Posts

Showing posts from May, 2013

Pendidikan Adab KH. Hasyim Asy’ari

Image
Tidak banyak yang mengetahui jika KH. Hasyim Asy’ari adalah seorang tokoh pendidikan yang sangat komplit. Kebanyakan masyarakat Indonesia, baik warga Nahdatul Ulama (NU) lebih-lebih di luar NU hanya tau jika KH. Hasyim Asy’ari hanyalah seorang   ulama sekaligus aktivis. Pendiri NU ini adalah sosok pendidik yang sumbangsihnya dalam dunia pendidikan tidak bisa disepelekan. Di tengah kurang berhasilnya –untuk tidak mengatakan gagal—sistem pendidikan di Indonesia, ada baiknya jika para pengambil kebijakan di negeri ini untuk kembali mengkaji dan menelaah pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari. Pendidikan yang ditawarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah pendidikan yang berbasis karakter yang sedang digembar-gemborkan oleh Menteri Pendidikan saat ini untuk dijadikan sebagai acuan dalam pembentukan karakter peserta didik. Itu artinya pemikiran pendidikan pengasas organisasi Islam terbesar di dunia ini telah melampaui zamnnya.Pokok-pokok pemikiran pendidikan KH. Hasyi

Anregurutta H. Lanre Said; Teladan Pendidikan Karakter

Image
Anregurutta H. Lanre Said, salah seorang ulama lokal yang bisa menjadi teladan dalam pendidikan karakter yang berbasis agama. Lanre Said dilahirkan pada 1923 M. Tidak diketahui pasti hari, tanggal, dan bulannya, di sebuah kampung bernama Ulunipa atau Manera, Salomekko, Kabupaten Bone. Dia adalah anak kedua dari tujuh bersaudara, dari pasangan Andi Passennuni Petta Ngatta dengan Andi Marhana Petta Uga. Nama kecilnya adalah Andi Muhammad Said, namun setelah masuk di Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI), Sengkang, namanya dirubah oleh KH Muhammad As’ad menjadi Lanre Said. [1]   Lanre Said tumbuh dan berkembang di bawah asuhan dan didikan ayahnya. Setelah berumur sepuluh tahun, ia dikirim belajar ke MAI Sengkang pada tingkat Ibtidaiyah untuk manyusul kakaknya Petta Haji Lesang yang telah belajar disana di bawah asuhan langsung oleh KH  Muhammad As’ad, berasal dari keluarga yang taat dalam agama dan peduli terhadap pendidikan terutama ilmu-ilmu agama. Ini terbukti dari tujuh bersaudar

Islamisasi Epistemologi Ala Fuad Rumi

Image
Program pascasajana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, memasukkan mata kuliah Filsafat Ilmu sebagai salah satu mata kuliah wajib. Sebagaimana umumnya program strata dua, setiap mata kuliah diajar oleh dua dosen pengampu, lazimnya satu di antara kedua dosen tersebut sudah bergelar ‘guru besar’ alias profesor.   Menjelang kuliah materi filsafat ilmu dimulai, ketua kelas yang terpilih secara aklamasi maju ke depan untuk memberi arahan kepada kami, “Kita akan belajar filsafat ilmu, dan memiliki dua dosen yang berbeda. Delapan pertemuan awal kita akan diajar oleh seorang guru besar dalam filsafat, dan sisanya oleh Dr. Ir. Fuad Rumi.”  Kalau guru besar yang masuk mengajar–lanjut ketua kelas—jangan terlalu sering menghubungkan antara filsafat dengan agama apalagi ayat-ayat Alquran, tapi sebaliknya jika Ir. Fuad Rumi mengajar, segala pendapat harus selalu bersandar dan berdasarkan dengan nilai-nilai wahyu ilahi yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.” Tegas ketua kelas .