Tablig Akbar dan Silaturrahmi ke Mui dan Bupati Enrekang


Sabtu, 9/6/2012, rombongan yang terdiri dari Ustadz H. Muh. Said Abd Shamad, Ustadz Mukhtar Daeng Lau, dan Ilham Kadir, serta satu anggota lainnya bertolak dari Makassar menuju Enrekang. Meninggalkan Makassar tepat pukul 19.00 di Masjid Sultan Alauddin Jalan Prof. Abd. Rahman Basalamah dan tiba di Enrekang pada jam 2.00, lalu menginap di Losmen Alia di Jalan Poros Enrekang Tator, Sudu, Duri Enrekang. 

Pada keesokan harinya, setelah sarapan perjalanan dilanjutkan ke Desa Baroko, yang berada kurang lebih 7 km dari daerah Sudu, desa ini berada di atas pegunungan. Dalam jangka 30 menit rombongan tiba di tempat dan langsung ke Masjid Al Muammar. 

Sebelum acara Tabglig Akbar dimulai kami terlebih dahulu membagi-bagikan foto kopian berisi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait ‘Masail Asasiah Wathanniyah’ dan juga kumpulan Fatwa MUI, Edaran Depag, dan Pandangan Ulama terkati masalah Syiah. 

Setelah para jamaah tiba di masjid. Protokol pun naik mimbar dan membuka acara,  lalu membacakan susunan acara yang beralngsung. Dimulai dengan bacaan ayat-ayat suci al Qur’an dari salah seorang jamaah dan dilanjutkan dengan ceramah dari Ust. Mukhtar Daeng Lau, sebagai orator pertama. Sang orator membicarakan pentingnya persatuan dan kesatuan. Menurut pembicara, awal dari sebuah musibah bagi umat ini adalah jika telah terjadi perpecahan, dan sulitnya persatuan. Perpecahan bisa berasal dari mana saja, mulai dari perbedaan pemahaman, persepsi tentang sesuatu, dan  lain sebagainya. Untuk itulah jika ingin kuat maka persatuan harus diutamakan, karena berada dalam kebenaran pun bisa saja rapuh jika terjadi perpecahan. Berada pada pihak batil bisa saja menang jika mereka solid dan bersatu. Pembiacara yang sudah malang-melintang berdakwah di daerah Enrekang ini, mengutip perkataan Sayidina Ali ra. “Al haq bila nizham yaglibuhul bathil bi an nizham, Kebenaran yang tidak terorganisir akan terkalahkan dengan kebatilah yang terorganisir”.

Selanjutnya protokol kembali naik mimbar dan mempersilahakan pembicara kedua, yaitu Ust. Said. Abd. Shamad. Orator kedua ini memulai pembicaraannya dengan membahas tentang makna rijal atau laki-laki dalam pengertian menurut al Qur’an. Bahwa ada beberapa laki-laki yang diistilahkan kitab suci, dan bisa saja seorang berjenis kelamin laki-laki, tapi tidak dianggap sebagai rijal dengan artian yang sesungguhnya. Di antara penjabaran makna laki-laki dalam al Qur’an adalah, mereka yang suka bersuci, karena Allah mencintai orang-orang yang bersuci, yuhibbuna an yathathahharu wallahu yuhibbul muththahhirin

Selain itu Pimpinan Lembaga Pengkajian dan penelitian Islam Kawasan Indonesia Bagian Timur ini, menerangkan tentang fatwa MUI “Masail Asasiah Wathaniyah” yang di dalamnya membahas Taswiyat Al Manhaj (Penyamaan Pola pikir Dalam Masalah-masalah Keagamaan). Yang mengandung beberapa poin pembahasan yang penting diketahui oleh para umat Islam. Di antara poin itu adalah: Perbedaan pedapat yang terjadi dikalangan umat Islam merupakan suatu yang wajar, sebagai konsekwensi dari pranata “ijtihad” yang memungkinkan terjadinya perbedaan; Sikap yang merasa hanya pendapatnya sendiri yang paling benar serta cenderung menyalahkan pendapat lain dan menolak dialog, merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip toleransi (al-tasamuh) dan sikap tersebut merupakan ananiyah (egoisme) dan fanatisme kelompok yang berpotenssi mengakibatkan saling permusuhan (al-adawah), pertentangan (at-tanazu’), dan perpecahan (al-insyiqaq); Dimungkinkannya perbedaan pendapat di kalangan umat Islam harus tidak diartikan sebagai kebebasan tanpa batas; Perbedaan yang dapat ditoleransi adalah perbedaan yang berada pada majal al-ikhtilaf (wilayah perbedaan). Sedangkan perbedaan yang berada pada di luar majal al-ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan melainkan penyimpangan. Seperti munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah jelas dan pasti; Dalam menyikapi masalah-masalah perbedaan yang masuk dalam majal al-ikhtilaf sebaiknya diupayakan dengan mencari titik temu untuk keluar dari perbedaan al-khuruj min al ikhtilaf dan semaksimal mungkin menemukan persamaan, dan Majal al-ikhtilaf adalah suatu wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana ‘alaihi wa ashhaby, yaitu paham keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah dalam pengertian yang luas. (Himpunan Fatwa MUI, 2010: 755-756)).

Selain itu pendiri Ormas Wahdah Islamiyah ini menerangkan tentang fatwa MUI terkait kesesatan dan penyimpangan ajaran Syiah yang harus selalu diwaspadai. Termasuk pemaparan pandangan ulama muktabar dari dulu hingga kini terkait kesesatan ajaran Syiah lalu memaparkan testimoni Ketua MUI Maros tentang maraknya penyebaran aliran Syiah lewat nikah mut’ah (kawin kontrak).

Selanjutnya pembicara terakhir adalah ketua KPPSI Kabupaten Enrekang yang menyoroti tentang pemilihan Kepala Daerah Tingkat Propinsi, menurutnya hal yang terpenting dalam memilih pemimpin adalah mencari figur yang dapat memuluskan cita-cita KPPSI pada masa yang akan datang.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan tanya-jawab kepada Ust. Said terkait ragam masalah keumatan. Dilanjutkan dengan menikmati hidangan aneka makanan yang telah disediakan oleh segenap jamaah. Acara selanjutnya adalah salat Zuhur berjamaah dilanjutkan dengan makan siang di rumah salah seorang jamaah, lalu rombongan berpamitan dan kembali ke Penginapan Alia untuk mengemas barang-barang lalu berangkat ke Kota Enrekang dan salat di Mesjid Agung Enrekang. Di masjid ini Ust. Said melakukan salat Asar dan memberi tausiah usai salat.

Selesai tausiah, rombongan beserta Ketua MUI Enrekang menuju ke rumah jabatan Bapak Bupati Enrekang Ir. H. La Tinro La Tunrung, untuk memaparkan beberapa masalah keumatan terutama bahaya Syiah. Di luar dugaan, Bapak Bupati sangat menyambut kami dengan antusias serta merespon pemaparan Ustadz Said terkait aliran Syiah yang sudah sangat meresahkan masyarakat umum. Bahkan Bapak Bupati siap bekerja sama  dengan MUI Enrekang dan LPPI untuk mengeluarkan satu keputusan resmi agar melarang serta tidak membiarkan pemahaman sesat ini dianut oleh masyarakat Enrekang. Dialog berlangsug secara hangat dan penuh keakraban semala satu jam.

Sambil menunggu waktu Magrib, begitu selesai berdialog dengan Bapak Bupati, rombongan menyempatkan diri bersilaturrahmi di Pesantren Modern Darul Falah Enrekang. Ustadz Said kembali bedialog dengan direktur pesantren, juga membahas beberapa masalah keumatan, terutama bahaya penyebaran Syiah di tengah-tengah para pelajar.

Begitu waktu azan Magrib berkumandang, rombongan langsung meluncur ke Masjid Muhammadiyah Enrekang, bakda salat, kembali Ustadz Said naik podium untuk memberikan tausiah. Karena masjid ini adalah mayoritas jamaahnya warga Muhammadiyah maka Ust. Said naik mimbar dengan Atas nama pengurus Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Dan salah satu bahasan utamanya dalam tausiah ini adalah sikap resmi PP Muhammadiyah terkait aliran Syiah. Bahwa secara kelembagaan Muhammadiah tidak sealiran dan berbeda paham dengan Syiah, oleh karena itu segenap warga Muhammadiyah secara khusus dan umat Islam secara umum agar menjauhi aliran yang harus diwaspadai ini, sebagaimana yang terkandung dalam fatwa MUI.

Selesai taushiah, tanya-jawab kembali dibuka, beragam masalah keumatan dipaparkan dari segenap jamaah lalu ditanggapi oleh Ust. Said.  Setelah segenap rangkaian acara selesai, rombongan pun kembali ke Makassar. Ilham kadir/LPPI.



Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi