Konsep 'Pangaderrang' dalam Pilgub Sulsel




Berbasis dari kajian mendalam yang dilakukan oleh Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Pengawas Pemilus (Bawaslu), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri), dan Badan Intelejen Negara (BIN) sebulat suara mengeluarkan pernyataan bahwa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel yang akan dihelat pada tanggal 22 Januari 2013 masuk dalam zona rawan konflik, bersama tiga daerah lainnya, yakni Papua, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan. (Harian Sindo Makassar, 29/9/2012).

Ketua Bawaslu Pusat, Muhammad Al-Hamid, dalam sebuah acara Sosialisasi Pengawasan Pilgub dan Pilkada di Hotel Imperial Arya Duta Makassar beberapa waktu lalu memaparkan indikasi bahwa pilgub Sulsel memang benar-benar dalam zona merah. Di antara penyebab akan terjadinya konflik itu karena ketiga kandidat yang bersaing semua berstatus sebagain incumbent alias masih tercatat sebagai kepala daerah aktif yang tentunya masing-masing memiliki pendukung fanatik.

Ketiga kandidat calon gubernur yang dimaksud adalah, Syahrul Yasin Limpo yang kini menjabat sebagai Gubernur akan kembali bertarung dengan menggandeng pasangan lamanya, Agus Arifin Nu’mang. Ilham Arif Sirajuddin yang menjabat sebagai Walikota Makassar berpasangan dengan Abdul Aziz Qahhar Muzakkar, serta Rudianto Asapa, Bupati Sinjai akan berpasangan dengan Andi Nawir.


Dalam sembilan bulan terakhir ini, percikan api pertikaian itu telah nampak dari waktu ke waktu dan kian membesar. Bermula dari insiden penghadangan dan pelemparan batu terhadap rombongan Ilham Arif Sirahuddin di Gowa, berlanjut dengan pembakaran posko pasangan Ilham-Aziz yang disingkat ‘IA’ di Makassar, lalu dibalas dengan pengrusakan atribut peraga milik pasangan Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang yang disingkat ‘sayang’ di Makassar.

Melihat kenyataan di atas, maka tidak sedikit masyarakat yang notabene-nya adalah pemilih merasa alergi bahkan muak dengan pesta demokrasi yang seharusnya menjadi milik rakyat. Slogan bahwa demokrasi adalah berasal dari rakyat kepada rakyat dan untuk rakyar (from the people to the people for the people) hanya pepesan kosong belaka, yang benar bahwa demokrasi hanyalah jalan untuk meraih kekuasaan (how to get power) dan bertahan selama mungkin. Jika memang hal ini benar adanya maka seakan-akan kita kembali pada zaman pra sejarah Bugis yang dalam istilah Lagaligo ‘sianre bale’ atau laksana ikan saling memangsa, alias chaos.

Namun separah itukah masyarakat Sulsel yang didominasi oleh suku Bugis-Makassar, tidak adakah pranata yang dapat meminimalisir bahkan mereduksi itu semua, sehingga ketika pesta demokrasi tiba yang terjadi adalah benar-benar pesta yang mengasyikkan, bebas memilih tanpa adan intimidasi, aparat melaksanakan tugasnya dengan nyaman, rakyat merasakan keamanan dan ketertiban. Untuk para petarung, yang kalah mengapresiasi yang menang, dan yang menang menghargai yang kalah, dan para pendukung masing-masing merasa puas menerima apa pun hasilnya. Kita semua adalah saudara, tak perlu ada yang kalah, rakyatlah menjadi pemenang. Itu yang ideal.

Orang Sulsel yang didominasi oleh suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, hingga Duri di Enrekang adalah masyarakat yang beradab dan memiliki falsafah serta pranata sosial yang sangat terpuji, pranata yang bersendi adab, dan adab yang bersendikan ajaran Islam.

Falsafah Pangaderrang


Falsafah hidup secara fundamental, dipahami sebagai nilai-nilai sosio kultural yang dijadikan oleh masyarakat pendukungnya sebagai patron (pola) dalam melakukan aktivitas keseharian. Demikian penting dan berharganya nilai normatif ini, sehingga tidak jarang ia selalu melekat kental pada setiap pendukungnya meski arus modernitas senantiasa menerpa dan menderanya. Bahkan dalam implementasinya, menjadi roh atau spirit untuk menentukan pola pikir dan menstimulasi tindakan manusia.

Mengenai nilai-nilai edukatif dan penuh etika yang terkandung dalam falsafah hidup, pada dasarnya telah dikenal oleh manusia sejak masa lampau. Sejak manusia pertama diciptakan, Nabi Adam as, sejak itu pula manusia diajarkan nilai-nilai etika dalam hidup, etika kepada Allah sebagai sang Pencipta, etika pada lingkungan sebagai tempat tinggal dan mencari bekal hidup, hingga etika sesama makhluk hidup, baik itu sesama manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.

Tak terkecuali orang Bugis, di masa lampau juga telah memiliki sederet nama orang bijak yang banyak mengajari masyarakat tentang filsafat etika. Entah karena diilhami oleh petunjuk Yang Maha Kuasa (Allah) atau alam mitologi (khurafat) maupun setting lingkungan tertentu (dominasi alam). Hal ini tercermin melalui catatan sejarah bahwa perikehidupan manusia Bugis sejak dahulu, merupakan bagian integral dan tidak dapat dipisahkan secara dikotomik dari pengamalan aplikatif pangaderrang. Makna pangaderrang dalam konteks ini adalah keseluruhan norma yang meliputi bagaimana seseorang harus bertingkah laku terhadap sesama manusia dan terhadap pranata sosialnya yang membentuk pola tingkah laku serta pandangan hidup. Demikian melekat-kentalnya nilai ini di kalangan sebagian orang Bugis-Makassar, sehingga dianggap berdosa jika tidak melaksanakan.

Dalam konteks ini, secara inheren di dalamnya meliputi ade’ (ada’, Makassar) atau adat istiadat, yang berfungsi sebagai pandangan hidup terhadap alam (world view) dalam membentuk pola pikir dan mengatur pola tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena itu, dalam sistem sosial masyarakat Bugis, dikenal ade’ (adat), rapang (undang-undang), wari (perbedaan strata) dan bicara (bicara atau ucapan), serta syara’ atau hukum berlandaskan ajaran agama (syariat).

Eksisnya nilai sosio-kultural yang terkandung dalam pangaderrang, sehingga tetap bertahan dan menjadi pandangan hidup manusia Bugis disebabkan dua faktor. Pertama, bagi manusia Bugis yang telah menerima adat secara total dalam kehidupan sosial budaya atau lainnya, konsisten atau percaya dengan teguh bahwa hanya dengan berpedoman pada adat berdasar syara’ ketentraman dan kebahagiaan setiap anggota dapat terjamin. Kedua, implementasi dengan berpedoman pada adat itulah yang menjadi pola tingkah laku dan pandangan hidup bermasyarakat.

Kecenderungan orang Bugis merefleksikan petuah atau nasehat serta wejangan para cerdik pandai sebelumnya, tidak lantas membuat mereka alergi dengan perubahan. Bahkan sebaliknya, kolaborasi-akumulatif antara nilai pangaderrang dengan syara’ (agama) pada gilirannya menjadi benteng pertahanan tangguh terhadap institusi dari dominasi westernisasi dalam paket sekularisme.

Masuknya ajaran Islam secara adaptif dalam sistem nilai pangaderrang dan kemampuan merespon perubahan zaman di kalangan orang Bugis, pada gilirannya melahirkan pemaknaan terhadap institusi sosial sebagai warisan leluhur pun berbeda. Mungkin ada yang masih tergolong fanatik mengamalkan nilai-nilai ini, semi percaya, dan ada yang cenderung telah mengabaikannya. Meskipun demikian, bukan persoalan level pemaknaan yang menjadi inti tulisan ini, akan tetapi bagaimana nilai sebuah pesan itu mampu menjadi pandangan hidup.

Nilai-nilai filosofis tersebut, sebagian diwariskan dalam bentuk tertulis melalui lontarak, dan ada pula melalui pesan-pesan (Pappaseng) dan petuah (pappangaja). Sekadar untuk diketahui bahwa beberapa pendukung kebudayaan di Sulsel juga mengenal dan menghargai pesan leluhur, seperti: orang Toraja menyebutnya dengan aluktudolo, orang Kajang mengistilahkan dengan pasang, orang Bugis menamakan pappaseng, dan lain-lain .

Demikian pula ampe (tingkah laku), memegang peranan signifikan sebab hal ini merupakan penentu lahirnya daya pikat dan ketertarikan orang lain atas seseorang yang membutuhkan. Karena itu, dalam kehidupan bermasyarakat di kalangan orang Bugis-Makassar, mengenal konsep sipakatau (memanusiakan sesama), sipakalebbi (saling memuliakan), sipakainge (saling mengingatkan).


Melihat pranata sosial masyarakat Bugis-Makassar di atas, maka tidak sewajarnyalah masyarakat Sulsel merasa was-was, takut, apalagi panik dalam menghadapi pilgub yang akan dihelat awal tahun depan. Isu-isu yang mengatakan bahwa akan terjadi chaos tidak perlu ditanggapi secara berlebihan, mari kita hadapi pilgub dengan mengedepankan nilai-nilai pangaderrang sehingga kedamaian tercurahkan. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarajan UMI Makassar & Peneliti LPPI Indonesia Timur

Comments

Popular posts from this blog

Ibrahim, Bapak Para Nabi

Tadabbur di Bulan Al-Qur'an