintah kecamatan dengan tuduhan bahwa di daerah Tanjung Salamantakan ada kelompok mantan pembesar NII/DI-TII yang menyebarkan agama baru. Pada akhirnya, beliau dijemput satu batalyon aparat keamanan. Ketika Lanre Said diinterogasi oleh pemerintah kecamatan (Camat, Kormil, Danres) tentang kebenaran isu bahwa dirinya membawa agama baru, Lanre Said dengan santainya menjawab bahwa dirinya hanya mengamalkan apa yang ia ketahui dari Al-Qur’an dan Hadis yang sesuai dengan contoh dari Rasulullah SAW. Menurutnya, dosa bagi dirinya jika menyembunyikan kebenaran, karena kelak akan dituntut di hari akhirat nanti. Dia  tidak akan berhenti menyebarkan kebenaran  apapun yang terjadi pada dirinya.” Bahkan  Lanre Said mempertanyakan, menapa jika dirinya menyebarkan pemahaman yang benar dalam ajaran agama, malah dihalang-halangi, sedangkan mereka yang menyebarkan kesesatan malah didukung termasuk penyebar paham komunis.  Para aparat ini tidak bisa berkutik dan akhirnya mengantar kembali sang ulama yang jago diplomasi ini. Padahal sewaktu Lanre Said dijemput oleh satu batalyon Brimob dari Kota Baru, pembakal tadi sudah menyebarkan informasi bahwa Lanre Said akan dipenjara selama satu tahun disana. Pada dasarnya, Lanre Said di daerah ini sangat dicintai masyarakat karena cara beliau mengadakan pendekatan yang dianggap sangat menyentuh para masyarakat setempat. Seperti mengumpulkan pemuda untuk membuat klub oleh raga, atau sejenis karang taruna. Nah, anggota karang taruna inilah yang kelak menjadi binaannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa beliau sendiri adalah pencinta olah raga,  baik sepak bola, badminton, hingga sepak takrow. Bahkan pada tahun 1949-1950, ia masuk tim sepak bola untuk mewakili daerah Tarasu Kajuara, dan memegang posisi utama sebagai defender.[12]
 
Yang menjadi kendala utama adalah cara beliau berdakwah dalam memberantas bid’ah, tahayul, dan khurafat. Cara itu dinilai menggunakan metode DI/TII alias frontal dan tak kenal kompromi. Inilah yang tidak disukai sebahagian orang, terutama mereka yang memiliki kepentingan. Tapi anehnya, pada saat-saat orang banyak memusuhinya ada saja beberapa tokoh berpengaruh yang mendukung dan rela mengorbankan apa saja demi menegakkan kebenaran. Tidak jauh beda di zaman Rasulullah.[13]  

Kecuali itu, orang-orang yang pernah memusuhinya pada satu saat akan berbalik mendukungnya, terutama jika telah melihat keajaiban-keajaiban yang nampak pada diri Lanre Said sendiri. Suatu saat, beliau pergi meninggalkan kampung Tanjung Salamantakan dengan alasan bahwa di kampung ini akan terjadi peristiwa yang di luar dugaan. Terbukti, seminggu setelah belaiu pergi ke Kalimantan Timur untuk beberapa saat, datanglan satu batalyon Brimob untuk menangkap paksa pembakal yang telah melaporkan Lanre Said tempo hari. Pembakal tersebut ditangkap dengan tuduhan memeras masyarakat dan mengadakan pungutan ilegal. Pada akhirnya, si pembakal termakan kata-katanya sendiri dan dibui selama satu tahun. Pembaka pun diganti dengan yang baru dan pro dengan perjuangan Lanre Said. Namun kelak pembakal yang telah dipenjara beserta keluarganya juga berbalik mendukung Lanre Said. 

Selain kegiatan sosial, Lanre Said juga tetap beraktivitas sebagai masyarakat biasa. Bahkan, beliau dengan anggotanya pergi ke hutan menebang pohon untuk dibuat perahu layar, yang akan dijadikan jasa angkutan, dengan kapasitas mencapai 140 ton.  Namun karena misi utamanya adalah ingin mendirikan lembaga pendidikan sehingga ia merasa tempat ini tidak cocok baginya. Akhirnya berangkat mencari lokasi lain. Sekitar tahun 1970, Lanre Said kembali melanjutkan perjalanannya ke sebuah pulau yaitu Sumbawa dan Lombok, bahkan sempat ke Nusa Tenggara Timur tepatnya di Flores. Dalam perjalanannya, misi utamanya tetap mencari tempat untuk mendirikan lembaga pendidikan. Tetapi apa yang didapatkan di daerah ini ternyata lebih parah dari sebelumnya. Jika di daerah Kalimantan para masyarakatnya bersikap masa bodoh terhadap pendidikan, di daerah Sumbawa, Lombok, dan sekitarnya Lanre Said tidak diberikan kesempatan untuk mengajar dan berdakwah. Selama  beberapa bulan disana, hanya diperkenankan naik mimbar sekitar dua kali saja. Bahkan, masalah klasik timbul lagi di daerah ini yang  lebih dahsyat dari sebelumnya. Disini Lanre Said sudah dikepung akan dihabisi massa dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Dia dan beberapa pendamping setianya dikepung dalam mesjid. Namun seperti biasa, ada saja beberapa orang bepengaruh yang diutus oleh Allah untuk membelanya. Karena pembelanya ini tergolong jawara dan sangat berpengaruh maka para massa ini pun ciut nyalinya dan akhirnya bubar.[14]

Tidak berapa lama di Sumbawa,  akhirnya Lanre Said kembali melanjutkan perjalanannya. Kali ini beliau mencoba ke pulau Jawa, Surabaya, di tempat para saudaranya yang lebih dulu telah merantau dan bermukim di kota pahlawan ini. Berada di Surabaya jauh lebih nyaman dibanding beberapa tempat dan kampung halaman yang disinggahinya selama dalam perantauan. Disini ia diberi kesempatan dan keleluasan untuk mengajar dan berdakwah di beberapa mesjid. Hal ini dapat dimengerti karena mayoritas penduduk di daerah tempat tinggalnya adalah masyarakat pendatang juga atau heterogen dan memiliki sumberdaya manusia yang lebih tinggi dari pada territorial dakwah sebelumnya. Lanre Said juga mengoptimalkan waktunya dan kesempatannya untuk tetap mencari tempat yang sesuai dalam mendirikan lembaga pendidikan yang selama ini diidam-idamkannya. Dia pun melakukan kroscek dari satu daerah ke daerah lain sampai ke Jawa Barat tepatnya di daerah Cirebon. Namun, hasilnya nihil alias tidak menggembirakan. Ini berlanjut sampai tahun 1973, Lanre Said pernah kembali ke Tuju-Tuju. Namun itu tidak berlangsung lama, sekadar mengantar keluarga dari istri keduanya yaitu Andi Nurhasanah Petta Cinnong ke Tuju-Tuju dan dua bulan kemudian kembali ke Surabaya hingga awal tahun 1975. Antara tahun 1973 dan 1975 tersebut, Lanre Said sudah merasa menemukan tempat yang tepat untuk mendirikan lembaga pendidikan yang selama ini menjadi obsesi dan cita-cita mulianya, yaitu kampung asal atau halamannya sendiri di Tuju-Tuju. Pada tahun-tahun ini jugalah dia telah menanamkan pengetahuan dan jiwa sosial yang tinggi kepada kedua istrinya yaitu Andi Nuhasanah Petta Cinnong dan Andi Banunah Petta Paccing (istri ke empat) yang saat itu masih bermukim di Surabaya. Karena kelak jika telah mendirikan pondok maka harus betul-betul ikhlas memelihara dan mendidik para santri. Di samping itu, Lanre Said sudah beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pihak keluarganya dan menyatakan keinginannya pulang ke kampung halaman dengan sebuah tujuan mulia yaitu mendirikan lembaga pendidikan. Mereka pun setuju dan mendukung sepenuhnya. Namun, ketika Lanre Said memaparkan mekanisme dan teknis dalam menjalankan lembaga pendidikan terutama tekadnya untuk tidak mengambil bayaran dari para santrinya, banyak dari pihak keluarganya keberatan dan protes. Bahkan tidak yakin kalau lembaga pendidikan itu kelak akan bertahan lama. Namun Lanre Said memberikan pengertian dan hanya minta kepada seluruh pihak keluarga yang ada di pulau Jawa dan memiliki harta benda di kampung seperti sawah, ladang, dan hasil kebun agar dapat dimanfaatkan oleh para santri. Ternyata mereka menerima permintaan Lanre Said dengan baik. Karena memang selama ini hasil sawah dan kebun tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal.[15]
 
Akhirnya pada awal 1975, Lanre Said dan seluruh keluarganya yang masih tersisa di Surabaya kembali ke Tuju-Tuju dan pada tahun itu juga tepatnya pada Jam 07.00, tanggal 7 Agustus 1975 yang bertempat di Tuju-Tuju dengan tujuh santri, sebuah lembaga pendidikan lahir dengan nama Majelisul Qurra’ wal Huffaz. Dan mimpi itu pun terwujud menjadi sebuah kenyataan. Pada dasarnya Lanre Said selama merantau sudah berkali-kali mendirikan serta mengajar di lembaga pendidikan. Bahkan, waktu yang dihabiskan dalam perantauan sekitar sepuluh atau duabelas tahun, antara 1965- 1975. Namun, selama itu tidak satupun lembaga pendidikan binaannya dalam perantauan yang dapat eksis sebagaimana di Tuju-Tuju ini.[16]
 
Ilham kadir, pernah berguru pada Guruta H. Lanre Said selama sembilan tahun.

[1] Ilham Kadir Palimai,Jejak Dakwah KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi, (Cet. I; Jogjakarta: Aynat Publishing, 2010), h. 49.
[2] Ibid., h. 50.
[3] Ibid., h. 50.
[4] Rohadi Abdul Falah, dkk. Rekonstruksi Pessantren Masa Depan, dari Tradisonal, Modern, hingga Post Modern, (Cet. I; Jakarta: Listafariska, 2008), h. 62.
[5] Ilham Kadir, Op., Cit., h. 51.
[6] Anhar Gonggong, Abdul Qahhar Muzakkar, dari Patriot hingga Pemberontak, (Cet. I; Jakarta: Ombak, 2004), h. 212.
[7] Palimai, Op., Cit., h.52.
[8] Ibid., h. 53.
[9] Ibid., h. 54.
[10] Ibid., h. 55.
[11] Ibid., h. 56.
[12] Ibid., h. 57.
[13] Ibid., h. 58.
[14] Ibid., h. 59.
[15] Ibid., h. 60.
[16] Ibid., h. 70.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi