MUHAMMMAD PEMIMPIN AGAMA & NEGARA DI MADINAH*



In the experience of the first Muslims,
as preserved and recorded for later generations,
religious truth and political power were indissolubly associated:
the first sanctified the second, the second sustained the first.”[1]
(Bernard Lewis)

Sejarah telah mencatat bahwa Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam (SAW) sebagai salah satu pemimpin spritual tersukses yang pernah terlahir di belahan bumi ini, lebih dari itu ia juga merupakan pemimpin tertinggi dalam sebuah negara bernama Madinah, sebuah oase di sebelah Utara Kota Makkah yang dulunya bernama Yastrib.

Muhammad SAW datang di kala dunia dipengaruhi oleh dua kuasa besar, Persia dan Romawi, kedua kuasa besar ini menghimpit dataran Semenanjung Arabia, yang dihuni oleh bangsa Arab yang silsilahnya diyakini bersambung langsung kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam (AS).

Ribuan tahun lamanya, para keturunan Nabi Ibrahim ini tetap berpegang teguh pada ajaran yang yang berlandaskan tauhid atau mengesakan Allah alias monoteis hinggalah salah seorang pembesar Quraisy Mekkah membawa ‘oleh-oleh’ dari Syam berupa sesembahan, dialah Amru bin Luhai, yang telah mendatangkan berhala bernama “Hubal” untuk disembah oleh penduduk Makkah agar kiranya bisa mendapatkan hujan di musim kemarau, membantu memenangkan dalam pertempuran. dan beragam manfaat lainnya, termasuk menyembuhkan siapa saja yang sakit. Penduduk Mekkah merespon dengan baik, mereka berduyun-duyun menyembah berhala itu, bahkan berhala-berhala itu kian bertambah, dari ragam jenis dan bentuk, termasuk yang terbuat dari bahan makanan.

Hal ini berkesinambungan, hinggalah datang seorang yang mengaku sebagai Nabi dan Rasul terakhir, dan mengajak  para penduduk Mekkah umumnya dan kaum Quraisy khusunya untuk kembali kepada agama yang dianut oleh Nabi Ibrahim AS. Orang yang mengklain dirinya sebagai nabi dan rasul itu bernama Muhammad, yang selama ini tidak pernah ada cacat dalam diri dan tingkah lakunya, ia adalah manusia yang sempurna, di tengah dekadensi moral penduduk Mekkah, lebih dari itu, dia telah mendapatkan gelar “al Amin” atau yang terpercaya di tengah maraknya budaya khianat.
Makalah ini akan menguraikan tentang, bagaimana keadaan dunia saat Nabi Muhammad diutus?; Siapa dan bagaimana latar belakang sang Nabi?; Apakah esensi hijrah itu?; Serta bagaimanakah pola kepemimpinan Nabi di Madinah?

Dunia Pra Muhammad

Berbicara mengenai diri dan peran Muhammad sebagai pembawa risalah di muka bumi ini, maka kita tidak bisa melepaskan diskursus tentang kebiasaan atau adat istiadat para penghuni Semenanjung Arabia dan sekitarnya, juga letak bumi Arab dalam peta dunia, karena tentu saja Allah punya alasan mengapa Dia mengutus nabi-Nya di negeri yang tandus ini. Tentu saja, letak geografis akan sangat mendukung pengembangan suatu misi dan memperluas pengaruhnya.

Selain itu, hal yang tak kalah pentingnya untuk diketahui adalah keadaan penghuni bumi yang mengepung Semenanjung Arabia seperti Bangsa Persia, Romawi, Yunani, dan India. Bangsa-bangsa tersebut merupakan bangsa tertua di dunia yang mengelilingi bumi Arabia. Kelakuan bangsa-bangsa tersebut harus juga diketahui agar dapat membandingkan dengan keadaan pada masa-masa mendatang setelah Muhammad mengembangkan ajarannya.

Sebelum kedatangan Muhammad, dunia saat itu dikuasai, dijajah, atau dipengaruhi oleh dua kuasa besar “super powor”  yaitu Romawi dan Persia. Selain dari dua kuasa besar tersebut ada juga bangsa lain yang merupakan bangsa tertua juga memiliki kekuasaan tersendiri yaitu Yunani dan India. Tentu saja kedua negara yang terakhir kita sebut adalah jauh lebih lemah di banding Romawi dan Persia.

Saat itu, Persia menjadi medan tumbuhnya pelbagai aliran keagamaan, yang senantiasa bersengketa antara satu dengan yang lainnya tanpa kesudahan. Kepercayaan Zoroastrianisme memegang posisi tertinggi, dan menjadi agama resmi penguasa Persia. Zarathustra hidup sekitar seribu tahun sebelum kristus, ia berasal dari Iran Utara, atau Utara Afganistan, tidak ada yang tahu pasti asal muasalnya, namun yang pasti dia tak pernah mengklain dirinya sebagai seorang nabi atau penyalur energi ilahi; apalagi tuhan atau dewa. Dia hanya menganggap dirinya seorang filsuf dan pencari kebenararan, namun pengikutnya menganggapnya seorang suci.

 Penyelewengan pengikutnya tidak hanya sampai di situ, namun ‘berkembang’; di antara ajarannya adalah bahwa seorang seseorang lelaki itu digalakkan menikahi ibu kandungnya jika si bapak telah meninggal, atau anak perempuannya sendiri atau pun saudara perempuannya sendiri, agar harta kekayaannya itu tidak akan lepas ke tangan orang lain.

Seoarang pemimpin Persia bernama Yazdadil Atsani yang memerintah pertengahan abad ke-5 M. telah memperistrikan anak perempuannya sendiri. Selain itu adalagi agama “Mazdak” yang di antara ajarannya adalah semua wanita halal bagi laki-laki sekali pun mereka adalah istri orang lain, saudara kandung, dan ibu yang melahirkannya, begitu pula semua harta di dunia ini adalah milik bersama dan halal untuk digunakan oleh siapa pun.[2]

Di belahan dunia lain, terdapat Bangsa Romawi. Bangsa yang suka menindas dan menjajah bangsa lain. Dan dengan itulah mereka mendewa-dewakan kekuasaan. Di lain pihak, juga terjadi sengketa agama, antara penganut Kristen Romawi dan penganut Kristen Mesir.

Bangsa ini sangat tergantung oleh kekuatan tentaranya untuk mencaplok bangsa-bangsa lain. Dan dengan itu pula mereka bebas menyebarkan agama Kristen dengan paksa. Diperparah lagi dengan kecendrungan para petinggi dan kaisarnya hidup bermewah-mewah di bawa penderitaan rakyatnya. Pajak menjadi pendapatan negara dengan harga yang melangit.[3]

Ada pun Bangsa Yunani, mereka dikenal sebagai bangsa pemikir, penyair,dan penulis, mereka adalah kaum intelak. Maka lahirlah ilmuan-ilmuan handal yang hingga saat ini namanya masih abadi, tersebutlah, Socrates, Plato, Aristotels, dll. Namun ironis, di antara mereka larut dalam perdebatan tentang alam metafisika, mereka bingung, dan melahirkan kebingungan tentang ketuhanan.

Belahan bumi lainnya, beranjak ke Asia Tengah, tepatnya di India. Mereka sangat terperosok dalam kenistaan karena terpengaruh oleh Bangsa Persia. Diperkirakan puncak kehancuran moral bangsa India adalah pada abad ke-6 M. Menjelang Muhammad diutus di muka bumi ini.

Setali tiga uang dengan bumi Arabia, terjadi penyelewengan dari ajaran Nabi Ibrahim yang mentauhidkan Allah menjadi penyembah berhala-berhala –dari  penganut monotheis menjadi paganisme. Sejarah telah mencatat bahwa orang yang bertanggungjawab membawa ajaran paganisme dan merusak ajaran Nabi Ibrahim adalah Amru bin Luhai bin Kuma’ah, kakek dari dari klan Khuza’ah yang merupakan klan paling terknal di Arab saat itu.

Pada mulanya Amru bin Luhai berangkat ke Syam dan masuk ke Maak sebuah perkampungan yang di duduki kaum Amlik yang silsilahnya bersambung kepada Nabi Nuh AS. Amru bin Luhai bertanya kepada kaum tersebut, “apa yang menyebabkan kalian menyembah berhala-berhala itu?”. Mereka menjawab, “dengan menyembah berhala, ketika musim kemarau tiba hujan pun turun; jika terjadi perang kami menyembah berhala dan dengan itu kami pun menang!”. Dengan itu Amru pun tertarik untuk mendatangkan salah satu berhala itu ke Makkah yang sedang terjadi musim kemarau dan kerap dilanda perang saudara. Dan ia pun mengangkut “Hubal” sebagai berhala perdana ke Mekkah. Bermulahlah era baru kegelapan dalam beragama; Jahiliyah.

Sebagai kota bisnis ‘jasa’ agama, Mekkah memang memiliki pesona dari dulu hingga kini. Dari dulu para turis “peziarah” datang ke Ka’bah untuk melakukan tawaf berkeliling menurut pemahaman jahiliyah, mereka melakukannya dengan keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun menutup tubuhnya. Bergiliran, lelaki di siang hari dan wanita di malam hari. Hal itu mereka lakukan karena ketika melakukan dosa mereka berpakaian, dan menganggap pakaian mereka terlibat dalam dosa. Dan jika sedang mencuci dosa, ia tidak butuh pakaian itu; logika terbalik?

Ibadah haji, seperti tawaf, umrah, wukuf di Arafah, dan berkurban di Mina semua itu mereka lakukan sejak sebelum diutusnya Nabi, tetapi dengan rukun dan syarat yang jungkir balik. Dulu bangsa Quraisy dan Kinanah ketika musim haji, mereka juga mengucapkan talbiyah dengan mengatakan, “tiada sekutu bagi Tuhan” kemudian menambahkan lagi kalimat seperti ini, “kecuali sekutu yang Engkau sendiri pilih yang Engaku milikinya, tetapi dia tidak mempunyai milik”. Itulah di antara sekelumit khurafat yang terjadi seblum diutusnya Muhammad di tengah mereka.

Sekilas Tentang Muhammad

Muhammad lahir sekitar 570 M.[4] Tanggal yang tepat tidak diketahui karena tak seorang pun yang memberi banyak perhatian kepadanya pada saat itu. Ayahnya adalah seorang miskin yang meninggal ketika ia masih dalam kandungan, meninggalkan ibunya dalam keadaan hampir miskin. Di saat Muhammad berumur enam tahun ibunya pun menyusul sang ayah, meninggal. Meskipun merupakan anggota Quraisy, suku yang paling kuat di Makkah, Muhammad tidak memiliki status di sana karena beliau tergolong salah satu klan yang miskin, Bani (“marga” atau “keluarga”) Hasyim. Kita dapat merasakan bahwa bocah kecil ini tumbuh dengan perasaan cukup peka tentang statusnya yang tidak meyakinkan sebagai anak yatim piatu. Akan tetapi, dia tidak diterlantarkan; kerabat dekatnya mengasuhnya. Dia tinggal bersama kakeknya sampai orang tua itu meninggal lalu kemudian bersama pamamnya Abu Thalib yang membesarkan laksana anak kandungnya, namun kenyataannya tetaplah ia bukan siapa-siapa di dalam budayanya, dan di luar rumah pamannya, dia mungkin mencicipi sikap benci dan tidak hormat yang banyak ditunjukkan kepada anak yatim piatu. Masa kecilnya menanamkan kepedulian seumur hidup terhadap penderitaan para janda dan anak yatim.

Ketika Muhammad berusia dua puluh lima tahun, seorang janda kaya yang pengusaha bernama Khadijah mempekerjakannya untuk mengelolah kafilahnya dan menjalankan bisnis untuknya. Masyarakat Arab umumnya saat itu, tidak pernah ramah terhadap perempuan, namun Khadijah telah mewarisi kekayaan suaminya, dan fakta bahwa dia memegang kekayaan itu menunjukkan tentunya dia memiliki pribadi yang kuat dan kharismatik. 

Rasa saling menghormati dan kasih sayang antara Muhammad dan Khadijah membuat keduanya melangsungkan perkawinan, sebuah kemitraan yang berlangsung hangat, langgeng, dan harmonis sampai kematian Khadijah 25 tahun kemudian. Meskipun Arabia adalah masyarakat penganut poligami di mana memiliki istri lebih dari satu adalah hal biasa, Muhammad tidak menikah dengan wanita lain selama bermitra dengan Khadijah.[5]

Sebagai orang dewasa, anak yatim itu membangun kehidupan pribadi dan bisnis yang cukup sukses. Ia mendapatkan reputasi karena keahlian diplomatik, dan pihak-pihak berselisih kerap memintanya untuk bertindak sebagai penengah. Namun, ketika Muhammad mendekati usia empat puluh, dia mulai menderita apa yang sering kita sebut krisis setengah baya. Dia mungkin bertanya-tanya tentang makna kehidupan. Memandang ke sekeliling, dia melihat sebuah masyarakat bergelimang kekayaan, namun di tengah semua kemakmuran itu, dia menyaksikan banyak janda yang hidup miskin dengan hanya mengandalkan derma, dan anak-anak yatim harus berjuang untuk sekadar mendapat makan.

Beliau mengembangkan kebiasaan menyendiri pada waktu-waktu tertentu dalam sebuah gua di gunung untuk bermeditasi “takhannuts”. Dia di sana, suatu hari beliau mendapatkan pengalaman penting, yang hakikatnya hingga kini misterius, karena berbagai kisah yang tersebar mungkin mencerminkan berbagai deskripsi oleh Muhammad sendiri. Tradisi yang telah melekat menyebut pengalaman itu sebagai kunjungan dari malaikat jibril. Dalam suatu kisah, Muhammad berbicara tentang “kain sutera yang di atasnya terdapat beberapa tulisan” dibawakan kepadanya saat ia sedang tidur. Akan tetapi, utamanya itu adalah interaksi lisan dan pribadi, yang dimulai ketika Muhammad sedang bermeditasi dalam kegelapan gua, merasakan sebuah kehadiran yang sangat besar dan mengerikan: ada orang lain dalam gua itu bersamanya. Tiba-tiba ia merasa dirinya didekap dari belakang dengan sangat keras sehingga ia tak bisa bernafas. Lalu terdengar suara, yang tidak terasa sebagai terdengar dari luar melainkan lebih seperti dari dalam dirinya sendiri, memerintahkan untuknya untuk “membaca!”, Muhammad berhasil berbicara sambil terengah-engah bahwa dirinya tidak bisa membaca. Perintah itu datang lagi, “bacalah!”, sekali lagi Muhammad memprotes bahwa ia tidak bisa membaca, tidak tahu apa yang harus dibaca, tapi malaikat –suara itu, dorongan itu- menyalak sekali lagi, “bacalah!” setelah itu Muhammad merasa kata-kata agung yang membangkitkan ketakutan terbentuk di dalam hatinya dan pembacaan itu pun dimulai,

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”[6]  

Muhammad turun dari gunung dengan rasa takut, berpikir mungkin ia telah dirasuki jin, roh jahat. Di luar, ia merasa sebuah kehadiran telah memenuhi dunia hingga ke ujung cakrawala. Dalam beberapa riwayat, beliau melihat sebuah cahaya dengan bentuk seperti manusia di dalamnya, namun lebih menggelegar dan menakutkan. Di rumah, ia menceritakan kepada Khadijah apa yang telah terjadi, dan sang istri meyakinkan bahwa beliau benar-benar waras dan apa yang datang kapadanya itu adalah sesungguhnya malaikat, dan dirinya sedang dipanggil untuk melayani Allah. Mitra yang cerdas tentunya! “aku percaya padamu” sahut Khadijah pada suaminya, dan dengan demikian ia adalah pengikut pertama Muhammad, Muslim pertama.

Pada mulanya, Muhammad berdakwah hanya kepada teman-teman akrab dan kerabat dekat. Untuk beberapa lama, ia tidak mengalami pewahyuan lagi, dan itu membuatnya depresi: merasa seperti gagal. Namun kemudian wahyu mulai datang lagi. Lambat laun, ia mulai menyampaikan risalahnya kepada publik, hingga memberitahu orang-orang di sekitar Makkah, “Hanya ada satu Allah. Tunduk kepada kehendak-Nya, atau engkau akan dihukum ke neraka” ia pun menyebutkan bentuk-bentuk ketundukan kepada Allah itu: meninggalkan pesta pora, mabuk-mabukan, kekejaman, dan tirani; menyayangi yang lemah dan tak berdaya; membantu orang miskin; menegakkan keadilan; dan berbuat baik. Di antara banyak kuil –tempat menyembah berhala- di Mekkah, ada bangunan berbentuk kubus dengan sebuah batu yang dimuliakan di pojoknya, sebuah batu hitam hajar aswad mengilap yang jatuh dari langit pada zaman dahulu kala –semacam meteor, mungkin saja. Kuil ini disebut ka’bah, dongen suku-suku –sebelum turunnya al Qur’an, mengatakan bahwa Ibrahim sendirilah yang membangunnya, dengan bantuan putranya Ismail yang juga seorang nabi. Muhammad menganggap dirinya sebagai keturunan Ibrahim dan tahu semua tentang monoteisme Ibrahim yang tanpa kompromi.[7] Memang, Muhammad tidak pernah befikir bahwa ia menyampaikan sesuatu yang baru; ia yakin bahwa dirinya diutus untuk memperbarui apa yang disebut ajaran (agama) Ibrahim millah ibrahim dan nabi-nabi yang datang sebelumnya, sehingga ia memusatkan perhatiannya pada Ka’bah. Inilah, katanya, yang harus menjadi satu-satunya tempat suci di Mekkah; Baitullah.[8]

Al dalam bahasa Arab berarti “yang itu”, sedangkan lah adalah bentuk penghilangan bunyi dalam percakapan dari kata ilah, yang berarti “tuhan”. Allah, dengan demikian berarti “Tuhan”. Inilah point inti dalam Islam: Muhammad bukan berbicara tentang “tuhan yang ini” versus “tuhan yang itu”. Dia tidak mengatakan, “Percayalah kepada Tuhan yang disebut Lah karena Dia adalah tuhan terbesar dan terkuat,” atau bahwa  Lah adalah “satu-satunya tuhan sejati” dan semua yang lain adalah palsu. Orang mungkin bisa bermain nalar dengan gagasan seperti itu dan masih berfikir tentang Tuhan sebagai sebuah wujud tertentu dengan kekuatan adialami, mungkin makhluk yang tampak seperti Zeus, memiliki keabadian bisa mengangkat seratus unta dengan satu tangan, dan tak ada duanya. Itu akan tetap merupakan sebuah keyakinan pada satu tuhan. Muhammad mengusulkan suatu yang berbeda dan lebih besar. Dia mengajarkan bahwa ada satu Tuhan yang mencakup semua dan universal sehingga tidak bisa dihubungkan dengan gambaran tertentu, atribut tertentu, hingga batasan tertentu. Hanya ada Allah dan semua yang lain adalah ciptaan-Nya: inilah pesan yang beliau sampaikan kepada siapa saja yang mau mendengarkan.[9]

Mekkah adalah kota perdagangan dan niaga yang luas, tetapi bisnis terbesar mereka yang paling bergengsi adalah agama, Mekkah memiliki setidaknya seratus kuil untuk dewa-dewa kafir dengan nama seperti Hubal, Manat, Allat, al Uzza, dan Fals. Para peziarah mengalir masuk tak putus-putusnya untuk mengunjungi situs-situs peribadatan itu, melaksanakan ritual, dan melakukan bisnis kecil di samping itu, sehingga Mekkah memiliki industri wisata yang sibuk dengan penginapan, bar-bar, toko-toko, dan jasa katering untuk para turis. Kota ini berkembang pesat dengan beragam keuntungan dari tempat mabuk-mabukan, perjudian, prostitusi, serta atraksi lain yang sejenis, dan pialang kekuasaan suku tidak  bisa menoleransi orang yang menyeru untuk menentang jenis hiburan yang membawa kekayaan dan kemakmuran bagi mereka, bahkan jika hanya mendapat segelintir pengikut, banyak di antara mereka adalah orang-orang miskin tak berdaya dan para budak. Namun tidak semua pengikutnya orang miskin dan para budak. Di antara mereka termasuk orang-orang kaya dan pedagang terhormat seperti Abu Bakar dan Utsman, dan tak lama kemudian bahkan mencakup Umar yang bertubuh besar dan gagah, yang awalnya merupakan salahsatu musuh Muhammad paling sengit. Kecendrungan ini kian mengusik para pemuka Makkah karena merasa bisnisnya akan terancam.

Hampir dua belas tahun, paman Muhammad, Abu Thalib membela dirinya terhadap semua kritik, Abu Thalib sendiri tidak pernah memeluk agama yang didakwakan oleh Muhammad, namun ia berdiri membela kemenakannya lantaran kesetiaan pribadi dan cinta, dan perkataannya sangat didengar dan dihormati. Khadjiah juga mendukung suaminya tanpa ragu dan memberinya kenyamanan yang amat berharga. Kemudian, setelah melewatkan waktu satu tahun yang berat,  kedua tokoh utama dalam kehidupan Muhammad ini wafat, membuat Rasul Allah tersebut terbuka terhadap serangan musuh-musuhnya. Tahun itu, tujuh tetua suku Quraisy memutuskan untuk membunuh Muhammad ketika ia tidur, dan dengan demikian menyingkirkan sang pengacau sebelum ia bisa melakukan kerusakan riil terhadap perekonomian. Salah satu paman Muhammad memelopori beberapa persekongkolan semacam itu. Sesungguhnya, ketujuh anggota komplotan itu memiliki kerabat dekat dengan Muhammad.[10]

Untungnya, Muhammad menangkap kabar tentang persekongkolan itu dan juga menyusun rencana untuk menggagalkannya dengan bantuan dua sahabat dekatnya. Salahsatunya adalah sepupunya Ali, yang kini adalah seorang pemuda tegap, yang akan segera menikah dengan Fatimah putri Rasul. Yang lain adalah sahabatnya, Abu bakar,  pengikut setia Muhammad di luar lingkaran keluarga dan penasihat terdekatnya yang kelak menjadi ayah mertuanya.

Hijrah dan Kepemimpinan Muhammad di Madinah

Yastrib, sebuah kota lain dekat pantai laut merah, sekitar 250 Mil (sekitar 400 KM) sebelah utara Makkah. Ini adalah kota pertanian bukan kota perdagangan dan wisata sebagaimana Makkah, ironisnya kota ini sedang dilanda krisis kepemimpinan, penduduknya dicabik-cabik konflik karena memang berasal dari beberapa suku yang saling bertikai. Penduduk Yastrib menginginkan orang luar yang berfikiran adil untuk datang dan mengawasi negosiasi di antara suku-suku itu; mereka berharap bahwa jika mereka menyerahkan wewenang peradilan kepada orang semacam itu, ia akan mampu membawa perdamaian.

Muhammad memiliki reputasi sebagai seorang yang berfikiran adil dan cakap, peran yang telah dimainkannya dalam beberapa perselisihan penting, dan karenanya orang Yastrib berfikir beliau mungkin orang yang cocok untuk pekerjaan itu. Beberapa di antara mereka mengunjungi Mekkah untuk bertemu Muhammad dan menemukan karismanya yang luar biasa. Mereka masuk Islam dan mengundang Muhammad untuk pindah ke Yastrib sebagai penengah dan membantu mengakhiri semua pertentangan; Sang Nabi menerima.

Pembunuhan Muhammad direncanakan pada malam bulan September tahun 622 M. Malam itu, Nabi dan Abu Bakar menyelinap pergi ke gurun. Ali berbaring di tempat tidur menggantikan Nabi yang seolah-olah beliau masih ada di situ. Ketika kawanan pembunuh menerobos masuk, mereka geram karena menemukan Ali, tetapi mereka membebaskannya dan mengirim regu keluar untuk memburu Nabi.[11]

  Muhammad dan Abu bakar baru sampai di sebuah gua di dekat Mekkah, namun legenda mengisahkan bahwa laba-laba membangun jaringan di mulut gua setelah mereka masuk. Ketika regu pencari datang dan melihat laba-laba itu, mereka menyangka tak seorang pun masuk kedalamnya, dan melewatkannya.[12]
 
Muhammad dan Abu Bakar berhasil selamat sampai ke Yastrib, menyusul kemudian beberapa pengikutnya yang telah memeluk Islam. Sebagian besar imigran dari Makkah ini harus meninggalkan rumah dan harta benda mereka di belakang; sebagian besar memutus hubungan dengan anggota keluarga dan sesama suku yang belum masuk Islam.[13] Tapi setidaknya mereka pindah ke tempat di mana mereka akan aman, dan di mana pemimpin mereka Muhammad telah diundang untuk memimpin sebagai otoritas tertinggi kota (negara?) penengah di antara suku para kepala suku yang saling bentrok.

Sesuai dengan janjinya, Muhammad duduk bersama dengan suku-suku yang bertikai di kota untuk menuntaskan perjanjian (yang kemudian disebut Piagam Madinah). Perjanjian ini menjadikan kota itu sebuah konfederasi, menjamin bagi masing-masing suku hak untuk menjalankan agama dan adat istiadat sendiri, menerapkan bagi semua warga negara peraturan yang diranacang untuk menjaga kestabilan dan perdamaian secara keseluruhan, menegakkan suatu proses hukum murni untuk menyelesaikan masalah internal suku mereka sendiri dan menyerahkan kepada Muhammad kewenangan untuk menyelesaikan sengketa antarsuku. Yang paling penting, semua penandatangan, muslim dan non muslim, berjanji untuk bergabung dengan semua yang lain untuk membela Madinah terhadap serangan dari luar. Meskipun dokumen ini disebut konstitusi tertulis pertama, itu sebenarnya merupakan sebuah perjanjian multi partai untuk menunjuk seorang pemimpin. Dan Muhammad-lah pemimpinnya.

Penduduk asli Yastrib yang menjadi pengikut Muhammad menjadi tuan rumah bagi pendatang baru –dari Mekkah dan keluarganya, membantu mereka menetap, dan memulai kehidupan baru. Sejak saat itu, muslim Yastrib disebut Anshar “para penolong”.

Nama kotanya juga berubah. Yastrib menjadi Madinah, yang secara sederahana berarti “kota” (kependekan dari ungkapan  yang barmakna ‘kota sang nabi’).[14] Peristiwa kepindahan kaum muslim dari Mekkah ke Madinah, dikenal sebagai Hijrah (kadang dieja Hijriyah atau Hegira dalam bahasa Inggris), dan para pelakunya disebut Muhajirin “mereka yang berhijrah”. Dua belas tahun kemudian, ketika umat Islam menciptakan kalender mereka sendiri, mereka menghitungnya dari peristiwa hijrah itu, mereka rasa, menandai poros sejarah, titik balik nasib mereka, momen yang membagi semua waktu menjadi sebelum Hijrah dan setelah Hijrah.

Sebagian agama menandai hari kelahiran pendiri mereka sebagai titik awal mereka; sebagian hari wafatnya; dan yang lain saat pencerahan nabi mereka atau interaksi kunci dengan Allah. Dalam ajaran Budha, misalnya agamanya dimulai saat Sidharta Gautama mencapai pencerahan di bawah pohon bodhi. Kekristenan memberi arti penting keagamaan pada pristiwa kematian dan kebangkitan kristus (dan juga kelahirannya). Akan tetapi Islam tidak memberi banyak perhatian pada hari kelahiran Muhammad. Kendati sebagian negara memperingati hari kelahirannya dan menyebutnya maulid, seperti Mesir, Malaysia, dan Indonesia, namun tetap saja kita tidak mengenal “Mohammedmas”.[15]

Apa yang membuat perpindahan dari satu kota ke kota lain begitu penting? Hijrah menempati kedudukan terpenting di antara peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam karena menandai lahirnya komunitas muslim. “Ummah” sebagaimana sebutannya dalam Islam. 

Sebelum hijrah, Muhammad adalah seorang juru dakwah dengan pengikut individual. Setelah hijrah beliau adalah pemimpin masyarakat yang berpaling kepadanya untuk mendapatkan perundang-undangan, arah politik, dan bimbingan sosial.  Kata “hijrah” bisa juga diartikan sebagai pemutusan hubungan. Orang-orang yang bergabung dengan komunitas di Madinah meninggalkan ikatan kesukuan dan menerima kelompok baru ini sebagai ikatan transenden, dan karena komunitas ini secara keseluruhan berkenaan dengan membangun alternatif bagi Mekkah masa kecil Muhammad, ia merupakan sebuah proyek sosial  yang bersifat ibadah dan berdimensi epik.[16]

Proyek sosial ini yang menjadi jelas sepenuhnya di Madinah setelah Hijrah, adalah unsur inti Islam. Cukup jelas, Islam adalah sebuah agama, tetapi sejak awalnya –jika Hijrah diambil sebagai awal ‘pergerakan’, juga bisa merupakan entitas politik; Islam menentukan cara untuk menjadi baik menurut standar ajarannya, dan setiap muslim yang taat berharap bisa mengikuti ajaran itu dengan harapan kelak ia akan masuk surga, tetapi bukan berfokus kepada keselamatan individu atau sendiri-sendiri, Islam menyajikan sebuah rencana ‘politik’ untuk membangun masyarakat yang taat. Individu memperoleh tempat di surga dengan berpartisipasi sebagai anggota dari komunitas dan terlibat dalam proyek sosial Islam, yang bertujuan membangun sebuah dunia di mana anak-anak yatim tidak merasa diterlantarkan, para janda tidak akan pernah menjadi tunawisma, lapar, atau takut. Islam mengajarkan kesalehan individu sekaligus sosial.

Setelah Muhammad menjadi pemimpin Madinah–negara dan agama-, orang-orang datang kepadanya meminta bimbingan –mereka yang datang tak kenal latar belakang, ras maupun kepercayaan- dan penilaian tentang segala macam pertanyaan kehidupan, besar atau kecil; bagaimana mendidik anak-anak ... bagaimana cara membuang hajat dan bersuci ... apa yang dianggap adil dalam sebuah perjanjian ... apa yang harus dilakukan terhadap seorang pencuri ... bagaimana ini... bagaimana menyikapi sperti itu... daftarnya berlanjut terus.[17]

Pertanyaan dalam banyak masyarakat lainnya akan diputuskan oleh beberapa spesialis terpisah, seperti hakim, legislator, pemimpin politik, dokter ‘tabib’, pendidik, jenderal, dan lain-lain, semuanya berada dalam lingkup pengetahuan sang Nabi; Presiden, persis![18]

Bagian al Qur’an yang diturunkan di Mekkah memiliki mayoritas redaksi seperti ini:
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan dahsyat, dan bumi mengeluarkan beban berat yang dikandungnya, dan manusia bertanya, “mengapa bumi begini?”. Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya tuhanmu menceritakan itu kepadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun niscaya akan melihatnya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun niscaya akan melihatnya pula.”[19]
 
Kontras dengan ayat-ayat yang diturunkan di Madinah yang kita akan temukan banyak ungkapan bersemangat, liris, dan mengecam, tetapi kita juga akan menemukan bagian-bagian seperti berikut:

“Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”[20]

Siapa pun yang membaca ayat diatas akan menilai bahwa ia adalah undang-undang, mengatur hal-hal yang sangat spesifik yang belum pernah ada duanya di alam jagad raya ini, dan ke arah inilah upaya masyarakat muslim tumbuh dan berkembang, yang telah berakar di Madinah.[21]

Kesimpulan dan Penutup

Banyak faktor mengapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad SAW di tempat dan saat yang tepat. Di mana masyarakat dunia saat itu telah berada pada puncak jahiliyah yang sangat akut. Dekadensi moral yang merata, kebenaran menjadi langka dan mahal. Pendek kata dunia benar-benar di ambang kehancuran karena prilaku penghuninya yang sangat bejat.

Hal ini juga memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk kita semua bahwa bangsa yang rusak moralnya adalah bangsa yang hanya menunggu waktu untuk menuju kehancuran. Moral adalah salahsatu pilar utama tegak dan kokohnya sebuah bangsa, negara, bahkan peradaban. Lihatlah bangsa Romawi yang doyan menindas dan menjajah, bangsa Persia yang mendewakan nafsu dan menyuburkan maksiat, semuanya pasti berakhir. Kini, negara mana pun yang seperti itu juga tinggal menunggu ajal.[22]

Keberhasilan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam tidak lepas dari ajaran-ajaran yang beliau sampaikan bersifat universal; dibutuhkan oleh semua orang kapan dan di manapun alias tak kenal setting ruang dan waktu.[23] Ajaran Islam bersifat kekal sepanjang zaman. Tidak ada yang mengingkari perbuatan baik seperti; membantu yang lemah, menyantuni anak yatim, membudayakan kejujuran, mereduksi sifat tamak, sombong, angkuh, khianat dan sejenisnya. Islam mengajarkan kesalehan individu tapi juga mengutamakan kesalehan sosial, sehingga muslim yang ego dalam menjalankan ibadah “individual” tanpa ingin tahu orang lain –jahat atau saleh- adalah masih tergolong orang-orang yang merugi.

Selain itu, terdapat banyak kerancuan dalam memandang Islam sebagai agama yang universal. Mereka adalah para pengusung sekularisme yang memisahkan agama dengan pemerintahan, mereka mengingkari kepemimpinan Nabi di Madinah sebagai Kepala Negara. Penganut sekularisme mewajibkan para pengikutnya untuk melepaskan agama jika ingin maju dan berkembang. Padahal sekularisasi bukanlah prasyarat untuk mencapai kemodernan dan kemajuan. Masyarakat tidak mesti sekuler untuk menjadi maju.[24]

Sebagaimana disinyalir oleh Bernard Lewis, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, umat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus, dengan Rasulullah SAW sebagai Kepala  Negara. Dengan kata lain, Nabi Muhammad tidak memolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan agama untuk kepentingan politik. “Dalam pengalaman umat Islam generasi awal, sebagaimana dilestarikan dan direkam untuk generasi sesudahnya, kebenaran agama dan kekuasaan politik terkait erat tak terpisahkan. Yang disebut pertama menyucikan yang kedua, sedang yang kedua mendukung yang pertama,” jelas Lewis.[25]

Keberhasilan Nabi Muhammad mengatur negara, menjaga dan menyebarkan perdamaian adalah sebuah fakta sejarah yang tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu Islam berkembang pesat dalam kurung waktu yang singkat, dan perlu dicatat kalau semua itu bermula dari kepemimpinan Nabi di Madinah yang dianggap ideal dan idaman setiap manusia. Wallahu A’lam!

Oleh, Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar.

* Makalah ini merupakan tugas individu pada mata kuliah Sejarah dan Pradaban Islam (I), pada Program Pascasarjana Pengkajian Islam Universitas Muslim Indonesia (UMI) Angkatan XXVIII / Kelas MPI – 3, di bawah bimbingan Prof. Dr. H. A. Rahim Yunus, MA., dan Dr. Hj. Nurul Fuadi, MA.,  dipaparkan dalam kelas pada hari Sabtu 24 Oktober 2011.
[1]“Dalam pengalaman umat Islam generasi awal, sebagaimana dilestarikan dan direkam untuk generasi sesudahnya, kebenaran agama dan kekuasaan politik terkait erat tak terpisahkan. Yang disebut pertama menyucikan yang kedua, sedang yang kedua mendukung yang pertama”. Lihat, Bernard Lewis.  The Crisis of Islam: Holy War and Unholy Terror (London: Weidenfeld & Nicolson, 2003), h. 6.
[2] Nik Abdul Aziz Nik Mat, Sirah Nabawiyah; Insan Teladan Sepanjang Zaman (Cet. I; Kuala Lumpur: Nufair Street, 2004), h. 183.
[3] Ibid, h. 185.
[4] Lihat, Tamim Anshari dalam, Destiny Disrupted: A History of the Word thought Islamic Eyes, diterjemahkan oleh Yuliani Liputo dengn judul, Dari Puncak Bagdad; Sejarah Dunia Versi Islam (Cet. I; Jakarta: Zaman, 2010), 52, namun mayoritas sejarawan muslim menulis dengan yakin waktu kelahiran Muhammad yang jatuh pada, Senin pagi Tanggal 09 Rabiul Awal, atau bertepatan dengan 20 atau 22 April 571, lihat misalnya karya Shafyurrahman Al Mubarakfury, Arrahiq Al Makhtum (Lubnan: Darul Wafa’, 2008), h. 61.
[5] Ibid, h. 67.
[6] Al Qura’anul Karim, Surah Al ‘Alaq ayat 1 - 5,Terjemahan Departemen Agam RI. (Jakarta: PT. Syamil Cipta Media).
[7] Tamim Anshari. Op cit, h. 54.
[8] Ibid., h. 56.
[9] Ibid., h. 57.
[10] Lihat, Marting Lings, Muhammad: His Life based on the Earliest Source diterjemahkan oleh Qamaruddin dengan judul,  Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berasarkan Sumber Klasik (Cet. IV; Jakarta: Serambi, 2008), h. 214. Belaiu menulis bahwa setelah melalui perdebatan panjang , dan berbagai saran diajukan para pembesar-pembesar kafir Quraisy Mekkah mereka menyetujui saran Abu Jahal untuk menghabisi Nabi, caranya, setiap kabilah mengajukan seorang pemuda  yang kuat dan handal, serta mampu berkomunikasi dengan baik. Pada waktu yang ditentukan diharapkan para pemuda utusan ini secara bersama-sama menyerang Muhammad dengan melancarkan pukulan yang mematikan hingga darahnya akan terkena kepada tujuh perwakilan kabilah tersebut.
[11] Shafyurrahman Al Mubarakfury. Op cit.,  h.155.
[12] Ibid., h. 217.
[13] Raghib Assarjani, Bayna Yadae Attarikh, (Cet. I; Kairo Mesir: Mu’assasah Iqra’, 2008), h. 12.
[14] John L. Esposito, The Oxford History of Islam, (Cet. I;  New York: Oxford University Press, inc., 1999), h. 9.; lihat juga Jurnal Islamia edisi Juli-September, 2005. h. 83, mengutip pendapat seorang cendikiawan Islam, M. Naquib Al Attas, katanya “menganalisa lebih lanjut berbagai derivasi kata-kata din seperti daana (berhutang), da’in (pemberi hutang), dayn (kewajiban), daynunah (hukuman /pengadilan), idanah (keyakinan), Al Attas menghubungkan makna ini semua dalam organisasi masyarakat kosmopolitan dan bertamaddun yang ditunjukkan oleh istilah madinah (kota), maddana (berbudaya), tamaddun (peradaban dan kebudayaan sosial).
[15] Tamim Ansari. Op cit., h. 61.
[16] John L. Esposito. Op cit., h.10.
[17] Ibid., h. 62.
[18] Bernard Lewis., Op cit., 5.; “During Muhammad’s lifetime, the Muslims became at once a political and religious community, with the prophet as head of state.”
[19] Al Qura’anul Karim, Surah Az Zalzalah ayat 1 -  8,Terjemahan Departemen Agam RI. (Jakarta: PT. Syamil Cipta Media).
[20] Al Qura’anul Karim, Surah Annisa’ ayat 11,Terjemahan Departemen Agam RI. (Jakarta: PT. Syamil Cipta Media).
[21] Olivier Roy, The Failure of Political Islam, diterjemahkan oleh Harimurti & Qamaruddin dengan judul Gagalnya Islam Politik (Cet. I; Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 1996), h. 13.
[22] Uraian lebih lanjut tentang kronologis ambruknya dua kuasa besar saat itu, dan jatuh kedalam pemerintahan Islam dapat dilihat dalam karya Abdul Mun’im al hasyim, Shuaru Min Hayatil al Fatihin diterjemahkan oleh Abdurrahim dan Hasan Barakuan dengan judul, Para Penakluk (Cet. I; Jakarta: Akbar, 2007), h. 592; lihat pula Majalah Hidayatullah, Indonesia Berperadaban Madinah (Edisi Khusus Milad, 2008), h. 8-9.
[23] Lihat juga, Quraish Shihab, Membumikan al Qur’an, (Cet. XXII; Bandung: Mizan, 2002), h. 213.
[24] Lihat, Syamsuddin Arief, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Cet. I; Jakarta: Gema Insani, 2008), h. 101.
[25] Bernard Lewis., Op cit., 6.

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi