Islam Sebagai Asas Gerakan Umat

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (Q.s. Ali Imran ayat 85)

Ayat 85 surah Ali Imran ini berkaitan dengan rangkaian ayat sebelumnya, yaitu Maka Apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, Padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. Katakanlah:
"Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan Para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah Kami menyerahkan diri." (Q.s. Ali Imran: 83-84). Imam Ibnu Katsir menulis, “Dengan ayat-ayat ini, Allah telah mengingkari siapapun yang menginginkan aturan hidup selain agama Allah yang Ia tuangkan di dalam kitab-kitab-Nya, dan untuk itu Ia telah mengutus para rasul-Nya, yaitu penyembahan yang murni kepada Allah dan tiada sekutu baginya” (Tafsir Ibnu Katsir, vol.1/hal. 520).

Asas adalah pondasi, pijakan, pokok tempat bertolak, ruh dan nafas dalam aktivitas kehidupan. Bagi kaum Muslimin, Islam adalah asas kehidupan, ruh dan napas perjuangan, pokok pijak dalam melakukan segala tindak dan perbuatan. Islam adalah ad-dien, sistem dan aturan hidup, yang mengatur kaum Muslimin, dari bangun tidur sampai terlelap kembali, dari lahir hingga menghadap Sang Khalik. Kualitas ad-dien itu pula yang akan menentukan selamat atau tidaknya seorang manusia di hari pembalasan kelak. Allah berfirman,
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Qs. Al-Syu’ara: 88-89).

Imam Ibnu Katsir menulis dalam tafsirnya (vol.1, hal. 520-521),
“Siapa yang menempuh jalan selain apa yang Allah syariatkan, maka perbuatan itu tidak akan diterima oleh-Nya, dan di akhirat ia tergolong orang yang merugi. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw dalam hadis shahih, ‘Siapa yang mengerjakan sesuatu amal yang tidak sesuai perintah Kami maka ia tertolak’ (Hr. Bukhari-Muslim).”

Umat Islam wajib bersyukur kepada Allah swt yang telah menghadiahkan seperangkat manhaj kehidupan yang dapat membimbing dan telah terbukti sukses mengantarkan muslim kepada kebahagiaan. Bandingkan dengan kondisi umat manusia di Barat. Sayyid Quthb, aktifis dan ideolog Islam terkemuka, ketika menafsirkan ayat 85 Ali Imran, melukiskan pengalaman Barat sebagai berikut. “Orang yang mengunjungi negeri-negeri Barat yang makmur memiliki kesan bahwa bangsa-bangsa kaya itu sedang mencari pelarian dari masalahnya. Sikap eskapis itu menyingkap beragam penyakit saraf, psikis, alienasi, depresi, deviasi seksual, gila, miras, narkoba dan berbagai kriminal akibat kekosongan nilai dalam kehidupan mereka. Mereka tidak menemukan jatidirinya, karena tidak temukan tujuan hakiki eksistensinya. Mereka tidak bahagia, karena tidak temukan manhaj ilahi yang dapat mensinergikan gerakan mereka dengan gerak alam semesta. Mereka tidak tenang, karena tidak mengenal Allah ta’ala.” (lihat
Fi Zhilal Al-Qur’an, vol.1, hal.422)

Kewajiban muslim saat ini adalah menemukan kembali hakikat Islam yang telah lama padam, atau dipadamkan oleh musuh-musuhnya. Sayyid Quthb menulis, “Bukan Islam kalau sekedar berucap dua syahadat, tanpa mengikuti makna dan hakikat ‘La Ilaha Illa Allah’, yaitu
tauhid uluhiyah, tauhid al-qawamah (berdaulat atas hamba-Nya), tauhid ubudiyah dan tauhid ittijah (orientasi hidup), dan tanpa mengikuti makna dan hakikat syahadat kerasulan, yaitu keterikatan dengan manhaj yang ia bawa dari Allah ta’ala untuk kehidupan, mengikuti syariat-Nya, dan berhukum kepada Kitabullah yang ia bawa untuk hamba-hamba Allah… Islam bukanlah sekadar ritual, ilham, kesucian akhlak, petunjuk ruhani, tanpa mengikuti manhaj kehidupan yang tersambungkan dengan Allah yang menjadi acuan peribadatan, pancaran ruhani dan akhlak.”

Lebih jauh, Quthb menjelaskan mengapa hakikat Islam itu dipinggirkan dan apa konsekuensinya, “Semua ini tidak ada artinya, dan tidak akan membekas dalam kehidupan manusia, selama nilai-nilai dan syariat Islam tidak tegak di dalam sistem sosial yang mengatur ketertiban dan pembangunan manusia.. Itulah Islam yang dikehendaki oleh Allah, bukan Islam yang diinginkan oleh hawa nafsu manusia atau yang digambarkan oleh musuh-musuh Islam dan antek-antek mereka. Mereka yang menolak Islam sesuai visi Ilahi, karena tak cocok dengan selera nafsunya, maka mereka kelak di akhirat termasuk golongan yang merugi dan tidak mendapat petunjuk Allah, serta tidak akan selamat dari siksa-Nya.” (lihat Fi Zhilal Al-Qur’an, vol. 1/hal. 423-424).


Sudah maklum, Islam mengatur umatnya dalam berorganisasi, berpolitik, bermuamalah, dan sebagainya. Karenanya, jika asas yang pokok ini menggunakan aturan lain selain Islam, lantas bagaimana dengan keyakinan kita, bahwa Islam adalah sistem hidup yang syamil (menyeluruh) dan mutakamil (paripurna)? Dalam suatu hadis dinyatakan lugas bahwa umat Islam mungkin saja telah berhasil melaksanakan amal saleh seperti shalat, puasa, sedekah, dan lain-lain, tapi belum tentu sukses menegakkan sistem Islam. Padahal tegaknya system Islam adalah patokan diterima tidaknya seluruh amal kita secara kolektif.


Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Pada hari kiamat akan datang semua amal, yang pertama datang shalat, ia berkata Ya Rabb aku adalah shalat, Allah berkata, engkau baik-baik saja. Kemudian datang sedekah, Ya Rabb aku adalah sedekah, Allah berkata, engkau baik-baik saja. Kemudian datang puasa, Ya Rabb aku adalah puasa, Allah berkata, engkau baik-baik saja. Demikian lah semua amal, Allah berkata engkau baik-baik saja. Kemudian datang Islam, Ya Rabb Engkau adalah Assalam dan aku adalah Islam, maka Allah berkata, pada hari ini dengan kamu lah Aku memberi siksa dan dengan kamu pula Aku akan memberi nikmat. Itulah firman Allah ta’ala, Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi. (Q.s. Ali Imran: 85) (Hr. Ahmad dalam Al-Musnad vol.2/362, Al-Haytsami dalam Majma’ Al-Zawaid vol.10/348 menyebutkan hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la, dan At-Thabrani dalam
Mu’jam Al-Awsath)

Beberapa Keberatan


Seiring dengan polemik pembahasan RUU Ormas di DPR, beberapa ormas Islam menyatakan keberatan dengan poin-poin berikut.


Pertama,
RUU itu memaksa setiap ormas menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi, barulah setelah itu boleh mencantumkan asas lain yang tidak bertentangan dengan Pancasila. Hal ini tercantum dalam pasal 2. Isi pasal ini amat mengherankan karena sejak era reformasi pemaksaan setiap ormas untuk mencantumkan Pancasila sebagai asas yang ditetapkan oleh TAP MPR no. II/1978 telah dibatalkan oleh TAP MPR no. XVIII/1998, karena terbukti telah memunculkan kekerasan oleh negara terhadap rakyat dan berbagai macam ormas. Dengan aturan ini pula maka ormas sesat seperti Ahmadiyah tetap boleh berdiri selama mereka mengakui Pancasila sebagai asas kelompoknya. Sebaliknya bila ada ormas yang ingin membubarkan Ahmadiyah justru akan ditindak dan bisa dibubarkan karena telah bertentangan dengan prinsip RUU ORMAS, yakni demokrasi Pancasila.

Kedua,
RUU ini melarang semua organisasi massa termasuk ormas Islam berkiprah dalam bidang politik. Dalam pasal 7 dicantumkan pembatasan kegiatan ormas yakni tidak boleh beraktifitas politik. Terkesan RUU ini berusaha menghilangkan sikap kritis masyarakat yang tergabung dalam ormas. Sehingga ormas tidak boleh mengkritisi kebijakan pemerintah yang bobrok dan merugikan rakyat seperti penjualan sumber daya alam ke pihak asing, korupsi, penaikan harga BBM dan tarif dasar listrik, dll baik secara tulisan maupun melalui aksi-aksi demo.

Ketiga,
sifat represif dari RUU ini juga terlihat dari keharusan adanya SKT atau Surat Kegiatan Terdaftar bagi setiap kegiatan yang akan dilakukan oleh ormas yang tidak berbadan hukum. Tanpa SKT maka kegiatan itu menjadi terlarang. Sehingga aktifitas apapun, dan betapa pun sedikit jumlah pesertanya seperti majlis zikir, majlis taklim, kajian Islam, atau bahkan kumpul paguyuban dan kelompok hobi harus memiliki SKT. Tanpanya maka kegiatan itu sah untuk dibubarkan atau tidak diizinkan.

Sebagai bentuk amar makruf nahi munkar, kita wajib mengingatkan para pihak yang menyusun dan menggodok RUU ORMAS agar menghentikan pembahasannya. Semoga kita tidak tergolong orang yang tertipu, menganggap sesuatu baik ternyata berdampak buruk di kemudian hari.
“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(QS. al-Kahfi: 103-104). Wallahu a’lam.
 
H. Fahmi Salim, MA., Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat; Pengurus MIUMI; dan Master Tafsir dan Studi Al-Quran Universitas Al-Azhar Mesir.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi