Muhasabah Untuk Perubahan

Makassar, 22/3/2013. Lembaga Dakwah Ar-Rahman kembali melakukan kajian rutin bulanan. Kali ini bertempat di Ballroom Maraja Hotel Sahid Makassar, acara berlangsung selama satu jam, dimulai pukul 20.30 hingga 21.30.  Tema kajian kali ini adalah “Muhasabah Untuk Perubahan” yang diisi langsung oleh pendiri dan pimpinan pusat Ar-Raham, Ustad Bachtiar Nasir, Lc. MM. Ar-Rahman adalah lembaga dakwah yang berpusat di Jakarta, dan telah memulai kegiatan dakwahnya sejak tiga tahun lalu, dan mendapat sambutan dengan baik dan meriah dari segenap masyarakat muslim Indonesia. Kini, lembaga dakwah yang mengutamakan tema-tema ‘tadabbur Alquran’ ini telah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia, selain di Jakarta, Ar-Raham juga telah mengakar di Denpasar Bali, Surabaya Jatim, Makassar Susel, dan beberapa kota lainnya.

Di Makassar, komunitas dakwah lintas generasi dan latar belakang ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Setahun lalu, dakwah hanya bermula dan berfokus pada komunitas mahasiswa dari  kampus-kampus yang tersebar di Makassar. Namun kini, Ar-Rahman telah merambah ke lintas kalangan, terutama kaum terdidik dan kelas menengah atas. Mulai dari cendekiawan, akademisi, politisi, hingga pengusaha, dari kaum Hawa dan Adam yang ada di kota Angin Mamiri.

Ar-Rahman beda dengan lembaga dakwah lainnya, salah satu ciri khasnya adalah, adanya segmen-segmen dakwah pagi para audience-nya. Untuk pengurus Ar-Rahman misalnya, mereka rutin melakukan kajian sekali sepekan yang diisi oleh pimpinan Ar-Rahman setempat, yaitu Ust. Kamaluddin Marsusu, S.Pd.I, kajian ini bertujuan untuk menggembleng para kader yang akan menjadi tulang punggung penyebaran dakwah pada masa-masa yang akan datang. Mereka adalah para mahasiswa dari lintas kampus dan berbeda latar belakang jurusan. Kini hasilnya sudah terlihat.

Adapun untuk kalangan umum, dakwah diadakan hanya sekali sebulan dan bersifat relguler (terjadwal) yang dipusatkan di Masjid Raya Makassar pada tiap bulannya berbentuk tabligh akbar. Acara ini diisi langsung oleh Ust. Bachtiar Nasir dan kerap juga mendatangkan ulama-ulama atau cendekiawan lokal yang dianggap memiliki visi dan misi dakwah yang sama.

Selain itu, Ar-Rahman juga menyediakan komunitas dakwah khusus bagi para eksekutif. Segmen ini biasanya diisi oleh kalangan yang memiliki mobilitas tinggi, dari para pejabat, pengusaha, politisi, hingga orang-orang berpengaruh dari ranah politik dan ekonomi atau dalam menentukan kebijakan-kebijakan penting. Dakwah ini diadakan di tempat-tempat khusus (special place), seperti restoran dan hotel. Komunitas dakwah ini disebut “Arrahman Khalifah Club”. Kajian inilah yang berlangsung pada Jumat malam sabtu dini hari (22/3/13). Terlihat hadirin begitu antusias menghadiri kajian bulanan ini, ballroom yang begitu luas tak memadai sehingga pihak hotel terpaksa menambah kursi cadangan.

Dalam kajian kali ini, Pimpinan Ar-Rahman yang sekaligus sebagai Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), membawa tema “Muhasabah Untuk Perubahan”, ustad yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah ini memulai kajiannya dengan membacakan ayat Alquran, Surah Az-Zumar ayat ke-30.

Sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’, niscaya mereka menjawab, ‘Allah’. Katakanlah, ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaKu, Apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaKu, Apakah mereka dapat menahan rahmatNya? Katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku’. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. 

Ayat yang mengandung pertanyaan, ‘siapakah yang menciptakan langit [wahai Muhammad]?’ dan niscaya mereka [orang-orang kafir itu] menjawab ‘Allah’. Ini bermakna para kaum kafir  mengetahui eksistensi Allah namun sekaligus mengingkari perintah-Nya. Jika ayat di atas –lanjut Ustad Bachtiar—ditujukan kepada kita semua, niscaya kita dapat bertanya: Mengapa kita selalu mengingkari keberadaan Allah dalam hidup yang serba pragmatis ini. Dengan mudah kita saksikan dan mungkin menikmati hal-hal yang sudah pasti haram namun dihalalkan, atau yang jelas dan terang kehalalannya, namun diharamkan, atau mencampur adukkan antara kebatilan dan kebenaran. Ini semua merupakan ciri-ciri manusia yang membangkan atas  hukum dan ketatapan Allah, dan jika berlanjut terus-menerus bisa-bisa terjerumus pada kekafiran. Di sinilah pentingnya, kata ustad berdarah Bugis seratus persen ini, untuk melakukan perubahan pada diri sendiri dengan kembali bermuhasabah demi perubahan yang lebih baik, dan itu harus dimulai dalam diri sendiri.
Perubahan dapat dimulai dari diri sendiri melalui segenap komponen yang berada pada tubuh, dalam hal ini, Ustad Bachtiar menekankan pentingnya mengoptimalkan otak dan jantung sebagai instrumen terpenting dalam tubuh kita untuk memulai perubahan. Untuk itulah, dalam kanjian ini, ditampilkan beberapa cerita dari petikan-petikan film yang mendukung maksud dan tujuan dakwah. Salah satunya adalah, cerita seorang pengemis yang duduk di samping jalan dengan membawa kertas karton bertuliskan “I’m blind, please help me”, dengan kata-kata itu sang pengemis bermaksud mendapatkan uang recehan dari para pejalan kaki yang lalu-lalang di depannya, dan terbukti ada beberapa yang memberikan uang receh satu atau dua koin. Namun tak lama kemudian, muncullah seorang wanita berparas cantik dengan tubuh jangkung, yang tau dan mengerti menggunakan kata-kata lewat tulisan untuk sebuh perubahan, wanita itu benar-benar paham kekuatan ‘kata’. Ia lalu membalik karton yang menjadi sign board dan penyambung lidah si buta, dibalik lalu diganti tulisannya dengan kata-kata yang lebih menyentuh dan menggugah, “It’s a beutuful day, but I can’t see it...” tak terduga para pejalan kaki yang lalu-lalang tergugah dan memberi uang recehan dengan jumlah yang banyak, syahdan, sang pengemis surplus koin recehan dalam masa yang singkat. Jadi, perubahan dapat terjadi dalam  waktu singkat dari hal-hal yang sederhana.

Dalam konteks tema kajian di atas, muhasabah untuk perubahan, maka jika ingin berubah ke arah yang lebih baik, maka hal yang terpenting adalah memperbaiki hubungan dengan Allah. Jika hubungan kita dengan Allah baik, maka dengan pasti Allah akan melakukan hal yang baik kepada kita. Makin baik hubungan kita kepada Allah, makin baik pula Allah berhubungan dengan kita. Orang yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya, niscaya Allah juga akan lebih dekat pada hamba-Nya. Dan harus dipahami jika cinta Allah  kepada hamba-Nya (mahabbatullah ila ‘abdihi) terpatri karena usaha hamba yang selalu melakukan taqarrub, pada akhirnya Allah akan memberikan apa saja yang diminta oleh sang hamba.

Di antara cara untuk merawat taqarrub ilallah menurut pengasuh kolom konsultasi agama harian nasional Republika ini adalah, harus selalu merawat iman dengan melakukan amal saleh baik yang sunnah apalagi yang wajib kerena dengan ta’at beribadah maka iman kita akan meningkat, namun sebaliknya, jika seorang hamba melakukan maksiat, maka dengan itu iman akan berkurang, kalau tidak diatasi secepat kilat, akan bersifat fatal, terjerumus pada kubang kekufuran.

Dan terpenting, dalam beribadah harus tau rumusnya, yaitu: segala bentuk muamalat lakukan saja selagi tidak ada larangan, jadi dalam konteks ini seorang hamba hanya diwajibkan untuk mengenal dan menghafal hal-hal yang haram saja. Ada pun masalah ibadah (ritual wajib), maka seorang hamba harus berdasarkan perintah, jangan beribadah jika tidak ada perintah dan contoh dari rasulullah dan para salafus shaleh, apalagi beribadah sesuai kehendak akal seperti orang-orang liberal, yang hanya beribadah jika sesuai dengan selera dan akalnya, atau orang-orang sufi yang tersesat, yang beribadah sesuai dengan selera hatinya. Beribadah dengan berlebih-lebihan tanpa ada nash dari Alquran dan hadis, serta contoh dari para salafus shaleh tidak hanya sia-sia namun mendatangkan dosa. Ilham Kadir melaporkan dari Makassar.


    

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tragedi Wamena