Filosofi Air

Kefin J Zahnle dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (Ames Research Center NASA) mengemukakan penelitiannya bahwa bumi seumpama ember raksasa, berbenturan dengan benda langit yang mengandung es dan kemudian menguap di atmosfer bumi. Uap air tersebut mengembun menjadi air saat bumi mendingin. Dalam proses berikutnya, tiga perempat air tersebut ‘lenyap’, memecah diri menjadi unsur hidrogen dan oksigen yang sebagian tersimpan dalam batuan inti bumi.

Namun teori lain dan berbeda diungkapkan seorang Guru Besar, Prof. Iain Stewart dari Geoscience Communication di School of Earth, Ocean and Environmental Sciences, Plymouth University, menurutnya, sistem gunung api dan komet merupakan faktor utama asal mula air di bumi. Air muncul dari proses vulkanik, melalui sebuah peristiwa yang berlangsung bagai ‘neraka’. Unsur-unsur air terangkat dari inti bumi. Saat bumi mendingin, selama ribuan tahun hujan dan tercatat sebagai hujan terlama sepanjang sejarah bumi. Separuh lautan terbentuk. Lautan baru penuh terisi saat komet menghujani bumi. Dengan volume air sekitar 1,33 miliar kilometer kubik, lautan berperan sebagai mesin pengatur iklim dan sumber kehidupan yang amat kaya bagi makhluk bumi. (Kompas, 6/2/2013).

Dalam pandangan agama, khususnya Islam, tidak ada keterangan jelas tentang asal diciptakannya air kecuali informsi bahwa Allah menurunkan air dari langit sebagaimana firman-Nya. “Dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih,(QS. Al-Furqan, [25]:48). Serta berbagai macam keutamaannya, seperti air dihadirkan oleh Allah sebagai rezeki, (QS. Al-Baqarah [2]:22). Tapi air bukan hanya sekadar rezeki, melainkan juga merupakan tanda-tanda kekuasaan dan keesaan Allah yang sangat perlu dibaca dan belajar darinya agar dapat menangkap pesan moral, (QS. Ad-Dzariyat [51]:20-21). 

Air adalah sumber kehiduapan, waj’alna minal maa’i kulla syai’in hayyin, dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, (QS. Al-Anbiya’ [21]:30). Air berfungsi menumbuhkan tanaman, menyuburkan tanah,  dan menjaga kelangsungan hidup umat manusia. Manusia juga tercipta dari air, “Bukankah Kami telah menciptakan kamu dari air [mani] yang hina?” (QS. Al-Mursalat [77]:20). Manusia dewasa bisa bertahan hidup  sekitar sebulan tanpa makanan, namun ia hanya bisa bertahan 9-10 hari jika tubuhnya tidak mendapat asupan air. Telur yang dibuahi pun tumbuh dan berkembang menjadi bayi dalam rahim yang hangat serta nyaman dengan berlimpah  air ketuban. Air ketuban setidaknya menghindarkan bayi dari rasa sakit akibat benturan langsung. Tubuh manusia terdiri dari atas susunan sel-sel hidup yang penuh air. Kemampuan air melarutkan berbagai subtansi membuat kita mampu menyerap mineral, berjenis nutrisi, dan bahan kimia berguna.

Air merupakan bagian utama tubuh semua makhluk hidup. Berat air dalam tubuh bisa mencapai 90 persen berat tubuh organisme. Sekitar 70 persen komposisi otak manusia adalah air, diukur dari beratnya. Jaringan otot halus mengandung air sekitar 75 persen. Lemak tubuh mengandung 22 persen air, sekitar 83 persen darah kita adalah air, untuk membantu mencerna makanan, mendistribusikannya ke seluruh tubuh  lalu mengangkut kembali sisa-sisa yang tak tercerna, sekaligus mengendalikan suhu tubuh. 

Otot yang bersih dari lemak mengandung lebih banyak air. Tubuh anak-anak lebih banyak mengandung air dari pada manusia dewasa, demikian pula tubuh laki-laki berbanding wanita, dan orang kurus berbanding orang gemuk.Tiap hari, sekitar 2,4 liter air berganti dari sistem tubuh manusia.  Air selalu dan sangat bermanfaat bagi manusia, karena itu manusia harus belajar dari filosofi air, Rasulullah menegaskan bahwa ‘Kharunnaas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya’, (HR. Ahmad).

Dalam tinjauan akidah, golongan yang berislam seperti Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in, dan tabi’u-tabi’in yang disebut Ahlussunnah Waljama’ah adalah seumpama air jernih lagi suci (macinnong na mapaccing), sebaliknya mereka yang mencela dan melaknat para sahabat Nabi sebagaimana Syiah-Rafidhah tak ubahnya laksana air keruh, najis (mutanajjis), dan berbau busuk.  

Air selalu bergerak tanpa henti. Jika ia diam pasti keruh dan kotor, lalu menjadi sumber penyakit, Rasulullah melarang kencing pada air yang tergenang, dan Imam Syafi’i rahimahullah berkata. “Saya lihat air yang diam menyebabkan kotor, bila dia mengalir ia menjadi bersih, dan bila tidak, ia akan keruh”. 

Saya memiliki teman dari Jawa, setelah bersama menamatkan hafalan Alquran di Pondok Pesatren Darul Huffadz Tuju-tuju, Bone, ia jatuh cinta pada wanita Bugis dengan keluarga yang feodal. Tak mau jika anak gadisnya menikah dengan lelaki beda suku. Ketika lamaran ditolak, pihak perempuan memberikan petuah berharga, katanya. “Jadilah seperti air yang mengalir, ketika ‘ditolak’ untuk mengalir di suatu tempat, maka ia akan mencari tempat yang bisa menerimanya, jangan pernah berhenti mengalir.” Sang teman lalu mengalir dari satu tempat ke lain tempat, dan akhirnya mempersunting wanita Bugis.

Karakter air memang unik, tak pernah bisa dipecah atau dihancurkan, bahkan ia akan menenggelamkan benda-benda keras yang menghantamnya dan menghanyutkan di lain waktu. Hanya bisa pecah saat ia mengeras dan membeku. Mencair, mudah meresap, menguap jika panas, lalu turun untuk menyejukkan. Filosofi cair dapat berguna jika seseorang menghadapi masalah, jika mengeras dan membantu, maka akan pecah berkeping-keping.

Air tidak hanya ada di dunia, namun juga di akhirat. Dalam sebuah riwayat, ketika manusia dihimpun di padang makhsyar, antre untuk disiasat satu persatu, bermula dari Nabi Adam hingga manusia terakhir, kala itu matahari hanya sejengkal di atas kepala. Tidak sedikit yang berenang dengan air keringat karena terik matahari yang tak terhingga panasnya. Ketika melewati proses hisab, terdapat telaga yang disediakan bagi mereka yang telah selamat, telaga yang luasnya sejauh perjalanan satu bulan, warna airnya lebih putih dari susu dan rasanya lebih manis dari madu.

Ketika berada di surga, penghuninya juga tak pernah lepas dari air sebagai daya tarik utama “Perumpamaan penghuni surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring.” (QS. Muhammad [47]: 15).

Tapi neraka juga sarat dengan air, cuma jenisnya berbeda, sebagaimana firman Allah,  Sesungguhnya pohon zaqqum adalah berupa makanan orang yang banyak berdosa. Sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang amat panas, peganglah dia kemudian seretlah ia ke tengah-tengah neraka,  kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan dari air yang amat panas. Rasakanlah...”  (QS. Ad-Dukhan [44]:48-49).

Tak hanya itu, Alquran juga menceritakan bagaimana keadaan orang-orang kafir yang meminta belas kasihan kepada para penghuni surga yang sedang melakukan tour ke neraka, para penghuni neraka  meminta dengan sangat agar mereka diberi air dan makanan. “’Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu!’ Penghuni surga menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai main-main [la’ibun]dan senda gurau [lahwun], kehidupan dunia telah menipu mereka’.” (QS. Al-A’raf [7]: 51-52). 

Kembali ke dunia, air mengikuti harmoni alam ‘sunnatullah’, tunduk dan patuh pada perinsip ekosistem dan keadilan, (QS. Arrahman [55]:7). Ketika  hujan mengguyur bumi, maka air berhak atas tempat dan resapan, jika tidak ada tempat sebagai resapannya akibat dari rusaknya ekosistem karena ulah manusia, seperti penggundulan hutan, pengerukan bumi, pembangunan tak terkendali, rumah kaca kian marak, pendangkalan sungai, penyumbatan got –daftarnya terus bertambah—maka air pun protes, stres, lalu mengamuk, dan terjadilah musibah banjir dan tanah longsor yang merugikan manusia. Allahumma shoyyeban nafi’an, ya Allah jadikanlah hujan ini bermanfaat!

Ilham Kadir, Peneliti LPPI Indonesia Timur










Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an