Konsep dalam Tinjauan Epistemologis

Konsep bukanlah sekadar bunyi atau rangkaian huruf yang membentuk kata tanpa makna, tetapi konsep merupakan kata yang sarat makna secara filosofis. Bunyi dan kata bisa beda, tetapi makna bisa sama. Misalnya ‘buku’ dan ‘kitab’. Sebaliknya, bisa terjadi juga bunyi dan kata sama namun artinya bertolak belakang, misalnya, ‘buku’ dalam arti ‘kitab’ atau buku dalam arti ‘ruas’, atau ‘pejabat’ menurut orang Indonesia, dan ‘pejabat’ menurut orang Malaysia, ‘yang pertama adalah aparatur negara, yang kedua kantor aparatur negara. Kita, para pengguna bahasa yang terdidik tidak bisa sewenang-wenang menyebut suatu kata atau sebutan tanpa mengetahui maknanya, baik secara bahasa, istilah, hingga dampak epistemolisnya. Inilah yang membedakan orang terdidik atau tidak, dapat diukur dari kebahasaan, orang arab menggelari para sastrawan dengan mu’addib atau orang beradab, karena apa yang keluar dari lisannya selalu sarat dengan makna.
 
Konsep jelas mempunyai arti penting dalam proses manusia mengetahui. Tanpa adanya konsep tidak mungkin ada pengenalan, pemahaman, dan penegasan putusan tentang apa yang dialami manusia, tanpa itu semua pengetahuan juga sulit didapat.

Secara umum dan sederhana konsep diartikan sebagai suatu representasi abstrak umum tentang sesuatu, dan sangat bersifat mental. Representasi sesuatu itu terjadi dalam pikiran. Kosep juga merupakan suatu medium yang menghubungkan subjek penahu dan objek yang diketahui, pikiran dan kenyataan. Melalui dan di dalam konsep kita mengenal, memahami, dan menyebut objek yang kita ketahui, karena kita memahami sesuati dalam konsep maka konsep punya peran intensional epismik dalam proses pengenalan. Konsep dapat dimengerti dari sisi subjek maupun objek. Dari sisi subjek, kegiatan merumuskan atau menggolong-golongkan. Dari objek: konsep adalah isi kegiatan tersebut, artinya, apa makna konsep itu. Konsep ditinjau dari keumumannya, adalah bersifat universal. Konsep bisa bersifat langsung, bisa juga tidak. 

Konsep ‘universal langsung’ adalah konsep yang bisa diprediksikan secadra univok (persis sama) dan secara distributive (satu persatu) pada banyak individu. Contohnya adalah konsep ‘manusia’. Konsep ini bisa dipakai persis sama untuk menyebut Baco, Ahmad ataupun Becce. Konsep tidak langsung adalah konsep ‘universal reflex’. Suatu konsep yang menyebut suatu kelas atau golongan dan tak dapat diprediksikan pada individu-individu. Contohnya adalah konsep “Kemanusiaan” merujuk secara eksplisit pada eksistensi atau lingkup penerapan, yakni konsep universal langsung ‘manusia” dapat diprediksikan banyak individu. 

Selain itu, dan tak kalah pentingnya, dalam memahami konsep perlu dibedakan antara pengertian atau makna konsep dan eksistensi lingkup penerapana konsep. Misalnya pengertian. ‘binatang rasional’ termasuk dalam lingkup pengertian konsep ‘manusia’. Sedangkan lingkup penerapan konsep adalah kumpulan individu yang dapat diprediksikan dengan konsep tersebut atau merupakan contoh perwujudan kongkretnya, misalnya konsep universal reflex ‘kemanusiaan’ merujuk secara eksplisit pada eksistensi penerapan, yakni konesp universal langsung ‘manusia’ dapat diprediksikan pada banyak individu. Dari sini menjadi jelas bahwa konsep universal langsung, hanya memaksudkan pengertian dan mengabstraksikan eksistensinya. Sedangkan konsep universal reflex tidak dapat diprediksikan karena secara eksplisit memaksudkan eksistensinya dan dengan demikian memberi nama pada keseluruhan kelas dari hal yang dibicarakan. (disadur oleh Ilham Kadir, dari karya, J. Sudarminta, Epistemologi dasar pengantar filsafat pengetahuan. Cet. IX; Yogyakarta: Knisius, 2002., h. 87-88).


Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi